Sabtu, 29 Agustus 2020

KISAH SUNAN AMPEL


Tahukah anda dengan daerah Bukhara? Bukhara terletak di Samarqand. Sejak dahulu daerah Samarqand dikenal sebagai daerah Islam yang melahirkan ulama-ulama besar seperti Imam Bukhari yang mashur sebagai pewaris hadist shahih. Disamarqand ini ada seorang ulama besar bernama Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra, seorang Ahlussunnah bermazhab syafi’I, beliau mempunyai seorang putera bernama Ibrahim, dan karena berasal dari samarqand maka Ibrahim kemudian mendapatkan tambahan nama Samarqandi. Orang jawa sukar menyebutkan Samarqandi maka mereka hanya menyebutnya sebagai Syekh Ibrahim Asmarakandi.

Syekh Ibrahim Asmarakandi ini diperintah oleh ayahnya yaitu Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra untuk berdakwah ke negara-negara Asia. Perintah inilah yang dilaksanakan dan kemudian beliau diambil menantu oleh Raja Cempa, dijodohkan dengan puteri Raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan. Negeri Cempa ini menurut sebagian ahli sejarah terletak di Muangthai. Dari perkawinan dengan Dewi Candrawulan maka Syekh Ibrahim Asmarakandi mendapat dua orang putera yaitu Sayyid Ali Rahmatullah dan Sayyid Ali Murtadho. Sedangkan adik Dewi Candrawulan yang bernama Dewi Dwarawati diperisteri oleh Prabu Brawijaya Majapahit. Dengan demikian keduanya adalah keponakan Ratu Majapahit dan tergolong putera bangsawan atau pangeran kerajaan. Para pangeran atau bangsawan kerajaan pada waktu itu mendapat gelar Rahadian yang artinya Tuanku, dalam proses selanjutnya sebutan ini cukup dipersingkat dengan Raden.

Raja Majapahit sangat senang mendapat isteri dari negeri Cempa yang wajahnya dan kepribadiannya sangat memikat hati. Sehingga isteri-osteri yang lainnya diceraikan, banyak yang diberikan kepada para adipatinya yang tersebar di seluruh Nusantara. Salah satu contoh adalah isteri yang bernama Dewi Kian, seorang puteri Cina yang diberikan kepada Adipati Ario Damar di Palembang.

Ketika Dewi Kian diceraikan dan diberikan kepada Ario Damar saat itu sedang hamil tiga bulan. Ario Damar menggauli puteri Cina itu sampai si jabang bayi terlahir kedunia. Bayi yang lahir dari Dewi Kian itulah yang nantunya bernama Raden Hasan atau lebih dikenal dengan nama “ Raden Patah “, salah satu seorang daru murid Sunan Ampel yang menjadi Raja di Demak Bintoro.

Kerajaan Majapahit sesudah ditinggal Mahapatih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk mengalami kemunduran Drastis. Kerajaan terpecah belah karena terjadinya perang saudara. Dan para adipati banyak yang tidak loyal dengan keturunan Prabu Hayam Wuruk yaitu Prabu Brawijaya Kertabumi. Pajak dan upeti kerajaan tidak ada yang sampai ke istana Majapahit. Lebih sering dinikmati oleh para adipati itu sendiri. Hal ini membuat sang Prabu bersedih hati. Lebih-lebih lagi dengan adanya kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para pangeran yang suka berpesta pra dan main judi serta mabuk-mabukan. Prabu Brawijaya sadar betul bila kebiasaan semacam ini diteruskan negara/kerjaan akan menjadi lemah dan jika kerajaan sudah kehilangan kekuasaan betapa mudahnya bagi musuh untuk menghancurkan Majapahit Raya.

Ratu Dwarawati, yaitu isteri Prabu Brawijaya mengetahui kerisauan hati suaminya. Dengan memberanikan diri dia mengajukan pendapat kepada suaminya. Saya mempunyai seorang keponakan yang ahli mendidik dalam hal mengatasi kemerosotan budi pekerti, kata Ratu Dwarawati. Betulkah? Tanya sang Prabu . Ya, namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putera dari kanda Dewi Candrawulan di negeri Cempa. Bila kanda berkenan saya akan meminta Ramanda Prabu di Cempa untuk mendatangkan Ali Rahmatullah ke Majapahit ini.

Tentu saja aku merasa senang bila Rama Prabu di Cempa Berkenan mengirimkan Sayyid Ali Rahmatullah ini kata Prabu Brawijaya.

𝗞𝗲𝘁𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗝𝗮𝘄𝗮
Maka pada suatu ketika diberangkatkanlah utusan dari Majapahit ke negeri Cempa untuk meminta Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Majapahit. Kedatangan utusan tersebut disambut gembira oleh Raja Cempa, dan Raja Cempa bersedia mengirim cucunya ke Majapahit untuk meluaskan pengalaman.

Keberangkatan Sayyid Ali Rahmatullah ke tanah Jawa tidak sendirian. Ia ditemani oleh ayah dan kakaknya. Sebagaimana disebutkan diatas, ayah Sayyid Ali Rahmatullah adalah Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan kakaknya bernama Sayyid Ali Murtadho. Diduga tidak langsung ke Majapahit, melainkan terlebih dahulu ke Tuban. Di Tuban tepatnya di desa Gesikharjo, Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit dan meninggak dunia, beliau dimakamkan di desa tersebut yang masih termasuk kecamatan Palang Kabupaten Tuban.

Sayyid Murtadho kemudian meneruskan perjalanan, beliau berdakwah keliling daerah Nusa Tenggara, Madura dan sampai ke Bima. Disana beliau mendapat sebutan raja Pandita Bima, dan akhirnya berdakwah di Gresik mendapat sebutan Raden Santri, beliau wafat dan dimakamkan di Gresik, Sayyid Ali Rahmatullah meneruskan perjalanan ke Majapahit menghadap Prabu Brawijaya sesuai permintaan Ratu Dwarawati.

Kapal layar yang ditumpanginya mendarat dipelabuhan Canggu. Kedatangannya disambut dengan suka cita oleh Prabu Brawijaya. Ratu Dwarawati bibinya sendiri memeluknya erat-erat seolah-olah sedang memeluk kakak perempuannya yang di negeri Cempa. Karena wajah Sayyid Ali Rahmatullah memang sangat mirip dengan kakak perempuannya.

Nanda Rahmatullah, bersediakah engkau memberikan pelajaran atau mendidik kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mempunyai budi pekerti mulia!! Tanya sang Prabu kepada Sayyid Ali Rahmatullah setelah beristirahat melepas lelah. Dengan sikapnya yang sopan santun tutur kata yang halus Sayyid Ali Rahmatullah menjawab. Dengan senang hati Gusti Prabu, saya akan berusaha sekuat-kuatnya untuk mencurahkan kemampuan saya mendidik mereka.

Bagus! Sahut sang Prabu. “Bila demikian kau akan kuberi hadiah sebidang tanah berikut bangunannya di Surabaya. Disanalah kau akan mendidik para bangsawan dan pangeran Majapahit agar berbudi pekerti mulia.”

“Terima kasih saya haturkan Gusti Prabu”, Jawab Sayyid Ali Rahmatullah. Disebutkan dalam literatur bahwa selanjutnya Sayyid Ali Rahmatullah menetap beberapa hari di istana Majapahit dan dijodohkan dengan salah satu puteri Majapahit yang bernama Dewi Candrowati atau Nyai Ageng Manila. Dengan demikian Sayyid Ali Rahmtullah adalah salah seorang Pangeran Majapahit, karena dia adalah menantu Raja Majapahit.

Semenjak Sayyid Ali Rahmatullah diambil menantu Raja Brawijaya maka beliau adalah anggota keluarga kerajaan Majapahit atau salah seorang pangeran, para pangeran pada jaman dahulu ditandai dengan nama depan Rahadian atau Raden yang berati Tuanku. Selanjutnya beliau lebih dikenal dengan sebutan Raden Rahmat.

𝗔𝗺𝗽𝗲𝗹𝗱𝗲𝗻𝘁𝗮
Selanjutnya, pada hari yang telah ditentukan berangkatlah rombongan Raden Rahmat ke sebuah daerah di Surabaya yang kemudian disebut dengan Ampeldenta. Rombongan itu melalui desa Krian, Wonokromo terus memasuki Kembangkuning. Selama dalam perjalanan beliau juga berdakwah kepada penduduk setempat yang dilaluinya. Dakwah yang pertama kali dilakukannya cukup unik. Beliau membuat kerajinan berbentuk kipas yang terbuat dari akar tumbuh-tumbuhan tertentu dan anyaman rotan. Kipas-kipas ini dibagikan kepada penduduk setempat secara gratis. Para penduduk hanya cukup menukarkannya dengan kalimah syahadat.

Penduduk yang menerima kipas itu merasa sangat senang. Terlebih setelah mereka mengetahui kipas itu bukan sembarang kipas, akar yang dianyam bersama rotan itu ternyata berdaya penyembuh bagi mereka yang terkena penyakit batuk dan demam. Dengan cara itu semakin banyak orang yang berdatangan kepada Raden Rahmat. Pada saat demikianlah ia memperkenalkan keindahan agama Islam sesuai tingkat pemahaman mereka. Cara itu terus dilakukan sehingga rombongan memasuki desa kembang kuning. Pada saat itu kawasan desa kembang kuning belum seluas sekarang ini. Disana sini masih banyak hutan dan digenangi air atau rawa-rawa. Dengan karomahnya Raden Rahmat bersama rombongan membuka hutan dan mendirikan tempat sembahyang sederhana atau langgar. Tempat sembahyang itu sekarang dirubah menjadi mesjid yang cukup besar dan bagus dinamakan sesuai dengan nama Raden Rahmat yaitu Mesjid Rahmat Kembang Kuning.

Ditempat itu pula Raden Rahmat bertemu dan berkenalan dengan dua tokoh masyarakat yaitu Ki Wiryo Sarojo dan Ki Bang Kuning. Kedua tokoh masyarakat itu bersama keluarganya masuk Islam dan menjadi pengikut Raden Rahmat. Dengan adanya kedua tokoh masyarakat itu maka semakin mudah bagi Raden Rahmat untuk mengadakan pendekatan kepada masyarakat sekitarnya. Terutama kepada masyarakat yang masih memegang teguh adat kepercayaan lama. Beliau tidak langsung melarang mereka, melainkan memberikan pengertian sedikit demi sedikit tentang pentingnya ajaran ketauhidan. Jika mereka sudah mengenal tauhid atau keimanan kepada Tuhan Pencipta Alam, maka secara otomatis mereka akan meninggalkan sendiri kepecayaan lama yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Setelah sampai ditempat tujuan, pertama kali yang dilakukannya adalah membangun mesjid sebagai pusat kegiatan ibadah. Ini meneladani apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW saat pertama kali sampai di Madinah. Dan karena menetap di desa Ampeldenta, menjadi penguasa daerah tersebut maka kemudian beliau dikenal sebagai Sunan Ampel. Sunan berasal dari kata Susuhunan yang artinya yang dijunjung tinggi atau panutan masyarakat setempat. Ada juga yang mengatakan Sunan berasal dari kata Suhu Nan artinya Guru Besar atau orang yang berilmu tinggi.

Selanjutnya beliau mendirikan pesantren tempat mendidik putra bangsawan dan pangeran Majapahit serta siapa saja yang mau datang berguru kepada beliau.

𝗔𝗷𝗮𝗿𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗸𝗲𝗻𝗮𝗹
Hasil didikan mereka yang terkenal adalah falsafah Moh Limo atau tidak mau melakukan lima hal tercela yaitu :
1. Moh Main atau tidak mau berjudi
2. Moh Ngombe atau tidak mau minum arak atau bermabuk-mabukan
3. Moh Maling atau tidak mau mencuri
4. Moh Madat atau tidak mau mengisap candu, ganja dan lain-lain.
5. Moh Madon atau tidak mau berzinah/main perempuan yang bukan isterinya.

Prabu Brawijaya sangat senang atas hasil didikan Raden Rahmat. Raja menganggap agama Islam itu adalah ajaran budi pekerti yang mulia, maka ketika Raden Rahmat kemudian mengumumkan ajarannya adalah agama Islam maka Prabu Brawijaya tidak marah, hanya saja ketika dia diajak untuk memeluk agama Islam ia tidak mau. Ia ingin menjadi raja Budha yang terakhir di Majapahit.

Raden Rahmat diperbolehkan menyiarkan agama Islam di wilayah Surabaya bahkan diseluruh wilayah Majapahit, dengan catatan bahwa rakyat tidak boleh dipaksa, Raden Rahmat pun memberi penjelasan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama.

𝗦𝗲𝘀𝗲𝗽𝘂𝗵 𝗪𝗮𝗹𝗶 𝗦𝗼𝗻𝗴𝗼
Setelah Syekh Maulana Malik Ibrahim wafat, maka Sunan Ampel diangkat sebagai sesepuh Wali Songo, sebagai Mufti atau pemimpin agama Islam se-Tanah Jawa. Beberapa murid dan putera Sunan Ampel sendiri menjadi anggota Wali Songo, mereka adalah Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kota atau Raden Patah, Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati.

Raden Patah atau Sunan Kota memang pernah menjadi anggota Wali Songo menggantikan kedudukan salah seorang wali yang meninggal dunia. Dengan diangkatnya Sunan Ampel sebagai sesepuh maka para wali lain tunduk patuh kepada kata-katanya. Termasuk fatwa beliau dalam memutuskan peperangan dengan pihak Majapahit.

Para wali yang lebih muda menginginkan agar tahta Majapahit direbut dalam tempo secepat-cepatnya. Tetapi Sunan Ampel berpendapat bahwa masalah tahta Majapahit tidak perlu diserang secara langsung, karena kerajaan besar itu sesungguhnya sudah keropos dari dalam, tak usah diserang oleh Demak Bintoro sebenarnya Majapahit akan segera runtuh. Para wali yang lebih muda menganggap Sunan Ampel terlalu lamban dalam memberikan nasehat kepada Raden Patah.

“Mengapa Ramanda berpendapat demikian?” tanya Raden Patah yang juga adalah menantunya sendiri. “Krena aku tidak ingin di kemudian hari ada orang menuduh Raja Demak Bintoro yang masih putera Raja Majapahit Prabu Kertabumi telah berlaku durhaka, yaitu berani menyerang ayahandanya sendiri”. Jawab Sunan Ampel dengan tenang.

“Lalu apa yang harus saya lakukan?”

“Kau harus sabar menunggu sembari menyusun kekuatan”, ujar Sunan Ampel. “Tak lama lagi Majapahit akan runtuh dari dalam, diserang Adipati lain. Pada saat itulah kau berhak merebut hak warismu selaku putera Prabu Kertabumi”. “Majapahit diserang adipati lain? Apakah saya tidak berkwajiban membelanya?” “Inilah ketentuan Tuhan”,sahut Sunan Ampel. Waktu kejadiannya masih dirahasiakan. Aku sendiri tidak tahu persis kapankah persitiwa itu akan berlangsung. Yang jelas bukan kau adipati yang menyerang Majapahit itu. Sunan Ampel adalah penasehat Politik Demak Bintoro sekaligus merangkap Pemimpin Wali Songo atau Mufti Agama se-Tanah Jawa. Maka fatwa nya dipatuhi semua orang.

Kekhawatiran Sunan Ampel pun terbukti. Dikemudian hari ternyata orang-orang pembenci Islam memutar balikkan fakta sejarah, mereka menuliskan bahwa Majapahit jatuh diserang oleh kerajaan Demak Bintoro yang rajanya adalah putera raja Majaphit sendiri. Dengan demikian Raden Patah dianggap sebagai anak durhaka. Ini dapat anda lihat didalam serat darmo gandul maupun sejarah yang ditulis sarjana kristen pembenci Islam.

Raden Patah dan para wali lainnya akhirnya tunduk patuh pada fatwa Sunan Ampel. Tibalah saatnya Sunan Ampel Wafat pada tahun 1478 M. Sunan Kalijaga diangkat sebagai penasehat bagian politik Demak, Sunan Giri diangkat sebagai pengganti Sunan Ampel sebagai Mufti, pemimpin para wali dan pemimpn agama se-Tanah Jawa.setelah Sunan Giri diangkat sebagai Mufti sikapnya terhadap Majapahit sekarang berubah. Ia mneyetujui aliran tuban untuk memberi fatwa kepada Raden Patah agar menyerang Majapahit.

Mengapa Sunan Giri bersikap demikian? 

Karena pada tahun 1478 kerjaan Majapahit diserang oleh Prabu Rana Wijaya atau Girindrawardhana dari kadipaten kediri atau keling. Dengan demikian sudah tepatlah jika Sunan Giri meneyetujui penyerangan Demak atas Majapahit. Sebab pewaris sah tahta kerajaan Majapahit adalah Raden Patah selaku putera Raja Majapahit yang terakhir.

Demak kemudian bersiap-siap menyusun kekuatan. Namun belum lagi serangan dilancarkan. Prabu Wijaya keburu tewas diserang oleh Prabu Udara pada tahun 1498. Pada tahun 1512, Prabu Udara selaku Raja Majapahit merasa terancam kedudukannya karena melihat kedudukan Demak yang didukung Giri Kedaton semakin kuat dan mapan. Prabu udara kuatir jika terjadi peperangan akan menderita kekalahan, maka dia minta bekerjasama dan minta bantuan Portugis di Malaka. Padahal putera mahkota Demak yaitu Pati Unus pada tahun1511 telah menyerang Protugis.

Sejarah telah mencatat bahwa Prabu Udara telah mengirim utusan ke Malaka untu menemui Alfinso d’Albuquerque untuk menyerahkan hadiah berupa 20 genta (ggamelan), sepotong kain panjang bernama “Beirami” tenunan kambayat, 13 batang lembing yang ujungnya berbesi dan sebagainya. Maka tidak salah jika pada tahun 1517 Demak menyerang Prabu Udara yang merampas tahta majapahit secara sah. Dengan demikian jatuhlah Majapahit ke tangan Demak. Seandainya Demak tidak segera menyerang Majapahit tentunya bangsa Portugis akan menjajah Tanah Jawa jauh lebih cepat daripada Bangsa Belanda. Setelah Majapahit jatuh pusaka kerajaan diboyong ke Demak Bintoro. Termasuk mahkota rajanya. Raden Patah diangkat sebagai raja Demak yang pertama.

Sunan Ampel juga turut membantu mendirikan Mesjid Agung Demak yang didirikan pada tahun 1477 M. Salah satu diantara empat tiang utama mesjid Demak hingga sekarang masih diberi nama sesuai dengan yang membuatnya yaitu Sunan Ampel. Beliau pula yang pertama kali menciptakan huruf pegon atau tulisan arab berbunyi bahasa Jawa. Dengan huruf pegin ini beliau dapat menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada para muridnya. Hingga sekarang huruf pegon tetap diapaki sebagai bahan pelajaran agama Islam dikalangan pesantren.

𝗣𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗾𝗶𝗱𝗮𝗵
Sikap Sunan Ampel terhadap adat istiadat lama sangat hati-hati, hal ini didukung pleh Sunan Giri dan Sunan Drajad. Seperti yang pernah tersebut dalam permusyawaratan para wali di mesjid Agung Demak. Pada waktu itu Sunan Kalijaga Mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersaji, kesenian wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman. Mendengar pendapat Sunan Kalijaga tersebut bertanyalah Sunan Ampel. “Apakah tidak mengkhawatirkan dikemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam, jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?”

Dalam musyawarah itu Sunan Kudus menjawab pertanyaan Sunan Ampel, “Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, bahwa adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada ajaran Tauhid kita akan memberinya warna Islami. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus kearah kemusyrikan kita tinggal sama sekali. Sebagai misal, gamelan dan wayang kulit kita bisa memberinya warna Islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun tentang kekhawatiran kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa dibelakang hari akan ada orang yang menyempurnakannya.

Adanya dua pendapat yang seakan bertentangan tersebut sebenarnya mengandung hikmah. Pendapat Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus ada benarnya yaitu agar agama Islam cepat diterima oleh orang jawa, dan hal ini terbukti, dikarekan dua wali tersebut pandai mengawinkan adat istiadat lama yang dapat ditolerir Islam maka penduduk jawa banyak yang berbondong-bondong masuk agama Islam.

Sebaliknya, adanya pendapat Sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni dan konsekuen juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki, sehingga membuat umat semakin berhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah. Inilah jasa Sunan Ampel yang sangat besar, dengan peringatan inilah beliau telah menyelamatkan aqidah umat agar tidak tergelincir kelembah kemusyrikan. Sunan Ampel wafat pada tahun 1478 M, beliau dimakamkan di sebelah Barat Mesjid Ampel.

𝗠𝘂𝗿𝗶𝗱-𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱 𝗦𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗔𝗺𝗽𝗲𝗹
Sebagaimana disebutkan dimuka murid-murid Sunan Ampel itu banyak sekali, baik dari kalangan bangsawan dan para pangeran Majapahit maupun dari kalangan rakyat jelata. Bahkan beberapa anggota Wali Songo adalah murid-murid beliau sendiri. Kali ini kita tampilkan kisah dua orang murid Sunan Ampel yang makamnya tak jauh dari lokasi Sunan Ampel dimakamkan :

𝗞𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗠𝗯𝗮𝗵 𝗦𝗼𝗹𝗲𝗵
Mbah Soleh adalah salah satu dari sekian banyak murid Sunan Ampel yang mempunyai karomah atau keistimewaan luar biasa. Adalah sebuah keajaiban yang tak ada duanya, ada seorang manusia dikubur hingga sembilan kali. Ini bukan cerita buatan melainkan ada buktinya. Disebelah timur mesjid Agung Sunan Ampel ada sembilan kuburan. Itu bukan kuburan sembilan orang tapi hanya kuburan satu orang yaitu murid Sunan Ampel yang bernama Mbah Soleh.

Kisahnya demikian, Mbah Soleh adalah seorang tukang sapu mesjid Ampel dimasa hidupnya Sunan Ampel. Apabila menyapu lantai sangatlah bersih sekali sehingga orang yang sujud di mesjid tanpa sajadah tidak merasa ada debunya. Ketika Mbah Soleh wafat beliau dikubur didepan mesjid. Ternyata tidak ada santri yang sanggup mengerjakan pekerjaan Mbah Soleh yaitu menyapu lantai mesjid dengan bersih sekali. Maka sejak ditinggal Mbah Soleh mesjid itu lantainya menjadi kotor. Kemudian terucaplah kata-kata Sunan Ampel, bila Mbah Soleh masih hidup tentulah mesjid ini menjadi bersih.

Mendadak Mbah Soleh ada dipengimaman mesjid sedang menyapu lantai. Seluruh lantaipun sekarang menjadi bersih lagi. Orang-orang pada terheran melihat Mbah Soleh hidup lagi. Beberapa bulan kemudian Mbah Soleh wafat lagi dan dikubur disamping kuburannya yang dulu. Mesjid menjadi kotor lagi, lalu terucaplah kata-kata Sunan Ampel seperti dulu. Mbah Soleh pun hidup lagi. Hal ini berlangsung beberapa kali sehingga kuburannya ada delapan. Pada saat kuburan Mbah Soleh ada delapan Sunan Ampel meninggalkan dunia. Beberapa bulan kemudian Mbah Soleh meninggal dunia sehingga kuburan Mbah Soleh ada sembilan. Kuburan yang terakhir berada di ujung sebelah timur.

𝗞𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗠𝗯𝗮𝗵 𝗦onhaji
Mbah Sonhaji sering disebut Mbah Bolong. Apa pasalnya? Ini bukan gelar kosong atau sekedar olok-olokan. Beliau adalah salah seorang murid Sunan Ampel yang mempunyai karomah luar biasa.

Kisahnya demikian, pada waktu pembangunan mesjid Agung Ampel Mbah Sonhaji lah yang ditugasi mengatur tata letak pengimamannya. Mbah Sonhaji bekerja dengan tekun dan penuh perhitungan, jangan sampai letak pengimaman mesjid tidak menghadap arah kiblat. Tapi setelah pembangunan pengimaman itu jadi banyak orang yang meragukan keakuratannya.

Apa betul letak pengimaman mesjid ini sudah menghadap ke kiblat? Demikian tanya orang meragukan pekerjaan Mbah Sonhaji. Mbah Sonhaji tidak menjawab, melainkan melubangi dinding pengimaman sebelah barat lalu berkata, lihatlah kedalam lubang ini, kalian akan tahu apakah pengimaman ini sudah menghadap kiblat atau belum?.

Orang-orang itu segera melihat kedalam lubang yang dibuat oleh Mbah Sonhaji. Ternyata didalam lubang itu mereka dapat melihat Ka’bah yang berada di Mekah. Orang-orang ada melongo, terkejut, kagum dan akhirnya tak berani meremehkan Mbah Sonhaji lagi. Dan sejak itu mereka bersikap hormat kepada Mbah Sonhaji dan mereka memberinya julukan Mbah Bolong.

Sumber : Aswaja NU Center Subang
Share:

PEMIMPIN MUSLIM AMERIKA MAULANA SYAIKH HISHAM KABBANI MASUK NU


Ada yg menarik  usai penutupan acara ICIS ( International Conference of Islamic Scholar). Seorang pemimpin Islam dari Amerika Serikat  Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani menyatakan masuk organisasi Nahdlatul Ulama. 

“Saya tertarik dgn Nadlatul Ulama. Saya rasa ada banyak kesamaan antara saya dan NU. Saya masuk NU saja,”katanya di hadapan Ketua PBNU H Rozy Munir, M.Si.

Keinginan  Kabbani  itu langsung ditanggapi serius oleh mantan menteri BUMN pada kabinet Gus Dur tersebut. “Kami akan mengangkat beliau sebagai anggota kehormatan pertama di Amerika,” ujar Rozy ya juga dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu. 

Wartawan NU Online   yang menyaksikan langsung  pernyataan  tersebut seketika melakukan konfirmasi kepada Kabbani. “Anda ingin menjadi anggota NU dan akan membuka kantor perwakilan  di Amerika?” “Tentu saja, kenapa tidak?”jawabnya disambut tawa kegembiraan beberapa  cendikiawan  yang terlibat dalam pembicaraan.

Sementara itu, Ketua PBNU. H. Ahmad Bagja di tempat terpisah menyatakan kegembiraannya atas kesediaan  Syaikh Hisyam Kabbani menjadi anggota kehormatan NU. “Sebenarnya dia sudah NU sejak lama,”jelas mantan ketua PB. PMII itu.
Keterangan H. Ahmad Bagja tersebut cukup beralasan. Diperhatikan, saat pembacaan doa penutupan acara ICIS  yg dilakukan oleh tiga ulama terkemuka dunia, yaitu Syaikh Wahbah Zuhaili dari Syiria, Syaikh Tashgiri dari Iran, dan Syaikh Kabbani, pemimpin sufi Amerika ini mengakhiri doa dgn bacaat qunut. Doa qunut  adalah doa yg dibaca pada rakaat terakhir shalat subuh.

Syaikh Kabbani adalah seorang sarjana teknik kimia dari Universitas Amerika di Bairut, kemudian belajar ilmu kedokteran di Belgia. Perjalanan intelektual Kabbani kemudian mengantarkannya di Fakultas Hukum Universitas Damascus Syiria. Pada beberapa tahun terakhir perjalan spiritual Kabbani lebih  menonjol hingga memimpin  thariqot Naqsabandi Haqqani di Amerika. 

Sebagai seorang pemimpin muslim di negeri adi daya, ia kemudian banyak terlibat dalam pergumulan antara pemimpin dunia. Tercatat ia pernah menjadi pembicara dan peserta pada pertemuan internasional di  sejumlah negara seperti Spanyol

Sumber : NU Online
Share:

DAWUH HADROTUS SYAIKH KH HASYIM ASY'ARI

Hadrotussyaikh KH Hasyim Asy’ari dalam salah satu maqolahnya mengatakan bahwa, “Siapa yang mau mengurusi NU, aku anggap sebagai santriku. Siapa yang jadi santriku, maka aku doakan husnul khatimah beserta keluarganya”. Hal ini semestinya menjadi penyemangat kaum muslimin untuk menghidupkan dan memajukan NU. Salah satu diantara ikhtiar memajukan NU adalah berdoa demi kebaikan NU kedepan. Dalam hal ini, KH. Hasyim Asy’ari mengijazahkan doa untuk memajukan NU, berikut doanya :

 دُعَاءُ حَضْرَةِ الشَّيْخِ كِيَاهِي حَاجِي مُحَمَّدْ هَاشِمْ أَشْعَرِي رَحِمَهُ الله 

اَللّٰهُمَّ أَيْقِظْ قُلُوْبَ الْعُلَمَاءِ وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نَوْمِ غَفْلَتِهِمِ الْعَمِيْقِ وَاهْدِهِمْ إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَادِ. اَللّٰهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ أَحْيِ جَمْعِيَّتَنَا جَمْعِيَّةَ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ حَيَاةً طَيِّبَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ بِبَرَكَةِ “فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧)”، “فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: ٣٧٧)”. وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَسُوْءٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
(٣x بعد المفروضة)

أجازنا الشيخ خطيب عمر، عن والده الشيخ عمر، عن الشيخ أسعد شمس العارفين، عن حضرة الشيخ محمد هاشم أشعري رحمهم الله

Artinya : “Ya Allah, bangunkanlah hati para ulama dan umat Islam dari kelalaian yang dalam dan berkepanjangan dan tuntunlah mereka ke jalan petunjuk-Mu. Ya Allah, yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, hidupkanlah Jam’iyah kami Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dengan kehidupan thoyyibah (kehidupan yang baik sesuai kehendak-Mu) hingga hari Kiamat dengan berkah ayat:

فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧) ، فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: ٣٧٧

“Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (Qur’an Surat An-Nahl : 97). “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (Qur’an Surat Ibrahim: 37)
Share:

Peristiwa Bersejarah di Bulan Muharram


Bulan Muharam merupakan bulan keberkahan dan rahmat karena bermula dari bulan inilah berlakunya segala kejadian alam ini. Bulan Muharam juga merupakan bulan yang penuh sejarah, di mana banyak peristiwa yang berlaku sebagai menunjukkan kekuasaan dan kasih sayang Allah kepada makhluk-nya. Pada bulan ini juga, Allah mengurniakan mujizat kepada Nabi-Nabi-nya sebagai penghormatan kepada mereka dan juga limpah kurnianya yang terbesar iaitu ampunan dan keredhaan bagi hambanya. Sebagai tanda kesyukuran kepadanya, maka hamba-hambanya mempersembahkan ibadah mereka (antara mereka dengan Allah) sebagai hadiah kepada Allah, namun dengan itu, masih belum dapat lagi membalas kurniaan Allah yang sungguh bernilai.

Said bin Jubair dari Ibnu Abbas r.a berkata: Ketika Nabi saw baru berhijrah ke Madinah, maka mereka dapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura (10 Muharam). Maka mereka pun bertanya kepada kaum Yahudi tentang puasa mereka itu. Mereka menjawab, "Hari ini Allah SWT memenangkan Musa dan Bani Israel terhadap Firaun dan kaumnya, maka kami berpuasa sebagai mengagungkan hari ini. Maka sabda Nabi saw: "Kami lebih layak mengikuti jejak langkah Musa dari kamu." Maka Nabi saw pun menyuruh para sahabat agar berpuasa. Antara lain kelebihan 10 Muharam ialah barangsiapa yang melapangkan rezeki pada keluarganya, maka Allah akan meluaskan rezekinya sepanjang tahun ini. Terdapat juga sebuah hadis meriwayatkan, "Barangsiapa yang berpuasa pada hari Asyura, maka dapat menebus dosa satu tahun." Maksud hadis ini ialah hari yang kesepuluh Muharam (Asyura) merupakan hari dan bulan kemuliaan karena pada sesiapa yang berpuasa pada hari inilah, Allah membersihkan dan menebus dosa-dosa mereka yang lampau.

Bulan Muharam merupakan satu-satunya bulan yang teristimewa karena banyak peristiwa yang bersejarah berlaku pada bulan ini disamping ganjaran pahala yang besar kepada sesiapa yang beribadah pada bulan ini sepertimana terdapat dalam satu hadist. "Sesiapa yang berpuasa pada hari Asyura (10 Muharam), maka Allah akan memberi kepadanya pahala sepuluh ribu malaikat dan juga akan diberi pahala sepuluh ribu orang berhaji dan berumrah dan sepuluh ribu orang mati syahid. Dan sesiapa yang mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, maka Allah akan menaikkan dengan tiap anak rambut satu darjat. Sesiapa yang memberi buka puasa pada semua umat Muhammad saw dan mengenyangkan perut mereka." Sahabat pun bertanya, "Ya Rasulullah, Allah telah melebihkan hari Asyura, dan menjadikan bukit dari lain-lain hari." Jawab Rasulullah, "benar, Allah telah menjadikan langit dan bumi pada hari Asyura, dan menjadikan bukit-bukit pada hari Asyura dan menjadikan laut pada hari Asyura dan menjadikan Loh Mahfuz dan Qalam pada hari Asyura dan juga menjadikan Adam dan Hawa pada hari Asyura, dan menjadikan syurga dan neraka serta memasukkan Adam ke syurga pada hari Asyura, dan Allah menyelamatkannya dari api pada hari Asyura dan menyembuhkan dari bala pada Nabi Ayub.


Pada hari Asyura juga Allah memberi taubat kepada Adam dan diampunkan dosa Nabi Daud, juga kembalinya kerajaan Nabi Sulaiman pada hari Asyura dan kiamat akan terjadi pada hari Asyura." Maka pada hari itu ( 10 Muharam) Nabi Adam dan Nabi Nuh a.s berpuasa karena bersyukur kepada Allah karena hari itu merupakan hari taubat mereka diterima oleh Allah setelah beratus-ratus tahun lamanya memohom keampunan. Pada hari itu juga, hari pembebasan bagi orang-orang Islam yang telah sekian lama dikongkong oleh Firaun, di mana hari itu mereka diselamatkan dari kejahatan dan kezaliman Firaun yang selama ini mengancam agama dan menggugat iman mereka. Dengan tenggelamnya Firaun, Haman, Qarun dan istana mereka bererti berakhirlah sudah kezaliman musuh-musuh Allah buat masa itu. Terselamatlah tentera Nabi Musa dari musuh dengan mukjizat yang Allah berikan, maka mereka berpuasa karena kesyukuran yang tidak terhingga kepada Allah swt.


Pada 10 Muharam, tarikh berlabuhnya perahu Nabi Nuh a.s karena banjir yang melanda seluruh alam di mana hanya ada 40 keluarga termasuk manusia binatang sahaja yang terselamat dari banjir tersebut. Kita merupakan cucu-cicit antara 40 keluarga tadi. Ini merupakan penghormatan kepada Nabi Nuh a.s karena 40 keluarga ini sahaja yang terselamat dan dipilih oleh Allah. Selain dari itu, mereka adalah orang-orang yang INGKAR pada Nabi Nuh a.s.


Nabi Ibrahim dilahirkan pada 10 Muharam dan diangkat sebagai Khalilullah (kekasih Allah) dan juga hari di mana baginda diselamatkan dari api yang dinyalakan oleh Namrud. Nabi Ibrahim diberi penghormatan dengan Allah memerintahkan kepada api supaya menjadi sejuk dan tidak membakar Nabi Ibrahim. Maka terselamatlah Nabi Ibrahim dari angkara kekejaman Namrud. Pada 10 Muharam ini juga Allah menerima taubat Nabi Daud karena Nabi Daud merampas isteri orang walaupun bagainda sendiri sudah ada 99 orang isteri, masih lagi ingin isteri orang. Oleh karena Nabi Daud telah membuatkan si suami rasa kecil hati, maka Allah turunkan dua malaikat menyamar sebagai manusia untuk menegur dan menyindir atas perbuatan Nabi Daud itu. Dengan itu sedarlah Nabi Daud atas perbuatannya dan memohon ampun pada Allah. Sebagai penghormatan kepada Nabi Daud a.s maka Allah mengampunkan baginda pada 10 Muharam. Pada 10 Muharam ini juga, Allah mengangkat Nabi Isa ke langit, di mana Allah telah menukarkan Nabi Isa dengan Yahuza. Ini merupakan satu penghormatan kepada Nabi Isa daripada kekejaman kaum Bani Israil.


Allah juga telah menyelamatkan Nabi Musa pada 10 Muharam daripada kekejaman Firaun dengan mengurniakan mukjizat iaitu tongkat yang dapat menjadi ular besar yang memakan semua ular-ular ahli sihir dan menjadikan laut terbelah untuk dilalui oleh tentera Nabi Musa dan terkambus semula apabila dilalui oleh Firaun dan tenteranya. Maka tenggelamlah mereka di Laut Merah. Mukjizat yang dikurniakan Allah kepada Nabi Musa ini merupakan satu penghormatan kepada Nabi Musa a.s. Allah juga telah menenggelamkan Firaun, Haman dan Qarun serta kesemua harta-harta Qarun dalam bumi karena kezaliman mereka. 10 Muharam, merupakan berakhirnya kekejaman Firaun buat masa itu. Allah juga telah mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan setelah berada selama 40 hari di dalamnya. Allah telah memberikan hukuman secara tidak langsung kepada Nabi Yunus dengan cara ikan Nun menelannya. Dan pada 10 Muharam ini, Allah mengurniakan penghormatan kepada baginda dengan mengampun dan mengeluarkannya dari perut ikan Nun.


Allah juga telah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman a.s pada 10 Muharam sebagai penghormatan kepada baginda. Dengan itu, mereka berpuasa dan beribadah kepada Allah sebagai tanda kesyukuran kepada Allah swt. Nabi saw telah bersabda dengan maksudnya: "Saya dahulu telah menyuruh kamu berpuasa sebagai perintah wajib puasa Asyura, tetapi kini terserahlah kepada sesiapa yang suka berpuasa, maka dibolehkan berpuasa dan sesiapa yang tidak sukar boleh meninggalkannya." Begitulah sabda Rasulullah di mana puasa pada hari Asyura ini sangat-sangat dituntut. Kalau tidak memberatkan umat baginda, maka diwajibkan. Oleh karena takut memberatkan umatnya, maka hukumnya adalah sunat.
Share:

Kamis, 27 Agustus 2020

Lafal Niat Puasa Tasu'a dan Asyura'


Puasa Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura' (10 Muharram) merupakan salah satu kesunahan di bulan Muharram. Syekh Zakaria al-Anshari dalam kitab Fathul Wahhab halaman 145 mencantumkan dalil kedua amaliah tersebut. Yakni dari dua sabda Rasulullah SAW:

 لَئِنْ بَقِيتُ إلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
 
"Jika aku tetap hidup hingga tahun depan niscaya aku benar-benar akan puasa Tasu'a." (HR. Muslim)

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

"Dan puasa hari Asyura' aku mengharap kepada Allah agar menghapus dosa satu tahun lalu." (HR. Muslim) 

Tata cara melakukan puasa Tasu'a dan Asyura' adalah sama dengan puasa pada umumnya. Yang berbeda hanyalah dari segi niat. Karena keduanya merupakan puasa sunah, maka dianjurkan niat pada malam harinya. Namun juga diperbolehkan niat di pagi hari sebelum tergelincirnya matahari.

Contoh lafal niatnya sebagai berikut:

 نَوَيْتُ صَوْمَ سُنَّةِ تَاسُوْعَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى 
  
"Aku niat puasa sunah Tasu‘a karena Allah Ta'ala” 

 نَوَيْتُ صَوْمَ سُنَّةِ ِعَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى
 
“Aku niat puasa sunah Asyura' karena Allah Ta'ala.”

Sumber : Page FB LIRBOYO
Share:

KH. A. Muchit Muzadi dan Pandangan Kebangsaannya


Pada malam takbiran 1 Syawal 1429 H/ 1 Oktober 2008, saya diajak (almarhum) bapak saya sowan ke KH. A. Muchith Muzadi. Beliau adalah ulama empat zaman: era revolusi fisik, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi.

Di tengah ramai takbir, banyak pitutur yang telah beliau sampaikan, dan hanya beberapa yang saya ingat dan saya catat, di antaranya soal hubungan antara agama dan negara di Indonesia dan pandangan NU mengenai NKRI.

Mbah Muchith lebih memandang hubungan antara agama dan negara dalam perspektif simbiotik, saling membutuhkan dan memperkokoh (hirasat ad-din wa siyasat ad-dunya); bukan integralistik apalagi sekuleristik. Beliau menolak pandangan Negara Islam Indonesia (NII), juga khilafah. Beliau juga tidak sepakat sekularisme, atau konsep negara sekuler ala AS atau Perancis. Kakak kandung KH. Hasyim Muzadi ini lebih sepakat dengan pandangan negara simbiotik seperti Indonesia saat ini. Konsepsi kenegaraan yang terilhami dari prinsip agama; negara tidak secara langsung ikut campur urusan agama, melainkan menyediakan perangkat yang membantu kelancaran urusan keagamaan melalui Kemenag; dan agama juga tidak secara kaku "mengatur" negara. Dari sini akan terjadi simbiosis mutualisme yang berbasis dialog antara "agama" dan "negara" dalam sistem kenegaraan.

Pandangan beliau ini saya rasa banyak diilhami oleh pandangan para guru beliau, seperti KH. A. Wahid Hasyim dan tentu saja kompatriot beliau, KH. Achmad Siddiq. 

Dalam soal keislaman dan keindonesiaan, Mbah Muchith mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah rumah besar. Semua agama ikut andil membangun rumah besar ini. Beliau mengibaratkan umat Islam telah membangun fondasinya, agama lain ikut menyumbang bata buat membangun tembok, menyumbang genteng, semen dll. Intinya semua ikut bekerjasama membangun rumah bernama Indonesia. 

Ini pula yang disebut ukhuwah wathaniah, persaudaraan sebangsa dan setanah air (selain ukhuwah islamiyah dan ukhuwah basyariah). Persaudaraan sebangsa dan setanah air ini yang sejak dulu berusaha diwujudkan dan diikat oleh para pendiri negara ini. Para arsitek yang mendesain Indonesia sebagai tempat berteduh bersama-sama, tanpa memandang agama, suku bangsa, dan ras.

Memang, rumah ini belum ideal, tapi kita harus realistis dan menjaga agar tidak roboh. "Kalaupun ada pihak-pihak yang ingin mencongkel daun pintu, merobohkan tembok, sampai melempari genteng, ya harus kita cegah. Demikian pula kalau dari internal penghuni rumah melakukan hal ini, harus kita hadapi, ditangani baik-baik."  kata kiai yang dijuluki Gus Dur sebagai "kiai nyentrik" ini.

Mbah Muchith juga banyak menceritakan bagaimana pandangan para ulama dalam menjaga dan merawat NKRI, khususnya lika-liku saat berhadapan dengan Orde Lama dan Orde Baru.

"Kalaupun ada pihak yang tiba-tiba ingin merobohkan rumah besar ini, apapun ideologinya, biasanya tidak ikut andil membangun dan merawatnya dengan susah payah."

Demikian beberapa poin yang saya ingat saat sowan beberapa tahun silam. Pandangan keagamaan dan kebangsaan Mbah Muchith ini mengingatkan saya pada satu hal: semakin sepuh usia ulama Indonesia, semakin sering kesana kemari menyampaikan pandangan kerukunan antar anak bangsa, Indonesia sebagai sebuah rumah bersama, dan konsepsi negara yang didirikan bersama eksponen kebangsaan lain. Silahkan cek pandangan Gus Dur, Mbah Maimoen Zubair, Habib Lutfi bin Yahya, Abuy Muhtadi Pandeglang, dan sebagainya.

Mbah Muchith, santri KH. M. Hasyim Asy'ari ini, wafat pada 6 September 2015. Lahul Fatihah...

Penulis : Gus rijal mumazziq z
Share:

SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA BANSER

Dalam Muktamar ke-9 NU di Banyuwangi, Jawa Timur pada 1934, mulai tampak peran tokoh-tokoh muda NU berpandangan luas seperti Mahfudz Siddiq, Wahid Hasyim, Thohir Bakri, Abdullah Ubaid, dan anak-anak muda lainnya. Mereka ikut menyampaikan pandangannya mengenai berbagai masalah kemasyarakatan dan kebangsaan.

Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) dari situasi konflik internal dan tuntutan kebutuhan alamiah. Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, dan pembinaan kader.

KH Abdul Wahab Chasbullah, tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam. Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab Chasbullah –yang kemudian menjadi pendiri NU– membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air).

Organisasi tersebut yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).

Nama Ansor ini merupakan saran KH Wahab Chasbullah, “ulama besar” sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah.

Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta teladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut.

Gerakan ANO (yang kelak disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagai penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam.

Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor). Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Hubungan ANO dengan NU saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh.

Baru pada Muktamar ke-9 NU di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharam 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam.

Dalam perkembangannya secara diam-diam khususnya ANO Cabang Malang, mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut Banser (Barisan Serbaguna). (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Dalam Kongres II ANO di Malang pada 1937, Banoe menunjukkan kebolehan pertama kalinya dalam baris berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor TNI Hamid Rusydi, tokoh yang namanya tetap dikenang, bahkan diabadikan sebagai nama salah satu jalan di kota Malang.

Penulis : Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon


Sumber : NU Online
Share:

KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM BAGI PARA NABI

Pengasuh Pesantren Bumi Damai Al-Mubibbin Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur KH M Djamaluddin Ahmad menjelaskan sepuluh fadilah atau keutamaan bulan Muharram.   Fadilah tersebut ia sarikaan dari Kitab Nazaatul Majalis Wa Muntakhobun Mawaidz karya Syekh Abdurahman Al-Sofuri. Dan Kitab Al-Nawadzir karya Syekh Sihabuddin bin Salamah Al-Qolyubi. Menurut Kiai Jamal di dalam dua kitab ini diijelaskan banyak hal tentang fadilah bulan muharam, khususnya tanggal 10 Muharram atau 10 Sura setiap tahunnya.   "Pada malam senin yang akan datang, sudah masuk hari tasu'a yaitu hari ke-9 bulan Muharram. Pada malam Selasa masuk pada hari Assyuro yaitu tanggal 10 bulan Muharram. Pada dua tanggal itu, disunahkan untuk berpuasa yang disebut puasa Tasu'a dan puasa Assyura," katanya di Pesantren Al-Muhibbin, Selasa (3/9).   Ia menjelaskan, tanggal 10 Muharram juga disebut hari Assyura karena diambil dari kata Al-Asyir, yang berarti ke-10. Di dalam kitab Nazatul Majalis wa Muntakhabun Mawaidz juz 1 halaman 174 dijelaskan bahwa pada tanggal 10 Muharram Allah memuliakan 10 Nabinya.  
.
"Pertama yaitu Istofa Adama, yang berarti Allah memilih Nabi Adam. Nabi Adam memiliki salah yang karena salahnya itu, Adam diturunkan ke bumi. Istrinya Hawa diturunkan di Jeddah, sedangkan Nabi Adam di Srilangka. Atas kesalahan itu, Nabi Adam bertaubat dan diterima taubatnya oleh Allah pada 10 Muharram," jelasnya.    Kejadian kedua yaitu Allah mengangkat Nabi Idris ke langit pada pada tanggal 10 Muharram. Selanjutnya peristiwa berlabuhnya perahu Nabi Nuh yang mendarat di atas gunung Judd. Di mana air pada saat itu menggenangi bumi selama 150 hari. Air turun dari langit berwarna kuning, dan keluar dari bumi berwarna merah. Pada peristiwa ini juga Kakbah roboh.    "Keempat, Allah mengangkat Nabi Ibrahim sebagai khalilullah atau kekasih Allah pada tanggal 10 Muharram. Dan kelima Allah mengampuni Nabi Daud pada tanggal 10 Muharram," beber alumni Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum ini.
.
Kiai Jamal menambahkan, pada 10 Muharram Allah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman. Di mana pada saat itu, Nabi Sulaiman pernah kehilangan kerajaannya.   Singkatnya, Nabi Sulaiman memerangi raja kafir dan anak perempuan dari raja kafir itu di nikahi. Karena istrinya selalu rindu kepada ayahnya, istrinya memohon kepada Nabi Sulaiman untuk dibuatkan patung yang menyerupai ayahnya.   Lambat waktu ternyata istri Nabi Sulaiman ini, menyembah patung ayahnya di luar pengetahuan Nabi Sulaiman. Karena menyembah patung itu, istrinya kemudian diikuti oleh setan. Suatu ketika pada saat Nabi Sulaiman wudlu, Nabi Sulaiman memiliki cincin sakti yang tidak boleh dibawa ke kamar mandi, sehingga dititipkan kepada istrinya. 
.

"Ternyata itu bukan istrinya melainkan setan yang menyamar sebagai istri Nabi Sulaiman. Oleh karena jimat Nabi Sulaiman adalah cincin, maka hilang sebagian kekuatannya," ceritanya.   Peristiwa ketujuh yang terjadi pada 10 Muharam adalah Allah memberi kesembuhan kepada Nabi Ayub. Nabi Yunus selama 40 hari berada di perut ikan, kemudian keluar juga pada 10 Muharram. Berkumpulnya Yusuf dan Yakub, yaitu bertemunya Nabi Yusuf dan Ya'qub setelah berpisah 40 tahun juga pada sepuluh Muharram.   Peristiwa yang terjadi pada para nabi di tanggal 10 Muharram yang terakhir adalah lahirnya Nabi Isa serta naiknya ia ke langit.   "Itulah 10 Nabi yang dimuliakan oleh Allah. Oleh karena itu tanggal 10 Muharram disebut 'Yaumul Assyura'. Banyak sekali fadilah dari 10 Muharram termasuk sedekah kepada 10 anak yatim. Orang dulu apabila mau sedekah tidak menunggu kaya, terkadang pada 10 Muharram," pungkasnya.


Sumber : NU Online 
Share:

Gus Yaqut Hadir, Alfian Tanjung Mangkir! - Mediasi Somasi PP GP Ansor

TANGERANG- Alfian Tanjung sebagai tergugat atas somasi dari PP GP Ansor tidak menampakkan batang hidungnya, Rabu (26/8). AT mestinya hadir dalam mediasi ketiga di PN Tangerang, Banten. Sementara penggugat, menghadirkan Gus Yaqut Cholil Qoumas, Ketum PP GP Ansor  yang juga Panglima tertinggi Banser. 

"Sejujurnya kami kecewa karena tergugat tidak hadir dalam mediasi. Kurang menunjukkan itikad baik, karena sebelumnya tergugat menyatakan siap hadir. Tindakan mangkir ini menyepelekan proses hukum," kata Ketua LBH PP GP Ansor Abdul Qodir.

Untuk diketahui, beredar video pernyataan saudara AT sedang menyampaikan pidato di hadapan para jamaah. Dalam video itu AT kerap memaki pemerintah Indonesia dan menyebut Ansor Banser saat ini keturunan PKI.  

"Kalau memang tidak bersalah dan yakin pernyataannya benar, kenapa tidak mau klarifikasi langsung. Jika mau hadir langsung di kantor PP GP Ansor, kami sendiri yang akan menjamin keamanan," kata Abdul Qodir lagi. 

Gus Yaqut sendiri menilai somasi yang dilayangkan merupakan bentuk keseriuasan dan komiten Ansor terhadap keutuhan NKRI. "Sejak awal Ansor Banser tegas, tidak akan memberi ruang pada intoleransi yang bisa menjadi bibit radikalisme. Termasuk, orang-orang yang asal ngomong tanpa dasar data fakta dan cenderung provokasi. Saya hadir karena komitmen untuk itu dan menghormati proses hukum," tegasnya. 

AT, kata Gus Yaqut seperti diketahui tidak kali ini saja memberikan pernyataan kontroversi. "Makanya, langkah somasi yang mungkin juga dilakukan gugatan pidana dan perdata semata-mata untuk efek jera. Khususnya kepada tergugat, umumnya siapapun yang doyan provokasi dan merusak ketenanan NKRI," tegasnya lagi. 

Untuk diketahui, AT selama ini kerap menjadikan PKI sebagai salah satu materi pembicaraan. Terakhir, yang kemudian berbuah somasi dari LBH Ansor PP GP Ansor adalah pernyataanya yang menyebut anak keturunan PKI menjadi pengurus Banser.

“Karena dulu yang membunuh ulama itu adalah Pemuda Rakyat PKI, ketika terjadi serangan balik oleh Banser, Banser membunuh orang-orang PKI, maka tidak semua orang-orang PKI itu tidak diselesaikan terutama yang tokoh-tokohnya. Akibatnya tokoh-tokoh PKI masa lalu punya anak, punya cucu jadi pengurus Banser”, ujar Alfian dalam video yang beredar.(*)


Sumber: Ansor News
Share:

Sahabat Ansor dan Tamu yang Kelaparan


Seperti biasa, sehabis Isya Rasulullah SAW melakukan halqah atau kajian keagamaan bersama para sahabat di masjid. Namun tiba-tiba ada seorang lelaki datang dan kemudian berkata kepada Rasulullah SAW. ”Wahai Rasulullah saya lapar,” sontak halqah

Setelah itu Rasulullah SAW mengajak orang tersebut pulang ke tempat salah satu istrinya. Dan ternyata di tempat tersebut tidak ada makanan, hanya ada seteguk udara. Kemudian Rasulullah mengajak juga ke isterinya yang lain. Namun keadaannya sama juga. Kemudian Rasulullah kembali ke masjid. Tampak para sahabat masih setia menunggu.

Tak lama kemudian Rasulullah menawarkan kepada sahabatnya siapa diantara mereka yang bisa menjamu tamu tersebut. Tawaran itu diterima salah seorang sahabat Anshor. Kemudian tamu itu diajaknya pulang. Sesampainya di rumah ia bercakap dengan istrinya, "Istriku jamulah tamu Rasulullah ini."

Kemudian istrinya pergi ke dapur bersama suaminya. “Suamiku malam ini kita tidak memilki apa-apa kecuali persediaan makan untuk anak kita,” kata istrinya.
“Istriku, hiburlah anak kita dengan sesuatu. Kalau ia minta makan ajaklah tidur. Jadi siapkan makan untuk tamu kita itu, ”kata suaminya.

Istrinya tampak bingung. Sesaat kemudian sahabat Ansor itu berkata lagi, ”Sediakan dua piring makan di meja makan, satu piring lagi untuk tamu itu, satu lagi piring kosong untukku. Apabila tamu itu masuk ke ruang makan, maka matikanlah lampu. '

Apa yang dikatakan oleh suaminya itu membuat bangga. Sikap suaminya yang ikhlas dan memperhatikan perawatan yang lapar itu merasa sangat senang hati. Maka makanpun dimulai. Tamu dengan makan apa yang dihidangkan oleh keluarga tersebut. Sedangkan si tuan rumah memainkan piring yang kosong.

Keesokan harinya sahabat Ansor itu menemui Rasulullah SAW. Sebelum mengisahkan pengalamannya semalam, Rasulullah SAW. telah mendahuluinya dan bersabda, ”Sandiwaramu semalam telah membuat Allah takjub. Semoga Allah memberkati kehidupanmu.”


Sumber : Muslimat NU
Share:

Senin, 24 Agustus 2020

Meraih Kedekatan Al-Quran Sehari-hari


IBADAH — Setiap Muslim perlu menyadari bahwa tujuan diutusnya Nabi Muhammad dengan diturunkan Al-Quran ialah agar manusia mendapatkan petunjuk sehingga bisa keluar dari aneka kegelapan.

الٓرۚ كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ لِتُخۡرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ

Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji. (QS. Ibrahim: 1)

Menurut Saepuloh, Muballigh Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyyah (TQN) Pontren Suryalaya, kedekatan dengan Nabi Muhammad Saw dan Al-Quran berpotensi untuk mentransformasi diri dan masyarakat keluar dari aneka kegelapan menuju cahaya.

Menarik karena kata adz dzulumat dalam ayat tersebut menggunakan kata jama’ atau plural sehingga berarti aneka kegelapan. Sedangkan An-Nur yang artinya cahaya menggunakan kata tunggal atau mufrad.

Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan bahwa minadz dzulumat ilan nur itu dari gelapnya kekufuran, kesesatan dan kebodohan menuju cahaya iman dan ilmu. Imam Al-Qurthubi menyebutkan bahwa istilah kegelapan dan cahaya adalah perumpamaan. Kekufuran itu digambarkan dengan kegelapan dan ajaran Islam itu ialah cahaya.

Demikian penjelasan Koordinator Dai Instruktur Nasional (DIN) JATMAN dan Peneliti Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta.

Bisa jadi setiap kita memiliki sisi gelap masing masing. Ada kekurangannya, tak luput dari kesalahannya, serta ada pula kesesatan yang kita alami karena kebodohan atau kelalaian. Oleh karenanya, kita perlu terus menjaga kedekatan dengan Rasulullah Saw dan Al-Quran yang diturunkan kepadanya.

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Ali ‘Imran, Ayat 31)

Jalinlah kedekatan itu dengan menjalin hubungan rohani dengan beliau. Bershalawat, bertawassul dan menghidupkan sunah disertai rasa cinta kepadanya dan ahli baitnya. Serta dekat dengan penerus beliau dari kalangan ulama al amilin. Dengan begitu otomatis kita akan dekat dengan Al-Quran.

Memang, Al-Quran diturunkan secara khusus pada bulan Ramadhan. Oleh karenanya bulan ini disebut juga sebagai Syahrul Qur’an atau bulannya Al-Quran.

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, (Al-Baqarah: 185)
Meski begitu, setiap hari setiap pribadi Muslim sebaiknya berdekat-dekat dengan Al-Quran. Meraih kedekatan dengan Al-Quran sangat dianjurkan dalam kehidupan sehari-hari. Al-Quran janganlah hanya terpajang di lemari atau rak buku.

Kini Al-Quran lebih mendapatkan perhatian. Banyak umat Islam mengisi waktunya untuk berdekatan dengan Al-Quran. Mulai dari membacanya, menghafalnya hingga menelaah dan mempelajari isi dan kandungannya. (My)


Sumber : PWNU Jatim
Share:

Keutamaan Menuntut Ilmu Menurut Kitab “Tanbihul Ghafilin”

KHAZANAH - Islam senantiasa menekankan setiap orang untuk menuntut ilmu. Betapa pesan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw) berbunyi “Tuntutlah ilmu dari buaian ibu hingga liang lahat” menjadikan “menuntut ilmu” berlaku sepanjang hidup seseorang.
Demikian pula Sabda Rasulullah Saw, “Tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri China”.
Dalam khazanah Islam, khususnya kalangan pesantren, terdapat Kitab Tanbihul Ghafilin karya Abul Laist Al Samarqandi yang menyebutkan tujuh keutamaan seseorang dalam menuntut ilmu.
يُقَالُ مَنِ انْتَهَى إِلَى الْعَالِمِ ، وَجَلَسَ مَعَهُ ، وَلَا يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَحْفَظَ الْعِلَلب
Dikatakan, seseorang yang pergi menuju orang Alim, duduk bersamanya tetapi dia tidak mampu menghafalkan ilmu, maka orang tersebut masih mendapatkan tujuh kemuliaan:
`أَوَّلُهَا: يَنَالُ فَضْلَ الْمُتَعَلِّمِينَ.
  1. Dapatkan keutamaan orang-orang yang belajar.
وَالثَّانِي: مَا دَامَ جَالِسًا عِنْدَهُ كَانَ مَحْبُوسًا عَنِ الذُّنُوبِ وَالْخَطَأِ.
2. Selama masih duduk bersama orang Alim, maka dia akan tercegah dari melakukan dosa dan kesalahan.
وإِذَالثَّالِثُ: إِذَا خَرَجَ مِنْ مَنْزِلِهِ تَنْزِلُ عَلَيْهِ الرُحْمَةُ.
3. Ketika keluar dari rumah maka rahmat turun keluar.
وإِذَالرَّابِعُ: إِذَا جَلَسَ عَنْدَهُ ، فَتَنْزِلُ عَلْيْهِمُ الرَّحْمَةُ ُ فِتُصِيبُهُ بِبَرَكَتِهِمْ.
4. Ketika dia duduk disamping orang Alim, maka rahmat turun kepada mereka dan diapun mendapatkan rahmat sebab berkah mereka.
و الْخَامِسُ: مَا دَامَ مُسْتَمِعًا تُكْتَبُ لَهُ الْحَسَنَةُ.
5. Selama mendengarkan orang Alim, maka dituliskan.
وَالسَّادِسُ: تَحُفُّ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا رِضًا وَهُوَ فِيهِمْ.
6. Mereka dilindungi Malaikat dengan sayap-sayapnya karena ridho dan orang tersebut juga bersama mereka.
وَالسَّابِعُ: كُلُّ قَدَمٍ يَرْفَعُهُ ، وَيَضَعُهُ يَكُونُ كَفَّارَةً لِلذُّنُوبِ ، وَرَفْعا لِلدَّرَفياعًا لِلدَّرف
7. Setiap langkah kakinya yang ditempatkan dan maka akan menjadi penghapus bagi dosa-dosa, pengangkat derajat dan tambahan
Demikian seperti dalam Kitab Tanbihul Ghafilin karya Abul Laist Al Samarqandi.
“Semoga kita dan seluruh keluarga kita selalu bertakwa kepada Allah, selalu cinta ilmu, selalu cinta kepada ahli ilmu, mendapat manfaat ilmu. Amn…. !!! ”. Demikian pesan Ustadz Keman Almaarif dari Jombang. (Merah)
.
Sumber : PWNU Jatim
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung