Rabu, 23 Desember 2020

HUKUM MENJAGA GEREJA DEMI STABILITAS KEAMANAN


Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara bangsa dengan komposisi penduduk yang beragam, baik dari sisi agama, suku, ras dan bahasa. Semuanya hidup rukun berdampingan yang dirajut oleh jiwa persatuan dan kesatuan. Di sini, toleransi memiliki wilayah yang urgen, termasuk dalam hal hubungan antar umat beragama.

Persoalan menjaga gereja pada momentum tertentu, seperti saat Misa Natal dan semacamnya, masih saja menjadi polemik perbincangan yang tak pernah usai. Namun sejatinya, persoalan tersebut telah selesai diperbincangkan oleh para ulama salaf maupun kontemporer yang memiliki kredibilitas keilmuan yang mumpuni. Sebagaimana Syekh Izzuddin bin ‘Abdissalam pernah menuturkan dalam kitabnya yang berjudul Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam:

وَمِنْهَا إعَانَةُ الْقُضَاةِ وَالْوُلَاةِ وَأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مَا تَوَلَّوْهُ مِنْ الْقِيَامِ بِتَحْصِيلِ الرَّشَادِ وَدَفْعِ الْفَسَادِ وَحِفْظِ الْبِلَادِ وَتَجْنِيدِ الْأَجْنَادِ وَمَنْعِ الْمُفْسِدِينَ وَالْمُعَانِدِينَ

“(Hak-hak orang mukallaf) diantaranya adalah membantu para Qadhi (penegak hukum), pemimpin, dan imam umat Islam atas tugas yang telah diwajibkan atas mereka, meliputi tugas untuk memberikan pengarahan, menolak kerusakan, menjaga negara, merekrut pasukan keamanan, serta mencegah para perusak dan penghianat bangsa”.[1]

Menjaga gereja pada momen-momen tertentu yang ditengarai akan terjadi gangguan keamanan, seperti terancamnya keselamatan jiwa yang jelas-jelas dilindungi oleh negara, hukumnya adalah Fardhu Kifayah (kewajiban kolektif). Karena tindakan pengamanan tersebut termasuk dari bagian menjaga stabilitas keamanan negara. Apalagi bila dilakukan atas permintaan dari pemerintah atau yang dalam hal ini adalah aparat kepolisian.[2]

Menjaga gereja yang dilakukan dengan misi mengamankan stabilitas negara serta menjaga keharmonisan sosial bukan termasuk upaya membantu kemaksiatan (i’anah ‘ala al-ma’shiyyah). Kalaupun ada anggapan demikian, maka tidak dapat menjadi kebenaran tunggal. Sebab, tanpa dijaga ritual keagamaan nonmuslim di dalam gereja tetap berjalan, sehingga penjagaan bukan merupakan pemicu dalam terjadinya kemaksiatan nonmuslim tersebut. Sebagaimana penjelasan dalam kitab Buhuts Wa Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah:

أَنَّ الْإِعَانَةَ عَلَى الْمَعْصِيَّةِ حَرَامٌ مُطْلَقًا بِنَصِّ الْقُرْآنِ أَعْنِيْ قَوْلَهُ تَعَالَى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ (المائدة : 2) وَقَوْلَهُ تَعَالَى فَلَنْ أَكُوْنَ ظَهِيْرًا لِلْمُجْرِمِيْنَ (القصص : 17) وَلَكِنِ الْإِعَانَةُ حَقِيْقَةً هِيَ مَا قَامَتِ الْمَعْصِيَّةُ بِعَيْنِ فِعْلِ الْمُعِيْنِ وَلَا يَتَحَقَّقُ إِلَّا بِنِيَّةِ الْإِعَانَةِ اَوِ التَّصْرِيْحِ بِهَا أَوْ تُعِيْنُهَا فِي اسْتِعْمَالِ هَذَا الشَّيْئِ بِحَيْثُ لَا يَحْتَمِلُ غَيْرَ الْمَعْصِيَّةِ

“Sesungguhnya menolong kemaksiatan adalah haram secara mutlak. Berdasarkan Nash Al-Qur’an, yaitu firman Allah yang berbunyi ‘Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan’ (QS. Al-Maidah: 2) dan firman Allah yang berbunyi ‘Aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa’ (QS. Al-Qashash: 17). Akan tetapi pada hakikatnya menolong itu adalah sebuah kemaksiatan yang secara murni muncul dari aktivitas penolong tersebut. Menolong kemaksiatan itu juga tidak akan terealisasi kecuali ada niatan menolong (kemaksiatan) atau mengucapkannya secara langsung atau menolongnya dalam menjalankan kemaksiatan itu sekiranya tidak mungkin diarahkan pada selain kemaksiatan.”[3]

Dengan demikian sudah jelas pula bagaimana hukum menjaga gereja yang dilakukan oleh aparat keamanan negara. Orientasi menjaga keselamatan warga negara yang dilindungi konstitusi merupakan tugas mulia yang mendapatkan payung hukum syariat. Statement yang mengatakan bahwa tindakan menjaga gereja dianggap membantu kemaksiatan bukanlah kebenaran tunggal. Kejelian dalam memandang kasus persoalan mutlak dibutuhkan demi tercapainya penilaian hukum yang objektif sesuai dengan yang telah digariskan para ulama.

[]waAllahu a’lam

[1] Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam, vol. I hal 134.
[2] Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam, vol. I hal 131
[3] Buhuts Wa Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah, hal. 360.


Sumber : FB LIRBOYO
Share:

Selasa, 22 Desember 2020

MEMAHAMI ARTI HARI IBU


Sejarah adanya Hari Ibu di Indonesia tepat pada tanggal 22 Desember, ditetapkan sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959 yang menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Peranan ibu dalam kehidupan seseorang tidak bisa digambarkan lagi. Sejak mengandung, melahirkan, sampai anak itu dewasa, ibu merupakan sosok yang tidak pernah berubah. Bahkan tidak pernah tergantikan. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. mengisyaratkan agar berbakti kepada ibu tiga kali lebih besar daripada berbakti kepada ayah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah Ra. yang menceritakan bahwa suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Rasulillah Saw. untuk menanyakan terkait seorang ibu:

مَنْ أحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِيْ؟ قَالَ:أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :أُمُّكَ، قَالَ :ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :أُمُّكَ، قَالَ :ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :أَبُوْكَ

“Siapakah di antara manusia yang paling berhak kami sikapi dengan baik. Nabi menjawab: ibumu. Orang itu bertanya lagi: siapa lagi setelah itu?. Nabi menjawab: ibumu. Orang itu bertanya lagi:  siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab: ibumu. Orang itu  bertanya lagi: siapa lagi setelah itu. Nabi kemudian menjawab, ayahmu.”

Tidak sampai di sana, kemuliaan seorang ibu pernah disinggung dalam hadis lain. Rasulullah Saw. juga bersabda bahwa seorang ibu diakui sangat mulia sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatakan dari Anas bin Malik Ra.:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ

“Surga itu di bawah telapak kaki ibu.”

Bagaimanakah maksud dari hadits yang menyebutkan bahwa Surga itu di bawah telapak kaki Ibu? Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitab Mafahim Yajibu An Tushahhaha menyebutkan sabda Rasulullah Saw. yang berbunyi:

إِنَّمَا اَنَا قَاسِمٌ وَاللّٰهُ يُعْطِيْ

“Aku adalah pembagi, dan Allah yang memberi.”

Maha suci Allah akan kekuasaan-Nya, bahwa Nabi Muhammad lah kekasihnya yang diberi kekuasaan untuk membagi, bagaimana caranya agar umatnya bisa memperoleh surga dengan cara yang sederhana.

Sayyid Muhammad melanjutkan dalam karyanya bahwa ungkapan Nabi Saw. seperti “Surga di bawah telapak kaki ibu” menjadikan kita umatnya yang ingin menggapai surga bisa tersampaikan, jika mereka menempuh jalan birrul walidain atau berbakti orang tua, berkhidmah kepada mereka, terkhusus kepada ibu. Dengan menempuh jalan itu (birrul walidain) secara absolut dan tanpa kita sadari, sebagai umat kita sudah menjalankan perintah Nabi dengan taat, cinta, dan kasih sayang. []WaAllahu a’lam

Disarikan dari kitab Mafahim Yajibu An Tushahhaha, hlm. 215-216.
Share:

Rabu, 09 Desember 2020

SEHELAI RAMBUT MU LEBIH MULIA DARI JUBAH ULAMA


Suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikunjungi seorang wanita yang ingin mengadu.

“Ustadz, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami. 
Saya ini sangat miskin, sehingga untuk menghidupi anak-anak saya, saya merajut benang di malam hari, sementara siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak saya dan menyambi sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada.
Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan.

”Imam Ahmad rahimahullah menyimak dengan serius penuturan ibu tadi. Perasaannya miris mendengar ceritanya yang memprihatinkan.Dia adalah seorang ulama besar yang kaya raya dan dermawan. Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu, namun ia urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.

“Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang. Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.
Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual....?.

Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu.....?

Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat.”

Imam Ahmad rahimahullah terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang bobrok akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram lagi.Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan papa.Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad rahimahullah bertanya:, 

“Ibu, sebenarnya engkau ini siapa....?”

Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan,wanitaini mengaku:, 

“Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi.”

Imam Ahmad rahimahullah makin terkejut. 
Basyar Al-Hafi rahimahullah adalah Gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya. Rupanya, jabatannya yg tinggi tidak disalahgunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya. Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup dalam keadaan miskin.

Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad rahimahullah berkata:,

“Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara dan menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau, ibu. Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis serban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama.

Subhanallah....., 
sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu engkau haramkan....? 
Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara…

”Kemudian Imam Ahmad rahimahullah melanjutkan:,

 “Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silahkan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau…”.

Diriwayatkan dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, dari Rasulullah, beliau bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّة
َ جَسَدٌ غُذِيَ بِحَرَامٍ

“Tidak akan masuk ke dalam surga jasad yang diberi makan dengan yangharam.”

(Shahih Lighairihi, HR. Abu Ya’la, Al-Bazzar, Ath-Thabarani dalam kitab Al-Ausath dan Al-Baihaqi, dan sebagian sanadnya hasan. Shahih At-Targhib 2/150 no. 1730)


Sumber : Facebook
Share:

Selasa, 08 Desember 2020

NU itu SAKTI ; Menang Jadi Arang Kalah Jadi Abu


Pada waktu Muktamar NU ke-29 tahun 1994 lalu di Cipasung, Tasikmalaya, ketika itu Orde Baru berusaha mengkudeta NU dari tangan Gus Dur dengan membuat sosok tandingan bernama Abu Hasan. Namun Gus Dur secara heroik tetap berhasil memenangkan pemilihan Ketua Umum PBNU untuk lima tahun berikutnya. Semua ulama bertangisan karena Gus Dur melewati tekanan rezim Soeharto yang datang bertubi-tubi sejak bertahun sebelumnya. Beberapa surat kabar mengandaikan pertarungan ini seperti oplet melawan panser, dan oplet memenangkannya. Mohamad Sobary menangkap peristiwa dramatis itu dengan tulisan yang tak kalah sarkastisnya "Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu Hasan."

NU sejak dulu jadi sasaran utk direbut, dipecah, jika perlu dihancurkan. Ini terjadi karena NU adalah tipikal "benda hidup yang mudah bergaul, tapi tidak mudah untuk digauli", meminjam penerjemahan HB. Jassin dalam Zarathustra.

NU adalah ganjalan bagi siapapun yang punya niat "aneh-aneh" terhadap bangsa ini. Banyak yang terkecoh - seolah gampangan, tapi ketika diajak berkhianat kepada Pancasila, NU tak mau kompromi. Karenanya sudah dengan berbagai cara NU berusaha dikebiri, sejak era PKI, HTI hingga era FPI. NU oleh kaum komunis bahkan disebut "Para Penyembah Tahayul", oleh kaum Wahabi disebut "Para Penyembah Kuburan" dan berkali-kali Rizieq Shihab menyerang Ketua Umum NU sembari menghina dengan "membuta-butakan" Gus Dur. Tapi dasar NU, ia tak pernah bergeser. "Maqomnya" sebagai pengawal kemajemukan bangsa tetap terjaga. Istiqomah.

Rumus paling sederhana adalah siapapun yang punya niat jahat dengan bangsa ini, pasti ingin melumpuhkan NU sebagai jurus awal. Dan itu dilakukan oleh siapapun, termasuk oleh warga Nahdliyin sendiri. Janganlah mengira bahwa FPI punya amaliyah yang berbeda dengan NU, termasuk mereka yang mengepung kediaman ibunda Mahfud MD kemarin - mereka sama, hanya niatan kepada bangsa ini berbeda.

Kesetiaan Nahdlatul Ulama kepada negara ini tidak akan pernah berubah. Dan tidak akan pernah mengendur hanya karena stigma "receh" yang seringkali diarahkan. NU mungkin saja oplet, tapi pernah mengalahkan panser - mereka yang sekedar gerobak, harap berpikir ulang.
Share:

Senin, 07 Desember 2020

Vaksin Sinovac Disimpan di Bio Farma Bandung


Vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu malam, 6 Desember 2020, langsung dibawa menuju Kantor Pusat Bio Farma di Kota Bandung. 

Dari warehouse di terminal cargo Bandara Internasional Soekarno-Hatta, vaksin yang disimpan dalam 7 Envirotainer diangkut menggunakan 3 truk. 

Pada Senin dini hari, 7 Desember 2020, rangkaian kendaraan pengangkut vaksin mulai berjalan menuju Bio Farma. Rangkaian kendaraan ini turut dikawal secara ketat oleh aparat keamanan.

Setelah menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 3 jam, rangkaian kendaraan pembawa vaksin tiba di Bio Farma sekitar pukul 03.45 WIB. 

Vaksin kemudian dipindahkan dari Envirotainer untuk disimpan di cool room dengan suhu 2-8 derajat celcius. Ruangan tersebut telah disterilisasi dan disiapkan khusus untuk menyimpan vaksin Covid-19.

Vaksin kemudian akan dilakukan pengambilan sampel untuk pengujian mutu oleh tim dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Bio Farma. 

Dalam pernyataan yang disampaikan pada saat meninjau simulasi vaksinasi di Puskesmas Tanah Sareal, Kota Bogor, Rabu, 18 November 2020 lalu, Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa setelah tiba, vaksin memerlukan sejumlah tahapan sebelum bisa diberikan kepada masyarakat.

"Setelah mendapatkan izin dari BPOM, baru kita lakukan vaksinasi. Kaidah-kaidah saintifik, kaidah-kaidah ilmiah ini juga saya sudah sampaikan, wajib diikuti. Kita ingin keselamatan, keamanan masyarakat itu harus betul-betul diberikan tempat yang paling tinggi," ucap Presiden.

Bandung, 7 Desember 2020
Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Website: https://www.presidenri.go.id
YouTube: Sekretariat Presiden
Share:

PERAN KIAI MENEGUHKAN KEDAULATAN RI


Jauh sebelum Kiai Mahrus diamanati menjadi anggota Musytasyar Pengurus Besar NU, hasil muktamar NU yang ke-27 di Situbondo pada tahun 1984 M, peran serta kiai mahrus dalam NU sudah dimulai, seperti waktu mengadakan kongres Nu se-Jawa dan Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 dalam menghadapi kedatangan NICA yang ingin merebut kembali kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kiai Mahrus beserta kiai yang lain diantaranya kiai-kiai dari Jawa barat, seperti; Kiai Abbas Buntet, Kiai Syatori Arjawinangun, Kiai Amin Babakan Ciwaringin, dan Kiai Suja’i Indramayu mengadakan forum musyawarah untuk menentukan sikap.

Rapat darurat ini dipimpin oleh kiai Wahab Hasbulloh dan menemukan titik temu pada 22 oktober di forum musyawaroh NU. Hadratus syaikh KH. Hasyim Asya’ri atas nama HB [pengurus besar] organisasi Nu mendeklarasikan sebuah seruan Jihad Fi-sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah Resolusi Jihad.

Pesantren dalam konteks buku sejarah Nasional Proporsi yang diberikan pada kurikulum sejarah pengajaran belumlah banyak berpihak pada sejarah pesantren. Apresiasi justru dari pihak sipil, sebagai contoh kecil datang dari Prof. Mansur Suryanegara (sejarawan) yang telah banyak mengulas perjuangan para santri dan kiai tempo dulu dalam memperjuangkan NKRI.

Kita ketahui bersama 10 november dijadikan sekaligus diperingati sebagai hari pahlawan Nasional. Dibalik penetapan itu telah banyak korban yang menjadi Syuhada adalah para Kiai  dalam membentuk barisan tentara Hizbullah (Laskar Santri) dan sabilillah (laskar Kiai) kedua laskar ini didirikan menjelang akhir pemerintahan Jepang dan mendapat kemiliteran di Cibarusah, Kab. Bekasi Jawa Barat.

Dari sini terdapat suatu keterkaitan dari teks utuh resolusi BAB MEMUTUSKAN, yang telah disepakati pada Muktamar NU ke, 16 Di Purwoketo ‘’Berperang menolak dan melawan penjajah itu Fardlu ‘Ain [yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang islam,laki-laki, perempian, anak-anak, bersenjata atau tidak] bagi orang yang serada dalam jarak lingkungan 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh.’’

Hizbullah dan Sabilillah adalah laskar rakyat paling kuat yang pernah hidup di bumi Indonesia, meskipun disisihkan dalam sejarah. Dalam hal ini, kekuatan santri yang tersatukan dalam wadah perjuangan laskar rakyat Hizbullah dan Sabilillah untuk para kiyai ikut andil dalam perjuangan fisik peristiwa 10 november 1945. Laskar ini telah mendapatkan motivasi dari para kiyai kemudian diberangkatkan ke Surabaya.

Para laskar ini berkumpul dan dipusatkan di Singosari, dengan bersenjatakan bambu runcing, katapel, dan senjata tajam. Kekuatan yang tak sebanding, tepat pada tanggal 10 november 1945, pagi-pagi sekali tentara inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran, dengan kekuatan persenjataan yang dahsyat, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah besar kapal perang berbagi bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi buta dengan meriam dari laut dan darat. Arek-arek suroboyo pun berkobar di seluruh kota tanpa terkecuali heroisme jihad dari kiai dan santri, dengan bantuan aktif dari penduduk. Ribuan penduduk yang tak berdosa menjadi korbannya.

Urgensi Penulisan Ulang Sejarah

Sebagai wujud untuk menciptakan Indonesia yang berdaulat, kiranya semua element masyarakat berpadu bahu membahu bersatu. Mustahil hal ini tercapai bila perjuangan dijalankan menurut kemauannya sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Bung Karno ”kuat karena bersatu, bersatu karena kuat”.

Dalam hal ini pesantren mengambilperan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia, seperti laskar Hizbullah yang didirikan pada 4 Desember 1944, inisiatif dari KH. Wahid Hasyim untuk melatih para pemuda pesantren sebagai tentara regular. Setahun sebelumnya tanggal 03 oktober 1943 atas usulan para ulama, PETA (pembela tanah air) didirikan. Niat dan tujuan para ulama untuk membentuk PETA adalah membangkitkan kembali sifat keprajuritan pemuda Indonesia untuk tetap konsisten memerangi, melawan, dan mengusir kaum penjajah dari muka bumi Indonesia.

Dari pada itu kita sebagai pemuda berkelanjutan (masa depan) sepatutnya untuk lebih peka lagi dalam mempelajari, mewacanakan, menganalisis akan peran kiai pesantren dalan berdiri tegaknya NKRI. Penulis meyakini walaupun belum meneliti secara langsung, hak sejarah pesantren dalam hal ini perjuangan kiai dan santri belum banyak diekspos secara transparan.

Untuk itu tugas kita (baca: santri) bersama untuk lebih mengenali akan perjuangan para kiai, paling tidak untuk ukuran sederhananya mengetahui bahwa kiyai-kiyai pesantren adalah seorang pejuang yang pada masanya tidak hanya berkutat pada kitab semata. Sinkronisasi antara kealiman dan keagamaannya dan mempunyai jiwa nasionalisme wujudkan Indonesia yang bermartabat.


Sumber : FB LIRBOYO
Share:

Kamis, 03 Desember 2020

Kisah Cinta Abdullah Bin Salam dan Akhlak Mulia Cucu Rasulullah SAW, Husain bin Ali RA.


Yazid bin Muawiyah mendengar kabar kecantikan Zainab binti Ishaq, istri Abdullah bin Salam al-Qurasyi. Zainab merupakan sosok perempuan paling cantik, paling berakhlak, dan paling banyak hartanya saat itu. Yazid nampaknya jatuh cinta kepada Zainab. Ketika kesabarannya telah habis, Yazid menceritakan keinginannya kepada salah satu pengawal ayahnya, yaitu Rafiq. Rafiq lantas menceritakan hal tersebut kepada Muawiyah bin Abu Sufyan. Rafiq berkata kepada Muawiyah, “Puteramu Yazid telah kehilangan kesabarannya dan dadanya sesak karena menginginkan Zainab.”

Muawiyah mengirim utusan kepada Yazid untuk menanyakan kebenaran berita tersebut. Yazid lantas mengungkapkan isi perasaannya. Muawiyah berkata, “Tenangkan dirimu Yazid!!” Yazid berkata, “Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tenang sementara tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan Zainab!” Muawiyah lalu berkata, “Sembunyikanlah keinginanmu itu anakku. Memperlihatkannya justru tidak akan bermanfaat bagimu. Allah akan memenuhi urusanmu dan hal itu pasti akan terjadi.”

Muawiyah lantas melakukan muslihat supaya Yazid bisa mendapatkan keinginannya. Muawiyah lalu mengirim surat kepada suami Zainab, yaitu Abdullah bin Salam, yang waktu itu diperintahkan oleh Muawiyah untuk memerintah wilayah Irak. “Menghadaplah kepadaku saat kau membaca suratku ini, karena ada suatu urusan yang akan menguntungkanmu Insya Allah. Janganlah kau terlambat untuk memenuhinya.”

Abdullah bin Salam lantas bergegas mendatangi Muawiyah. Muawiyah menyediakan tempat singgah yang telah disediakan untuknya. Saat itu di Syam, Muawiyah ditemani oleh Abu Hurairah dan Abu Darda. Muawiyah berkata kepada keduanya:
“Aku punya anak perempuan yang ingin aku nikahkan. Dan aku sedang memilikirkan untuk memilih orang yang pantas untuk menikahinya, sehingga setelah aku meninggal ia dijadikan panutan warisanku dan meneruskan jejakku. Bisa saja nanti setelahnya, kekuasaan ini dipegang oleh orang yang dikuasai setan sehingga ia menahan anak-anak perempuan untuk tidak menikahkannya secara zalim dan tidak melihat sosok yang sepadan dan pantas untuk puteriku. Aku rela untuk menikahkannya dengan Abdullah bin Salam al-Qurasyi karena agama dan kemuliaannya, juga keutamaan dan muruahnya.”

Abu Hurairah dan Abu Darda berkata kepada Muawiyah, “Sesungguhnya manusia yang paling utama untuk menjaga nikmat Allah dan mensyukurinya, dan mencari keridaan-Nya dalam tugas yang diberikannya, tentu adalah engkau, Muawiyah.”

Muawiyah lalu berkata kepada mereka berdua, “Ya sudah, beritahu hal ini kepada Abdullah bin Salam. Terkait pernikahan puteriku, aku akan bermusyawarah dengannya, meskipun tentu saja aku berharap dia juga akan setuju dengan pendapatku insya Allah.”

Abu Hurairah dan Abu Darda lantas berpamitan dari hadapan Muawiyah dan mendatangi Abdullah bin Salam. Mereka menceritakan kelinginan Muawiyah kepada Abdullah bin Salam.

Saat itu, Muawiyah menemui puterinya dan berkata kepadanya, “Jika Abu Darda dan Abu Hurairah menemuimu, lalu membicarakan perihal Abdullah bin Salam dan meminta agar kau bersegera untuk menyetujui pendapatku untuk menikahi Abdullah bin Salam, katakanlah kepada mereka berdua, “Sesungguhnya Abdullah bin Salam adalah orang yang sekufu juga mulia. Ia adalah orang yang dekat dan dicintai. Hanya saja, Abdullah telah menikah dengan Zainab binti Ishaq dan aku takut cemburu seperti cemburunya perempuan lain, sehingga aku melakukan hal yang membuat murka Allah swt dan Dia menghukumku atasnya. Aku tidak akan menikahinya sampai Abdullah menceraikan istrinya.”

Ketika Abu Hurairah dan Abu Darda bertemu dengan Abdullah bin Salam dan mengabarinya tentang perkataan Muawiyah, Abdullah meminta keduanya untuk kembali kepada Muawiyah dan memintanya untuk melamarkan dirinya untuk puteri Muawiyah. Keduanya lantas mendatangi Muawiyah. Muawiyah lalu berkata kepada mereka berdua, “Kalian berdua telah mengetahui bahwa aku rela dan sangat suka terhadap Abdullah bin Salam. Aku juga telah mengabari kalian berdua bahwa aku akan bermusyawarah terkait hal ini kepada puteriku. Temuilah puteriku dan tawarkan kepadanya apa yang menjadi pendapatku.”

Abu Hrairah dan Abu Darda lantas menemui puteri Muawiyah dan menceritakan segalanya. Puteri Muawiyah itu mengatakan persis seperti yang disuruh oleh ayahnya. Keduanya lantas kembali menemui Abdullah bin Salam dan mengabarinya apa yang dikatakan oleh puteri Muawiyah.

Ketika Abdullah bin Salam mengira bahwa dia tidak akan mendapatkan puteri Muawiyah kecuali dengan menalak istrinya, ia mempersaksikan kepada Abu Hurairah dan Abu Darda bahwa dirinya telah menalak Zainab dan meminta keduanya untuk kembali menemui puteri Muawiyah.

Abu Hurairah dan Abu Darda menemui Muawiyah dan memberitahukan kepadanya bahwa Abdullah bin Salam telah menalak istrinya, Zainab, karena ingin mendapatkan puterinya. Saat itu Muawiyah memperlihatkan ketidaksukaannya (berpura-pura) terpada keputusan Abdullah yang menalak Zainab.” Ia berkata, “Menurutku dia sebaiknya tidak menalak istrinya. Aku tidak suka hal itu terjadi. Ya sudah, pergilah dari sini dan temuilah puteriku untuk mengambil persetujuannya.”

Abu Hurairah dan Abu Darda lantas berdiri dan diperintahkan untuk menemui puterinya dan menanyakan persetujuannya untuk menikahi Abdullah bin Salam. Muawiyah berkata, “Aku tidak memaksanya. Aku sudah bermusyawarah dengannya terkait urusan-urusan pribadinya.”

 Keduanya lalu menemui puteri Muawiyah dan mengabarkannya perihal Abdullah bin Salam yang telah menceraikan istrinya. Keduanya juga menuturkan sifat Abdullah yang mulia dan nasabnya yang terhormat. Puteri Muawiyah lalu berkata, “Sungguh di kabilah Quraisy, Abdullah adalah orang yang memiliki kedudukan yang tinggi. Kalian berdua sudah tahu bahwa tidak terburu-buru dalam segala urusan lebih bisa menyelamatkan kita dari hal yang buruk. Aku ingin mencari informasi lagi mengenai Abdullah sehingga benar-benar mengetahui kepribadiannya secara utuh. Setelah itu baru aku akan mengabari kalian berdua terkait keputusan yang Allah siapkan untukku. Tidak ada kekuatan selain yang diberikan oleh Allah.” Keduanya lalu berkata, “Semoga Allah melancarkan urusanmu,” lalu keduanya undur diri dan menemui Abdullah bin Salam. Mereka menceritakan apa saja yang dikatakn puteri Muawiyah itu. Abdullah lantas menandungkan puisi:

“Duh, jika permulaan hari ini sudah berpaling

Kiranya esok hal serupa akan kembali mendekatiku.”

Orang-orang akhirnya ramai membicarakan cerita Abdullah bin Salam yang menalak istrinya, dan berita terkait niatnya yang akan melamar puteri Muawiyah. Mereka mencemooh Abdullah bin Salam yang terburu-buru menalak istrinya sebelum permasalahan jelas dan terang benderang, karena mereka tahu kebobrokan Yazid dan kelicikan Muawiyah.

Abdullah bin Salam mendorong agar Abu Hurairah dan Abu Darda untuk mendatangi puteri Muawiyah. Keduanya berkata kepadanya, “Putuskanlah apa yang menjadi pilihanmu. Mintalah kepada Allah agar memilihkannya untukmu karena Dia pemberi petunjuk kepada siapa saja yang memintanya.” Puteri Muawiyah berkata, “Aku berharap Allah telah memilihkannya untukku. Aku telah menggali semua informasi terkait Abdullah bin Salam sampai aku mengetahuinya secara utuh. Dan ternyata setelah pencarian itu aku menemukan bahwa Abdullah tidaklah sesuai dan cocok dengan yang aku inginkan. Orang yang aku minta pendapatnya pun berbeda-beda, ada yang melarang, ada juga yang mendukung. Dan perselisihan mereka tentu saja menjadi hal pertama yang aku benci.”

Ketika Abu Hurairah dan Abu Darda menyampaikan isi hati puteri Muawiyah kepada Abdullah bin Salam, Abdullah mengerti bahwa dirinya telah ditipu.

Kabar tersebut akhirnya tersebar di masyarakat. Orang-orang berkata, “Dia ditipu oleh Muawiyah sampai-sampai menceraikan istrinya. Padahal sebenarnya Muawiyah ingin menikahkannya dengan Yazid, anaknya.”

Setelah masa idah Zainab selesai, Muawiyah mengutus Abu Darda untuk pergi ke Irak guna melamarkan Yazid untuk Zainab. Abu Darda langsung bertolak dan sampai ke kota Kufah. Saat itu, Husain bin Ali sedang menetap di kota tersebut. Abu Darda langsung mengunjunginya karena menghormati kedudukan Husain. Husain menjawab salamnya dan menanyakan sebab kedatangannya ke kota Kufah. Abu Darda berkata,
“Muawiyah mengutusku untuk mengkhitbahkan Zainab kepada Yazid.”

Abu Darda lalu menceritakan secara detail terkait peristiwa yang terjadi sebelumnya. Husain lalu berkata kepadanya, “Sudah sejak lama aku ingin menikahi Zainab binti Ishaq. Aku bermaksud ingin mengutus seseorang kepadanya saat masa idahnya selesai. Aku menunggu sampai ada orang sepertimu yang melakukannya dan sekarang ini kau didatangkan oleh Allah kepadaku. Lamarlah Zainab atas namaku dan Yazid supaya Zainab memilih siapa yang Allah tentukan untuknya. Ini merupakan amanat untukmu sampai kau menyampaikannya kepada Zainab. Aku akan memberinya mahar yang setara dengan yang akan diberikan oleh Muawiyah untuk anaknya nanti.”

Abu Darda lalu berkata, “Insya Allah akan aku lakukan.”

Ketika Abu Darda menemui Zainab, ia berkata, “Wahai Zainab, sesungguhnya Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan kuasa-Nya dan membentuknya dengan kebesaran-Nya. Ia menjadikan segala sesuatu memiliki takdirnya tersendiri dan di balik takdir tersebut Allah menjadikannya sebab. Tidaklah seorangpun yang bisa melarikan diri dari ketentuan Allah. Di antara yang menjadi takdir Allah untukmu adalah suamimu, Abdullah bin Salam, telah menceraikanmu, dan semoga hal itu tidak merugikanmu. Kini kau dilamar oleh Yazid bin Muawiyah juga oleh Husain bin Ali. Aku datang kepadamu sebagai wakil keduanya. Pilihlah di antara mereka berdua sesukamu!”

Zainab lantas terdiam lama dan berkata, “Jika hal ini memang datang kepadaku sekarang dan kau tidak ada, aku pasti akan mengutus utusan kepadamu dan mengikuti pendapatmu. Tetapi karena yang menjadi utusannya adalah kau sendiri, maka aku serahkan urusanku kepadamu, setelah kepada Allah swt. Aku serahkan segalanya kepadamu. Pilihlah untukku orang yang paling kau sukai di antara keduanya.”

Abu Darda berkata, “Duh Zainab, aku hanya memberitahu kepadamu dan pilihan tetap ada di tanganmu.” Zainab berkata, “Semoga Allah memaafkanmu, Abu Darda! Aku adalah keponakanmu yang membutuhkanmu!”

Saat Abu Darda tidak menemukan jalan keluar lain, ia berkata, “Sesungguhnya Husain adalah orang yang paling aku sukai dan ridai.”

Zainab lalu berkata, “Kalau begitu aku sudah memilihnya dan meridainya.”

Demikianlah kisah Zainab yang menikahkan dirinya untuk Husain. Husain lantas mengirimkan maharnya. Kabar tersebut sampai ke telinga Muawiyah. Ia marah besar dan mencerca Abu Darda dengan cercaan yang keji. Muawiyah berkata, “Siapa saja yang sudah mengutus orang dungu dan buta ini, dia tidak akan mendapatkan apapun yang diinginkannya.”

Muawiyah langsung memecat Abdullah bin Salam sebagai gubernur Irak dan memutus semua fasilitas untuknya karena dia dikabari bahwa Abdullah pernah berkata yang tidak mengenakan tentang dirinya dan menuduhnya sebagai penipu dan tukang muslihat. Keadaan semakin memburuk bagi Abdullah di Syam. Bekal yang dimilikinya tinggal sedikit. Ia lantas kembali ke Irak. Sebelum bercerai dengan Zainab, ia pernah menitipkan harta dengan jumlah yang besar kepadanya. Ia mengira bahwa Zainab akan memalingkan mukanya karena perbuatan buruknya menalak dirinya yang tidak memiliki kesalahan apapun.

Ketika Abdullah bin Salam sampai ke Irak, ia langsung menemui Husain bin Ali dan memberinya salam. Abdullah berkata, “Anda tentu sudah tahu ceritaku dan Zainab. Aku pernah menitipkan harta kepadanya dan belum sempat aku ambil.” Abdullah lantas memuji kebaikan Zainab dan berkata kepada Husain, “Kabarkanlah kepadanya perihal kedatanganku, mintalah kepadanya agar ia mengembalikan hartaku.”

Ketika Husain menemui Zainab, ia berkata kepadanya, “Zainab, ada Abdullah bin Salam datang ke sini, dia memujimu dan berterima kasih karena telah menemaninya selama ini dengan baik. Hal itu membuatku senang dan takjub. Ia juga bercerita bahwa dirinya pernah menitipkan sejumlah harta kepadamu. Sampaikanlah amanat itu kepadanya dan berikanlah harta miliknya. Sungguh dia tidak berkata kecuali kejujuran dan tidak meminta apapun kecuali haknya sendiri.”

Zainab lalu berkata, “Betul, dulu dia pernah menitipkan sejumlah harta kepadaku tetapi aku sendiri tidak tahu apa isinya. Berikanlah harta itu kepadanya.” Husain lalu memujinya dan berkata dengan akhlaknya yang mulia, “Kenapa tidak kau suruh dia masuk menemuimu supaya kau terlepas dari bebanmu dari harta itu, sebagaimana dulu dia juga yang langsung memberikannya kepadamu?”

Husain lalu menemui kembali Abdullah bin Salam dan berkata, “Zainab tidak mengingkari hartamu. Dia juga mengaku bahwa harta itu masih tersegel atas namamu. Masukklah. Temui dia dan terimalah harta milikmu itu.”

Abdullah bin Salam merasa malu terhadap dirinya sendiri dan berkata kepada Husain, “Bagaimana jika anda menyuruh orang lain yang memberikan harta itu kepadaku?” Husain menjawab, “Tidak. kau sendiri yang mengambilnya dari Zainab sebagaimana dulu kau yang memberinya langsung.”

Husain lalu menemui Zainab dan berkata, “Abdullah sudah datang dan ingin mengambil harta titipannya.” Zainab langsung mengeluarkan kantung berisi harta tersebut dan meletakkannya di hadapan Abdullah dan berkata, “Ini harta milikmu.” Abdullah lantas mengucapkan rasa terima kasih dan memujinya.

Husain sengaja meninggalkan mereka berdua. Abdullah bin Salam mengambil salah satu kantung harta itu dan menyisakan untuk Zainab. Abdullah berkata, “Ambillah. Itu sedikit harta dariku.” Keduanya lantas tidak kuat menahan rasa sedih dan menangis dengan kencang meratapi nasib yang menimpa mereka berdua. Husain lalu masuk menemui mereka dan berkata dengan penuh kelembutan dan kasih sayang,
“Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa aku telah menalak Zainab! Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa aku tidak menikahi Zainab karena menginginkan harta dan kecantikannya. Aku hanya ingin menghalalkannya kembali untuk suaminya.”

Abdullah bin Salam lalu meminta Zainab untuk memberikan mahar yang dulu pernah ia kasihkan kepadanya. Zainab hendak mengembalikan mahar itu kepada Husain namun Husain tidak menerimanya. Ia berkata, “Yang aku harapkan berupa pahala adalah lebih baik untukku.”

NOTE:
Kisah ini diambil dan diringkas dari kitab Nihayatul Arab fi Funun al-Adab, sebuah ensiklopedia sastra berjumlah 9000 halaman (33 jilid) yang dihimpun oleh sejarawan raksasa asal Mesir, Syihabuddin an-Nuwairi (w. 1333 M).


Dikutip dari : FB Ade Gumilar
Share:

Minggu, 29 November 2020

PAC GP Ansor Watulimo Ikuti Apel Kebangsaan Virtual Secara Nasional bersama PC GP Ansor Trenggalek

Anwalin News – Trenggalek (29/11) Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Watulimo mengikuti Apel Kebangsaan Virtual se-Indonesia bersama PC GP. Ansor Trenggalek di Balai Kelurahan Sumbergedong Kabupaten Trenggalek. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara Daring/Online melalui media ZOOM dan Youtube dan disiarkan secara langsung (Live) secara Nasional.
 
Pada Kegiatan Apel kebangsaan tahun ini, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor mengambil tema “Tiada Gentar Dada ke Muka, Bela Agama Bangsa Negeri”. Pengambilan tema Apel Kebangsaan tahun ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi bangsa dan negara Indonesia yang tengah dilanda Pandemi Covid-19 serta banyaknya golongan-golongan diluar Nahdlatul Ulama yang terus ingin merongrong dan mencarutmarutkan permasalahan bangsa sehingga banyak menimbulkan kegaduhan-kegaduhan ditengah masyarakat.


 

Apel Kebangsaan Virtual ini disentralkan oleh Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor dari Rembang Jawa Tengah yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum sahabat H. Yaqut Qoulil Qoumas. Bertindak sebagai Inspektur Apel adalah sahabat H. Abdurohman Andung yang mana beliau saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jendral Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.
 
Setelah Apel selesai, acara dilanjutkan dengan Orasi Kebangsaan oleh Gus Yaqut, panggilan akrabnya sahabat Ketum PP GP. Ansor. Gus Yaqut menyampaikan bahwa tujuan Apel kebangsaan ini adalah untuk mengingatkan kembali kepada seluruh elemen bangsa bahwa menjaga persatuan dan kesatuan dalam perbedaan pandangan politik ataupun agama adalah satu-satunya cara yang harus dipertahankan.


 

“Tujuan Apel Kebangsaan ini adalah untuk mengingatkan kembali kepada seluruh elemen bangsa bahwa menjaga persatuan dan kesatuan dalam perbedaan pandangan politik ataupun agama adalah satu-satunya cara yang harus dipertahankan” begitu terangnya dalam orasinya.
 
Beberapa point lain yang disampaikannya, adalah; Kepada para ‘penumpang gelap’ jangan sekali-kali memaksakan kehendak. GP Ansor dan Banser akan bersama-sama TNI/POLRI melawan setiap bentuk upaya memecah belah persatuan dan kesatuan. Gus Yaqut juga menyampaikan, bahwa Dialog adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan persoalan bangsa. GP Ansor dan Banser menghimbau kepada semua pihak untuk menghindari aksi-aksi pemaksaan dan kekerasan demi kepentingan politiknya.
 
Kegiatan Apel Kebangsaan secara Virtual ini dimulai pada pukul 10.00 WIB sampai dengan 11.30 WIB yang diikuti oleh perwakilan kader ansor dan banser seluruh Indonesia. Hadir dalam Kegiatan Apel yang difasilitasi oleh PC GP. Ansor Trenggalek di Balai Kelurahan Sumbergedong Kabupaten Trenggalek antara lain; Gus Zakki (ketua PC), Komandan H. Fatkhurohman MQ. (kasatkorcab banser) serta beberapa jajaran pengurus PC GP. Ansor Trenggalek dan Satkorcab Banser Trenggalek. Selain itu Apel juga diikuti secara bersama-sama oleh Ketua PAC GP. Ansor se-Kabupaten Trenggalek dan perwakilan dari anggota Banser Satkoryon se-Kabupaten Trenggalek.



Sedangkan dari PAC GP. Ansor Watulimo yang hadir adalah sahabat Murdiyanto (ketua PAC) beserta segenap jajaran Satkoryon Banser Watulimo yang meliputi komandan Murjianto (kasetma satkoryon), Maksum Asngari (Provost), Dasar (Kasarkorkel Prigi), Agus Rianto, Imam Muklisin (Tim Media Anwalin), Khusnul Mutholib, Sukamto, Samsul Nur Aziz, Yamidi (Banser Gemaharjo), Jaidi, Anam (Banser Pakel) serta Sigit Moertejo dan sahabat Suminto (Banser Ranting Watulimo) yang keseluruhan utusan/delegasi dari PAC GP. Ansor Watulimo berjumlah 14 personil.
 
Acara Apel Kebangsaan berjalan dengan khidmat dengan mengikuti seluruh rangkaian / rundown dan tetap menerapkan Protokol Kesehatan, yaitu pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan bagi seluruh peserta apel yang hadir di balai Keluarahan Sumbergedong Kabupaten Trenggalek. (MY)

Share:

Jumat, 27 November 2020

Apel Kebangsaan Virtual BANSER Se Indonesia


Anwalin News - Jakarta, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) akan menggelar Apel Kebangsaan guna merespons dinamika politik belakangan ini yang berpotensi mengancam keutuhan bangsa. Apel yang akan diikuti anggota Banser se-Indonesia ini diharapkan mampu membangkitkan kembali kesadaran seluruh elemen bangsa akan pentingnya makna persatuan dan kesatuan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, Apel Kebangsaan akan digelar secara virtual atau daring pada Minggu (29/11/2020) dengan melibatkan kader-kader Banser di seluruh Indonesia.

Menurut Yaqut, apel yang melibatkan kader inti GP Ansor tersebut sengaja digelar karena adanya perbedaan pandangan politik ataupun agama yang muncul akhir-akhir ini menyebabkan polarisasi di tengah masyarakat. Jika kondisi ini tak diantisipasi sejak dini dan kurang disikapi dengan baik, sangat mungkin akan mengoyak tatanan persatuan bangsa.

"Apel ini untuk mengingatkan kembali kepada seluruh elemen bangsa bahwa menjaga persatuan dan kesatuan dalam perbedaan pandangan politik ataupun agama adalah satu-satunya cara yang harus dipertahankan," ujar Gus Yaqut, panggilan akrabnya, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/11/2020).

Lewat Apel Kebangsaan, pihaknya mengingatkan kepada semua pihak bahwa dialog adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Untuk itu, lanjutnya, GP Ansor dan Banser mengimbau semua pihak untuk menghindari aksi-aksi pemaksaan dan kekerasan demi kepentingan politiknya.

Gus Yaqut menegaskan, imbauan tersebut penting karena bangsa Indonesia juga akan memiliki hajatan besar, yakni Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak pada 9 Desember 2020. Di tengah agenda demokrasi di masa pandemi ini, pihaknya juga mendorong agar masyarakat saling menjaga protokol kesehatan yang telah disepakati bersama, bukan malah merusaknya sehingga mengakibatkan penanganan Covid-19 kian banyak menghadapi kendala.

Terhadap kelompok-kelompok yang berupaya mengacaukan bangsa Indonesia, Gus Yaqut mengingatkan agar mereka segera menghentikan niatnya tersebut. Jika hal ini tak diindahkan maka jutaan kader Banser siap membantu pemerintah menghadapi mereka.

"Kepada para 'penumpang gelap' jangan sekali-kali memaksakan kehendak. GP Ansor dan Banser akan bersama-sama TNI/Polri melawan setiap bentuk upaya memecah belah persatuan dan kesatuan," tutur Panglima Tertinggi Banser tersebut.

Meski dilaksanakan secara virtual, kegiatan ini akan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat. Akan bertindak sebagai inspektur upacara pada Apel Kebangsaan ini adalah Sekretaris Jenderal Abdul Rochman sedangkan Gus Yaqut selaku Ketua Umum PP GP Ansor akan menyampaikan orasi kebanggsaan.

Adung, sapaan Sekjen Ansor, menambahkan peserta apel sifatnya terbatas karena hanya mengikutkan perwakilan dari masing-masing pengurus cabang dan wilayah dengan menerapkan protokokol kesehatan ketat. "Mereka mewakili 5 juta kader Banser yang ada di Pulau Jawa," ujar Adung.

Sumber : FB GP. Ansor
Share:

Informasi PKL (Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan) PC GP. Ansor Trenggalek Tahun 2020


Sahabat-Sahabat Pengurus dan Anggota Gerakan Pemuda Ansor di wilayah Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek dan Sekitarnya, Bahwa Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Trenggalek akan mengadakan PKL (Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan) pada besok :
 
Hari : Kamis s.d. Ahad
Tanggal : 17 s.d. 20 Desember 2020
Tempat : Pondok Pesantren Sulaiman Gandusari Kabupaten Trenggalek
 
Bagi seluruh Sahabat yang telah memenuhi syarat, diharapkan ikut serta mengikuti kaderisasi lanjutan ini.
 
A. SYARAT PESERTA
  1. Anggota GP Ansor yang telah lulus PKD/DTD/Dirosah Ula/Diklatsar Banser.
  2. Menyerahkan FC Sertifikat PKD/DTD/Dirosah Ula/Diklatsar Banser sebanyak 1 lembar.
  3. Menyerahkan FC KTP/ KTA sebanyak 1 lembar.
  4. Menyerahkan Pas Photo uk. 4x6 sebanyak 3 lembar.
  5. Mengisi formulir pendaftaran peserta lewat google form dengan link : Klik Disini
  6. Mengisi formulir Daftar Riwayat Hidup (Form_2) saat daftar ulang.
  7. Mengisi Formulir kesediaan menjadi peserta PKL (Form_3) saat daftar ulang.
  8. Juknis / TOR PKL dapat diunduh DISINI
  9. Menyerahkan Surat Rekomendasi dari PAC atau PC Ansor yang mendelegasikan. Khusus untuk Calon Peserta PKL dari PAC GP. Ansor Watulimo; Surat Rekom dapat diunduh melalui Pengisian Aplikasi DISINI
  10. Membayar infak peserta dengan ketentuan sebagai berikut:
  • Peserta dari Trenggalek = Rp. 200.000,-
  • Peserta dari luar Trenggalek = Rp. 300.000,-
  • Pembayaran dapat melalui Transfer Bank BRI No.Rekening 0177-01-038420-50-2 a.n. Amron Nuskhi (Bendahara PKL), atau langsung datang ke markas PC GP ANSOR [Perumnas Kelutan Permai No. C 19] - WA Amron Nuskhi: https://wa.me/6285649696054
  • Mengupload bukti transfer/ kwitansi pembayaran pendaftaran lewat Googleform dengan link: KLIK DISINI
  • Menyerahkan bukti transfer/ kwitansi pembayaran pendaftaran p+pada saat daftar ulang di lokasi pelatihan.
    10. Seluruh berkas persyaratan dimasukkan dalam map warna hijau bertuliskan nama dan utusan pada waktu daftar ulang.

 
B. KETENTUAN PESERTA
  1. Calon Peserta mengupload persyaratan di Google Form yang telah disediakan panitia paling lambat tangaal 10 Desember 2020 jam 23.59 WIB.
  2. Calon Peserta dinyatakan menjadi Peserta jika lulus screening
  3. Hasil screening diumumkan pada saat selesai proses screening.
  4. Peserta yang lolos screening berkas online diumumkan pada tanggal 11 Desember 2020.
 
Demikian Informasi ini kami sampaikan, diharapkan Sahabat Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Ranting dapat meneruskan ke seluruh kader yang ada di wilayahnya. Terima kasih. (MY)

Share:

KH Miftachul Akhyar Resmi Terpilih Jadi Ketum MUI

Anwalin News - KH Miftachul Akhyar resmi terpilih menjadi Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2020-2025. [Miftakhul] terpilih berdasarkan musyawarah yang dilakukan oleh 17 Tim Formatur yang dipilih oleh peserta Munas X MUI yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (26/11) malam.

"Bahwa Ketum Terpilih adalah Almukarom Miftachul Akhyar," kata anggota Tim Formatur Munas MUI, Ma'ruf Amin, Jumat (27/11) dini hari.

Pengumuman itu lantas disambut tepuk tangan yang meriah dari peserta Munas.

Miftachul menjadi Ketua Umum MUI ke-8 sejak organisasi ini berdiri pada 1975 lalu. Ia menggantikan posisi Ma'ruf Amin menjabat sebagai Ketum MUI 2015-2020. Kini Ma'ruf menjabat sebagai Wakil Presiden RI.

Diketahui, Miftachul sendiri sempat disebut-sebut masuk dalam bursa calon ketua umum MUI 2020-2025. Kiai Miftah, begitu ia akrab disapa, sampai saat ini masih menjabat sebagai Rais Aam PBNU sejak 2018 lalu.

Sementara itu, beberapa jajaran pengurus Dewan Pimpinan MUI juga telah terpilih dalam Munas X MUI. Diantaranya Amirshah Tambunan terpilih sebagai Sekretaris Jendral MUI.

Selain itu, Ma'ruf Amin terpilih sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI periode 2020-2025. Ia menggantikan posisi Din Syamsuddin yang menjabat posisi tersebut pada periode 2015-2020.

"Ketua Dewan Pertimbangan adalah Ma'ruf Amin," kata Ma'ruf mengumumkan dirinya sendiri.

Pengumuman itu lantas disambut tepuk tangan yang meriah dari peserta Munas.

Pelaksanaan Munas X MUI kali ini berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya karena digelar di tengah pandemi virus Corona. Munas menggunakan protokol kesehatan pencegahan corona yang ketat. Para peserta Munas diselenggarakan dengan dua cara dengan melalui online dan offline.
Share:

Rabu, 25 November 2020

Gerakan Pemuda Ansor Ranting Sawahan Perdana Adakan Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor

Anwalin News – Sawahan (24/11) Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Desa Sawahan menggelar Lailatul Ijtima’ yang sekaligus Pembukaan Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Masjid Baiturrohman Dukuh Tenggong Desa Sawahan Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
 
Kegiatan Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor merupakan yang perdana dan pertama kalinya dilaksanakan oleh Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Desa Sawahan yang sebelumnya sudah ada kegiatan namun masih bersifat ijtimaan dan turba rutin ke masjid/mushola yang ada di Desa Sawahan.
 
Hadir dalam kegiatan tersebut segenap Pengurus Gerakan Pemuda Ansor Ranting Sawahan, para Pengurus Nahdlatul Ulama Ranting Sawahan, Para Remaja Masjid, dan para Jamaah Masjid Baiturrohman Dukuh Tenggong Desa Sawahan. Selain itu kegiatan lailatul ijtima’ Ranting Sawahan juga dihadiri oleh Jajaran Pengurus dari PAC GP. Ansor Watulimo beserta tim Media Ansor Watulimo Online (Anwalin).

 
Kegiatan MDS-RA diawali dengan pembacaan tahlil dan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Tamin, S.Pd.I  selaku Pembina Gerakan Pemuda Ansor Ranting Sawahan yang juga Pengurus Nahdlatul Ulama Desa Sawahan. Setelah selesai acara Tahlil dan Doa Bersama, dilanjutkan sambutan oleh Pengurus Takmir Masjid Baiturrohman yang diwakili oleh Ustadz Tamin yang mana beliau juga merupakan salah satu dari jajaran Pengurus Takmir Masjid Baiturrohman tersebut.
 
Selesai sambutan dari takmir masjid, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Desa Sawahan, yaitu Sahabat Ahmad Misbachudin selaku ketua terpilih dari Rapat Anggota yang dilaksanakan beberapa bulan lalu. Sahabat Ibah (panggilan akrabnya dari sahabat ketua) menyampaikan kepada para kader ansor dan juga remaja masjid Desa Sawahan untuk merapatkan barisan dalam sebuah organisasi GP Ansor dalam memulai berkhidmah dan berjuang bersama dalam menjaga dan menegakkan ideologi ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyah.

 
Puncak acara ijtimaan dan MDS-RA Ranting Sawahan diisi pembekalan oleh Sahabat Murdiyanto selaku Ketua PAC GP. Ansor Watulimo saat ini. Pada awal sambutannya, sahabat Murdiyanto memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pengurus Ranting Gerakan Pemuda Ansor Desa Sawahan yang beberapa minggu lalu (tanggal 13 s.d. 15 November 2020) mengirimkan kader terbaiknya untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser yang diselenggarakan oleh Satkoryon – PAC GP. Ansor Watulimo di MI Watuagung. Kader Ansor Desa Sawahan yang dikirimkan untuk mengikuti Diklatsar Banser tersebut berjumlah 8 personil dan Alhamdulillah dinyatakan Lulus semuanya. Dengan pedelegasian kader untuk mengikuti Diklatsar tersebut diharapkan mampu menjadi motivasi kepada generasi muda / remaja masjid yang ada di Desa Sawahan untuk bergabung di organisasi Gerakan Pemuda Ansor.


Pada kesempatan yang sama Ketua PAC juga menyampaikan tentang permasalahan yang rentan terjadi disebuah organisasi, yaitu kurangnya peduli dan tertib administrasi dalam penataan dan manajemen organisasi. Sehingga dari kekurangpedulian terhadap tertibnya administrasi tersebut, organisasi (dalam hal ini GP. Ansor) tidak bisa terarah dan terukur dalam pencapaian maksud dan tujuan organisasi Gerakan Pemuda Ansor. Selain itu juga disinggung terkait Program Kerja tahunan Organisasi Gerakan Pemuda Ansor Ranting Sawahan. Mengingat selama ini banyak kepengurusan GP. Ansor yang belum menetapkan garis-garis besar Program Kerja Organisasi. Dari hal yang demikian itu menjadikan perjalanan organisasi kurang stabil (dinamis) dalam berkegiatan, sehingga kegiatan-kegiatan yang tercipta banyak yang bersifat insidental (mendadak) tanpa adanya program yang ditetapkan.

 
Diakhir sambutannya, ketua PAC berpesan kepada segenap jajaran Pengurus Gerakan Pemuda Ansor Desa Sawahan untuk terus solid dan kompak, serta istiqomah dalam berkegiatan sehingga kedepan GP. Ansor Ranting Sawahan bisa semakin maju, tertata manajemen organisasi/administrasinya dan para pengurus/kadernya menjadi professional dalam berorganisasi.


Kegiatan Lailatul Ijtima’ dan MDS-RA Desa Sawahan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Kyai Suyono yang merupakan Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama Desa Sawahan Kecamatan Watulimo. Selesai MDS-RA, acara dilanjutkan dengan diskusi seputar organisasi GP. Ansor Ranting Sawahan bersama para Pengurus dan dipandu oleh ketua PAC GP. Ansor Watulimo yang membicarakan terkait kelangsungan kegiatan rutin ranting serta hal-hal pokok yang bersinggungan dengan organisasi. Semoga dengan pembukaan perdana kegiatan MDS-RA Ranting Sawahan tersebut bisa menjadikan penyemangat para kader ansor yang ada di Desa Sawahan dan kegiatan Ijtimaan MDS-RA bisa dilaksanakan secara rutin (istiqomah) setiap satu bulan sekali dengan tempat/lokasi yang berbeda-beda demi syi’arnya organisasi Gerakan Pemuda Ansor secara menyeluruh. (MY)

Share:

Sabtu, 21 November 2020

Tasyakuran, RTL dan Pembekalan Alumni PKD Ke-III dan Diklatsar Banser Ke-XXI Oleh PAC GP. Ansor Watulimo


Anwalin News
– Watuagung, (20/11) Gerakan Pemuda Ansor  sebagai kader NU harus mempunyai jati diri; Pertama mampu membangun organisasi yang bersifat kepemudaan, keagamaan, sosial kemasyarakatan dan organisasi kader paham Ahlussunnah waljamaah an-Nadliyah.  Kedua mampu membangun kemandirian organisasi baik internal Gerakan Pemuda Ansor maupun Banser.  Ketiga  membangun rotasi kepemimpinan secara dinamis dan terus menerus, dan Keempat membangun GP Ansor sebagai pejuang Aswaja di masyarakat, kelima mampu ikut mengisi dan mempertahankan keberadaan Pansasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika
 
Namun demikian secara internal Gerakan Pemuda Ansor masih menghadapi berbagai permasalahan seperti, organisasi belum tertata secara optimal di seluruh tingkatan, pendataan anggota belum maksimal, rotasi kepemimpinan yang belum berjalan rutin, aset organisasi kecil, hubungan antar Banom yang lemah, variasi potensi yang heterogen, dan pemahaman pengertian dan aplikasi politik yang masih sempit.


Salah satu langkah yang mendasar perlu segera dibenahi adalah kaderisasi.  Oleh karenanya, pada hari Jum’at, 20 November 2020 Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Watulimo menggelar acara Rencana Tindak Lanjut dan Pembekalan Alumni PKD GP. Ansor dan Diklatsar Banser Satkoryon – PAC GP. Ansor Watulimo sebagai realisasi dan tindak lanjut kaderisasi (PKD-Diklatsar) yang telah dilaksanakan pada tanggal 13 s.d. 15 November 2020 yag lalu.
 
Acara RTL dan pembekalan Alumni PKD dan Diklatsar dilaksanakan di halaman MI Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek, dengan menghadirkan segenap alumni PKD ke-III dan Alumni Diklatsar Banser ke-XXI. Selain itu, juga mengundang dari segenap jajaran Pengurus MWC NU Watulimo, Pengurus NU Ranting Watuagung, Pengurus NU Ranting Ngembel, Pengurus PAC GP. Ansor Watulimo, Jajaran Satkoryon Banser Kecamatan Watulimo, Pengurus Ranting GP. Ansor dan Satkorkel Banser se-Kecamatan Watulimo serta Rekan/rekanita dari PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Watulimo.


Dalam RTL dan Pembekalan Kader Ansor/Banser, kegiatan dikemas dengan rangkaian acara yang diawali Istighotsah yang dipimpin oleh Bapak KH. Suryani selaku Rais Syuriah MWC NU Watulimo yang dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Syubbanul Wathon, Mars GP. Ansor, Mars Banser dan kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh sahabat Mustarom selaku ketua Panitia PKD-Diklatsar yang menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya acara Diklat dan RTL Kader Ansor/Banser. Tak lupa sahabat Mustarom juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan yang telah diperbuat oleh segenap Tim Panitia dalam penyelenggaraan acara PKD dan Diklatsar Banser yang telah sukses dilaksanakan pada tanggal 13 s.d. 15 November 2020 yang lalu.
 
Puncak acara RTL dan Pembekalan Kader diisi oleh sahabat Murdiyanto selaku Ketua PAC GP. Ansor Watulimo yang menyampaikan beberapa pokok pesan dan apresiasi terhadap para Alumni PKD dan Diklatsar Banser yang telah sukses dan lulus dalam pelaksanaan Diklat. Ketua PAC berpesan bahwa di Ansor semua alumni PKD dan Diklatsar harus satu komando dengan Pimpinan. Semua Alumni/Kader yang telah dibaiat harus memahami, meresapi dan mengamalkan isi dari baiat kader ansor tersebut. Baiat tidak hanya diucapkan dalam lisan saja melainkan harus diyakini dalam hati dan diterapkan dalam segala tingkah laku / perbuatan.


Sahabat Murdiyanto juga menjelaskan bahwa Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sebagai tenaga inti GP Ansor memiliki tanggung jawab yang besar dalam melakukan perannya sebagai kader penggerak, pengemban dan pengaman program-program sosial kemasyarakatan baik yang dilakukan GP Ansor maupun oleh Nahdlatul Ulama.
 
Jati diri sebagai sosok personil yang memiliki kualifikasi khusus harus dapat ditunjukkan dalam setiap gerak dan langkahnya dalam melaksanakan fungsi dan perannya dengan dedikasi yang tinggi, memiliki pola pikir realistis dan matang, mampu menfasilitasi terwujudnya cita-cita GP Ansor dan kemaslahatan bagi masyarakat, Nusa, Bangsa dan Agama.
 
Peningkatan profesionalisme dan kemampuan ke-Banser-an yang nantinya mampu menyiapkan kader-kader Banser yang handal dan profesional harus melalui proses penataan kaderisasi yang matang dan terarah, sehingga langkah Banser kedepan diharapkan mampu menghadapi berbagai perkembangan dan tuntutan masyarakat yang penuh dengan dinamika dan perkembangan.


Acara RTL dan Pembekalan Alumni PKD-Diklatsar diakhiri dengan penutup yang diisi doa dan dilanjutkan dengan ramah tamah yaitu “Mayoran Lodhoan Bareng” sebagai bentuk rasa syukur ke hadirat Allah SWT atas terselenggara dan suksesnya acara PKD GP. Ansor dan Diklatsar Banser yang dilaksanakan oleh Satkoryon – PAC GP. Ansor Watulimo. (MY)
Share:

Selasa, 17 November 2020

BERDAMAI DENGAN PERBEDAAN


‘Bedo silit bedo anggit’, begitu pepatah Jawa mengatakan, atau dalam bahasa Indonesianya, ‘Beda pantat beda pendapat’. Setiap orang memiliki cara berfikir dan ending mengambil keputusan bagi pertimbangan opininya masing-masing, tentu saja hal ini terjadi karena asupan pengetahuan dan pengalaman yang masuk pada diri seseorang tidak sama antar satu dan yang lainnya. Sehingga, untuk mengomentari-misalkan- satu objek yang sama pun pasti terdapat perbedaan satu dengan yang lainnya.

Dan karena perbedaan adalah suatu keniscayaan, sehingga dalam menyikapi perbedaan pun akan timbul pula perbedaan. Itulah sifat hidup yang tidak bisa kita pungkiri dan hindari, bahkan dalam hal yang urgen pun, semisal sariat Islam, para ulama tidak jarang yang saling berbeda pendapat antara satu dengan yang lainnya.

Namun akhir-akhir ini, fenomena yang mengemuka dihadapan kita seringkali terkesan seolah-olah perbedaan adalah barang haram yang wajib ditumpas, lantas terjadilah usaha-usaha saling menjatuhkan antar kubu-kubu yang berbeda itu. Bahkan tidak jarang, terlontar dengan cara-cara yang tidak apik semisal mencela, mengumpat, menghina atau pun semacamnya. Tentu saja, motivasi terbesarnya adalah agar apa yang diyakini dan ugemi menjadi yang paling unggul diantara yang lainnya.

Sangat maklum tentunya, jika kita sebagai seorang yang waras memiliki naluri untuk unggul dari yang lain, unggul dari segi kelompok, pribadi, prestasi dan lain-lainnya. Namun menjadi bahaya jika cara-cara yang dilakukan adalah dengan cara-cara tidak baik sebagaimana yang telah disebutkan di atas, yaitu mencela, menghina atau merendahkan pihak lain; yang sebenarnya dampak dari cara-cara demikian malah akan berbalik pada yang memulai. Sebagaimana analogi yang disampaikan nabi dalam sabdanya tatkala menerangkan diantara dosa-dosa besar,

 إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Sunggu diantara dosa terbesar adalah seseorang yang melaknat kedua orang tuanya sendiri, Beliau ditanya; ‘Bagaimana mungkin seseorang tega melaknat kedua orang tuanya sendiri?’ Beliau menjawab: ‘Seseorang mencela (melaknat) ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas mencela ayah dan ibu si pelaknat.” (HR. al-Bukhari)

Tarulah analogi ini dalam konteks kepemimpinan -misalnya-, maka jika ada seseorang yang mencela pemimpin orang lain, pada hakikatnya ia sedang mencela pemimpinnya sendiri, atau setidak-tidaknya, membuka pintu bagi pemimpinnya untuk dicela, sebagai balasan atas celaan yang dilontarkannya. Di sinilah kita diajari oleh nabi bahwa merendahkan orang yang berbeda dengan kita bukanlah solusi agar kita menjadi yang terbaik diantara yang lainnya.

Oleh karenanya, sudah semestinya bagi setiap orang untuk berusaha mendamaikan atau membiasakan dirinya dengan perbedaan-perbedaan yang mengemuka di sekitarnya, agar perbedaan itu tereksploitasi menjadi khazanah hidup yang dapat dinikmati, bukan justeru menjadi benalu dalam tata kehidupan sosial yang ada. waAllahu a’lam.

Sumber : FB LIRBOYO
Share:

Sabtu, 14 November 2020

PAC GP Ansor Watulimo Menggelar 2 Diklat Sekaligus, Yaitu PKD dan Diklatsar


Anwalin News
– Watuagung, (13/11) Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar Gerakan Pemuda Ansor serta Pendidikan dan Pelatihan Dasar Barisan Ansor Serbaguna. Dua Diklat tersebut dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
 
Pada awalnya PAC GP. Ansor Watulimo bermaksud menyelenggarakan Diklatsar Banser saja, sehingga konsentrasi kepanitiaan hanya pada satu agenda kegiatan. Mengingat banyaknya permintaan serta semangatnya para kader Ansor, akhirnya Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Watulimo yang dikomandani oleh Sahabat Murdiyanto tersebut mengiyakan untuk melaksanakan dua Diklat sekaligus yaitu, PKD (Pelatihan Kepemimpinan Dasar) untuk Pengurus dan Kader Ansor, serta Diklatsar (Pendidikan dan Pelatihan Dasar) untuk para Kader Banser.


Kegiatan PKD dan Diklatsar tersebut dilaksanakan selama 3 hari 2 malam yang dimulai pada tanggal 13 s.d. 15 November 2020. Pembukaan Diklat dilaksanakan pada hari Jum’at, 13 November 2020 dengan Instruktur Apel Komandan H. Fathkurohman MQ, selaku Kasatkorcab Banser Trenggalek. Dalam Sambutannya Ndan Fathkur sapaan Kasatkorcab mengapresiasi segenap Jajaran PAC GP. Ansor dan Satkoryon Banser Watulimo, dimana dalam satu periode kepengurusan telah berhasil mengadakan PKD dan Diklatsar 2 kali. Selain itu juga mengapresiasi kegiatan Upgrading Banser yang diselenggarakan oleh PAC GP. Ansor bersama segenap jajaran Satkoryon Banser Watulimo yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 yang lalu.
 
Setelah Apel Pembukaan PKD dan Diklatsar dalam sambutannya ketua PAC GP. Ansor Watulimo, yaitu Sahabat Murdiyanto menyampaikan dan melaporkan beberapa hal antara lain; bahwasanya Diklat tersebut semula dibatasi hanya 65 peserta untuk Diklatsar dan 30 peserta  untuk PKD. Namun hal itu diluar ketentuan yang telah ditetapkan bersama sehingga jumlah peserta akhirnya melebihi kuota. Untuk Diklatsar jumlah peserta yang mendaftar 103 orang dan lolos screening 94 orang, sedangkan untuk PKD jumlah peserta yang mendaftar 34 orang dan lolos administrasi serta screening 24 orang. Peserta Diklat tersebut menyebar dari utusan ranting yang ada di PAC Watulimo dan luar Watulimo. Dari luar Kecamatan Watulimo diantaranya adalah dari PAC Pule, Suruh, Munjungan, Tugu, Karangan, Gandusari, Kampak dan ada juga peserta utusan dari Kabupaten Tulungagung.

 
Di waktu yang terpisah, sahabat Muh. Izuddin Zaki atau yang lebih akrab dipanggil Gus Zaki selaku Ketua PC GP. Ansor Trenggalek menyampaikan sambutan dan arahannya, bahwa maksud diselenggarakannya kegiatan PKD-DIKLATSAR adalah untuk menanamkan nilai dan ideologi, menguatkan karakter dan militansi, meningkatkan pengetahuan, mengembangkan potensi dan kecakapan, serta membangun kapasitas gerakan pada diri kader untuk mempertinggi harkat martabat diri dan meneruskan cita-cita dan perjuangan organisasi. Selain itu juga disampaikan tujuan dari PKD-Diklatsar tersebut, yaitu :
  • Mempersiapkan kader  Gerakan Pemuda Ansor yang mumpuni, terstruktur dan dan berkesinambungan
  • Meningkatkan kemampuan pengetahuan, teknis dan  jiwa korsa terhadap  proses kaderisasi
  • Menyampaikan konsep dasar ajaran Islam Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdliyah
  • Mengembangkan pengetahuan wawasan dan ketrampilan berorganisasi
  • Pemahaman visi, misi dan etika Banser dan Ansor
 
Dengan adanya PKD dan Diklatsar yang diselenggarakan oleh PAC GP. Ansor Watulimo tersebut diharapkan Kader Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sebagai tenaga inti GP Ansor memiliki tanggung jawab yang besar dalam melakukan perannya sebagai kader penggerak, pengemban dan pengaman program-program sosial kemasyarakatan baik yang dilakukan GP Ansor maupun oleh Nahdlatul Ulama.

 
Jati diri sebagai sosok personil yang memiliki kualifikasi khusus harus dapat ditunjukkan dalam setiap gerak dan langkahnya dalam melaksanakan fungsi dan perannya dengan dedikasi yang tinggi, memiliki pola pikir realistis dan matang, mampu menfasilitasi terwujudnya cita-cita GP Ansor dan kemaslakhatan bagi masyarakat, Nusa dan Bangsa.
 
Peningkatan profesionalisme dan kemampuan ke-Banser-an yang nantinya mampu menyiapkan kader-kader Banser yang handal dan profesional harus melalui proses penataan kaderisasi yang matang dan terarah, sehingga langkah Banser kedepan diharapkan mampu menghadapi berbagai perkembangan dan tuntutan masyarakat yang penuh dengan dinamika dan perkembangan. (MY)

Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung