Kamis, 24 Juni 2021

PERTOLONGAN PERTAMA SAAT ASAM LAMBUNG NAIK


Asam lambung naik menuju ke kerongkongan atau esofagus yang pada akhirnya menimbulkan rasa nyeri pada ulu hati atau adanya rasa sensasi seperti terbakar pada bagian dada.

Untuk meredakan asam lambung ada langkah-langkah penting yang harus diperhatikan.

1. Duduk dengan posisi relaks 35-45 derajat. Hindari berbaring karena asam lambung akan semakin meningkat.

2. Hindari stres.
Kondisi ini akan memicu nyeri ulu hati dan meningkatkan kadar sakitnya.

3. Longgarkan pakaian Anda.
Terutama pada area dada dan perut. Usahakan Anda dalam kondisi relaks.

4. Atur napas dengan baik

5. Minum air hangat sedikit-sedikit dan jangan terlalu cepat karena dapat memicu muntah.

6. Hindari konsumsi teh, jus, dan kopi karena dapat meningkatkan gas.

7. Konsumsi makanan yang lunak seperti pisang atau bubur.

8. Kunyahlah permen karet, agar mulut mengeluarkan banyak air liur, sehingga mampu menurunkan asam lambung.

9. Minum air kelapa.

SEMOGA BERMANFAAT 
Share:

Rabu, 23 Juni 2021

MONDOK CUMA 7 BULAN SUDAH NGALIM.


Adalah KH. HASAN ZAMZAMI MAKHRUS atau yg terkenal dg sebutan Gus Zam, ketika menapaki pondok Al-Fadlu Kaliwungu sesudah wafatnya KH Makhrus Ali (Ayahanda Beliau), Gus Zam dgn Gus An'im ngaji Jurumiyah kepada Abah KH. Dimyati Rois yg sebelumnya sudah dititipi KH Makhrus Ali, salah satu putra Beliau, yakni Gus Kafabih.

Di suatu kesempatan, Gus Zam sengaja menyendiri sowan kepada Abah Dim dalam rangka minta didoakan, pinta Beliau:

"Mbah Dim, kulo nyuwun dungo kersane saget cepet alim."

Padahal waktu itu Gus Zam pertama kali mondok dan baru ngaji Jurumiyyah. Lalu Abah Dim memerintahkan Gus Zam utk ngaji IQNA'

"Ngaji Iqna' smpyn iso porak Zam ", seru Abah Dim

Gus Zam menjawab : "Njih saget Mbah Dim".

Lalu dipanggillah Gus Nasrul yg juga mondok di Al-Fadlu atas saran dari Kyai Makhrus,

"Nasrul, sampean ngaji o Iqna' karo Zam yo" begitu dawuh Abah Dim.

Gus Nasrul pun cepat meng-iyakan, "Sendiko dawuh, njih Bah."

Kala itu bulan sofar, mulailah Gus Zam mulang kitab Iqna' dan muridnya cuma satu, yaitu Gus Nasrul yg populer dg sebutan "Gus Kopral" karena orangnya tinggi, berambut kriting dan gemar pake jaket tentara.

6 bulan berikutnya di bulan Sya'nan 3 hari menjelang Khataman ngaji Iqna'.

Gus Zam sowan Abah Dim, "Mbah Dim, tigang dinten malih ngaose khatam, kulo nyuwun mangke Mbah Dim ndungoni khatamanipun".

Abah Dim menjawab : "Iyo Zam, nko sing dungo khataman aku, tapi ono 1 syarat."

Gus Zam pun sangat gembira, "Njih nderek Mbah Dim, syarat nopokemawon kulo lampahi".

"Syarate 1 tok zam, mengko nek khataman tak kabari." dhawuh Abah Dim.

Ketika Khataman tiba, Abah Dim pun ngrawuhi acara tersebut. Usai berdoa.

Beliau dhawuh : "Zam, syarate 1 sampeyan sak wise khatam Iqna' iki kudu boyong muleh nyang Lirboyo."

Gus Zam kaget tersentak, tidak mengira syaratnya sedahsyat itu. Beliaupun pun menangis, campur-aduk perasaan antara bahagia didoakan khatamannya & sekaligus sedih lantaran mesti berpisah dgn Abah Dim, kiainya.

Tapi karena status Beliau adalah murid, tak ada lain kecuali Sam'an wa Tho'atan, dg berat hati, Gus Zam meninggalkan Alfadllu pulang ke Lirboyo. Hanya 7 bulan saja mondok di Al-Fadlu, namun Gus Zam telah 'Alim 'Allamah.

Paling Sering Abah Dim dhawuh; "Moco Kitabe  Zam iku persis moco ne Mbah Ber " (Sebutan KH. Zubair Dahlan dari Sarang yg tak lain adalah guru Abah Dim sendiri).

Mbah Ber jika membaca kitab sanggup membawa para mustami'in serta-merta faham tanpa mesti diterangkan lagi, demikian juga Gus Zam, "Nek moco kitab sekali jadi." nuruni Ayahanda Beliau (KH. Makhrus Ali).

Beberapa waktu kemudian, Gus Zam sering sowan Abah Dim, minta diakui murid oleh Beliau, tetapi Abah Dim mengelak :

"Ora iso, sampean dudu muridku, wong dadi alim dewe ko".


Keterangan Foto di atas :
📷 Foto dari kiri : Simbah KH. Anwar Manshur, KH. Zamzami Makhrus, KH. Abdullah Kafabihi Makhrus, KH. An'im Falahuddin Makhrus
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung