Senin, 25 April 2022

Infinity legacy; Apa itu Virtual Reality, Oculus dan Metaverse?


Mungkin banyak yang bertanya hal yang sama, Ketum memakai kacamata VR dan kita membatin dalam hati, apa ya yang dilihat?

Sebelum kesitu, sedikit penjelasan tentang alam Virtual Reality (VR). Sebuah semesta digital yang persepsinya 360 derajat alias sama sepeerti dunia yang kita lihat, rasakan, dengar dan alami.

Ketika kita bebas mengarahkan pandangan tak terbatas ke segala arah, melihat apapun sejauh mata memandang. Demikian juga dunia VR, sebuah alam sadar baru yang diciptakan menggunakan tehnologi dengan tujuan menyingkat ruang dan waktu menjadi satu dalam sebuah cangkang digital.

Karena waktu sangat berharga, maka dunia VR adalah jawaban, saat ini kita mengenal zoom atau google meet yang menyatukan kita dalam sebuah layar. Membicarakan strategi, ngobrol santai, rapat tanpa harus bertemu secara fisik.

Dunia VR menawarkan kelengkapan baru, dimana dalam ruang VR tanpa batas ini kita bisa melokukan nyaris segalanya kecuali kontak langsung. Yang selama ini hanya menjadi fantasi, bisa dicecap dengan nyata. Saling bertukar data, menuju ke pasar digital, menuju ruang pameran, menuju sebuah ruang privat, bermain, nobar, apel Banser, memancing, memasak dan semua hal yang bisa dilakukan secara fisik. 

Kata kuncinya: 

SEMUA YANG BISA DILAKUKAN DI DUNIA FANA BISA DILAKUKAN DI DUNIA VIRTUAL. KECUALI BERSENTUHAN.

Gus Yaqut mencanangkan transformasi medan juang di tahun 2021, ciptakan sesuatu yang mendunia dan bermanfaat bagi kader. Sebuah pesan holistik tentang khidmat tanpa henti bagi kader Ansor Banser di seluruh Dunia.

Jawabannya ada di tahun 2022 ketika Gerakan Pemuda Ansor memasuki era Digitalisai. Mulai dari membangun digitisasi mengubah semua yang berbau kertas menjadi PDF yaitu SK yang tidak lagi memakai kertas yang rawan pemalsuan sampai database kader yang diklasterisasi dengan kaidah digital. 

Kemudian momentum harlah ke-88 GP Ansor yang mengenalkan Ansor Virtual Expo. Sebuah ruangb tanpa batas yang akan mengakomodasi ruang-ruang di Kantor Pimpinan Pusat dan juga membangun sebuah marketplace bagi Kader. Mulai kegiatan rapat harian, rapat koordinasi, apel Banser, seminar, bazar bahkan konferensi bisa dilakukan di “Kantor Virtual” PP GP Ansor di metaverse (Alam virtual besar terintergrasi dengan platform medsos terbesar)

Saat harlah ditampilkan sebuah bangunan yang sudah jadi dan terus dikembangkan selama 1 tahun kedepan menjadi marketplace untuk Kader. 

Untuk menyingkat cerita diatas, inilah yang ditampilkan di kacamata virtual yang dipakai Gus Ketum, dan bisa juga diakses menggunakan laptop di harlah88.ansor.id

Inilah sebuah warisan dari Gus Yaqut yang tanpa batas dan akan terus dikembangkan menuju kemaslahatan Kader dan juga berkontribusi untuk bangsa. Sebagai implementasi dari “Jangan Lelah Mencintai Indonesia”

Berkhidmat tanpa batas.


Sumber : FB. Gerakan Pemuda Ansor
Share:

Minggu, 24 April 2022

HARLAH KE-88 GERAKAN PEMUDA ANSOR


Sejarah lahirnya GP Ansor tidak terlepas dari sejarah kelahiran NU itu sendiri. Pada tahun 1921 telah muncul ide untuk mendirikan organisasi pemuda secara intensif. Hal itu juga didorong oleh kondisi saat itu, banyak muncul organisasi pemuda bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Minahasa, dll. Terlepas dari itu, muncul perbedaan pendapat antara kaum modernis dan tradisionalis yang disebabkan oleh perbedaan pendapat masalah mazhab dan masalah furu'iyah lainnya.

Pada tahun 1924, KH. A. Wahab Hasbullah membentuk organisasi sendiri bernama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) yang dipimpin oleh KH. Abdullah Ubaid sebagai Ketua dan KH. Thohir Bakri sebagai Wakil Ketua, serta KH. Abdurrahim selaku sekretaris.

Setelah mulai banyak remaja yang ingin bergabung Syubbanul Wathan, maka pengurus membuat sesi khusus mengurus mereka yang lebih mengarah kepada kepanduan yang disebut “Ahlul Wathan”.

Kemudian atas inisiatif KH. Abdullah Ubaid, pada tahun 1931 terbentuklah Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama (PPNU) dan pada 14 Desember 1932, PPNU berubah nama menjadi Pemuda Nahdlatul Ulama (PNU). Pada tahun 1934 berubah lagi menjadi Ansor Nahdlatul Oelama (ANO). Sampai sini meski ANO sudah diakui sebagai bagian dari NU, namun secara formal belum tercantum dalam struktur dan Banom NU.

Nama Ansor merupakan saran KH. A. Wahab Hasbullah yang diambil dari nama kehormatan dari Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan Islam dan Negeri. Dengan demikian, ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah dan teladan terhadap sikap, perilaku, dan semangat perjuangan para sahabat Nabi Muhammmad yang mendapat sebutan "Ansor " tersebut. Gerakan ANO (yang kini disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagai penolong, pejuang, dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan, dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).

Pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi yang dipimpin oleh KH. Saleh Lateng, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934 M, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: KH. Thohir Bakri sebagai Ketua, KH. Abdullah Ubaid sebagai Wakil Ketua, H. Achmad Barawi dan Abdus Salam sebagai Sekretaris.

Dalam perkembangannya secara diam-diam, khususnya ANO Cabang Malang mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut BANOE (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kini disebut BANSER (Barisan Serbaguna). Dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937, BANOE menunjukkan kebolehan pertama kalinya dalam baris-berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor TNI Hamid Roesdi. Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah didirikannya BANOE di tiap cabang ANO. Selain itu, menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal BANOE.

Pada masa penjajahan Jepang, organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh Jepang termasuk ANO. Kemudian tokoh ANO Cabang Surabaya, Moh. Chusaini Tiway mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO dan mendapat respon positif dari KH. Wachid Hasyim (Menteri Agama RIS kala itu), maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor atau disingkat GP Ansor.

GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikan rupa menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman, dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa. Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.

Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional.

Selamat Harlah 88 Gerakan Pemuda Ansor
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung