Kamis, 11 Juni 2026

Tiga Hal yang Dapat Mencabut Iman dari Seorang Hamba: Penjelasan Maqalah Abul Qasim Al-Hakim tentang Syukur atas Islam, Kekhawatiran Hilangnya Iman, dan Larangan Berbuat Zalim kepada Sesama Muslim


Tiga Hal yang Dapat Mencabut Iman

وَسُئِلَ أَبُو الْقَاسِمِ الْحَكِيمُ: هَلْ مِنْ ذَنْبٍ يَنْزِعُ الْإِيْمَانَ مِنَ الْعَبْدِ؟
قَالَ: نَعَمْ، ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ تَنْزِعُ الْإِيْمَانَ مِنَ الْعِبَادِ:
أَوَّلُهَا: تَرْكُ الشُّكْرِ عَلَى الْإِسْلَامِ،
وَالثَّانِي: تَرْكُ الْخَوْفِ عَلَى ذَهَابِ الْإِسْلَامِ،
وَالثَّالِثُ: الظُّلْمُ عَلَى أَهْلِ الْإِسْلَامِ

Artinya:
Abul Qasim Al-Hakim ditanya, "Apakah ada dosa yang dapat mencabut iman dari seorang hamba?"

Beliau menjawab, "Ya, ada tiga perkara yang dapat mencabut iman dari para hamba:

1. Tidak bersyukur atas nikmat Islam.
2. Tidak takut akan hilangnya iman dan Islam.
3. Berbuat zalim kepada sesama Muslim."

(Tanbîhul Ghâfilîn karya Imam As-Samarqandi, Bab tentang Bahaya Kezaliman)

------

Penjelasan dan Renungan

Iman merupakan nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Dengan iman, seseorang mengenal Tuhannya, mengetahui tujuan hidupnya, dan memiliki harapan akan keselamatan di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, para ulama salaf sangat memperhatikan kondisi hati mereka dan selalu khawatir apabila iman yang dimiliki berkurang atau bahkan hilang. Dalam maqalah yang diriwayatkan dari Abul Qasim Al-Hakim ini, beliau menjelaskan tiga perkara yang sangat berbahaya bagi keselamatan iman seseorang. Tiga perkara tersebut bukan sekadar kesalahan biasa, tetapi merupakan penyakit hati yang apabila dibiarkan dapat menyeret seseorang jauh dari hidayah Allah.

Perkara pertama adalah tidak bersyukur atas nikmat Islam. Banyak orang menyadari nikmat kesehatan, harta, jabatan, dan keluarga, tetapi lupa bahwa nikmat terbesar adalah ketika Allah memilihnya menjadi seorang Muslim. Bersyukur atas nikmat Islam bukan hanya dengan ucapan Alhamdulillah, tetapi juga dengan mempelajari ajaran agama, menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta bangga menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad ﷺ. Ketika rasa syukur terhadap Islam hilang, seseorang mulai meremehkan syariat, merasa malu dengan identitas keislamannya, dan perlahan-lahan menjauh dari ajaran agama. Padahal Allah berfirman bahwa jika manusia bersyukur, niscaya Allah akan menambah nikmat-Nya.

Perkara kedua adalah tidak takut akan hilangnya iman dan Islam. Para sahabat Nabi dan para ulama terdahulu, meskipun terkenal saleh, tetap merasa khawatir terhadap keadaan iman mereka. Mereka tidak pernah merasa aman dari fitnah yang dapat menyesatkan hati. Sebaliknya, seseorang yang merasa imannya pasti selamat dan tidak mungkin hilang sering kali menjadi lengah. Ia meremehkan dosa, meninggalkan ibadah, serta tidak lagi memohon kepada Allah agar diteguhkan dalam agama. Padahal Rasulullah ﷺ sering berdoa:

 يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."

Doa ini menunjukkan bahwa hati manusia berada dalam genggaman Allah, sehingga setiap mukmin hendaknya senantiasa memohon keteguhan iman sampai akhir hayat.

Perkara ketiga adalah berbuat zalim kepada sesama Muslim. Kezaliman merupakan dosa besar yang sangat dibenci Allah. Bentuknya tidak hanya berupa perampasan harta atau kekerasan fisik, tetapi juga mencakup menghina, memfitnah, mengadu domba, menyebarkan kebencian, merusak kehormatan orang lain, dan menyakiti hati sesama. Kezaliman menunjukkan kerasnya hati dan hilangnya kasih sayang yang menjadi ciri seorang mukmin. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Karena itu, siapa pun yang gemar menzalimi saudaranya telah membuka pintu kehancuran bagi dirinya sendiri, baik di dunia maupun di akhirat.

Maqalah ini mengajarkan kepada kita bahwa menjaga iman tidak cukup hanya dengan mengucapkan syahadat, tetapi juga dengan memelihara rasa syukur atas nikmat Islam, selalu takut kehilangan hidayah dan memohon keteguhan iman, serta menjaga hak-hak sesama Muslim dengan menjauhi segala bentuk kezaliman. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa bersyukur atas nikmat Islam, istiqamah dalam keimanan, dan terhindar dari perbuatan zalim yang dapat merusak hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Aamiin.

---------
Oleh : Murdiyanto
Pengasuh Majelis Taklim Al-Mubarok Srikaton
.
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung