Jumat, 30 Oktober 2020

Satkoryon Banser & PAC GP Ansor Watulimo Hadiri Peringatan Maulid Nabi SAW di Desa Tasikmadu


Anwalin News
, Tasikmadu – Kamis, 29 Oktober 2020 Segenap Anggota Banser Satkoryon Watulimo bersama Pengurus PAC GP. Ansor Watulimo menghadiri acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 H. dan Santunan Yatim Piatu di Desa Tasikmadu Kecamatan Watulimo.
 
Acara Peringatan Maulid tersebut diselenggarakan oleh Keluarga Besar Jamaah Masjid “Jannatul Ilmi” Dusun Gares, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo bekerjasama dengan Jamaah Thoriqoh dibawah pimpinan (mursyid) Bapak Kyai Nuruddin. Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW tersebut diawali pada malam Kamis (28/10) yang diisi dengan pembacaan Sholawat Nabi dan beberapa amalan dzikir/aurotan lainnya.
 
Puncak acara Peringatan Maulid (Kamis, 29/10) diisi dengan Santunan Yatim Piatu dan Pengajian Umum dengan mubaligh (dai) dari Kabupaten Lumajang, yaitu Bapak KH. Mimbar Mashuri yang mana beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Nurus Salam Uranggantung, jarit kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang dan juga sekaligus Ketua Jatman Kabupaten Lumajang.

 
Dalam Tausyiyahnya bapak KH. Mimbar Mashuri menyampaikan bahwa kita sebagai ummat Islam harus selalu meneladani Rasulullah SAW, baik dalam ucapan maupun tindakan. Dalam bergaul dengan sesama manusia kita harus menebarkan sikap rahmatan lil ‘aalamin sebagaimana Nabi Muhammad SAW diutus menjadi rahmat bagi alam semesta. Dalam berucap dan bertindak juga harus mengedepankan perilaku/etika yang baik dan benar.
 
*****************
Mengingat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut pada saat ini bangsa Indonesia sedang dilanda dengan adanya wabah virus corona (covid-19), maka dalam pelaksanaanya pihak panitia dan segenap hadirin yang hadir diharuskan menerapkan protokol kesehatan diantaranya memakai masker, pakai semprot hand sanitizer serta melakukan psycal distancing atau jaga jarak satu sama lainnya. Hal ini sebagai langkah ikhtiyar untuk memutus mata rantai penyebaran virus yang dari hari kehari penyebarannya semakin meningkat dan mematikan, sementara vaksin dari virus tersebut belum ditemukan.

*****************


 
Dari segenap jajaran anggota Banser Satkoryon Watulimo yang hadir pada Peringatan Maulid tersebut berjumlah kurang lebih 84 personil banser sebagai bentuk dan wujud dukungan Banser ikut serta menjaga keamanan dan ketertiban acara yang digelar oleh keluarga besar jamaah Masjid Jannatul Ilmi Dusun Gares Desa Tasikmadu. Selain itu juga untuk ikut ‘ngalap berkah’ (tabarukan) banser dalam menjaga ulama, kyai dan NKRI.

 
Para anggota Banser Satkoryon Watulimo tersebut bertugas untuk PAM disekitar lokasi pengajian dan jalan raya yang dilalui jamaah dalam menghadiri peringatan maulid Nabi SAW. Sebelum Giat PAM terlebih dahulu diawali dengan Apel PAM yang dipimpin langsung oleh sahabat Murdiyanto (Ketua PAC GP Ansor Watulimo) beserta segenap jajaran Satkoryon dan Provost Banser Kecamatan Watulimo. Dari Jajaran Satkoryon dan Provost yang hadir diantaranya Komandan Suparli, Komandan Dasar, Komandan Maksum Asngari, Komandan Wiji Nuryani dan Komandan Makrus Ali. Sedangkan dari jajaran satkorkel yang hadir adalah satkorkel Watulimo (sahabat sujito beserta anggotanya), satkorkel Gemaharjo (sahabat Agus Salim beserta anggotanya) , satkorkel Slawe (sahabat Anis beserta anggotanya), satkorkel Dukuh (sahabat Basori beserta anggotanya), satkorkel Sawahan (sahabat Dedi beserta anggotanya), satkorkel Margomulyo (sahabat Muntholib beserta anggotanya), satkorkel Prigi (sahabat Dasar beserta anggotanya), satkorkel Karanggandu (sahabat Sholikan/Ahmad Rofiq beserta anggotanya) dan satkorkel Tasikmadu yaitu sahabat Abu Hanifah – Samsul Arifin.


Selain dari jajaran anggota Banser dan para kasatkor, hadir pula para pengurus Ranting Gerakan Pemuda Ansor yaitu sahabat Samsul Huda (Ketua GP. Ansor Ranting Watulimo), sahabat Sayudi (Ketua GP. Ansor Ranting Dukuh), sahabat Ahmad Misbachudin (Ketua GP. Ansor Ranting Sawahan), sahabat Masruiyatul Hikmat (Ketua GP. Ansor Ranting Margomulyo) dan sahabat Much. Muhyidin (Ketua GP. Ansor Ranting Tasikmadu).
 
Acara Pengajian dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara keseluruhan terlaksana dengan aman, tertib dan sukses dengan harapan semoga dengan peringatan Maulid ini sebagai bentuk mahabbah lirasulillah dan kita diakui sebagai umatnya yang berhak mendapat Syafa’atnya besuk dihari Kiamat. Aamiin (MY)
Share:

Kamis, 29 Oktober 2020

Makna dan Hikmah; Napak Tilas Keteladanan Nabi Muhammad SAW Melalui Pembacaan Maulid Al-Barzanji


Anwalin News, Gemaharjo – Rabu, 28 Oktober 2020 adalah tanggal spesial untuk tahun ini dimana ada 2 peristiwa yang sangat penting bagi bangsa Indonesia terlebih bagi ummat Islam pada Khususnya. Moment penting tersebut adalah, Pertama; sebagai tanggal Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Sedangkan yang; Kedua adalah bertepatan dengan malam 12 Rabi’ul Awal dimana pada malam tersebut seorang hamba (Manusia Agung) yaitu Nabi Muhammad SAW dilahirkan dimuka bumi ini.
 
Dari kedua moment tersebut, tentunya bagi bangsa Indonesia adalah moment yang sangat bersejarah didalam mengukir dan menentukan jati dirinya, yaitu tonggak awal mempersatukan seluruh bangsa Indonesia melalui Ikrar Sumpah Pemuda dan meniti serta mengikuti jejak langkah keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia idola / teladan bagi seluruh manusia melalui Peringatan Maulid Nabi.
 
Untuk mengingatkan kembali jejak keteladanan Rasulullah tersebut, Ketua PAC GP. Ansor Watulimo (sahabat Murdiyanto) ikut memperingati maulid Nabi Muhammad SAW di Mushola Al-Mubarok Srikaton Desa Gemaharjo Kecamatan Watulimo yang dihadiri oleh segenap jamaah mushola dan juga beberapa pengurus PAC GP. Ansor Watulimo lainnya, yaitu sahabat Khusnul Mutholib dan sahabat Agus Salim.

 
Acara Peringatan Maulid diawali dengan ceramah agama yang disampaikan oleh bapak Kyai Mahfudz Effendi (ulama setempat) yang dilanjutkan dengan pembacaan Maulid al-barzanji natsar, al-barzanji nadhom dan ditutup dengan asroqol.
 
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki makna dan hikmah yang sangat besar bagi ummat Islam. Salah satunya bertujuan mengingatkan jejak dan keteladanan kehidupan serta perjuangan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman yang membawa kabar gembira (bashiran) dan peringatan (nadhiran) kepada ummat manusia.
 
Nabi Muhammad SAW, merupakan manusia teladan (uswah hasanah) yang dihadirkan oleh Allah SWT untuk diteladani sebagai pembawa risalah untuk perbaikan akhlaq manusia. Manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki fungsi ganda, baik sebagai individu maupun makhluk sosial. Dalam hal ini, perlu disadari bahwa dalam kehidupan diperlukan adanya manusia idola.
 
Manusia Idola tersebut adalah Baginda Rosulillaah Muhammad SAW sebagai manusia sempurna pembawa risalah kenabian yang diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Hal ini sebagaimana Firman Allah dalam al-Qur'an surat al-Ahzab ayat 21 yang artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri tauladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
 
Selain itu juga diperkuat dengan Sabda Rasul yang tertuang dalam haditsnya : “Sesungguhnya aku (Nabi Muhammad SAW) diutus untuk menyempurnakan Akhlaq Manusia”


Meneladani Nabi Muhammad SAW adalah suatu keharusan bagi setiap muslim. Melaksanakan tuntunan dari Nabi SAW, menunaikan apa yeng terkandung dalam sunnah-sunnahnya secara tidak langsung juga melaksanakan segala perintah serta menjauhi segala larangan Allah. Dan hal inilah yang merupakan pengejawentahan dari makna taqwa.
 
Ajaran Islam, menyuruh pemeluknya untuk menjadi khaira umah (umat yang terbaik), menjadi umat/kelompok teladan yang mampu memperbaiki akhlaq bangsa-bangsa di dunia.
 
Namun, saat ini telah terjadi berbagai krisis seperti krisis etika dan moral. Itulah sebab mengapa ummat memerlukan gerakan perbaikan moral melalui masjid dan lembaga-lembaga Islam lainnya. Islam yang mengandung ajaran rahmatan lil ‘alamin tidak akan pernah terwujud tanpa adanya kelompok yang terbaik. Mereka (kelompok tersebut) wajib memiliki kriteria-kriteria seperti shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah sehingga Umat Islam dimana pun dituntut untuk berjuang, bekerja-keras, dan berpikir cerdas dengan berjihad dan berijtihad. Hal ini penting untuk membangun kesejahteraan bangsa-bangsa di dunia. #Wallaahu A’lam (MY)
Share:

Peringatan Maulid ; Momentum Meneladani Sifat dan Akhlak Nabi Muhammad SAW


Anwalin News, Margomulyo - Nabi Muhammad SAW adalah khatam al-anbiya’. Hal ini mengandung maksud bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi dan rasul pamungkas atau terakhir yang diturunkan Oleh Allah SWT kepada umat-Nya. Sehingga kehadirannya tidak hanya dikhususkan untuk umat tertentu saja sebagaimana para nabi sebelumnya. Akan tetapi Allah menghadirkan Nabi Muhammad diperuntukkan sebagai rahmat bagi semesta alam. Sebagaimana Firman Allah dalam al-Qur'an surat al-anbiya’ ayat 107:

“Dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”

Makna lainnya tentang  khatam al-anbiya’  ini adalah adanya keistimewaan yang diberikan Allah kepada Nabi yaitu Uswah Hasanah atau suri tauladan yang baik. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam al-Qur'an surat al-Ahzab ayat 21:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri tauladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

Meneladani Nabi Muhammad SAW adalah suatu keharusan bagi setiap muslim. Melaksanakan tuntunan dari Nabi SAW, menunaikan apa yeng terkandung dalam sunnah-sunnahnya secara tidak langsung juga melaksanakan segala perintah serta menjauhi segala larangan Allah. Dan hal inilah yang merupakan pengejawentahan dari makna taqwa.

Salah satu cara untuk meneladani akhlak Nabi SAW ini adalah dengan memperingati hari kelahiran beliau atau maulid Nabi SAW. adalah pada tanggal 28 Oktober 2020 M atau bertepatan dengan malam 12 Rabiul awal 1442 H, (ba’da Maghrib) Jamaah Masjid Nurul Ahadiyah Jajar - Margomulyo, menggelar acara peringatan Maulid Nabi SAW. Acara ini diisi dengan pembacaan al-Barzanji dan ceramah agama oleh Ust. Sanusi M.Pd.I


Dalam tausiyahnya beliau menyampaikan bahwa Maulid Nabi SAW ini adalah acara rutin yang setiap tahun diperingati. Acara peringatan ini seharusnya tidak hanya bersifat formalitas-seremonial saja. Cuma sebatas memperingati setiap tahunnya sebagaimana biasanya. Namun yang lebih ditekankan adalah adanya upaya mengambil ibrah (pelajaran) tentang hakikat yang tekandung dalam Maulid ini. Setidaknya peringatan ini bisa melahirkan rasa mencintai kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga dengan rasa cinta kepada Nabi SAW inilah nantinya akan ada peningkatan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Dari peringatan maulid inilah nantinya akan menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW yang selanjutnya bisa menemukan adanya uswah hasanah atau teladan yang baik dalam diri Rasulullah SAW. Ketika telah  menemukan uswah hasanah karena didasari rasa cinta kepada Nabi SAW ini, seorang hamba kemudian bisa mengaplikasikan nilai-nilai keteladanan Nabi SAW di dalam kehidupannya. Baik itu yang bersifat dengan hablu mina Allah, maupun yang bersifat hablu mina al-nas. Setelah meneladaninya maka seseorang akan lebih bisa untukl mendekatkan dirinya kepada Allah. Derajat iman dan tawanya kepada Allah akan meningkat. Kecintaan serta ketaatan kepada Rasulullah SAW akan menguatkan dirinya untuk terus mengamalkan sunnah-sunnahnya.

 
Ada dua indikator seseorang bisa dikatakan cinta kepada Rasulullah SAW, yaitu:

1. Sering Menyebut Namanya
Orang yang mencintai seseorang, biasanya senang untuk menyebut namanya, menceritakanya ataupun gembira apabila mendengar nama yang dicintainya itu disebut oleh orang lain.

Begitu pula seseorang yang cinta kepada Nabi SAW, maka senang untuk menyebut namanya dengan senandung shalawatnya. Nabi SAW pun bersabda, “Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku”. (H.R. Tirmidzi). Ternyata ada legalisasi kemudahan untuk masuk surga untuk orang-orang yang gemar atau banyak bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Tapi di sisi lain, Nabi SAW juga bersabda, “Orang yang pelit adalah orang yang ketika namaku disebut di sampingnya, ia tidak mau membaca shalawat kepadaku”. (H.R. Tirmidzi). Itulah sebabnya ketika nama Nabi Muhammad Saw disebut, seorang muslim harus bershalawat kepadanya.

2. Meneladani Nabi Muhammad SAW
Sudah jelas bahwa pada diri Nabi Muhammad SAW suri tauladan yang baik. Mauslim yang sejati harus bersungguh-sungguh untuk meneladani sifat dan akhak Nabi SAW. meskipun sangat berat dan tidak mungkin menirukan untuk keseluruhannya, seorang muslim harus sekuat tenaga untuk meneladaninya.

Semoga peringatan Maulid Nabi SAW ini, menjadi sarana untuk meneladani sefat dan akhlak beliau serta dapat meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Aamiin. (DH)

Share:

Rabu, 28 Oktober 2020

BERMAULID DENGAN KEMUNKARAN


Sejarah mencatat, perayaan ini secara riil  pertama kali diprakarsai dan digagas oleh Raja Mudhoffar Abu Sa’id Kukuburi bin Zainuddin Ali Ibnu Buktikin, penguasa Arbil (salah satu kota di Irak).[1] Dan sejak saat itulah perayaan maulid Nabi Muhammad Saw yang diselenggarakan setiap tanggal 12 robiul awwal menurut kalender Hijriyah tersebut menjadi sebuah tradisi tahunan agung umat Islam di seluruh  penjuru dunia.

Di Indonesia, perayaan maulid Nabi Saw sering diselenggarakan di surau-surau, masjid-masjid, lembaga sosial kegamaan, sekolah-sekolah, bahkan instansi pemerintahan. Corak sosial dan kebudaan lokal di Nusantara pun cukup signifikan dalam mewarnai dan mengemas berbagi bentuk dan praktek maulid Nabi yang menggairahkan. Dan yang tak kalah penting atau bahkan menjadi hal yang paling urgen adalah pembacaan sholawat dan sirah nabawiyyah (sejarah hidup Nabi) sebagai momentum untuk menambah kecintaan pada baginda Rasulullah Saw dan menjadikannya sebagai suri tauladan yang baik (Uswatun Hasanah) dalam kehidupan sehari-hari.

Maulid Nabi Masa Kini         

Sudah tidak dapat dipungkiri lagi, perkembangan zaman yang begitu pesat sangat berpengaruh terhadap semua sendi-sendi kehidupan manusia tak terkecuali perayaan maulid Nabi Muhammad Saw sekalipun. Pasalnya, peringatan maulid Nabi Saw yang pada mulanya hanya terlaksana di surau-surau, masjid-masjid, kini mulai menjalar dalam dimensi yang lebih luas. Baik dari segi frekuensi kegiatan maupun corak penyelenggaraannya.

Sejenak, angin segar kejayaan syiar Islam mulai tercium. Namun, sangat ironis ketika kesucian peringatan maulid Nabi Saw yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati ternyata dalam prakteknya tercemari oleh perbuatan-perbuatan munkar yang ikut serta di dalamnya. Konser musik, pawai, dan bentuk kegiatan lain yang sulit memisahkan percampuran antara laki-laki dan perempuan, ataupun penggunaan alat-alat musik yang diharamkan adalah salah satu realita perayaan maulid Nabi Saw di era modern seperti sekarang ini yang sulit bahkan tidak memberi celah untuk terlepas dari unsur kemunkaran.

Dalam kitab At-Tanbihat Al-Wajibat Li Man Yashna’u Al-Maulid Bi Al-Munkarat, Hadlratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi Saw hukumnya sunnah. Namun dalam realita yang ada, beliau lebih memilih tidak setuju dengan perayaan-perayaan maulid Nabi Saw yang bercampur dengan kemunkaran dan kemaksiatan. Dengan mengutip pernyataan syaikh Ibnu Al-Haj Fasi yang menyatakan pengguanaan hal yang bernuansa pengagungan tidak pada tempatnya saja bisa menambah dosa, akan lebih parah lagi bila menyertakan hal-hal yang bernuansa penghinaan.[2]

Dari pernyataan tersebut tampaknya sangat jelas sekali bahwa Hadlratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari merumuskan dengan tegas bahwa perbuatan-perbuatan munkar dan sarat akan kemaksiatan yang menyertai perayaan dalam memperingati maulid Nabi Saw lebih mengesankan sebuah penghinaan daripada pengagungan. Dan yang pasti hal tersebut menodai kesucian maulid Nabi Saw. Sebab, tujuan diadakannya peringatan ini adalah untuk mengagungkan Rasulullah Saw yangs seharusnya berupa perbuatan positif, sopan santun, dan menjunjung tinggi akhlaq dan tata krama.

Namun, ini semua bukan berarti perayaan memperingati maulid nabi tidak baik untuk dilaksanakan. Karena yang haram bukan perayaan maulid Nabinya, melainkan pada hala-hal yang terlarang tersebut. Adapun peringatan mauli Nabi Saw tetaplah menjadi sebuah anjuran, lebih-lebih masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur menganggap perayaan ini sebagai salah satu syiat agama Islam, hukum memperingatinya bisa berubah menjadi sunnah. Sebab, dalam masalah ini bukan hanya esensi peringatannya saja yang dibahas. Namun lebih condong pada cara yang dipakai dan bagaimana menyelenggarakannya. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Dr. Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki bahwa kita tidak perlu membahas hukum perayaan maulid Nabi karena hal itu telah dilakukan Rasulullah Saw sendiri dengan berpuasa di setiap hari senin.

Walhasil, meskipun dalam praktek nyata ada saja hal-hal yang masih dianggap tidak sejalan dengan koridor syariat, perayaan maulid Nabi Saw adalah salah satu syiar agama Islam yang harus dimuliakan yang hukum merayakannya adalah sunnah. Karena bagaimanapun, realita tersebut merupakan sebuah keniscayaan alamiah yang tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia. Sehingga momentum maulid Nabi bukan hanya euforia belaka, namun bisa dijadikan ajang memacu kecintaan dan suri tauladan terhadap Nabi Muhammad Saw dalam membangun kehidupan yang lebih baik ke depannya. []waAllahu a’lam.

___________
[1] Al-Hawi Lil Fatawi.
[2] At-Tanbihat Al-Wajibat, hlm. 9, cet. Maktabah Al-Turats Al-Islami.

Sumber : FB LIRBOYO
Share:

Makna Sumpah Pemuda Untuk Para Milenial


Rabu 28 Oktober 2020 diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Mengapa Sumpah Pemuda? Karena saat itu tengah digelar kongres pemuda dan saat itu tercetus sebuah ikrar dari peserta kongres yang dikenal dengan Sumpah Pemuda.
------------------------------- 
Ikrar Sumpah Pemuda:
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
--------------------------------

Lalu bagaimana makna Sumpah Pemuda, khususnya bagi kaum milenial saat ini. Berikut makna yang harus diteladani oleh kaum milenial saat ini :
 
Makna Sumpah Pemuda
Makna Sumpah Pemuda yang pertama adalah Menyatukan Perjuangan Bangsa Indonesia. Perjuangan para pemuda berakhir dengan perolehan kemerdekaan bangsa.
 
Saat itu para pemuda dan pemudi tokoh Sumpah Pemuda telah mengorbankan waktu, tenaga, harta, pikiran, dan jiwanya untuk menyatukan bangsa Indonesia.
 
Tanpa adanya pengorbanan para pemuda ketika itu mungkin saja Indonesia tidak bisa mencapai persatuan untuk melawan penjajah. Para pemuda dan pemudi Indonesia saat itu telah berhasil mewujudkan persatuan dan keutuhan NKRI.
 
Makna Sumpah Pemuda yang kedua adalah memaknainya sebagai rasa cinta terhadap tanah air. Kemerdekaan Indonesia didapatkan dari perjuangan ratusan tahun yang mana melibatkan pengorbanan jiwa dan harta benda rakyat.
 
Sumpah Pemuda menyumbang besar pada gerakan kemerdekaan sebagai cerminan rasa cinta yang besar para pemuda kepada tanah air. Termasuk mencintai keragaman budaya, keyakinan, bahasa, dan suku.
 
Mendorong Semangat Juang Generasi Muda
Dalam rumusan Sumpah Pemuda akan kamu temukan betapa gelora semangat para pemuda berkobar untuk menciptakan kesatuan dan persatuan.
 
Semangat juang dalam isi Sumpah Pemuda bisa menjadi contoh nyata bagi generasi muda saat ini untuk mengambil langkah dalam mengisi kemerdekaan.
Pemberian makna yang dalam terhadap Sumpah Pemuda akan menumbuhkan semangat juang mendapatkan suatu pencapaian tertentu.
 
Makna Sumpah Pemuda yang bisa diambil adalah semangat terus berkobar sekalipun banyak rintangan seperti yang dilakukan para pemuda generasi terdahulu.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu bangsa. Masyarakat Indonesia menggunakan Bahasa Indonesia sebagai komunikasi universal dalam negara. Inilah makna Sumpah Pemuda yang juga perlu dipahami.
 
Karena Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi yang tercantum dalam Undang Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 36.
Kebanggaan akan Bahasa Indonesia perlu ditekankan, terlebih saat Indonesia mulai tergeser karena modifikasi bahasa asing.
 
Menumbuhkan Kebanggaan Sebagai Bangsa Indonesia
Sejak Sumpah Pemuda diikrarkan, kebanggan terlihat jelas pada segenap pemuda perumusnya. Makna Sumpah Pemuda terlihat jelas dalam setiap kalimat yang mengandung semangat juang dan rasa bangga atas menjadi bangsa Indonesia.
 
Hal itu tentu juga harus dilakukan oleh para generasi muda sekarang bagaimana mencintai negaranya melebihi yang lain.
 
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam dan beragam budayanya. Kekayaan inilah yang seharusnya dijadikan para generasi muda sekarang untuk melestarikan dan bangga menjadi bangsa Indonesia.
 
Makna Sumpah Pemuda selanjutnya adalah sebagai ajakan untuk menjaga keutuhan bangsa. Ini merupakan hal yang harus dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia. Makna Sumpah Pemuda harus ditanamkan kepada para generasu muda Indonesia sejak dini melalu pelajaran sejarah dan pendidikan kewarganeraan.
 
Pengenalan sejak dini tersebut bertujuan untuk menumbuhkan sikap nasionalisme dan patriotism bagi generasi muda. Sebab perkembangan teknologi saat ini cukup pesat sehingga berpengaruh pada pola pikir generasi muda.
 
Bahkan rasa nasionalisme juga sudah mulai terkikis. Apabila tidak dihadapi dengan bijak generasi muda akan kehilangan jiwanya sebagai bangsa Indonesia. Lebih buruknya, mereka akan melupakan sejarah bangsanya sendiri.
 
 
Sumber : Galamedia News

Share:

Belajar Menghargai Pendapat dan Prinsip Orang Lain Dari Para Pendiri NU

Hadhratussyaikh KH Hasyim Asyari dan KH Faqih Maskumambang, keduanya sama-sama Alim Allamah, sama-sama tokoh NU, dan sama-sama berguru ke Syaikhona Kholil Bangkalan.. 

Pada Tahun 1926 Mbah Yai Hasyim pernah menulis artikel tentang haramnya memakai kentongan dalam majalah “suara Nahdlatul Ulama”, dalam kumpulan kitab beliau - Irsyadussyari - beliau bahkan memiliki risalah khusus tentang masalah ini yang beliau namakan الجاسوس في بيان أحكام الناقوس 

Tak berselang lama KH. Faqih Maskumambang juga mengeluarkan tulisan yang menyatakan bahwa kentongan hukumnya boleh karena menurut beliau sama sekali tidak ada dalil yang mengharamkan.

Akhirnya - KH. Hasyim Asyari yang waktu itu merupakah ketua ulama dan kiai di Jombang - mengumpulkan para ulama dan kiai se-Jombang. Alih-alih memerintahkan mereka untuk mengikuti pendapatnya, beliau justru meminta agar tulisan beliau dan tulisan KH. Faqih sama-sama dibacakan untuk hadirin. Beliau lalu berkata : 

“Kalian bebas mengikuti pendapat yang mana saja, karena keduanya benar, tetapi saya menekankan tidak diperbolehkannya Kentongan di pesantren saya".

Di lain waktu, Kiai Faqih mengundang Mbah Hasyim untuk menghadiri acara maulid di Gresik. Dan sebelum kedatangan Mbah Hasyim, Kiai Faqih memberikan instruksi kepada seluruh Imam Musholla dan Masjid untuk menurunkan kentongan di hari kunjungan Mbah Hasyim sebagai wujud penghormatan kepada pendapat beliau.. 

Tak ada yang salah dengan perbedaan, yang salah adalah mereka yang menjadikan perbedaan sebagai alat untuk merendahkan dan memecah belah persatuan.. Imam Syafii suatu ketika pernah sholat subuh tanpa memakai qunut, bukan karena beliau lupa, tapi karena ketika itu beliau sedang sholat di Masjid Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa tidak disunnahkan qunut dalam sholat subuh. Sebagai wujud penghormatan kepada pendapat dan prinsip beliau.. 

إحتراما لصاحب هذا القبر 

"(aku tidak qunut) untuk menghormati pemilik makam itu" ucap Imam Syafii kala itu sambil menunjuk makam Imam Hanafi.

Jadi marilah bersikap dewasa, hormati prinsip orang lain dan hargai perbedaan yang sudah menjadi keniscayaan diantara kita.. sampai kapan kita akan merendahkan dan berstigma negatif kepada orang lain hanya karena selembar cadar ? Seperti yang Habib Umar sampaikan kita harus menyelesaikan problem ini dan menghilangkan persepsi negatif kepada orang lain hanya karena mereka yang bercadar atau tidak, karena masih banyak titik-temu yang bisa menyatukan kita daripada hanya berkutat dan berdebat tentang masalah khilafiah yang tak kan ada habis-habisnya.

Saat itu ketika ditanya terkait masalah cadar di Universitas Zaitouna Tunisia, beliau Sayyidil Habib Umar menjawab :

"(dalam masalah ini) ada suatu problem yang harus kita selesaikan. Para wanita yang tidak bercadar, janganlah mereka merasa risih atau keberatan kepada para wanita yang bercadar. Begitu pula mereka yang bercadar janganlah meremehkan atau merendahkan mereka yang tidak bercadar.  Hendaknya mereka ingat dan sadar bahwa mereka ada dalam jalan yang sama, mereka juga mempunyai tugas dan tujuan yang sama. Masih banyak hal-hal yang bisa menjadi titik temu antara mereka. Lebih dari itu kita semua membutuhkan para wanita yang bisa menunjukkan nilai-nilai keindahan Islam, baik mereka bercadar atau tidak "

Saya juga Setuju dengan apa yang disampaikan Syaikh Buthi ketika cadar dilarang di salah satu Universitas Suriah :

"Itu yang hampir telanjang di jalanan gak kalian urusin, cadar malah kalian ributin.. Apa gak ada hal yang lebih penting yang bisa kalian urus ?" 

Pada akhirnya Marilah bersikap dewasa dan bijak.. hindari hal-hal sensitif yang bisa menimbulkan kegaduhan dan perpecahan. Jangan salahkan salah paham, salah sangka dan kritik orang lain jika kita sendiri tidak mau instropeksi dan enggan mengaca pada diri sendiri.. 

Bukankah Sayydina Umar Bin Khottob pernah dawuh :

من عرض نفسه للتهمة فلا يلومن من أساء الظن  به

"Siapa yg memancing kecurigaan, maka jangan salahkan orang-orang yang berburuk sangka padanya"

Allahumma kecuali kalo dari awal tujuannya memang sengaja untuk dicurigai.. biar banyak yang nonton dan mengomentari. Wallaahu A’lam. 

Kami Nu, Kami menghargai perbedaan.


Penulis : Ismael Amin Kholil
Bangkalan, 27 Oktober, 2020
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung