Selasa, 14 Desember 2021

Raker II PW GP Ansor Jatim Bahas Ekosistem Digital hingga Pemerataan Ekonomi Ummat


MALANG-Rapat kerja (Raker) II Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Timur yang digelar Selasa (14/12) di Kebun Teh Wonosari, Lawang, Kabupaten Malang, bisa dibilang ‘bertabur bintang’. Bagaimana tidak, dalam acara yang dihadiri pimpinan Pengurus Cabang (PC) dari semua daerah di Jawa Timur itu, dihadiri banyak tokoh penting.

Hadir secara online Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang juga anggota kehormatan banser Erick Thohir. Selain itu, hadir secara offline Direktur SDM PTPN Holding Seger Budiharjo
Direktur PTPN 10 Tuhu Bangun, Direktur PTPN 12 Siwi Peni,
Direktur PT Sinergi Gula Nusantara Aris Toharisman, Kepala Bapeda Jatim Yasin,
Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementrian Koordinator Maritim dan Investasi Septian Haryo Septo,

Ketua PW Ansor Jatim Gus H Syafiq Syauqi  dalam sambutannya mengatakan, dalam rapat kerja kedua yang sempat beberapakali ditunda karena pandemi, pihaknya mengambil tema ‘Spirit Baru Ansor Jatim dalam Menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama.”Tema ini kita ambil sebagai sikap dan langkah gerak kita, menisbahkan diri kita sebagai kader masa depan Nahdlatul Ulama. Kita juga berkewajiban untuk mempersiapkan diri sejak dini terhadap tantangan jam’iyah NU ke depan,” kata Syafiq Syauqi dalam sambutannya.

Dia menambahkan, dengan kondisi kader yang semakin bertambah dan berkembang, Ansor Jatim tidak boleh menjadi organisasi yang arogan.”Namun, semakin menjadi tantangan buat kita ketika dihadapkan pada pertarungan digital. Kita seperti kedodoran melawan segelinir orang atau kelompok yang massa-nya kecil, tapi mampu mempengaruhi mindset karena menguasai area cyber. Inilah yang disebut cyber war. Dengan demikian, ekosistem digital harus kita bangun,” imbuhnya.

Karena inilah, Syafiq berharap para kader Ansor bisa semakin aktif dalam menguasai opini media di dunia digital.”Karena siapa yang menguasai opini media cyber hari ini, maka dialah pemenangnya,” imbuhnya.

Pria yang merupakan keturunan pendiri Ansor KH Wahab Chasbullah, Jombang ini menambahkan, tantangan terberat Ansor saat ini adalah mampu tidaknya organisasi ini mengkonversi kebesaran jumlah anggota, menjadi kekuatan dalam kemandirian ekonomi.”Ini menjadi tantangan kita, karena siapa yang menguasai basis ekonomi, maka dia yang akan menguasai dunia, pemerataan ekonomi juga menjadi tugas kita,” jelasnya. Karena inilah, dalam berbagai kesempatan, Syafiq sering mengundang elemen-elemen dari BUMN untuk memberi wawasan kepada para kader Ansor Jawa Timur.

Syafiq juga berharap dalam rapat kerja kedua ini, para pimpinan cabang bisa bisa bersinergi dengan program-program yang dimiliki.”Apalagi dalam penataan organisasi ini, kita berada dalam posisi yang semakin dinamis,” pungkasnya.
Share:

Rabu, 08 Desember 2021

MUKTAMAR NU - GEGERAN BERAKHIR GER-GERAN


Alhamdulillah. Seperti ungkapan populer di lingkungan NU, semua gegeran berakhir ger-geran. Silang sengketa maju atau mundurnya waktu pelaksanaan muktamar ke-34 NU pun demikian.

Muktamar ke-34 NU akan diselenggarakan pada tanggal 23-25 Desember 2021, di Provinsi Lampung, sebagaimana Keputusan Konferensi Besar (Konbes) NU tanggal 26 September 2021.

Hal itu disampaikan melalui surat PBNU tanggal 7 Desember 2021 yang ditujukan kepada PWNU dan PCNU se-Indonesia, termasuk PCINU di seluruh dunia.

Surat PBNU yang ditanda-tangani Rais ‘Aam KH Miftackhul Akhyar, Katib ‘Aam KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum KH Said Aqil Siroj dan Sekretaris Jenderal A Helmy Faishal tersebut terbit menyusul adanya perubahan kebijakan pemerintah terkait PPKM di masa Natal tahun 2021 dan Tahun Baru 2022.

Dengan pemberitahuan waktu pelaksanaan muktamar ke-34 NU ini, maka semua wacana maju atau mundurnya muktamar ke-34 telah berakhir.

Mohon doanya. Semoga muktamar ke-34 NU berlangsung lancar, bermartabat dan menghasilkan keputusan-keputusan yang dapat meninggikan harkat dan martabat umat manusia dan memajukan peradaban dunia.

Salam,
Robikin Emhas 
Share:

Minggu, 28 November 2021

Menteri BUMN Erick Thohir Resmi Jadi Anggota Kehormatan Banser


Anwalin News - JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir resmi menjadi anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) setelah berhasil mengikuti seluruh rangkaian pendidikan dan pelatihan dasar (Diklatsar) sebagai syarat menjadi anggota Banser di Sekolah Citra Alam Jagakarsa, Jakarta Selatan, Ahad (28/11).

Tak berbeda dengan para calon anggota Banser lain, Erick pun menjalani sejumlah ujian yang cukup berat untuk menjadi anggota Banser, mulai dari jalan jongkok dan merayap, mencari baret, hingga meneriakan yel-yel.Mantan Presiden Inter Milan itu tampak begitu bersemangat dan tidak ingin kalah dengan puluhan calon anggota Banser lain.

"Ini suatu penghormatan luar biasa yang tidak terhingga buat saya karena saya bisa menjadi keluarga besar Banser," ujar Erick saat Penyegaran dan Pembaretan Banser Provinsi DKI Jakarta di Sekolah Citra Alam Jagakarsa, Jakarta Selatan, Ahad (28/11).

Erick menyebut Banser selama ini telah berkomitmen jihad untuk NKRI. Erick menyampaikan Banser juga begitu menjunjung tinggi keberagaman dan perbedaan yang menjadi kekuatan bagi Indonesia.

"Dengan keberagaman kita, dengan perbedaan kita, itulah kekuatan kita. Bahkan itu masuk ke darah kita. Kita harus pastikan NKRI adalah harga mati," ucap Erick.

Erick mengaku kerap berdiskusi dengan keluarga besar Banser dalam upaya meningkatan dan menjaga NKRI ke depan. Bagi Erick, upaya menjaga dan memajukan Indonesia merupakan tujuan mulia dan berguna bagi generasi mendatang.

"InsyaAllah, saya akan mewakafkan pikiran saya, energi saya, kemampuan saya untuk kebenaran untuk kesejahteraan masyarakat," ungkapnya.

Erick mengatakan Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan akibat pandemi, baik sektor kesehatan maupun ekonomi. Erick menyebut gotong-rotong dan kolaborasi menjadi kekuatan bangsa dalam keluar dari pandemi dan mampu menjadi bangsa pemenang di masa yang akan datang.

"Oleh karena itu, kita terus menggarap bagaimana masyarakat pada umumnya mendapatkan kesempatan untuk naik kelas, naik kelas tidak hanya secara ekonomi, tapi naek kelas sebagai kebangsaan yang bersatu karena itulah Indonesia yang kita kenal," kata Erick.(Republika)
Share:

Jelang Muktamar NU ke-34; Gus Syafiq menghimbau agar semua pihak untuk menjauhi narasi pertikaian di muka publik.


Anwalin News - Surabaya (28/11) Jelang Muktamar NU ke 34 di Lampung, sejumlah manuver isu dan opini yang mengarah pada polarisasi ditubuh Nahdlatul Ulama mendapatkan respon kritis dari PW GP Ansor Jawa Timur. 

Melalui Ketua PW GP Ansor Jawa Timur Gus Syafiq Syauqi, organisasi anak muda NU yang menjadi poros isu gerakan dan gagasan itu memberikan beberapa catatan atas situasi jelang Muktamar.

Gus Syafiq menyebut bahwa PW GP Ansor Jatim menghimbau agar semua pihak untuk menjauhi narasi pertikaian di muka publik. 

Ketua PW GP Ansor Jawa Timur itu menilai bahwa membawa isu atau perselisihan Muktamar di ruang publik adalah sesuatu yang menurutnya tidak produktif dan mendelegitimasi kesakralan NU. 

"Muktamar NU adalah Forum tertinggi Ulama NU, ini forumnya ulama bukan forum publik, terlebih di era sosial media seperti saat ini adalah menjadi kontraproduktif bahkan meruntuhkan marwah besar NU jika semua hal terkait perbedaan sikap selalu diamplifikasi di ruang publik" Terangnya. 

Dirinya lantas meminta kepada siapapun untuk menahan diri dari perilaku dan gerakan narsis yang bertujuan mempengaruhi opini publik. 

"Muktamar bukan untuk publik, jadi jangan lakukan dan jangan samakan cara gerak tim pemenangan dengan kontestasi pemilu. Naif dan sangat disayangkan, seolah menyeret publik dalam skenario untuk melakukan polarisasi di tubuh NU, hati-hati". Imbuhnya

Diketahui bahwa serangkaian manuver liar jelang Muktamar seperti demo kepada Rois Am adalah indikasi bahwa proses kontestasi dilakukan dengan tidak sehat. 

"Kita menyesalkan ada manuver dan gerakan itu, sangat kita sesalkan. Tapi, kita juga membaca secara cover both side bahwa kesemuanya adalah akibat terlalu liarnya penggunaan strategi pemenangan diluar tradisi Muktamar selama ini. Iya ini akhirnya mirip kontestasi politik bukan muktamar" Terangnya. 

Untuk itu dirinya menghimbau kepada seluruh kader Ansor khususnya di Jawa Timur untuk tidak ikut terbawa arus polarisasi. 

"Kader Ansor Jatim khususnya kami minta untuk tetap satu komando, bahwa forum muktamar adalah forum ulama bukan forumnya Ansor. Tapi yang jelas kita juga sampaikan kepada semua pihak untuk cukup dan sudahi cara main yang tidak mendidik dan jauh dari akhlaq santri" Tandasnya.
Share:

Kamis, 25 November 2021

Kasatkorcab Banser Lumajang Terima Penghargaan Tokoh Inspiratif Peduli Pesantren


Bupati Lumajang, Thoriqul Haq menghadiri acara Resepsi Harlah Ke - 2 NU Online Jatim dengan tema "Upgrading dan Penguatan Literasi Dakwah di Era Resonansi Digital 5.0," bertempat di Gedung Rektorat Universitas Brawijaya Malang, Kamis (25/11/2021).

Pada kesempatan tersebut, Bupati Lumajang menerima penghargaan sebagai "Tokoh Inspiratif Peduli Pesantren" yang diberikan secara langsung oleh, KH. Marzuki Mustamar. 

Usai mengikuti acara tersebut, Bupati Lumajang menyampaikan, beberapa program dari APBD Kabupaten Lumajang banyak memprioritaskan pengembangan pesantren baik dalam sisi pendidikan maupun kemandirian ekonominya.

"Misalnya, kita punya program Badan Usaha Milik Pesantren, yang menyambungkan program One Pesantren One Product (OPOP) yang ada di Provinsi Jawa Timur. Prioritasnya adalah pesantren yang bisa memiliki produk," ujarnya.

Sementara di Kabupaten Lumajang, akan diberikan secara langsung kepada pesantren yang sudah mempunyai produk unggulan sendiri, sehingga nantinya akan bisa diintervensi menjadi usaha, yang basis usaha itu tentunya sambung antara pasar, kualitas dan kontinuitas produksinya.

Bupati juga menjelaskan bahwa di Kabupaten Lumajang saat ini sudah ada anggaran untuk insentif guru ngaji dengan memberikan Kartu Lumajang Mengaji. Selain itu, ada juga bantuan untuk seluruh sekolah-sekolah yang ada di pesantren baik seragam maupun Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda).
Share:

Jumat, 19 November 2021

KISAH UNIK KH. AHMAD DAHLAN & KH. HASYIM ASY'ARI


Di antara perjalanan menuntut ilmu yang panjang, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari pernah sama-sama berguru kepada ulama yang sama. 

Di Semarang, mereka berguru kepada KH. Sholeh Darat (Syech Sholeh bin Umar as-Samarani). Di Mekkah, mereka belajar kepada Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Mereka bersahabat, saling membantu dan menyemangati.
---
TELADAN KH. HASYIM ASY'ARI

KH. Hasyim Asy’ari (1871–1947) adalah pendiri dan pengasuh pertama Pesantren Tebuireng, Jombang. Beliau lahir pada 14 Februari 1871 di dusun Gedang, desa Tambakrejo, Jombang, dari keluarga yang memiliki nasab ulama. Sejak kecil beliau sudah di berikan pelajaran dasar-dasar ilmu agama oleh ayah (KH. Asy'ari) dan kakeknya dari jalur ibu (KH. Utsman). Mulai usia 15 tahun, Kiai Hasyim Asy’ari belajar di sejumlah pesantren seperti di Pesantren Wonorejo Jombang, Pesantren Wonokoyo Probolinggo, Pesantren Langitan Tuban, dan Pesantren Trenggilis Surabaya.

Lalu Kiai Hasyim Asy’ari melanjutkan ke Pesantren Demangan Bangkalan yang diasuh oleh Syaikhona Kholil. Kemudian, belajar di Pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo yang diasuh Kiai Ya'qub. Di kedua pesantren ini Kiai Hasyim Asy’ari belajar dalam waktu yang cukup lama.

Pada 1892 Kiai Hasyim Asy’ari ke Mekkah, menunaikan ibadah haji. Kesempatan itu digunakannya juga untuk mendalami ilmu. Hampir seluruh disiplin ilmu agama dipelajarinya, terutama ilmu hadits.

Pada 1899, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang. Beliau aktif mengajar, berdakwah, dan berjuang—yaitu bersama rakyat turut merebut kemerdekaan Indonesia—Kiai Hasyim Asy’ari juga produktif menulis. Beliau menulis antara pukul 10.00 WIB sampai menjelang Dhuhur. Setiap waktu longgar beliau membaca kitab, menulis, dan menerima tamu.

KH. Hasyim Asy’ari teguh memerjuangkan syariat Islam. Beliau konsisten di semua kesempatan untuk bersikap tegas dalam hal menegakkan kebenaran.
---
DUA GURU

Syech Sholeh bin Umar as-Samarani (Kiai Sholeh Darat).

Beliau guru Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Sholeh Darat pernah menetap di Mekkah untuk belajar. Saat itu, teman belajarnya antara lain Syech Nawawi Al-Bantani dan Syaikhona Kholil Bangkalan. Di belakang hari, Kiai Sholeh Darat dipercaya menjadi pengajar di Mekkah.
Ketika Kiai Sholeh Darat kembali ke Indonesia, beliau mengajar di Pesantren Darat milik KH. Murtadlo, sang mertua. Sejak itu pesantren tersebut berkembang pesat. Para santri berdatangan dari luar daerah. Disebut Pesantren Darat karena lembaga pendidikan itu berlokasi di kampung Melayu Darat, Semarang. Dari nama kampung ini pula bermulanya nama Sholeh Darat.

Di bawah kepengasuhan Kiai Sholeh Darat, murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkemuka. Selain Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari juga ada Syech Mahfudz at-Tremasi, asal Tremas Pacitan (seorang Kutubus Sittah dan pemegang sanad hadist shohih Bukhori dan Muslim) yang kelak menjadi ulama besar yang bermukim di Mekkah, KH. Idris (pendiri Pesantren Jamsaren, Solo), KH. Sya’ban (ulama ahli falaq dari Semarang). 

Ada pula Penghulu Tafsir Anom dari Keraton Surakarta, KH. Nahrowi Dalhar Watucongol (pendiri Pesantren Watucongol, Muntilan, Magelang), dan KH. Munawwir (pendiri Pesantren Krapyak, Yogyakarta). Mbah Kiai Sholeh Darat wafat di Semarang pada 18 Desember 1903.
---
Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

Beliau juga guru Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari. Beliau ulama asal Sumatra Barat yang sangat berpengaruh. Sebagai pembaharu, beliau berhasil membuka cakrawala berfikir dari banyak kalangan. Dari beliau muncul banyak Ulama Besar.

Syech Ahmad Khatib Minangkabawi lahir pada 26 Mei 1860 di Kota Gadang, Bukittinggi, Sumatra Barat. Saat kecil beliau belajar dasar-dasar ilmu agama dari sang ayah yaitu Syech Abdul Lathif.

Saat berusia 11 tahun, Syech Ahmad Khatib dibawa sang ayah menunaikan ibadah haji di Mekkah. Selain beribadah haji beliau juga belajar menuntut ilmu kepada banyak ulama ahlusunah wal jamaah di jazirah Arab. Di usianya yang menginjak 20 tahun beliau mulai dikenal masyarakat Mekkah karena akhlaq dan ilmunya. Maka, latar belakang inilah yang mengantarkan Syech Ahmad Khatib menjadi Imam dan Guru Besar dalam mazhab Syafi’iyah di Masjid Al-Haram.

Syech Ahmad Khatib adalah tokoh pembaharu asal Indonesia di penghujung abad 18 dan awal abad 19. Pemikiran-pemikiran beliau tersebar luas di Indonesia melalui murid-murid beliau yang datang ke Mekkah untuk beribadah haji dan sekaligus menyempatkan diri belajar kepada beliau.

Setelah murid-muridnya kembali ke Indonesia, para murid itu lalu menjadi Ulama Besar dan berpengaruh. Misalnya; KH. Ahmad Dahlan (1868-1923) dan KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947).

Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi wafat di Mekkah pada 13 Maret 1916 dalam usia 56 tahun. Beliau banyak meninggalkan kader yang di didik secara langsung. Kader-kader itu lalu melahirkan juga kader-kader berikutnya, dan seterusnya.

Perhatikanlah, Kiai Ahmad Dahlan diketahui aktif menggerakkan dakwah dan pendidikan.
Jika Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Organisasi Islam Muhammadiyah pada 1912, maka Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Organisasi Islam Nahdlatul Ulama pada 1926.
Kiai Ahmad Dahlan dikenal sangat peduli kepada usaha untuk selalu berpegang kepada syariat Allah, Kiai Hasyim Asy’ari juga demikian.

Kiai Ahmad Dahlan memiliki banyak murid dan berhasil mengkader langsung banyak pejuang bangsa yang tergolong sebagai “Bapak pendiri bangsa”. Misalnya, Ki Bagus Hadikusumo, Kahar Muzakkir, serta Kasman Singodimedjo yang masuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI. Selain itu ada juga Jenderal Besar Soedirman, sang Jenderal Panglima TNI pertama. Semua adalah kader Muhammadiyah.

Kiai Hasyim Asy’ari juga demikian, punya banyak murid dan berhasil mengkader banyak pejuang bangsa. Misalnya, sang singa podium penggertak para penjajah, yaitu Kiai Wahab Chasbullah, lalu Presiden RI pertama Ir. Soekarno, serta Dr. Soetomo (Bung Tomo), Bahkan, putra beliau sendiri, Kiai Wahid Hasyim—termasuk pula “Bapak pendiri bangsa” karena keanggotaannya di BPUPKI dan PPKI, yang kelak menjadi menteri agama RI pertama. Semua adalah kader Nahdlatul Ulama.

Di era sebelum kemerdekaan semangat juang Kiai Hasyim Asy'ari melalui Kiai Wahab Chasbullah dengan orasi-orasinya dimana-mana mempu menggertak dan membuat ciut nyali penjajah, baik Belanda atau Jepang. Maka dari itu dengan keberanian Kiai Wahab Chasbullah beliau di juluki “sang singa podium”.

Sementara, peran besar Kiai Hasyim Asy’ari dalam mempertahankan kemerdekaan, yaitu saat tentara NICA dengan memboncengi tentara sekutu hendak kembali menjajah Indonesia, Kiai Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad. Seruan itu berpengaruh signifikan terhadap semangat perlawanan prajurit, kaum santri dan rakyat Indonesia. Implikasinya melalui orasi dan pidato-pidato Bung Tomo yang membakar semangat para pejuang, mereka bisa memenangkan “Pertempuran 10 November 1945” yang legendaris itu.
---
KISAH UNIK

Di awal dakwahnya, Kiai Ahmad Dahlan memulainya di kampung Kauman, Yogyakarta, tempat asal beliau. Beliau melakukan pembaruan pemahaman keislaman, menyadarkan umat Islam agar terlepas dari keterpurukan. Tetapi pembelajaran itu banyak mendapat tantangan. Tidak semua orang di Kauman Yogyakarta setuju dengan dakwah beliau.

Perkembangan itu tak lepas dari pengamatan seorang pemuda bernama Basyir. Ia warga Kauman Yogyakarta, yang menjadi santri di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Dia murid Kiai Hasyim Asy’ari. Dia pun “mengadu” kepada sang guru.

Terjadi perbincangan santri Basyir dengan Kiai Hasyim Asy'ari;

“Kiai, ada seorang tetangga saya di Kauman Yogyakarta yang baru pulang bermukim dari Mekkah. Dia menyampaikan sesuatu hal tentang pembaruan ajaran Islam sehingga terjadi perselisihan di antara masyarakat Kampung Kauman Yogyakarta yang mayoritas masih kental dengan tradisi” kata Basyir.

“Siapa nama beliau,?” tanya Kiai Hasyim Asy’ari.

“Ahmad Dahlan,” jawab si santri.

“Bagaimana ciri-cirinya,?” tanya Kiai Hasyim Asy’ari.

(Santri itu kemudian menggambarkan sosok Ahmad Dahlan).

“Oh..!! itu Kang Mas Darwis (nama asli Kiai Ahmad Dahlan),” seru Kiai Hasyim Asy’ari dengan perasaan gembira.

“Saya sudah mengenalnya,” sahut Kiai Hasyim lagi.

“Terus bagaimana Kiai,?” tanya si santri.

“Tidak apa-apa, hal yang di sampaikan oleh Kang Mas Darwis (Kiai Ahmad Dahlan) itu ada dasarnya. Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia,” demikian penjelasan dan nasihat Kiai Hasyim Asy’ari kepada santrinya itu.

Ternyata, Kiai Hasyim Asy’ari sudah mengenal dengan baik Kiai Ahmad Dahlan, sebab keduanya merupakan sahabat karib, teman se-perjuangan, se-majelis dalam pengajian-pengajian Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi di Mekkah. Bahkan, saat nyantri di Pondoknya Kiai Sholeh Darat Semarang, Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari bukan hanya teman mengaji saja, tetapi keduanya malah tinggal di kamar yang sama selama dua tahun.

Usia mereka terpaut dua tahun, Kiai Ahmad Dahlan lebih tua dari Kiai Hasyim Asy'ari.
Maka dari itu Kiai Ahmad Dahlan memanggil Kiai Hasyim Asy’ari dengan sebutan “DiMas Hasyim”. Sebaliknya, Kiai Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Ahmad Dahlan dengan sebutan “KangMas Darwis”.

Di keseharian, mereka saling membantu. Misal, saling menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Kadang yang menyiapkan Kiai Ahmad Dahlan dan kadang Kiai Hasyim Asy’ari. Bahkan sering juga mereka makan dari satu nampan yang sama, berdua. Suka-duka mereka lalui bersama.

Sosok Basyir
Kembali ke santri asal Kauman, Yogyakarta yang “mengadu” ke Kiai Hasyim Asy’ari itu. Nama lengkapnya, Muhammad Basyir Mahfudz. Dia, putra Kiai Mahfudz dari Kauman, Yogyakarta.

Basyir patuh terhadap petuah Kiai Hasyim Asy’ari, sang guru. Ia bertekad untuk membantu perjuangan Kiai Ahmad Dahlan ketika selesai berguru dari Pondok Pesantren Tebuireng.

Sayang, ketikaBasyir pulang ke Kauman – Yogyakarta setelah usai nyantri dari Tebuireng, Kiai Ahmad Dahlan sudah wafat. Tinggal warisannya, Muhammadiyah. Atas kenyataan itu, Basyir bertekad aktif di Muhammadiyah dan ikut mengembangkannya.

Niat itu diwujudkannya. Basyir terakhir aktif di PP Muhammadiyah, di Majelis Tarjih, yang saat itu Ketua Majelis Tarjih-nya adalah KH. Wardan Diponingrat.

Tak hanya itu. Basyir mendidik dan mengkader anak-anaknya untuk aktif juga di Muhammadiyah. Di kemudian hari, ada salah satu anaknya yang juga aktif di Majelis Tarjih. Bahkan, putra sulungnya itu—Ahmad Azhar Basyir—kemudian mendapat amanah sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1990-1995.

Saling Menguatkan

KH. Ahmad Dahlan sudah sangat lama meninggal, yaitu pada tahun 1923.
KH. Hasyim Asy’ari juga telah lama wafat, yaitu pada tahun 1947. Tapi, dari keduanya kita akan mendapat ilmu untuk waktu yang sangat panjang. 

Mereka telah mewariskan banyak hal, antara lain: Muhammadiyah dan NU, semangat mencari ilmu yang tinggi, serta spirit persahabatan yang saling mengasihi dan menguatkan. #Wallahu A'lam.

Dari Berbagai Sumber
Share:

Senin, 15 November 2021

MAJELIS TAHKIM (DEWAN ETIK) MUKTAMAR KE-34 NU


MAJELIS TAHKIM MUKTAMAR KE 34 NU

Dalam susunan panitia Muktamar Ke-34 NU, terdapat 11 ulama sepuh NU yang duduk di Majelis Tahkim.

Posisi ini melengkapi susunan kepanitiaan selain Penanggung Jawab, Penasihat, Steering Committee (SC), Organizing Committee (OC), dan bidang-bidang, serta komisi.

Majelis Tahkim ini diketuai oleh KH Ma’ruf Amin dengan sepuluh anggotanya yakni:

1. Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri, 

2. Mustasyar PBNU sekaligus Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Anwar Manshur, 

3. Mustasyar PBNU sekaligus Rais Syuriyah PWNU Nusa Tenggara Barat TGH Turmudzi Badaruddin, 

4. Mustasyar PBNU KH Dimyati Rois. 

5. Mustasyar PBNU Habib Lutfi bin Yahya,

6. Rais Syuriyah PBNU KH Nurul Huda Jazuli,

7. Mustasyar PBNU Abuya Muhtadi Dimyathi, 

8. Pengasuh Pesantren Nurul Cholil Bangkalan KH Zubair Muntashor, 

9. Rais Syuriyah PBNU KH Ali Akbar Marbun, dan 

10. Mustasyar PBNU Prof KH Khotibul Umam.

Majelis Tahkim merupakan dewan etik yang terdiri dari para ulama sepuh untuk menjaga pelaksanaan Muktamar dengan menjunjung tinggi aturan-aturan dan akhlakul karimah. Keberadaan Majelis Tahkim ini penting untuk penyelenggaraan muktamar didasari NU bukanlah organisasi biasa, tetapi organisasinya para ulama. 

Karena itu, NU menjadi tempat pembelajaran semua pihak, baik di internal NU maupun masyarakat umum. Saat silaturahim Panitia Muktamar Ke-34 NU dengan Ketua Majelis Tahkim (Dewan Etik) Muktamar Ke-34 NU di kediaman resmi Wakil Presiden, Jalan Diponegoro, Jakarta, Jumat (12/11/2021), KH Ma’ruf Amin menyatakan kesiapannya hadir pada Muktamar.

Bahkan, Kiai Ma’ruf Amin akan menunggui Muktamar NU di Lampung secara fisik selama berlangsung dari pembukaan sampai penutupan. Hal itu dalam rangka memantau, menunggui, dan menjaga pelaksanaan muktamar. 

Kiai asal Tanara Banten ini menekankan pentingnya muktamar berjalan dengan mengedepankan musyawarah. Hal ini tidak lain agar muktamar berjalan sejuk. Kiai Ma’ruf juga menekankan agar semua pihak mentaati aturan-aturan yang sudah pernah dilakukan pada muktamar-muktamar sebelumnya. Di antaranya terkait pemilihan Rais ‘Aam PBNU yang tetap menjalankan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). 

Sementara dalam pemilihan Ketua Umum, sesuai aturan, pemilihan dilakukan dengan pemungutan suara oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).    

Dalam Waktu dekat, Kiai Ma'ruf sebagai Ketua Majelis Tahkim akan mengundang seluruh anggota majelis tersebut. Hal itu guna memusyawarahkan kode etik bagi semuanya dalam pelaksanaan muktamar nanti. 

Sementara Ketua Panitia Pengarah (SC) Muktamar ke-34 NU, Prof Muhammad Nuh, menginginkan agar seluruh jajaran kepanitiaan mampu menciptakan kesejukan pada perhelatan muktamar mendatang.     

“Kita harus ciptakan suasana muktamar yang sejuk. Kita harapkan, kita bawa suasananya sejuk. Siapa yang akan jadi nanti, itu takdir. Tapi tugas kita adalah menyiapkan suasana sejuk,” katanya dalam rapat persiapan Muktamar ke-34 NU, di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164 Jakarta, beberapa waktu lalu.  

Kesuksesan muktamar menurutnya tidak hanya dilihat dari sisi pelaksanaannya saja tetapi juga harus ada konten bermanfaat dan berkualitas, baik dari forum bahtsul masail (waqi’iyah, maudhuiyah, qanuniyah) dan komisi-komisi (program kerja, organisasi, rekomendasi). 


Sumber: NU Online
Share:

Tinjau Lokasi Muktamar NU, Prof Nuh: Panitia Harus Kompak Bersinergi


Ketua Steering Committee (SC) Muktamar ke-34 NU, Prof H Muhammad Nuh meninjau lokasi pembukaan Muktamar NU di Pesantren Darussa’adah Mojo Agung, Seputih Jaya, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung. Prof Nuh menyampaikan, panitia lokal Muktamar ke-34 NU harus kerja ekstra keras, cepat, melengkapi pembenahan-pembenahan infrastruktur seputar di komplek Pesantren Darussa’adah ini. 

Pada hari H kurang seminggu, pelaksanaan Muktamar ke-34 NU semua sarana sudah harus siap semua. 

“Mudah-mudahan Muktamar ke-34 NU ini berjalan lancar, sukses. Kita sambut hajatan lima tahunan warga NU ini dengan riang gembira. Semua elemen panitia lokal dan panitia daerah harus kompak dan bersinergi,” tambah mantan Rektor ITS Surabaya, Jawa Timur ini. 

Demikian disampaikan Ketua PCNU Lampung Tengah, KH Imam Suhadi, yang mendampingi panitia pusat dalam agenda silaturahim dengan Rais Syuriyah PWNU Lampung KH Muhsin Abdillah, Jumat (12/11/2021) malam. 

“Prof Nuh bersama panitia lokal dan pengurus PCNU Lampung Tengah lainnya selama satu jam lebih berkeliling Pesantren Daruss’adah dan meninjau lokasi pembangunan Aula Muktamar NU ke-34,” kata Kiai Imam Suhadi kepada NU Online melalui WhatsApp, Sabtu (13/11).

 Sebagaimana diketahui, Muktamar ke-34 NU akan digelar komplek Pesantren Darussa’adah Mojo Agung, Seputih Jaya, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung, dan di Kota Bandar Lampung, pada Kamis-Sabtu, 23-25 Desember 2021 yang bertepatan 18-20 Jumadil Ula 1443 H. 

Sebagai informasi, forum permusyawaratan tertinggi di Nahdlatul Ulama ini mengusung tema Menuju Satu Abad NU: Membangun Kemandirian Warga untuk Perdamaian Dunia. 

Sejumlah agenda Dari informasi yang dihimpun NU Online, beberapa agenda Banom dan Lembaga NU untuk menyambut muktamar, baik yang akan digelar di komplek Pesantren Darussa’adah Mojo Agung maupun kabupaten/kota lainnya antara lain, pertama, Semaan Kubro yang akan diselenggarakan Pengurus Wilayah Jam’iyyatul Qurra’ wal Hufadz (PW JQH NU) Lampung pada Ahad, 5 Desember 2021 mendatang. 

Kedua, Pendidikan dan Latihan Khusus (Diklatsus) Ansor-Banser meliputi; Protokoler, Provost, dan Balantas Satkorwil Banser Provinsi Lampung, diagendakan di komplek Pesantren Darussa’adah Mojo Agung, pada Jumat-Ahad, 3-5 Desember 2021 mendatang, bertepatan 27-29 Rabiul Akhir 1443 H. Ketiga, Silaturahim Nasional (Silatnas) Jam’iyyah Ruqyah Aswaja An Nahdliyyah (JRA) se-Indonesia di komplek Pesantren Tri Bhakti At-Taqwa Rama Puja, Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung Timur, pada Rabu, 22 Desember 2021.

Kontributor: A Syarief Kurniawan 
Editor: Musthofa Asrori

Sumber: NU Online
Share:

Sabtu, 06 November 2021

Bupati Pasuruan yang Juga Komandan Banser Jatim Dapat Penghargaan Kepala Daerah Inovatif 2021 Berkat Vaksinasi Kolaborasi

Caption foto : Bupati Pasuruan, Gus Irsyad (tiga dari kiri) berfoto bersama kepala daerah lain dan Menteri Agama Ya'qut Cholil Qoumas (empat dari kiri) yang mendapat penghargaan dari MNC Portal Indonesia


Anwalin News - Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf yang juga Komandan Banser Jawa Timur mendapat penghargaan Kepala Daerah Inovatif yang digelar oleh MNC Portal Indonesia, Jumat (5/11/2021). 

Gus Irsyad berhasil menyabet penghargaan kategori inovasi layanan publik bersama dengan 16 kepala daerah lain.

Diantaranya ada Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dengan kategori inovasi kesehatan. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dengan kategori inovasi layanan publik. Serta 14 kepala daerah lainnya

Pada malam acara penghargaan Kepala Daerah Inovatif 2021, MNC Portal Indonesia (MPI) mengapresiasi program vaksinasi kolaborasi di Kabupaten Pasuruan sebagai langkah inovatif dalam menangani pandemi covid-19.

Vaksinasi Kolaborasi merupakan wujud kerja bersama antara pihak Polri, TNI, Kejaksaan, Pengadilan, ASN, relawan, serta organisasi kepemudaan. 

Berkat program vaksinasi kolaborasi, kini masyarakat Kabupaten Pasuruan tidak kesulitan dalam mendapatkan vaksinasi. 

Vaksinasi di Kabupaten Pasuruan tidak lagi terpusat di puskesmas atau kantor kecamatan. 

Melainkan petugas kesehatan yang jemput bola datang ke desa-desa untuk memvaksin warga. 

Sehingga angka prosentase capaian vaksinasi di Kabupaten Pasuruan bisa meningkat dan merata ke berbagai kalangan. 

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki menyampaikan jika berbagai inovasi kebijakan kepala daerah sangat berpengaruh dalam memajukan perekonomian terutama dalam sektor Koperasi dan UMKM lewat pembangunan ekosistem digital. 

"Terlebih lagi, yang sekarang sangat diperlukan adalah peran aktif, inovasi dan terobosan Pemda dalam transformasi digital. Tujuannya mendorong percepatan digitalisasi UMKM," tandasnya. (ada)

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama, Yaqut Qaumas juga menyatakan jika kepala daerah patut berbangga karena  proses penilaian yanh dilalui cukup panjang hingga dapat penghargaan. Kebetulan, Gus Ya'qut adalah Ketua Umum GP Ansor, sehingga ada dua pentolan Ansor dalam penghargaan tersebut.

"MNC Portal Indonesia (MPI) telah melakukan seleksi penilaian yang tidak singkat. Sehingga yang dapat memang benar-benar layak menerima anugrah tersebut," ungkapnya. (Laoh Mahfud)


Share:

Sabtu, 23 Oktober 2021

Ansor Jatim Didik Kader Melalui Madrasah Cyber Gelombang Dua


Anwalin News - Mojokerto (23/10/2021) Digitalisasi dan Cyber dalam kehidupan sekarang tidak bisa terpisahkan, dengan menerjemahkan tantangan itu, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur tak tinggal diam, menggembleng kadernya melalui Madrasah Cyber.

 

Inovasi yang diklaim pertama di Indonesia tersebut, bergandeng tangan dengan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Yang nantinya kader ansor seluruh Jawa Timur tersebut akan digembleng terkait cyber, dengan materi orientasi, literasi digital, gerakan media sosial, desain grafis, jurnalistik, website, hingga big data.

 

Sebelumya, Madrasah Cyber yang mengambil tema Digital Literacy For University-Community Engagement, digelar pertama pada 17 September 2021, selang satu bulan kemudian gelombang dua pada tanggal 22 oktober 2021 baru bisa digelar.

 

Dalam sambutanya Habib Mahdi Khered Wakil Ketua Bidang Cyber ITE Ansor Jawa Timur, menuturkan bahwasanya, informasi terhadap Media Cyber Ansor ini, harus tersebar luas sampai dengan ranting-ranting, dalam kegiatan itu dihadiri oleh separuh lebih Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Timur.

 

“Gelombang pertama menjadi tranding topic, di Nasional, dalam gelombang kedua ini saya ingin larinya lebih kencang untuk sahabat-sahabat, karena beban dipundak sahabar semua akan berat jika cuman jalan saja, setelah pelatihan ini nantinya juga akan menularkan ilmu-ilmu kepada Sahabat Ansor yang ada di Kabupaten Masing-masing,” terangnya saat membuka acara di Mojokerto.

 

Dirinya mengaku, bahwasanya era digitalisasi ini memiliki dua aspek positif dan negatif, analoginya adalah bisa memecah belah umat manusia, dan bisa menyatukan umat manusia. Nanti sahabat semua akan mendapatkan pelajaran tentang dunia sosial atau dunia cyber.

 

“Saya berterimakasih kepada UIN Sunan Ampel Surabaya, tentang gandeng tangan erat bersama Ansor ini membuktikan pendirinya memang betul warga Nahdliyin,” tambahnya.

 

Harapnya, terselenggaranya Madrasah Cyber yang mengambil tema Digital Literacy For University-Community Engagement, menumbuhkan embrio baru bagi kader Ansor dalam menerjemahkan tantangan zaman.

 

“Semoga dapat diikuti dan difahami secara betul-betul, sehingga nanti informasi penting, mengenai madrasah cyber ini bisa ditularkan hingga ranting,” ujarnya.

 

Sementara Wakil Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Abdul Muhid, menjelaskan bahwasanya dengan adanya madrasah cyber ini penting untuk menjawab tantangan zaman. Baik sebagaia kader Gp Ansor maupun sebagai Mahasiswa.

 

“Apalagi eranya milenial, sahabat Gp Ansor maupum Mahasiswa mampu beradaptasi cepat tentang perkembangan zaman, seperti literacy digital hal komponen yang tidak bisa kita tinggalkan dalam dunia cyber,” tegasnya.

 

Dengan diklat cyber ini tujuan kita memang sama, bagaimana bisa mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan mempertahankan Kemerdekaan.

 

“Semoga, bisa terus bergandeng tangan untuk menyebar manfaat antara sesama dan khususnya demi NKRI,” tandas Wakil Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya.

Share:

Kamis, 14 Oktober 2021

KETUA UMUM PBNU DARI MASA KE MASA


Muktamar NU ke-1 (Surabaya, 1926) :
KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan
H.Hasan Gipo (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-2 (Surabaya, 1927) :
KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
H.Hasan Gipo (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-3 (Surabaya, 1928) :
KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
H.Hasan Gipo (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-4 (Semarang, 1929) :
KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
KH.Achmad Noor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-5 (Pekalongan, 1930) : KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
KH.Achmad Noor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-6 (Cirebon, 1931) : 
KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
KH.Achmad Noor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-7 (Bandung, 1932) : 
KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
KH.Achmad Noor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-8 (Jakarta, 1933) : 
KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
KH.Achmad Noor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-9 (Banyuwangi, 1934) : KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
KH.Achmad Noor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-10 (Surakarta, 1935) :
KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
KH.Achmad Noor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-11 (Banjarmasin, 1936) : KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
KH.Achmad Noor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-12 (Malang, 1937) : 
KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
KH.Machfudz Siddiq (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-13 (Banten, 1938) : 
KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
KH.Machfudz Siddiq (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-14 (Magelang, 1939) :
KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
KH.Machfudz Siddiq (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-15 (Surabaya, 1940) :
KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
KH.Machfudz Siddiq (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-16 (Purwokerto, 1946) : KH.M.Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) dan 
KH.Nachrowi Tohir (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-17 (Madiun, 1947) : 
KH.Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam) dan
KH. Nachrowi Tohir (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-18 (Jakarta, 1948) : 
KH.Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam) dan
KH.Nachrowi Tohir (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-19 (Palembang, 1951) :
KH.Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam) dan
KH.Abdul Wahid Hasyim (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-20 (Surabaya, 1954) : 
KH.Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam) dan
KH.Muhammad Dahlan (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-21 (Medan, 1956) : 
KH.Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam) dan
KH.Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-22 (Jakarta, 1959) : 
KH.Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam) dan
KH.Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-23 (Surakarta, 1962) : 
KH.Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam) dan
KH.Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-24 (Bandung, 1967) : 
KH.Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam) dan
KH.Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-25 (Surabaya, 1971) : 
KH.Bisri Syansuri (Rais Aam) dan
KH.Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-26 (Semarang, 1979) : 
KH.Bisri Syansuri (Rais Aam) dan
KH.Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah).
Tahun 1980, KH.Bisri Syansuri wafat dan digantikan KH.Ali Maksum pada tahun 1981 dalam Munas Alim Ulama’ NU di Kaliurang.

Muktamar NU ke-27 (Situbondo, 1984) : 
KH.Achmad Siddiq (Rais Aam) dan
KH.Abdurrahman Wahid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-28 (Yogyakarta, 1989) : KH.Achmad Siddiq (Rais Aam),
beliau wafat tahun 1991 kemudian diganti KH.Ali Yafie Tahun 1992,dalam Munas Alim Ulama’ di Lampung,
Pjs Rais Aam dilanjutkan KH.M.Ilyas Ruchiyat
sampai 1994 dan
KH.Abdurrahman Wahid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-29 (Tasikmalaya, 1994) : KH.M.Ilyas Ruchiyat (Rais Aam) dan
KH.Abdurrahman Wahid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-30 (Kediri, 1999) : 
KH.MA.Sahal Mahfudh (Rais Aam) dan
KH.A.Hasyim Muzadi (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-31 (Surakarta, 2004) : 
KH.MA.Sahal Mahfudh (Rais Aam) dan
KH.A.Hasyim Muzadi (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-32 (Makassar, 2010) : 
KH.MA.Sahal Mahfudh (Rais Aam),
Beliau wafat tahun 2014 kemudian diganti oleh KH.A.Musthofa Bisri menjadi Pejabat Rais Aam 2014-2015 dan
KH.Said Aqil Siroj (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-33 (Jombang, 2015) : 
KH.Ma’ruf Amin (Rais Aam) dan
KH.Said Aqil Siroj (Ketua Tanfidziyah).
Tahun 2018,KH.Ma’ruf Amin mengundurkan diri dan digantikan KH.Miftachul Akhyar sebagai Pejabat Rais Aam.

Muktamar NU ke-34 (Lampung, 2021)
Kita tunggu hasil Muktamar.
Share:

Minggu, 10 Oktober 2021

Pembukaan Safari Maulidur Rasul PAC GP. Ansor Watulimo


Anwalin News – Gemaharjo (09/10) Bulan Rabi’ul Awal adalah bulan yang sangat dimuliakan oleh umat muslim yang ada di seluruh dunia. Tentunya bukan tanpa alasan, karena pada bulan Rabi’ul Awal inilah Nabi Muhammad SAW dilahirkan ke dunia ini. Tepatnya pada hari senin, 12 Rabiul awal di tahun Gajah.

 

Bulan Rabiul Awal menjadi bulan untuk mengungkapkan akan kecintaan kita dan kegembiraan dengan adanya (lahirnya) baginda Rasulullah SAW. Bahkan bukan hanya orang muslim saja yang mendapatkan kegembiraan tersebut. Orang kafir sekaligus akan mendapatkan manfaat dengan kegembiraan tersebut.

 

Dalam hadits riwayat Imam al-Bukhori dikisahkan saat Tsuwaibah yakni budak perempuan dari Abu Lahab yang menyampaikan kabar gembira mengenai kelahiran bayi yang sangat mulia dan Abu Lahab segera memerdekakan Tsuwaibah sebagai bentuk dari wujud tanda cinta dan kasih. Karena kegembiraannya tersebut, pada hari kiamat kelak, siksa atas dirinya akan diringankan pada setiap hari senin.


 
Bulan Rabiul Awal juga menjadi bulan untuk mengembalikan keteguhan cinta kita kepada Rasulullah SAW. Bagi setiap orang mukmin, kecintaan pada Rasulullah SAW adalah merupakan satu kewajiban  dan salah satu cara untuk meningkatkan sebuah keimanan dan taqwa. Kecintaan pada Rasulullah SAW juga harus berada di barisan yang lain dan harus melebihi segalanya bahkan pada keluarga atau diri sendiri. Dalam sebuah hadits diterangkan : “Tidak sempurna iman salah satu diantara kamu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orangtuanya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari Muslim)

 

Dibulan Rabiul Awal atau bulan peringatan Maulid Nabi dianjurkan untuk Bersholawat atas Nabi, dan di anjurkan untuk memperbanyak bacaan sholawat nabi.  Dalam Al-Qur’an surah al-ahzab ayat 56 Allah SWT berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”. Dari ayat di atas dapat diartikan bahwa di anjurkan bagi umat Islam untuk bersholawat kepada nabi sebagai makna penghormatan kepadanya.


 

Sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan atas datangnya bulan Rabi’ul awal, Pengurus PAC GP. Ansor Watulimo pada tahun ini (2021) menggelar kegiatan Safari Maulidur Rasul dan Turba Maulid se-wilayah Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Pada hari Sabtu, 09 Oktober 2021 bertepatan dengan tanggal 3 Rabi’ul Awal 1443 hijriyah, PAC mengawali safari turbanya yang sekaligus pembukaan kegiatan ditempatkan di rumah sahabat Murdiyanto (Ketua PAC GP. Ansor Watulimo). Kegiatan Safari Maulidur Rasul diisi dengan pembacaan sholawat al-barzanji natsar dan nadhom yang diikuti oleh segenap jajaran pengurus PAC, MDSRA, pengurus Ranting se-Kecamatan Watulimo dan Crew Media Anwalin PAC GP. Ansor Watulimo.



 

Sebelum pembacaan Maulid Al-Barzanji, kegiatan Safari diisi dengan Prakata/Sambutan pengantar dari sahabat Mustarom selaku Ketua Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor PAC GP. Ansor Watulimo. Sahabat Mustarom menyampaikan beberapa point penting terkait kegiatan MDSRA dan sekaligus membuka turba/safari maulidur rasul yang akan dilaksanakan secara bergilir dan berkeliling sewilayah Kecamatan Watulimo. Setelah itu kegiatan diisi dengan menyanyikan Mars Syubbanul Wathon dan Mars GP. Ansor yang diteruskan dengan pembacaan Maulid al-Barzanji oleh sahabat Samsul Huda (Ketua Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Desa Watulimo) dan beberapa kader ansor yang lainnya dengan cara silih berganti dalam membaca maulid al-barzanji tersebut. Selanjutnya pada pembacaan doa maulid dipimpin oleh sahabat Masngat; Ketua Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Desa Slawe yang sekaligus juga wakil ketua MDSRA – PAC GP. Ansor Watulimo.



Selepas pembacaan Maulid al-Barzanji, acara diisi oleh sahabat Murdiyanto selaku Ketua PAC GP. Ansor Watulimo. Kang Myanto (begitu panggilan akrabnya) menyampaikan beberapa agenda kedepan terkait dengan Program Kerja yang akan dilaksanakan oleh PAC GP. Ansor Watulimo Kabupaten Trenggalek. Program tersebut diantaranya pelaksanaan peringatan Hari Santri Nasional, Kemah Bhakti Sumpah Pemuda, Ziarah Auliya/Muassis NU, dan peringatan Hari Pahlawan 10 November 2021. Selain itu juga disinggung terkait rencana pelaksanaan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Diklatsar Banser (dalam pembahasan lebih lanjut).

 

Alhamdulillah secara keseluruhan acara terlaksana dengan lancar, aman, penuh kekhidmatan dan sukses dengan harapan semoga dengan pembukaan Safari Maulidur Rasul yang akan dilaksanakan secara rutin tersebut dapat menambah rasa mahabbah kepada baginda Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai momentum meneladani perjuangan Rasulullah yang pada akhirnya kita diakui sebagai ummatnya yang berhak mendapatkan syafa’atnya besuk dihari kiamat. Aamiin (MY)

Share:

Rabu, 29 September 2021

PAC GP Ansor Watulimo; Menuju Organisasi yang Profesional dan Berintegritas


 Anwalin News. Selasa, 28 September 2021 kegiatan Akreditasi Tahap 2 GP Ansor di telah sukses digelar. Kegiatan akreditasi kali ini dilaksanakan di Masjid Nurul Ahadiyah, RT. 06, RW. 04, Ds. Margomulyo, Kecamatan Watulimo. Akreditasi pada tahap 2 ini merupakan akreditasi remidi atau pengulangan bagi tiga Pimpinan Ranting GP Ansor yang ada di Kecamatan Watulimo. Tiga Pimpinan Ranting tersebut yaitu: PR GP Ansor Pakel, PR GP Ansor Watuagung dan  PR GP Ansor Margomulyo.

Ketiganya terdapat alasan, kenapa sampai mengikuti akreditasi tahap dua ini. “Pimpinan Ranting GP Ansor Pakel sengaja mengikutinya karena ingin memperbaiki nilai atau predikat yang di proses akreditasi awal kamaren sempat medapatkan predikat B. Sedang Pimpinan GP Ansor Watuagung dan Margomulyo, dikarenakan  kedua Pimpinan Ranting ini terjadi permasalahan internal hingga akhirnya diputuskan untuk reorganisasi”, kata Sahabat Murdiyanto saat sambutannya sebagai Ketua PAC GP Ansor Watulimo.

Dalam proses akreditasi, ketiga Pimpinan Ranting tersebut yang diuji oleh Tim Asessor Pimpinan Cabang GP Ansor Trenggalek berjalan dengan lancar dan hikmat. Meski sempat dicecar beberapa pertanyaan oleh Tim Asessor, ketiganya dinyatakan lulus dengan mendapatkan predikat A. Sebuah prestasi yang menggembirakan, bahwa Akreditasi GP Ansor di Ranting se-Kecamatan Watulimo semuanya mendapatkan predikat A. Pecapaian hasil itu menandakan bahwa PAC GP Ansor Watulimo telah sukses menjalin komunikasi serta konsolidasi yang integral dengan Pimpinan Ranting.


Dalam acara akreditasi ini, disampaikan juga sambutan sekaligus  pembinaan organisasi oleh Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Trenggalek, Muhammad Izzudin Zaki. “Akreditasi tidak hanya sekedar perolehan predikat. Namun lebih dari itu, bahwa akreditasi ini merupakan sarana untuk memetakan arti serta peran kader pergerakan dalam memperjuangkan dan mengembangkan GP Ansor. Kader GP Ansor harus bisa masuk pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Menghidupkan dakwah an-nahdliyah disatu sisi, dan mampu mengambil peran di tataran kepemerintahan”, ujar pria yang akrab disapa Gus Zaki itu.


Pentingnya peran generasi muda (kader GP Ansor) dalam rangka ambil bagian dalam birokrasi kepemerintahan, Gus Zaki mengutip cuplikan ketika KH. Ma’ruf Amin ditanya tentang Jabatannya sebagai Wapres disaat masa yang sudah tidak muda lagi. Maka Beliau (KH. Ma’ruf Amin) mengatakan dengan penuh keyakinan, bahwa saat ini Beliau sedang menyiapkan kader terbaik Nahdlatul Ulama’ yang sepuluh – dua puluh tahun yang akan datang siap untuk memajukan NU dan NKRI ini.

Oleh sebab itu, untuk menuju masa yang akan datang itu sekaligus masa digitalisasi media masa, kader GP Ansor mampu menjadi teknokrat. Ikut mengambil bagian dalam teknologi, komunikasi dan informasi yang berbasis digital. Mengingat media masa merupakan sarana strategis untuk mengembangkan dakwah an-Nahdliyah dan organisasi GP Ansor serta sarana untuk melakukan counter attack terhadap mereka yang selama ini berusaha “menggoyang” NU dan NKRI.



Gus Zaki juga memberikan apresiasi kepada Media Anwalin (Ansor Watulimo Online) atas peran serta kinerjanya, sebagai media sosialisasi kegiatan PAC GP Ansor Watulimo. Segala kegiatan yang telah terekam yang kemudian di tayangkan di Media Anwalin ini dapat dipantau oleh siapa saja dan di mana saja. Sehingga bisa saja menjadi rujukan bagi PAC yang lainnya. Namun demikian peran Media Anwalin harus bisa keluar. Maksudnya adalah konten yang termuat di dalamnya harus bisa lebih menyentuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Watulimo adalah  daerah destinasi wisata, oleh karena itu media ini nantinya diperlukan sebagai media dakwah an-Nahdliyah dan corong yang bisa mengabarkan di tempat publik kawasan wisata. Sehinga dengan demikian muncul pandangan bahwa Watulimo adalah Kawasan GP Ansor.

(dh)

Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung