Jumat, 09 Oktober 2020

Upgrading Tim ANWALIN menuju Profesionalisme Bermedia

Anwalin News - Dukuh, 9 Oktober 2020 PAC GP. Ansor Watulimo melakukan Upgrading ke-1 (kesatu) Tim Anwalin menuju profesionalisme dalam bermedia.
.
Kegiatan ini diawali dengan perjalanan melewati terjalnya jalan desa dengan penerangan minim, tim Anwalin berangkat dengan penuh optimis menuju kediaman Sahabat Basori Dukuhan Tourang, Dusun Kajar, Desa Dukuh Kecamatan Watulimo dan Alhamdulilliah, tim mampu melewati perjalanan dengan lancar dan selamat sampai tujuan.
.
Dalam kunjungan kali ini, tim memiliki agenda upgrading personil Anwalin (Ansor Watulimo Online) menuju profesionalitas dan menjadi pelopor utama media penyiaran disetiap kegiatan yang diagendakan oleh PAC GP. Ansor Watulimo maupun Banom NU lainnya.

Seperti yang telah kita ketahui, Ansor Watulimo Online atau lebih kita kenal dengan Anwalin bentukan PAC GP Ansor Watulimo ini, diharapkan mampu aktif dan istikomah dalam berkarya, dalam hal ini bidang penyiaran dan dokumentasi yang telah disediakan kanal dibeberapa media sosial dengan harapan mampu memperluas syiar organisasi.
.
Dalam agenda kali ini juga dibahas beberapa agenda diantaranya mempersiapkan lomba dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional tahun 2020, persiapan pengadaan seragam Banser, dan rencana latihan Hasta Pora Banser untuk meningkatkan profesionalitas protokoler Banser dalam segala kegiatan.

Perjalanan yang sedikit berat dengan medan yang terjal beberapa saat sebelumnya, terbayar sudah dengan jamuan Telo Cimplung legit yang khas oleh Sahabat Basori, dan dilengkapi oleh teh jahe khas Tourang Desa Dukuh.
.
Agenda tim kali ini diakhiri dengan semangat perjuangan para pendahulu Ansor Banser yang senantiasa gigih memperjuangkan dan mempertahankan keutuhan NKRI, menjaga Ulama' dan dalam rangka nderek kyai. Dengan demikian, semoga perjuangan ini mampu menjadi keberkahan bagi diri pribadi dan organisasi dalam usaha memperjuangkan apa yang telah pendahulu usahakan. Aaamiin Yaa Rabbal'alamiin. (ITM-SA)
Share:

Rekanita IPPNU Anak Cabang Watulimo Lembur Makaryo Administrasi di Sekretariat Anwalin

Anwalin News; Gemaharjo – Jum’at, 9 Oktober 2020 Segenap Rekanita dari Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kecamatan Watulimo mengadakan silaturahim dan “Lembur Makaryo” keadministrasian di Sekretariat ANWALIN / MAKO PAC GP. Ansor Watulimo.
 
Bertempat di MAKO (rumah sahabat Murdiyanto, Ketua PAC GP. Ansor Watulimo), rekan-rekanita dari IPPNU Anak Cabang Watulimo tersebut mengerjakan administrasi persuratan dalam rangka persiapan Pelantikan Kepengurusan IPNU-IPPNU untuk masa Khidmah 2020-2022.
 
Kegiatan persuratan/ keadministrasian tersebut langsung dipimpin oleh rekanita Mega Pajarwati (Ketua PAC IPPNU Watulimo terpilih) yang dibantu oleh rekanita Rini Widodewi (Dept. Pengembangan Organisasi dan Komisariat) dan rekanita Oktaviani Anissulfa (Dept. Pendidikan, Pengkaderan dan Pengembangan SDM) Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajaran Putri Nahdlatul Ulama Kecamatan Watulimo.
 
Dalam pengerjaan administasi persuratan tersebut, rekanita IPPNU saling bantu-membantu guna tercapainya persuratan yang lengkap (komplit) sesuai dengan kebutuhan administarasi yang dibutuhkan.
 
Acara pelantikan kepengurusan IPNU-IPPNU Anak Cabang Watulimo tersebut merupakan tindak lanjut dari Konferensi Anak Cabang IPNU-IPPNU Watulimo yang dilaksanakan pada bulan September 2020 kemarin dan rencananya akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 tahun ini.
 
Progres kegiatan dari Konferancab ke pelantikan tersebut sebagai upaya untuk melegitimasi kepengurusan yang baru sehingga diharapkan para kader (pelajar NU) yang tergabung dikepengurusan masa khidmah 2020-2022 bisa segera bekerja sesuai dengan garis-gari besar organisasi, yaitu Peraturan Dasar, Peraturan Rumah Tangga dan Peraturan Organisasi IPNU-IPPNU. (MY)


"... Mekar Seribu Bunga di Taman, Mekar Cintaku Pada Ikatan,
Ilmu Kucari Amal Kuberi Untuk Agama, Bangsa, Negeri"

"Selamat Belajar, Berjuang dan Bertaqwa"
 
Share:

Launching Channel ANWALIN TV - PAC GP. Ansor Watulimo

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Pada hari ini, Jum'at : 9 Oktober 2020 Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Watulimo merilis (meluncurkan) secara Resmi Channel ANWALIN TV yang merupakan kependekan dari "Ansor Watulimo Online".

Adapun Channel tersebut beralamatkan Link / Virtual :

------------------------------->>>>>
Channel ANWALIN TV adalah Akun (Youtube) Resmi Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Watulimo yang menyampaikan berbagai informasi meliputi informasi sosial kemasyarakatan dan kebangsaan serta layanan keagamaan dengan mengedepankan sikap moderat.
Channel Youtube ANWALIN TV ini merupakan pengembangan dari website www.ansorwatulimo.or.id yang juga hadir dalam berbagai platform media sosial seperti Twitter (@anwalinofficial), Facebook (PAC GP ANSOR Watulimo) dan Instagram (@anwalinofficial). Channel Youtube ANWALIN TV ini masih dalam tahap rintisan dan pengembangan.
ANWALIN TV juga menerima konten video dari Jamaah / Warga Nahdliyin - Nahdliyat sekalian, yang sesuai dengan visi dan misi kami. Untuk kerja sama program bisa menghubungi staf kami di email: ansorwatulimo@gmail.com

Dengan senanantiasa memohon rahmat, nikmat, taufiq dan hidayah dari Allah SWT, semoga Kanal ANWALIN TV ini bisa berkembang, lebih maju dan membawa kemanfaatan serta keberkahan untuk semuanya.


Tim Media Sosial ANWALIN
PAC GP. Ansor Watulimo
Tahun 2020
Share:

Kamis, 08 Oktober 2020

Lirik Mars Gerakan Pemuda Ansor dan Mars BANSER


MARS GP ANSOR
------------------
Darah dan nyawa telah kuberikan
Syuhada rebah Allahu Akbar
Kini bebas rantai ikatan
Negara jaya Islam yang benar
<>
Berkibar tinggi panji gerakan
Iman di dada patriot perkasa
Ansor maju satu barisan
Seribu rintangan patah semua
 
Tegakkan yang adil
hancurkan yang dzalim
Makmur semua lenyap yang nista

Allahu Akbar – Allahu Akbar
Pagar baja gerakan kita

Bangkitlah bangkit putera pertiwi
Tiada gentar dada ke muka
Bela agama bangsa negeri



 

 
MARS BANSER
---------------
 
Izinkan ayah Izinkan ibu
Relakan kami pergi berjuang
Dibawah kibaran bendera NU
Majulah ayo maju serba serbu (serbu)
 
Tidak kembali pulang
Sebelum kita yang menang
Walau darah menetes di medan perang
Demi agama ku rela berkorban
 
Maju ayo maju ayo terus maju
Singkirkanlah dia dia dia
Kikis habislah mereka
Musuh agama dan ulama
 
Wahai barisan Ansor serbaguna
Dimana engkau berada (disini)
 
Teruskanlah perjuangan
Demi agama ku rela berkorban

Share:

LBH Ansor menyediakan Bantuan Hukum Tim Advokasi Untuk Demokrasi

Lembaga Bantuan Hukum Gerakan Pemuda Ansor menyediakan Bantuan Hukum Tim Advokasi Untuk Demokrasi

Hotline LBH Ansor

LBH PP GP ANSOR
Jl. Kramat Raya No. 65A
Jakarta Pusat, DKI Jakarta
Indonesia
+6221 3162929 – Office
+6221 3162929 – Fax
lbhgpansor@gmail.com
pusat@lbhansor.or.id
WA: 081807078786
WA: 081219906669
HP: 081807078786
HP: 081219906669

 
LBH ANSOR DKI JAKARTA
dki@lbhansor.or.id
WA: 081933857292
HP: 081933857292

 
LBH ANSOR BANTEN
banten@lbhansor.or.id
Whatsapp: 081380296194
HP: 081380296194

 
LBH ANSOR JAWA BARAT
jabar@lbhansor.or.id
WA: 081289902202
WA: 081542922776
WA: 081220849010
HP: 081289902202

 
LBH ANSOR JAWA TENGAH
jateng@lbhansor.or.id
WA: 081391855986
HP: 081575757548

 
LBH ANSOR JAWA TIMUR
jatim@lbhansor.or.id
WA: 085736734091
HP: 081235398760

 
LBH ANSOR SUMATERA UTARA
sumut@lbhansor.or.id
WA: 082366681979
HP: 082366681979

 
LBH ANSOR KALIMANTAN SELATAN
kalsel@lbhansor.or.id
WA: 085345886866
HP: 085247417099

 
LBH ANSOR KALIMANTAN TIMUR
kaltim@lbhansor.or.id
WA: 085250459359
HP: 081347882229

 
LBH ANSOR NUSA TENGGARA BARAT
ntb@lbhansor.or.id
WA: 087873337778
HP: 087873337778

 
LBH ANSOR SULAWESI SELATAN
sulsel@lbhansor.or.id
WA: 08114441628
WA: 0811444648
HP: 085341924449

 
LBH ANSOR SULAWESI TENGAH
sulteng@lbhansor.or.id
WA: 08114502144
HP: 08114502144

 
LBH ANSOR MALUKU
maluku@lbhansor.or.id
WA: 082324666677
HP: 081319321715

 
LBH ANSOR KABUPATEN BANDUNG BARAT
kabupatenbandungbarat@lbhansor.or.id
WA: 08112255718
HP: 081910080904

 
LBH ANSOR KABUPATEN BATANG
kabupatenbatang@lbhansor.or.id
WA: 085641322768
HP: 085641322768

 
LBH ANSOR KABUPATEN BANYUMAS
kabupatenbanyumas@lbhansor.or.id
WA: 08112792928
HP: 085693136373

 
LBH ANSOR KOTA BOGOR
kotabogor@lbhansor.or.id
WA: 085715788838
WA: 081297851604
HP: 085715788838
HP:081297851604

 
LBH ANSOR KABUPATEN BOGOR
kabupatenbogor@lbhansor.or.id
WA: 082125390507
HP: 089688932365

 
LBH ANSOR KABUPATEN BREBES
kabupatenbrebes@lbhansor.or.id
WA: 082325634795
HP: 085642533884

 
LBH ANSOR KABUPATEN DEMAK
kabupatendemak@lbhansor.or.id
WA: 081391540160
HP: 081391540160

 
LBH ANSOR KABUPATEN GROBOGAN
kabupatengrobogan@lbhansor.or.id
WA: 08112993384
HP: 085640008018

 
LBH ANSOR KABUPATEN INDRAMAYU
kabupatenindramayu@lbhansor.or.id
WA: 081947337119
HP: 081947337119


Sumber : Page FB Ansor
Share:

Rabu, 07 Oktober 2020

Rapat Internal Terbatas Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Dukuh


Anwalin News, Dukuh - Rabu, 7 Oktober 2020 Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Desa Dukuh mengadakan Rapat Internal terbatas yang dilaksanakan di rumah Sahabat Rofi Wahyudi (Tourang) dengan peserta 6 orang personil. Rapat dimulai pukul 20.00 WIB setelah personil melewati perjalanan menembus kabut pekat dengan semburan udara dingin puncak Desa Dukuh dengan perkiraan waktu berkisar 20menit perjalanan. Luar biasa...
.
Dalam Rapat terbatas membahas agenda Baiat anggota Banser dalam format "UPGRADING" yang akan dilaksanakan oleh Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Watulimo dalam waktu dekat, beserta persyaratan dan persiapan personil yang akan diikut sertakan.

.
Dalam rapat terbatas ini pula dibahas persiapan anggota dalam menghadapi lomba paduan suara virtual yang akan digelar oleh PAC GP Ansor Watulimo.
.
Setelah beberapa saat rapat berjalan, disusul pula sambungan meeting via zoom yang tersambung dengan Ketua PAC GP Ansor Watulimo, Sahabat Murdiyanto. Meeting via zoom ini pula tersambung dengan Tim ANWALIN (Ansor Watulimo Online), yaitu sahabat David Hariyanto (Pimred), Sahabat Muhammad Choirur Rokhim (IT Support) dan beberapa Kontributor lainnya dari Ranting Gemaharjo.
.
Rapat diakhiri dengan menghasilkan draft rapat bersama PAC yang segera diagendakan dalam waktu dekat. (SA)
Share:

Pembelaan Gus Dur terhadap Kaum Buruh

Perhatian pemimpin besar seperti KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga tertuju pada kaum pekerja atau buruh. Perlindungan dan pemenuhan hak-hak kaum buruh Gus Dur lakukan terhadap buruh di dalam negeri maupun buruh migran atau tenaga kerja Indonesia di luar negeri.
 
Irham Ali Saifuddin (2014) yang aktif sebagai salah seorang anggota Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat, Gus Dur memiliki rekam jejak yang luar biasa terkait pembelaannya terhadap kelas pekerja atau buruh. Pembelaan ini dilakukan Gus Dur secara konsisten jauh hari sebelum dia menjadi Presiden RI hingga menjelang akhir hayatnya.
 
Dalam catatan aktivis buruh Muchtar Pakpahan, misalnya, Abdurrahman Wahid menjadi salah satu tokoh sentral dalam pertemuan nasional aktivis buruh pada 1992. Saat itu karena kebijakan penyeragaman dan kontrol Orde Baru, hanya ada satu organisasi buruh yang dibolehkan oleh pemerintah, yakni SPSI.
 
Menjadi penjamin dan inisiator pertemuan di luar mainstream seperti itu tentu bukan perkara yang mudah bagi Gus Dur. Menurut kesaksian Muchtar Pakpahan, arena pertemuan buruh tersebut sudah dikepung oleh tentara. Dari pembicaraan handy talky (HT) Muchtar mendengar intelijen melapor ke atasan bahwa “di dalam arena selalu ada gajah yang tak pergi-pergi.” Sosok tersebut adalah Gus Dur. Ternyata pertemuan tersebut tidak jadi dibubarkan dan melahirkan organisasi buruh baru, yakni SBSI.
 
Sejak saat itu Muchtar dan SBSI yang dipimpinnya dicap sebagai organisasi terlarang oleh rezim Orde Baru. Gus Dur seringkali memberikan perlindungan kepada aktivis-aktivis buruh yang dikejar-kejar aparat Orba saat itu. Bahkan, Muchtar Pakpahan seperti mendapat waktu khusus di PBNU karena setiap saat berdiskusi dan melaporkan perkembangan kepada Gus Dur yang saat itu menjadi Ketua Umum PBNU. Selain itu, problematika para buruh migran juga dari dulu menjadi perhatian Gus Dur, terutama ketika negara-negara Arab menjadi tujuan mereka bekerja. Agaknya tradisi budak masih melekat dalam diri masyarakat Arab sehingga terkadang perlakuan mereka kepada pekerja migran bukan sebagai orang yang dipekerjakan, tetapi seolah sebagai budak yang bisa diperlakukan sewenang-wenang.

Melihat nasib TKI di negara-negara Arab, tepatnya di kawasan Teluk, bukan hanya Arab Saudi, tetapi Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan lain-lain, Gus Dur pada 2004 pernah memberikan pertimbangan kepada pemerintah agar sementara menyetop pengiriman TKI ke kawasan tersebut. Namun, masukan Gus Dur bukan tanpa pemberian solusi. Dalam salah satu tulisannya di Harian Sinar Harapan edisi 8 Juni 20014 berjudul Melihat Nasib TKI di Arab, Gus Dur mengatakan bahwa para pekerja migran harus dibekali keterampilan atau skill sebelum diberangkatkan ke tempat tujuan bekerja. Namun hal itu tidak cukup menurut Gus Dur, para TKI juga harus terdidik secara formal untuk kerja-kerja yang mereka lakukan.
 
Hal lain yang perlu menjadi perhatian utama adalah perlindungan hukum bagi para TKI yang semakin lama semakin baik agar hak-hak asasi manusia (HAM) mereka terjaga dengan baik. Atas perhatiannya terhadap nasib para pekerja migran tersebut, Gus Dur merupakan sosok yang dekat  dengan mereka dan keluarganya. Anis Hidayah dalam buku Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa (2017) mengungkapkan bahwa dalam beberapa kali pertemuan dengan Gus Dur, keluarga pekerja migran masih sering memanggil Gus Dur dengan sebutan ‘presiden’. Meskipun Gus Dur sudah menegaskan bahwa dirinya bukan lagi presiden, tetapi bagi para keluarga pekerja migran, Gus Dur tetap presiden meskipun tanpa istana. Dalam beberapa kali kunjungan ke daerah-daerah yang menjadi basis pekerja migran, Anis Hidayah yang merupakan aktivis Migrant Care menemukan poster Gus Dur tetap terpasang sebagai presiden di rumah mereka.
 
Kedekatan Gus Dur dengan pekerja migran dan anggota keluarganya menjadi bukti nyata empati dan kepeduliannya terhadap kelompok-kelompok masyarakat tertindas (mustadh’afin). Setidaknya, itu terbukti ketika terjadi deportasi massal di Malaysia pada 2005. Gus Dur dan keluarganya dengan sangat terbuka menerima dan menampung para pekerja migran yang menjadi korban deportasi dan tidak digaji. Mereka ditampung di Pesantren Ciganjur yang didirikannya meskipun dari daerah yang berbeda. Bahkan kepada mereka yang non-Muslim pun, Gus Dur memperlakukannya dengan cara yang berbeda. Gus Dur memprotes keras kebijakan pemerintah Malaysia yang dianggap sering merugikan kepentingan buruh migran. Ini ironis, mengingat Malaysia negara serumpun dengan Indonesia tetapi perlakuan Malaysia kerap merugikan pekerja migran.
 
Bagi pekerja migran Indonesia, Gus Dur juga memiliki kepedulian terhadap nasib mereka yang teraniaya. Anis Hidayah juga mencatat, Gus Dur adalah Presiden Indonesia pertama yang melakukan diplomasi tingkat tinggi antarkepala negara untuk melindungi warga negaranya dari ancaman hukuman mati. Model diplomasi tersebut belum pernah dilakukan presiden sebelum dan sesudah Gus Dur. Gus Dur juga dikenal paling peduli terhadap keselamatan jiwa dan nasib buruh migran. Gus Dur selalu menempatkan satu nyawa warga negara yang terancam di luar negeri sebagai pertaruhan martabat bangsa. Irham Ali Saifuddin (2014) mencatat, pada 1999, ketika seorang TKI asal Bangkalan Madura mendapatkan ancaman hukuman mati di Arab Saudi, Gus Dur selaku Presiden RI turun tangan langsung dengan menulis surat resmi kepada Raja Arab Saudi untuk keringanan hukuman.
 
Bahkan Gus Dur juga menelpon langsung Sang Raja. Akhirnya hukuman mati dibatalkan oleh Raja, diperingan dengan hukuman lainnya. Pembelaan Gus Dur terhadap TKI tidak berhenti setelah beliau dilengserkan dari kursi kepresidenan. Beliau pernah menampung puluhan TKI yang dideportasi dari Malaysia dan tidak mendapatkan gaji. Bukan saja menampung mereka, Gus Dur bahkan melakukan lobi langsung untuk menyelesaikan gaji TKI yang tidak dibayar.
 
Pembelaan terhadap TKI dari ancaman hukuman mati juga pernah dilakukan oleh Gus Dur ketika seorang TKI asal Lombok Tengah, Adi bin Asnawi mendapat vonis hukuman gantung dari pengadilan Malaysia. Mendapatkan laporan dari keluarga Adi, Gus Dur langsung bertolak ke Malaysia untuk menemui langsung Perdana Menteri Malaysia saat itu, Abdullah Badawi, guna memperingan hukuman. Akhirnya Adi bisa menghirup udara tanah air pada tanggal 9 Januari 2010, satu minggu setelah Gus Dur wafat. Adi tidak sempat mengucapkan terima kasih secara langsung kepada Gus Dur. Satu hal lagi yang tidak banyak diketahui oleh publik adalah pembelaan Gus Dur terhadap hak-hak pekerja rumah tangga (PRT) atau lebih sering disebut sebagai pembantu.
 
Penulis: Fathoni Ahmad
Editor: Muchlishon
 
Sumber: NU Online 
Share:

Senin, 05 Oktober 2020

Sinergitas GP. Ansor – Banser Dukuh Dalam Bedah Rumah Bersama Pemerintah Desa Dukuh


Anwalin News,
Dukuh – Senin, 5 Oktober 2020 Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor Ranting Dukuh beserta segenap Jajaran Anggota Bansernya mengadakan Sinergitas Bakti Sosial dalam bentuk bedah rumah. Kegiatan bedah rumah tersebut merupakan program dari Pemerintah Desa Dukuh Kecamatan Watulimo yang sudah berjalan sejak dahulu.
 
Agenda bedah rumah untuk kali ini dengan titik sasaran (target) rumah Mbak Yatinem yang beralamat di RT. 06 RW. 02 Karang, Dusun Krajan Desa Dukuh Kecamatan Watulimo yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan perlu segera adanya perbaikan / pembangunan.
 
Pada program bedah rumah tersebut hadir dari Pemerintah Desa Dukuh, yaitu bapak Mulyani (kepala Desa Dukuh) beserta segenap perangkat Desa Dukuh, para warga masyarakat sekitar dan para pemuda yang ada dilingkungan bedah rumah berada.


Tak ketinggalan, juga hadir dari segenap Pengurus Gerakan Ansor Desa Dukuh bersama jajaran anggota Banser Satkorkel Dukuh yang dikomandani oleh sahabat Basori (Kasatkorkel Banser Dukuh) untuk turut “mangayu bagya” dalam kegiatan bakti sosial dimaksud. Hal ini sebagai wujud kepedulian dan sikap sosial personil GP. Ansor – Banser untuk ikut mengabdikan diri ketengah-tengah warga masyarakat.
 
Meskipun cuaca tidak mendukung karena adanya guyuran air hujan, namun semangat para banser dan kader ansor bersama warga sekitar sangat antusias dalam bergotong-royong dan bersinergi. Dengan adanya kolaborasi dan sinergitas kader ansor – banser ini diharapkan warga masyarakat sekitar (khususnya yang sudah terbentuk / ada anggota bansernya) bisa terbantu, teringankan dan bisa merasakan manfaat dari eksistensi organisasi Gerakan Pemuda Ansor khususnya dari keberadaan Barisan Ansor Serbanguna (Banser) dimanapun berada.


Program Bedah Rumah ini (rencananya) dibuat secara rutin dan bergantian dengan sasaran rumah warga yang kurang layak huni baik melalui bantuan dari Pemerintah Desa, Basnaz, GP. Ansor/Banser dan bantuan dari donator lainnya. Sehingga dari adanya bedah rumah ini warga yang belum memiliki rumah layak huni secara sosial akan terangkat perekonomiannya dan bisa menjalani kehidupan yang normal sebagaimana warga masyarakat lainnya. (BSR)
Share:

KALA AL-GHAZALI BERBICARA PERIHAL CINTA.

Imam Ghazali nampaknya menjadi salah satu penggemar terberat Rabiah Adawiyah. Kalau saja ia hidup di zaman sekarang, bukan tidak mungkin dia akan bikin semacam fanbase buat Rabiah.

Betapa tidak. Ia bahkan mengutip rangkaian syair Rabiah di kitabnya yang paling monumental: Ihya Ulumuddin. Ia tak akan mengutip syair itu jika lariknya tak benar-benar penting baginya.

Pertama, karena ia pernah mengecam kebiasaan masyarakat zamannya yang doyan bersyair. (Baca bab hukum syair dan musik di ihya). Kedua, sebagai seorang yang pernah berada di level faqih—yang artinya pernah berurusan serius dengan kaum sufi—tentu akan lebih kritis terhadap sesuatu yang berbau sufistik-spiritualisme.

Namun magis Rabiah memang sungguh terlalu. Al-Ghazali jelas terpengaruh dan membaca hampir seluruh syair Rabiah. Ia lalu memilih mengutip beberapa larik ini:

أُحِبُّكَ حُـبَّينْ حُبُّ الهَوَى وَحُــبَّا لأنَّكَ أَهْلٌ لِـذَاكَا
فَأَمَّا الَّـذِي هُوَ حُبُّ الهَوَى فَشُـغْلِي بِذِكْرِكَ عَمَّنْ سِوَاكَا
وَأَمَّا الَّـذِي أَنْتَ أَهْلٌ لَـهُ فَلَسْتُ أَرَى الكَوْنَ حَتىَّ أَرَاكَا
فَمَا الحَمْدُ فِي ذَا وَلاَ ذَاكَ لِي وَلَكِنْ لَكَ الحَمْدُ فِي ذَا وَذَاكَا

“Aku mencintaimu karna dua hal: pertama karena cinta pada cinta, Dan kedua karena Engkau pantas dicinta.”
“Cinta pada cinta adalah saat aku terlalu mabuk asmara mengingat diriMu, tak terbagi cintaku pada yang lain.”
“Dan tentang engkau yang pantas dicinta ialah karena aku tak melihat segala-galanya kecuali dirimu”
“Aku tak butuh pujian karna ini dan itu tapi karna Engkaulah yang pantas akan semua itu.“

Dari syair ini kemudian Al-Ghazali menemukan cahaya terang: kenikmatan memandang keagungan Allah adalah cinta yang dimaksud Rabiah itu. Cinta yang tak terbagi, cinta yang membutakan pecandunya pada semua hal.
Kesimpulan ini ia landaskan pada firman Allah dalam hads qudsi:

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku telah menyediakan bagi hamba-hambaKu yang saleh kenikmatan yang belum pernah ada mata yang melihatnya, belum pernah ada telinga yang mendengarnya, dan belum pernah dibayangkan hati manusia.”

“Keterangan-keterangan tersebut telah menjelaskan segalanya,” ujar Al-Ghazali, “bahwa pengetahuan yang paling nikmat adalah pengetahuan yang paling tinggi derajatnya.” Apa keagungan Allah adalah cinta yang dimaksud Rabiah itu. Cinta yang tak terbagi, cinta yang membutakan pecandunya pada semua hal.

Apa pengetahuan paling tinggi derajatnya itu? Derajat sebuah pengetahuan akan dinilai sesuai dengan derajat materi yang menjadi objek pengetahuan itu. Semisal, pengetahuan tentang ilmu bangunan, derajatnya setara dengan nilai bangunan itu sendiri.

Derajat pengetahuan akan alam dan kajian biologisnya, setara dengan seberapa penting alam dan kajian biologis itu untuk diketahui banyak orang. Dan seterusnya.
“Dengan demikian,” lanjut Al-Ghazali, “jika kita menemukan sesuatu yang agung dan mulia di dalam ilmu pengetahuan itu, maka ilmu pengetahuan itu pastilah ilmu yang agung dan mulia pula. Maka pengetahuan kita terhadap Yang Tertinggi (tuhan) adalah aladzzul ‘ulum, semulia-mulia dan selezat-lezatnya pengetahuan.”


Referensi: Ihya Ulumudin, maktabah dar al-fikr, vol. 4, hal. 323.
__________________________________
Nailul Huda, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2004, dengan perubahan seperlunya.


Sumber : FB LIRBOYO
Share:

KOPYAH : Yang Khas Di Pesantren Kita

Seorang muslim di Indonesia pastinya sangat tidak asing lagi dengan benda yang sering digunakan oleh kaum laki-laki ketika sedang ibadah sholat ataupun untuk acara-acara tertentu yang  masih berbau religi. Ya, itu adalah kopyah. Peci hitam yang umumnya dari bahan beludru. Apalagi di kalangan pesantren.

Tapi coba kita cermati keseharian kita di pesantren. Ada sedikit perbedaan antara kopyah para dzuriyah dengan kopyah para santri. Mungkin di sinilah titik temu mengapa kopyah di pesantren kita menjadi khas. Karena cara mudah mengetahui beliau dzuriyah atau santri biasa lebih mudah dilihat dari kopyah yang dikenakannya.

Biasanya untuk kopyah yang bermotif, kopyah putih atau kopyah haji dikenakan para dzuriyah. Sedangkan untuk peci hitam dikenakan oleh para santri biasa. Namun diperkenankan pula santri memakai kopyah putih dengan ketentuan santri tersebut telah menunaikan ibadah haji.

Coba kita bayangkan. Seumpama ada seorang santri biasa ketika berangkat sekolah, sengaja atau tidak, santri tersebut mengenakan kopyah ala dzuriyah. Tak ayal santri itu akan menjadi pusat perhatian dan tak jarang mendapat gojlokan (komentar pedas). Jangankan waktu sekolah. Waktu sholat saja mungkin semua santri tidak berani memakai kopyah ala dzuriyah. Padahal di dalam syarat-syarat sholat tidak ada pembahasan larangan memakai kopyah selain kopyah hitam.

Sejarah dan Filosofi Kopyah

Satu pendapat mengatakan bahwa laksamana Ceng Ho lah yang berjasa membawa peci ke Indonesia. Peci berasal dari kata Pe yang berarti delapan, dan Chi yang berarti energi. Sehingga arti peci itu sendiri adalah penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru mata angin.

Lalu “songkok” yang berarti “kosongnya mangkok”. Artinya, hidup ini seperti mangkok yang kosong. Harus diisi dengan ilmu dan berkah. Sementara “kopyah” berasal dari “kosong karena di-pyah”. Maknanya, kosong karena di buang (di-pyah). Apa yang dibuang? Kebodohan dan rasa iri hati serta dengki yang merupakan penyakit bawaan syaitan.

Bukan hanya kalangan santri saja. Banyak petinggi negara, seperti presiden, wakil presiden, jajaran kementrian yang mengenakan kopyah hitam. Juga para ulama banyak yang berkenan memakai kopyah hitam, semisal KH. Said Aqil Siraj, Gus Mus dan Gus Dur.

Kopyah sangat kental sejarahnya dengan pergerakan nasional bangsa Indonesia. Kita tengok masa penjajahan. Di mana presiden kita, Sang Proklamator Ir. Soekarno yang merupakan presiden pertama di Indonesia, dengan bangga mengenakan kopyah hitam.

Mengenai Kopyah Soekarno

Dalam buku biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, Bung Karno bercerita bagaimana ia bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan. Di masa itu, kaum cendekiawan pro-pergerakan nasional enggan memakai blangkon, misalnya, tutup kepala tradisi Jawa. Jika kita lihat foto pahlawan Wahidin Sudiro Husodo ataupun Dr. Cipto Mangunkusumo, mereka berdua memakai blangkon sebelum 1920-an.

Ada sejarah politik dalam tutup kepala ini. Sekolah dokter pribumi, STOVIA, yang dibangun oleh pemerintah kolonial mempunyai aturan: siswa inlander (pribumi) tidak boleh memakai baju Eropa. Maka para siswa memakai blangkon dan sarung batik jika dari Jawa. Bagi yang datang dari Manado atau Maluku, misalnya, lain lagi. Bagi mereka yang beragama Kristen, boleh memakai pakaian eropa: pantalon, jas, dasi, mungkin topi. Dari sejarah ini, tampak usaha pemerintah kolonial untuk membagi penduduk dari segi asal-usul, etnis dan agama.

Maka banyak aktivis pergerakan nasional yang menolak memakai blangkon. Apalagi mereka pada umumnya bersemangat kemajuan, modernisasi. Jadi penolakan pada kostum tradisi mengandung penolakan terhadap politik kolonial ‘devide et impera’. Dan penolakan terhadap adat lama.

Lalu apa gantinya? Untuk memakai topi seperti kolonial itu akan terasa menjauhkan diri dari rakyat. Pada Juni 1921, Bung Karno menemukan solusi. Ia memilih memakai peci.

Waktu itu ada pertemuan Jong Java di Surabaya. Bung Karno datang dan ia memakai kopyah meskipun sebenarnya ia takut ditertawakan. Maka ia pun berkata pada dirinya sendiri, “kalau mau jadi pemimpin, bukan pengikut, harus berani memulai sesuatu yang baru.”

Waktu itu, menjelang rapat mulai, hari sudah agak gelap.  Bung Karno berhenti sebentar. Ia bersembunyi di balik tukang sate.  Setelah ragu sebentar, dia berkata lagi pada diri sendiri, “Ayo, maju! Pakailah pecimu! Tariklah nafas yang dalam dan masuklah sekarang!” Lalu ia masuk ke ruang rapat. Membuat semua orang memandangnya tanpa kata-kata.

Untuk mengatasi kekikukan, Bung Karno bicara, “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia.”  “Peci,” kata Bung Karno setelahnya, “dipakai oleh pekerja-pekerja dari bangsa Melayu. Dan itu asli kepunyaan rakyat kita.”

Menurut Bung Karno, peci berawal dari kata Pet, dan Je, istilah Belanda untuk mengesankan sifat kecil. Baik dalam sejarap pemakaian dan penyebutan namanya. Peci mencerminkan Indonesia, satu bangunan ‘interkultur’.

Keterangan ini membawa kita pada kesimpulan bahwa sesunggunya peci, songkok maupun kopyah bukanlah sebuah simbol agama. Ia merupakan simbol budaya dari bangsa Indonesia khususnya dan bangsa Melayu pada umumnya. Dalam hal ibadah, mengapa kebanyak orang Islam mengenakan peci, tak lebih agar dapat tertutupnya rambut di saat sujud. Beberapa negara selain Indonesia memiliki penutup kepala sendiri yang dikenakan dalam solat, seperti kain surban orang arab, peci tinggi orang Turki, dan lain sebagainya.

Memang keabsahan keterangan di atas, masih perlu dikaji ulang. Tapi yang pasti, peci merupakan pemandangan umum di tanah melayu sejak abad 13, saat Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, dan membawa oleh-oleh berupa peci saat ke kampung halaman.

Jean German Taylor, yang meneliti interaksi antara kostum Jawa dan kostum Belanda periode 1800-1940, menemukan bahwa sejak pertemuan abad ke-19, pengaruh itu tercermin dalam pengadopsian bagian-bagian tertentu dari pakaian Barat. Pria-pria jawa yang dekat dengan orang Belanda, mulai memakai pakaian gaya Barat. Menariknya, blangkon/peci tak pernah lepas dari kepala mereka.

Walhasil, memakai peci seharusnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi para santri. Bukan malah ditinggal dan lebih memilih topi.][

Penulis, Ibrahim,  santri kamar K 3.

Sumber : FB LIRBOYO
Share:

Minggu, 04 Oktober 2020

Gus Awis Mutiara Terpendam Nahdlatul Ulama

Peneliti kitab kuning asal Belanda Martin van Bruinessen pada tahun 1990-an, berpendapat, bahwa ulama nusantara, khususnya yang berasal dari Indonesia pernah menjadi kiblat keilmuan Islam di negeri Arab (Hijaz) sekitar abad 18 sampai akhir abad 19.

Reputasi itu didapatkan, karena karya-karya mereka yang berbahasa Arab menjadi rujukan ulama dunia. Beberapa diantaranya adalah Syaikh Imam Nawawi Al-Bantani, Syaikh Khatib Minangkabawi, Syaikh Mahfud At-Termasi, Syaikh Junaid Al-Batawi, Syaikh Hasyim Asy’ari Al-Jawi dan lain sebagaianya.

Bahkan Snouck Hurgronje, seorang orientalis terkemuka asal Belanda menulis “Mecca in the latter part of 19th Century,” dan mencatat, bahwa ulama-ulama Nusantara kerap menjadi Imam besar dan Mufti Masjidil Haram.

Tradisi menulis dalam bahasa Arab tidak berakhir sampai awal abad ke-20, atau era perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, namun terus berlanjut, tetapi dari segi kuantitasnya amat sedikit.

Karena belakangan, pengaruh dari kalangan ulama modernis atau reformis begitu masif, sehingga kiai-kiai lebih senang menulis dalam bahasa Indonesia, dan sebagian masih mempertahanknya dengan menggunakan Arab pegon, dan yang sedikit itu, DR. KH. M. Afifudin Dimyathi, LC, MA, atau biasa dipanggil Gus Awis, termasuk yang mempertahankan tradisi ulama Nusantara, menulis dengan bahasa Arab di era melenial ini.

Beliau lahir di Jombang, Jawa Timur 7 Mei 1979. Nasabnya dari jalur ayah, Gus Awis adalah putra Kiai Dimyati bin Kiai Romli At-Tamimi. Kiai Romli At-Tamim adalah seorang Mursyid (Guru) Thoriqoh Mu’tabaroh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, yang jalur kememursyidannya sampai ke Sulton Auliya’ Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani hingga Nabi Muhammad Saw., sementara dari jalur ibu, Gus Awis merupakan cucu dari Kiai Ahmad Marzuki Zahid Langitan yang nasabnya sampai ke Sunan Bonang, Tuban.

Gus Awis, Kiai-Muda yang santun ini menyelesaikan pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtida’iyah Negeri Rejoso Jombang (lulus tahun 1991); Kemudian Madrasah Tsanawiyah Progam Khusus Darul ‘Ulum Rejoso Peterongan (lulus tahun 1994); Lalu Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri (MAKN) Jember (lulus tahun 1997); belajar dan menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Ngaglik Sleman Yogyakarta yang diasuh oleh K.H Mufid Mas’ud sampai tahun 1998.

Setelah lulus dari MAKN, beliau meneruskan Pendidikan S-1 di al Azhar University Mesir, pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an mulai tahun 1998-2002

Pada tahun 2002 beliau melanjutkan pendidikan S2 di Khartoum International Institute for Arabic Language di kota Khartoum Sudan dan Lulus tahun 2004 dengan predikat Cum Laude. Berbekal prestasi lulusan S2 terbaik tingkat Asia, pada tahun yang sama beliau meneruskan pendidikan S3 di al Neelain University jurusan Tarbiyah Konsentrasi Kurikulum dan Metodologi Pengajaran Bahasa Arab dan selesai tahun 2007.

Selain itu, sejak tahun 2006 beliau sudah aktif sebagai dosen di Prodi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya dengan mengampu mata kuliah kebahasaan dan tafsir.

Mulai tahun 2007 setelah menyalesaikan program S3, beliau juga turut mengajar di Program Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel dan UIN Maulana Malik Ibrahim dengan mengampu mata kuliah spesialisasi Linguistik, Sosio-Linguistik, Semantik dan Leksikologi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab dan Pengembangan Materi Ajar Bahasa Arab.

Beliau juga ikut Berpartisipasi sebagai pengajar di Program Pasca Sarjana di IAIN Tuluangung, IAIN Jember dan STIT Dalwa Bangil Pasuruan dengan materi bidang kebahasan dan tafsir.

Karya yang pernah ditulis diantaranya adalah Muhadarah fi Ilm Lughah al Ijtima’i (Dar Ulum al Lughawiyah, Surabaya, 2010), Sosiolinguistik (UINSA Press, 2013), Mawarid al Bayan fi Ulum al Qur’an (Lisan Arabi, 2014), Safa al Lisaan fi I’rab al Qur’an (Lisan Arabi, 2015), al-Syamil fi Balaghat al-Quran (3 jilid, 2019), Irsyad al-Darisin ila Ijma’ al-Mufassirin, ‘Ilm al-Tafsir: Ushuluh wa Manahijuhu (Lisan Arabi, 2019), dan Jam’u al-‘Abir fi Kutub al-Tafsir (2 jilid, Lisan Arabi, 2019). Selain diterbitan oleh Lisanul Arabi di Indonesia, buku-buku tersebut juga diterbitkan di Mesir oleh Penerbit Daar As-Saalih dan Darun Nibros, serta beberapa artikel di jurnal-jurnal berbahasa Arab di Indonesia, diantaranya Jurnal el Jadid dan Jurnal LINGUA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Pada beberapa kesempatan beliau menyampaikan, bahwa motivasi terbesarnya dalam menulis adalah perjuangan para ulama terdahulu dalam mengabadikan ilmu.

Sebuah ilmu adalah amanah yang harus disampaikan kepada umat dan salah satu caranya adalah dengan menulis. Sebagai penulis yang produktif, beliau mengatakan bahwa ide adalah sebuah amanah dari Allah. Maka dari itu setiap mendapat ide tulisan, beliau akan mencatatnya dan berniat untuk menuangkan ide-ide tersebut dalam bentuk kitab.

Beliau menganggap bahwa hal ini adalah bukti bahwa setiap buku ada pembacanya, setiap buku pasti ada pencarinya.

Dua bukunya yang fenomenal adalah Asy-Syamil fi Balaghatil Quran dan Jam’u al-‘Abir fi Kutub al-Tafsir, karya ini dibaca oleh Mahasiswa yang sedang belajar di Al-Azhar Mesir.

Buku Asy-Syamil membahas nilai kesusastraan al-Quran lengkap mulai dari al-Fatihah hingga an-Annas, dan mengungkapkan beberapa faktor yang membuat al-Quran lebih istimewa dibanding kitab suci lainnya. Faktor-faktor tersebut, terangkum dalam uslub balaghah di kitab tiga jilid yang ia tulis. Pertama, isti’aro yang berarti keserasian makna. Al-Quran jika diperhatikan menggunakan pemilihan kata yang unik sehingga berbeda dengan bahasa buku atau kitab suci lain.

Selanjutnya, tartib yakni ketertiban urutan kalimat yang disusun dalam al-Quran.

Susunan yang rinci dan rapi ini membuat ayat al Quran mudah dicerna. Hal terakhir yang ia sebutkan ialah i’jaz yang berhubungan dengan pemaknaan.

Dalam al Quran, walau lafaznya singkat, pemaknaannya bisa sangat luas. Tentu masih banyak uslub balaghah lainnya. Untuk mendapatkan makna al-Quran baik tersirat mauput tersurat, tidak bisa tidak, maka pintu masuk pemahaman awalnya diantaranya adalah dengan membaca kandungan balaghanya, dan buku ini dengan amat rinci menjelaskannya kata perkata, kalimat perkalimat dan ayat perayat.

Sementara kitab Jam’ul Abir fi Kutubit Tafsir menjelaskan metode penulisan lebih dari 440 kitab tafsir sepanjang sejarah Islam, secara berurutan mulai mufassir zaman sahabat sampai mufassir abad 15 hijriah.

Kitab ini juga mengkaji sejumlah kitab tafsir berbagai aliran yakni Ahlussunnah, Syiah, Mu’tazilah, Khawarij, bahkan sufi dan batiniyah. Dalam Jam’ul Abir, kitab-kitab tafsir dunia juga diurutkan sesuai tahun meninggalnya mufassir.

Ini sangat membantu dalam rangka mengetahui perkembangan studi tafsir sepanjang sejarah Islam.

Dari 440 kitab tafsir yang dibahas, sebagian besar mengenalkan tafsir-tafsir karya ulama Nusantara, dan Asia Tenggara ke dunia Islam.

Tentu saja ini sangat menarik, karena dengan mambaca karya ini, harapannya agar pakar-pakar tafsir di Timur Tengah kontemporer setelah membaca kitab ini bisa mengenal Syekh Abdur Rauf as Sinkili, Kiai Shalih Darat, Mbah Kiai Bisri Musthofa, Mbah Kiai Misbah Musthofa, Syekh Muhammad Said bin Umar al Malaysia, KH Ahmad Sanusi, Syekh Ahmad Shonhaji as-Singapuri dan nama lain, serta mengetahui tafsir yang mereka persembahkan untuk umat Islam di Asia Tenggara.

Kelebihan lain ini juga menampilkan berbagai kitab tafsir dari berbagai bahasa di dunia. Dari mulai Arab, Inggris, Prancis, Urdu, Parsi, Melayu, Indonesia, Jawa, Sunda dan sebagainya.

Dengan karyanya yang begitu banyak, bahkan dicetak di Mesir, negeri yang dikenal dengan menara ilmu islam dan digunakan di almameternya, termasuk di Al-Azhar dan Universitas Khartoum, Sudan, maka beliau layak dianggap penerus ulama Nusantara di Hijaz (Jazirah Arab).

Maka tidaklah berlebihan bila penulis mengatakan “Gus Awis termasuk mutiara NU yang terpendam”, patut dibanggakan dan layak dijadikan teladan generasi NU milenial. Wallahu’lam bishwab.

Referensi: KH. Imam Jazuli Lc.Ma
Haddi VJB | Aswaja Media
Share:

ULAMA ITU KEKASIH ALLAH


Yang dimaksud dengan al-'alim (العالم) ialah orang yang menggunakan waktunya untuk mendidik (التعليم), memberi fatwa (الإفتاء), menyusun karya ilmiah (التصنيف), dan sebagainya.

Sedangkan yang dimaksud dengan al-'abid (العابد) ialah orang yang memutuskan diri untuk hanya beribadah meninggalkan semua itu, meskipun ia 'alim (orang yang berilmu). Bukan berarti orang 'alim yang utama itu yang tidak beramal, dan tidak pula berarti al-'abid (ahli ibadah) itu orang yang kosong dari ilmu, tetapi yang dimaksud dengan itu al-alim adalah bahwa ilmu merupakan fokus amalnya, sedangkan fokus amalan al-'abid adalah ibadah berdasarkan ilmunya.

Oleh karena itu, pada prinsipnya ibadah orang yang tidak berdasarkan ilmu (عبادة الجاهل) berpotensi merusak dirinya dan tidak bernilai menurut ajaran agama, sehingga dalam pandangan ajaran agama seorang yang tidak berilmu, al-jahil, itu mustahil menjadi kekasih (wali) Allah ( يستحيل شرعا أن يكون وليا لله تعالى).

Bahwa al-wali itu lebih umum dari al-'alim, itu benar. Konon ada yang mengatakan,

إن الولي هو العالم العامل بعلمه
Sesungguhnya al-wali adalah al-'alim (orang berilmu) yang mengamalkan ilmunya.
Sehingga antara al-wali dan al-'alim adalah dua hal yang sama.
Ibnu Bun dalam al-Wasilah-nya menyatakan,
والأولياء المؤمنون الأتقياء فالعلماء العاملون أولياء

"Al-Auliya' (para kekasih Allah) yang beriman itu adalah al-atqiya' (orang-orang yang bertakwa,

Al-ulama' (orang-orang yang berilmu) yang mengamalkan ilmunya itu, mereka adalah auliya'."

Jelasnya sebagaimana dikatakan oleh al-Imam al-Syafi'i,

إذا لم يكن العلماء أولياء فليس لله تعالى ولي

"Bila ulama itu bukan auliya', maka Allah tidak memiliki seorangpun wali (kekasih)."



Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung