Perjalanan pertama kami tujukan ke Maqbarah Sawah Kiran, Desa Gemaharjo. Di tempat yang penuh ketenangan itu, kami menundukkan hati, melangkah perlahan di antara pusara, seraya menghadirkan kembali kenangan indah bersama almarhum ayah, adik tercinta, serta para leluhur keluarga. Lantunan ayat suci Al-Qur’an, tahlil, dan doa kami panjatkan dengan khusyuk, memohonkan ampunan, kelapangan kubur, serta derajat yang mulia di sisi-Nya. Setiap tabur bunga yang kami semaikan menjadi simbol cinta, rindu, dan bakti yang tak pernah terputus oleh jarak dan waktu.
Ziarah ini bukan sekadar tradisi, melainkan momentum muhasabah diri—mengingatkan bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan sementara. Di antara doa dan keheningan makam, kami belajar tentang arti sabar, ikhlas, dan pentingnya menjaga silaturahmi keluarga. Kebersamaan siang itu terasa hangat, menyatukan hati dalam satu niat: merawat cinta kepada keluarga dan leluhur melalui doa yang tulus.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah mereka, mengampuni segala khilaf, melapangkan kubur mereka, dan mempertemukan kita kembali dalam kebahagiaan abadi di surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. (My)







