Sabtu, 21 November 2020

Tasyakuran, RTL dan Pembekalan Alumni PKD Ke-III dan Diklatsar Banser Ke-XXI Oleh PAC GP. Ansor Watulimo


Anwalin News
– Watuagung, (20/11) Gerakan Pemuda Ansor  sebagai kader NU harus mempunyai jati diri; Pertama mampu membangun organisasi yang bersifat kepemudaan, keagamaan, sosial kemasyarakatan dan organisasi kader paham Ahlussunnah waljamaah an-Nadliyah.  Kedua mampu membangun kemandirian organisasi baik internal Gerakan Pemuda Ansor maupun Banser.  Ketiga  membangun rotasi kepemimpinan secara dinamis dan terus menerus, dan Keempat membangun GP Ansor sebagai pejuang Aswaja di masyarakat, kelima mampu ikut mengisi dan mempertahankan keberadaan Pansasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika
 
Namun demikian secara internal Gerakan Pemuda Ansor masih menghadapi berbagai permasalahan seperti, organisasi belum tertata secara optimal di seluruh tingkatan, pendataan anggota belum maksimal, rotasi kepemimpinan yang belum berjalan rutin, aset organisasi kecil, hubungan antar Banom yang lemah, variasi potensi yang heterogen, dan pemahaman pengertian dan aplikasi politik yang masih sempit.


Salah satu langkah yang mendasar perlu segera dibenahi adalah kaderisasi.  Oleh karenanya, pada hari Jum’at, 20 November 2020 Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Watulimo menggelar acara Rencana Tindak Lanjut dan Pembekalan Alumni PKD GP. Ansor dan Diklatsar Banser Satkoryon – PAC GP. Ansor Watulimo sebagai realisasi dan tindak lanjut kaderisasi (PKD-Diklatsar) yang telah dilaksanakan pada tanggal 13 s.d. 15 November 2020 yag lalu.
 
Acara RTL dan pembekalan Alumni PKD dan Diklatsar dilaksanakan di halaman MI Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek, dengan menghadirkan segenap alumni PKD ke-III dan Alumni Diklatsar Banser ke-XXI. Selain itu, juga mengundang dari segenap jajaran Pengurus MWC NU Watulimo, Pengurus NU Ranting Watuagung, Pengurus NU Ranting Ngembel, Pengurus PAC GP. Ansor Watulimo, Jajaran Satkoryon Banser Kecamatan Watulimo, Pengurus Ranting GP. Ansor dan Satkorkel Banser se-Kecamatan Watulimo serta Rekan/rekanita dari PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Watulimo.


Dalam RTL dan Pembekalan Kader Ansor/Banser, kegiatan dikemas dengan rangkaian acara yang diawali Istighotsah yang dipimpin oleh Bapak KH. Suryani selaku Rais Syuriah MWC NU Watulimo yang dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Syubbanul Wathon, Mars GP. Ansor, Mars Banser dan kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh sahabat Mustarom selaku ketua Panitia PKD-Diklatsar yang menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya acara Diklat dan RTL Kader Ansor/Banser. Tak lupa sahabat Mustarom juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan yang telah diperbuat oleh segenap Tim Panitia dalam penyelenggaraan acara PKD dan Diklatsar Banser yang telah sukses dilaksanakan pada tanggal 13 s.d. 15 November 2020 yang lalu.
 
Puncak acara RTL dan Pembekalan Kader diisi oleh sahabat Murdiyanto selaku Ketua PAC GP. Ansor Watulimo yang menyampaikan beberapa pokok pesan dan apresiasi terhadap para Alumni PKD dan Diklatsar Banser yang telah sukses dan lulus dalam pelaksanaan Diklat. Ketua PAC berpesan bahwa di Ansor semua alumni PKD dan Diklatsar harus satu komando dengan Pimpinan. Semua Alumni/Kader yang telah dibaiat harus memahami, meresapi dan mengamalkan isi dari baiat kader ansor tersebut. Baiat tidak hanya diucapkan dalam lisan saja melainkan harus diyakini dalam hati dan diterapkan dalam segala tingkah laku / perbuatan.


Sahabat Murdiyanto juga menjelaskan bahwa Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sebagai tenaga inti GP Ansor memiliki tanggung jawab yang besar dalam melakukan perannya sebagai kader penggerak, pengemban dan pengaman program-program sosial kemasyarakatan baik yang dilakukan GP Ansor maupun oleh Nahdlatul Ulama.
 
Jati diri sebagai sosok personil yang memiliki kualifikasi khusus harus dapat ditunjukkan dalam setiap gerak dan langkahnya dalam melaksanakan fungsi dan perannya dengan dedikasi yang tinggi, memiliki pola pikir realistis dan matang, mampu menfasilitasi terwujudnya cita-cita GP Ansor dan kemaslahatan bagi masyarakat, Nusa, Bangsa dan Agama.
 
Peningkatan profesionalisme dan kemampuan ke-Banser-an yang nantinya mampu menyiapkan kader-kader Banser yang handal dan profesional harus melalui proses penataan kaderisasi yang matang dan terarah, sehingga langkah Banser kedepan diharapkan mampu menghadapi berbagai perkembangan dan tuntutan masyarakat yang penuh dengan dinamika dan perkembangan.


Acara RTL dan Pembekalan Alumni PKD-Diklatsar diakhiri dengan penutup yang diisi doa dan dilanjutkan dengan ramah tamah yaitu “Mayoran Lodhoan Bareng” sebagai bentuk rasa syukur ke hadirat Allah SWT atas terselenggara dan suksesnya acara PKD GP. Ansor dan Diklatsar Banser yang dilaksanakan oleh Satkoryon – PAC GP. Ansor Watulimo. (MY)
Share:

Selasa, 17 November 2020

BERDAMAI DENGAN PERBEDAAN


‘Bedo silit bedo anggit’, begitu pepatah Jawa mengatakan, atau dalam bahasa Indonesianya, ‘Beda pantat beda pendapat’. Setiap orang memiliki cara berfikir dan ending mengambil keputusan bagi pertimbangan opininya masing-masing, tentu saja hal ini terjadi karena asupan pengetahuan dan pengalaman yang masuk pada diri seseorang tidak sama antar satu dan yang lainnya. Sehingga, untuk mengomentari-misalkan- satu objek yang sama pun pasti terdapat perbedaan satu dengan yang lainnya.

Dan karena perbedaan adalah suatu keniscayaan, sehingga dalam menyikapi perbedaan pun akan timbul pula perbedaan. Itulah sifat hidup yang tidak bisa kita pungkiri dan hindari, bahkan dalam hal yang urgen pun, semisal sariat Islam, para ulama tidak jarang yang saling berbeda pendapat antara satu dengan yang lainnya.

Namun akhir-akhir ini, fenomena yang mengemuka dihadapan kita seringkali terkesan seolah-olah perbedaan adalah barang haram yang wajib ditumpas, lantas terjadilah usaha-usaha saling menjatuhkan antar kubu-kubu yang berbeda itu. Bahkan tidak jarang, terlontar dengan cara-cara yang tidak apik semisal mencela, mengumpat, menghina atau pun semacamnya. Tentu saja, motivasi terbesarnya adalah agar apa yang diyakini dan ugemi menjadi yang paling unggul diantara yang lainnya.

Sangat maklum tentunya, jika kita sebagai seorang yang waras memiliki naluri untuk unggul dari yang lain, unggul dari segi kelompok, pribadi, prestasi dan lain-lainnya. Namun menjadi bahaya jika cara-cara yang dilakukan adalah dengan cara-cara tidak baik sebagaimana yang telah disebutkan di atas, yaitu mencela, menghina atau merendahkan pihak lain; yang sebenarnya dampak dari cara-cara demikian malah akan berbalik pada yang memulai. Sebagaimana analogi yang disampaikan nabi dalam sabdanya tatkala menerangkan diantara dosa-dosa besar,

 إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Sunggu diantara dosa terbesar adalah seseorang yang melaknat kedua orang tuanya sendiri, Beliau ditanya; ‘Bagaimana mungkin seseorang tega melaknat kedua orang tuanya sendiri?’ Beliau menjawab: ‘Seseorang mencela (melaknat) ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas mencela ayah dan ibu si pelaknat.” (HR. al-Bukhari)

Tarulah analogi ini dalam konteks kepemimpinan -misalnya-, maka jika ada seseorang yang mencela pemimpin orang lain, pada hakikatnya ia sedang mencela pemimpinnya sendiri, atau setidak-tidaknya, membuka pintu bagi pemimpinnya untuk dicela, sebagai balasan atas celaan yang dilontarkannya. Di sinilah kita diajari oleh nabi bahwa merendahkan orang yang berbeda dengan kita bukanlah solusi agar kita menjadi yang terbaik diantara yang lainnya.

Oleh karenanya, sudah semestinya bagi setiap orang untuk berusaha mendamaikan atau membiasakan dirinya dengan perbedaan-perbedaan yang mengemuka di sekitarnya, agar perbedaan itu tereksploitasi menjadi khazanah hidup yang dapat dinikmati, bukan justeru menjadi benalu dalam tata kehidupan sosial yang ada. waAllahu a’lam.

Sumber : FB LIRBOYO
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung