Jumat, 19 November 2021

KISAH UNIK KH. AHMAD DAHLAN & KH. HASYIM ASY'ARI


Di antara perjalanan menuntut ilmu yang panjang, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari pernah sama-sama berguru kepada ulama yang sama. 

Di Semarang, mereka berguru kepada KH. Sholeh Darat (Syech Sholeh bin Umar as-Samarani). Di Mekkah, mereka belajar kepada Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Mereka bersahabat, saling membantu dan menyemangati.
---
TELADAN KH. HASYIM ASY'ARI

KH. Hasyim Asy’ari (1871–1947) adalah pendiri dan pengasuh pertama Pesantren Tebuireng, Jombang. Beliau lahir pada 14 Februari 1871 di dusun Gedang, desa Tambakrejo, Jombang, dari keluarga yang memiliki nasab ulama. Sejak kecil beliau sudah di berikan pelajaran dasar-dasar ilmu agama oleh ayah (KH. Asy'ari) dan kakeknya dari jalur ibu (KH. Utsman). Mulai usia 15 tahun, Kiai Hasyim Asy’ari belajar di sejumlah pesantren seperti di Pesantren Wonorejo Jombang, Pesantren Wonokoyo Probolinggo, Pesantren Langitan Tuban, dan Pesantren Trenggilis Surabaya.

Lalu Kiai Hasyim Asy’ari melanjutkan ke Pesantren Demangan Bangkalan yang diasuh oleh Syaikhona Kholil. Kemudian, belajar di Pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo yang diasuh Kiai Ya'qub. Di kedua pesantren ini Kiai Hasyim Asy’ari belajar dalam waktu yang cukup lama.

Pada 1892 Kiai Hasyim Asy’ari ke Mekkah, menunaikan ibadah haji. Kesempatan itu digunakannya juga untuk mendalami ilmu. Hampir seluruh disiplin ilmu agama dipelajarinya, terutama ilmu hadits.

Pada 1899, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang. Beliau aktif mengajar, berdakwah, dan berjuang—yaitu bersama rakyat turut merebut kemerdekaan Indonesia—Kiai Hasyim Asy’ari juga produktif menulis. Beliau menulis antara pukul 10.00 WIB sampai menjelang Dhuhur. Setiap waktu longgar beliau membaca kitab, menulis, dan menerima tamu.

KH. Hasyim Asy’ari teguh memerjuangkan syariat Islam. Beliau konsisten di semua kesempatan untuk bersikap tegas dalam hal menegakkan kebenaran.
---
DUA GURU

Syech Sholeh bin Umar as-Samarani (Kiai Sholeh Darat).

Beliau guru Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Sholeh Darat pernah menetap di Mekkah untuk belajar. Saat itu, teman belajarnya antara lain Syech Nawawi Al-Bantani dan Syaikhona Kholil Bangkalan. Di belakang hari, Kiai Sholeh Darat dipercaya menjadi pengajar di Mekkah.
Ketika Kiai Sholeh Darat kembali ke Indonesia, beliau mengajar di Pesantren Darat milik KH. Murtadlo, sang mertua. Sejak itu pesantren tersebut berkembang pesat. Para santri berdatangan dari luar daerah. Disebut Pesantren Darat karena lembaga pendidikan itu berlokasi di kampung Melayu Darat, Semarang. Dari nama kampung ini pula bermulanya nama Sholeh Darat.

Di bawah kepengasuhan Kiai Sholeh Darat, murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkemuka. Selain Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari juga ada Syech Mahfudz at-Tremasi, asal Tremas Pacitan (seorang Kutubus Sittah dan pemegang sanad hadist shohih Bukhori dan Muslim) yang kelak menjadi ulama besar yang bermukim di Mekkah, KH. Idris (pendiri Pesantren Jamsaren, Solo), KH. Sya’ban (ulama ahli falaq dari Semarang). 

Ada pula Penghulu Tafsir Anom dari Keraton Surakarta, KH. Nahrowi Dalhar Watucongol (pendiri Pesantren Watucongol, Muntilan, Magelang), dan KH. Munawwir (pendiri Pesantren Krapyak, Yogyakarta). Mbah Kiai Sholeh Darat wafat di Semarang pada 18 Desember 1903.
---
Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

Beliau juga guru Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari. Beliau ulama asal Sumatra Barat yang sangat berpengaruh. Sebagai pembaharu, beliau berhasil membuka cakrawala berfikir dari banyak kalangan. Dari beliau muncul banyak Ulama Besar.

Syech Ahmad Khatib Minangkabawi lahir pada 26 Mei 1860 di Kota Gadang, Bukittinggi, Sumatra Barat. Saat kecil beliau belajar dasar-dasar ilmu agama dari sang ayah yaitu Syech Abdul Lathif.

Saat berusia 11 tahun, Syech Ahmad Khatib dibawa sang ayah menunaikan ibadah haji di Mekkah. Selain beribadah haji beliau juga belajar menuntut ilmu kepada banyak ulama ahlusunah wal jamaah di jazirah Arab. Di usianya yang menginjak 20 tahun beliau mulai dikenal masyarakat Mekkah karena akhlaq dan ilmunya. Maka, latar belakang inilah yang mengantarkan Syech Ahmad Khatib menjadi Imam dan Guru Besar dalam mazhab Syafi’iyah di Masjid Al-Haram.

Syech Ahmad Khatib adalah tokoh pembaharu asal Indonesia di penghujung abad 18 dan awal abad 19. Pemikiran-pemikiran beliau tersebar luas di Indonesia melalui murid-murid beliau yang datang ke Mekkah untuk beribadah haji dan sekaligus menyempatkan diri belajar kepada beliau.

Setelah murid-muridnya kembali ke Indonesia, para murid itu lalu menjadi Ulama Besar dan berpengaruh. Misalnya; KH. Ahmad Dahlan (1868-1923) dan KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947).

Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi wafat di Mekkah pada 13 Maret 1916 dalam usia 56 tahun. Beliau banyak meninggalkan kader yang di didik secara langsung. Kader-kader itu lalu melahirkan juga kader-kader berikutnya, dan seterusnya.

Perhatikanlah, Kiai Ahmad Dahlan diketahui aktif menggerakkan dakwah dan pendidikan.
Jika Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Organisasi Islam Muhammadiyah pada 1912, maka Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Organisasi Islam Nahdlatul Ulama pada 1926.
Kiai Ahmad Dahlan dikenal sangat peduli kepada usaha untuk selalu berpegang kepada syariat Allah, Kiai Hasyim Asy’ari juga demikian.

Kiai Ahmad Dahlan memiliki banyak murid dan berhasil mengkader langsung banyak pejuang bangsa yang tergolong sebagai “Bapak pendiri bangsa”. Misalnya, Ki Bagus Hadikusumo, Kahar Muzakkir, serta Kasman Singodimedjo yang masuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI. Selain itu ada juga Jenderal Besar Soedirman, sang Jenderal Panglima TNI pertama. Semua adalah kader Muhammadiyah.

Kiai Hasyim Asy’ari juga demikian, punya banyak murid dan berhasil mengkader banyak pejuang bangsa. Misalnya, sang singa podium penggertak para penjajah, yaitu Kiai Wahab Chasbullah, lalu Presiden RI pertama Ir. Soekarno, serta Dr. Soetomo (Bung Tomo), Bahkan, putra beliau sendiri, Kiai Wahid Hasyim—termasuk pula “Bapak pendiri bangsa” karena keanggotaannya di BPUPKI dan PPKI, yang kelak menjadi menteri agama RI pertama. Semua adalah kader Nahdlatul Ulama.

Di era sebelum kemerdekaan semangat juang Kiai Hasyim Asy'ari melalui Kiai Wahab Chasbullah dengan orasi-orasinya dimana-mana mempu menggertak dan membuat ciut nyali penjajah, baik Belanda atau Jepang. Maka dari itu dengan keberanian Kiai Wahab Chasbullah beliau di juluki “sang singa podium”.

Sementara, peran besar Kiai Hasyim Asy’ari dalam mempertahankan kemerdekaan, yaitu saat tentara NICA dengan memboncengi tentara sekutu hendak kembali menjajah Indonesia, Kiai Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad. Seruan itu berpengaruh signifikan terhadap semangat perlawanan prajurit, kaum santri dan rakyat Indonesia. Implikasinya melalui orasi dan pidato-pidato Bung Tomo yang membakar semangat para pejuang, mereka bisa memenangkan “Pertempuran 10 November 1945” yang legendaris itu.
---
KISAH UNIK

Di awal dakwahnya, Kiai Ahmad Dahlan memulainya di kampung Kauman, Yogyakarta, tempat asal beliau. Beliau melakukan pembaruan pemahaman keislaman, menyadarkan umat Islam agar terlepas dari keterpurukan. Tetapi pembelajaran itu banyak mendapat tantangan. Tidak semua orang di Kauman Yogyakarta setuju dengan dakwah beliau.

Perkembangan itu tak lepas dari pengamatan seorang pemuda bernama Basyir. Ia warga Kauman Yogyakarta, yang menjadi santri di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Dia murid Kiai Hasyim Asy’ari. Dia pun “mengadu” kepada sang guru.

Terjadi perbincangan santri Basyir dengan Kiai Hasyim Asy'ari;

“Kiai, ada seorang tetangga saya di Kauman Yogyakarta yang baru pulang bermukim dari Mekkah. Dia menyampaikan sesuatu hal tentang pembaruan ajaran Islam sehingga terjadi perselisihan di antara masyarakat Kampung Kauman Yogyakarta yang mayoritas masih kental dengan tradisi” kata Basyir.

“Siapa nama beliau,?” tanya Kiai Hasyim Asy’ari.

“Ahmad Dahlan,” jawab si santri.

“Bagaimana ciri-cirinya,?” tanya Kiai Hasyim Asy’ari.

(Santri itu kemudian menggambarkan sosok Ahmad Dahlan).

“Oh..!! itu Kang Mas Darwis (nama asli Kiai Ahmad Dahlan),” seru Kiai Hasyim Asy’ari dengan perasaan gembira.

“Saya sudah mengenalnya,” sahut Kiai Hasyim lagi.

“Terus bagaimana Kiai,?” tanya si santri.

“Tidak apa-apa, hal yang di sampaikan oleh Kang Mas Darwis (Kiai Ahmad Dahlan) itu ada dasarnya. Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia,” demikian penjelasan dan nasihat Kiai Hasyim Asy’ari kepada santrinya itu.

Ternyata, Kiai Hasyim Asy’ari sudah mengenal dengan baik Kiai Ahmad Dahlan, sebab keduanya merupakan sahabat karib, teman se-perjuangan, se-majelis dalam pengajian-pengajian Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi di Mekkah. Bahkan, saat nyantri di Pondoknya Kiai Sholeh Darat Semarang, Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari bukan hanya teman mengaji saja, tetapi keduanya malah tinggal di kamar yang sama selama dua tahun.

Usia mereka terpaut dua tahun, Kiai Ahmad Dahlan lebih tua dari Kiai Hasyim Asy'ari.
Maka dari itu Kiai Ahmad Dahlan memanggil Kiai Hasyim Asy’ari dengan sebutan “DiMas Hasyim”. Sebaliknya, Kiai Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Ahmad Dahlan dengan sebutan “KangMas Darwis”.

Di keseharian, mereka saling membantu. Misal, saling menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Kadang yang menyiapkan Kiai Ahmad Dahlan dan kadang Kiai Hasyim Asy’ari. Bahkan sering juga mereka makan dari satu nampan yang sama, berdua. Suka-duka mereka lalui bersama.

Sosok Basyir
Kembali ke santri asal Kauman, Yogyakarta yang “mengadu” ke Kiai Hasyim Asy’ari itu. Nama lengkapnya, Muhammad Basyir Mahfudz. Dia, putra Kiai Mahfudz dari Kauman, Yogyakarta.

Basyir patuh terhadap petuah Kiai Hasyim Asy’ari, sang guru. Ia bertekad untuk membantu perjuangan Kiai Ahmad Dahlan ketika selesai berguru dari Pondok Pesantren Tebuireng.

Sayang, ketikaBasyir pulang ke Kauman – Yogyakarta setelah usai nyantri dari Tebuireng, Kiai Ahmad Dahlan sudah wafat. Tinggal warisannya, Muhammadiyah. Atas kenyataan itu, Basyir bertekad aktif di Muhammadiyah dan ikut mengembangkannya.

Niat itu diwujudkannya. Basyir terakhir aktif di PP Muhammadiyah, di Majelis Tarjih, yang saat itu Ketua Majelis Tarjih-nya adalah KH. Wardan Diponingrat.

Tak hanya itu. Basyir mendidik dan mengkader anak-anaknya untuk aktif juga di Muhammadiyah. Di kemudian hari, ada salah satu anaknya yang juga aktif di Majelis Tarjih. Bahkan, putra sulungnya itu—Ahmad Azhar Basyir—kemudian mendapat amanah sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1990-1995.

Saling Menguatkan

KH. Ahmad Dahlan sudah sangat lama meninggal, yaitu pada tahun 1923.
KH. Hasyim Asy’ari juga telah lama wafat, yaitu pada tahun 1947. Tapi, dari keduanya kita akan mendapat ilmu untuk waktu yang sangat panjang. 

Mereka telah mewariskan banyak hal, antara lain: Muhammadiyah dan NU, semangat mencari ilmu yang tinggi, serta spirit persahabatan yang saling mengasihi dan menguatkan. #Wallahu A'lam.

Dari Berbagai Sumber
Share:

Senin, 15 November 2021

MAJELIS TAHKIM (DEWAN ETIK) MUKTAMAR KE-34 NU


MAJELIS TAHKIM MUKTAMAR KE 34 NU

Dalam susunan panitia Muktamar Ke-34 NU, terdapat 11 ulama sepuh NU yang duduk di Majelis Tahkim.

Posisi ini melengkapi susunan kepanitiaan selain Penanggung Jawab, Penasihat, Steering Committee (SC), Organizing Committee (OC), dan bidang-bidang, serta komisi.

Majelis Tahkim ini diketuai oleh KH Ma’ruf Amin dengan sepuluh anggotanya yakni:

1. Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri, 

2. Mustasyar PBNU sekaligus Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Anwar Manshur, 

3. Mustasyar PBNU sekaligus Rais Syuriyah PWNU Nusa Tenggara Barat TGH Turmudzi Badaruddin, 

4. Mustasyar PBNU KH Dimyati Rois. 

5. Mustasyar PBNU Habib Lutfi bin Yahya,

6. Rais Syuriyah PBNU KH Nurul Huda Jazuli,

7. Mustasyar PBNU Abuya Muhtadi Dimyathi, 

8. Pengasuh Pesantren Nurul Cholil Bangkalan KH Zubair Muntashor, 

9. Rais Syuriyah PBNU KH Ali Akbar Marbun, dan 

10. Mustasyar PBNU Prof KH Khotibul Umam.

Majelis Tahkim merupakan dewan etik yang terdiri dari para ulama sepuh untuk menjaga pelaksanaan Muktamar dengan menjunjung tinggi aturan-aturan dan akhlakul karimah. Keberadaan Majelis Tahkim ini penting untuk penyelenggaraan muktamar didasari NU bukanlah organisasi biasa, tetapi organisasinya para ulama. 

Karena itu, NU menjadi tempat pembelajaran semua pihak, baik di internal NU maupun masyarakat umum. Saat silaturahim Panitia Muktamar Ke-34 NU dengan Ketua Majelis Tahkim (Dewan Etik) Muktamar Ke-34 NU di kediaman resmi Wakil Presiden, Jalan Diponegoro, Jakarta, Jumat (12/11/2021), KH Ma’ruf Amin menyatakan kesiapannya hadir pada Muktamar.

Bahkan, Kiai Ma’ruf Amin akan menunggui Muktamar NU di Lampung secara fisik selama berlangsung dari pembukaan sampai penutupan. Hal itu dalam rangka memantau, menunggui, dan menjaga pelaksanaan muktamar. 

Kiai asal Tanara Banten ini menekankan pentingnya muktamar berjalan dengan mengedepankan musyawarah. Hal ini tidak lain agar muktamar berjalan sejuk. Kiai Ma’ruf juga menekankan agar semua pihak mentaati aturan-aturan yang sudah pernah dilakukan pada muktamar-muktamar sebelumnya. Di antaranya terkait pemilihan Rais ‘Aam PBNU yang tetap menjalankan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). 

Sementara dalam pemilihan Ketua Umum, sesuai aturan, pemilihan dilakukan dengan pemungutan suara oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).    

Dalam Waktu dekat, Kiai Ma'ruf sebagai Ketua Majelis Tahkim akan mengundang seluruh anggota majelis tersebut. Hal itu guna memusyawarahkan kode etik bagi semuanya dalam pelaksanaan muktamar nanti. 

Sementara Ketua Panitia Pengarah (SC) Muktamar ke-34 NU, Prof Muhammad Nuh, menginginkan agar seluruh jajaran kepanitiaan mampu menciptakan kesejukan pada perhelatan muktamar mendatang.     

“Kita harus ciptakan suasana muktamar yang sejuk. Kita harapkan, kita bawa suasananya sejuk. Siapa yang akan jadi nanti, itu takdir. Tapi tugas kita adalah menyiapkan suasana sejuk,” katanya dalam rapat persiapan Muktamar ke-34 NU, di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164 Jakarta, beberapa waktu lalu.  

Kesuksesan muktamar menurutnya tidak hanya dilihat dari sisi pelaksanaannya saja tetapi juga harus ada konten bermanfaat dan berkualitas, baik dari forum bahtsul masail (waqi’iyah, maudhuiyah, qanuniyah) dan komisi-komisi (program kerja, organisasi, rekomendasi). 


Sumber: NU Online
Share:

Tinjau Lokasi Muktamar NU, Prof Nuh: Panitia Harus Kompak Bersinergi


Ketua Steering Committee (SC) Muktamar ke-34 NU, Prof H Muhammad Nuh meninjau lokasi pembukaan Muktamar NU di Pesantren Darussa’adah Mojo Agung, Seputih Jaya, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung. Prof Nuh menyampaikan, panitia lokal Muktamar ke-34 NU harus kerja ekstra keras, cepat, melengkapi pembenahan-pembenahan infrastruktur seputar di komplek Pesantren Darussa’adah ini. 

Pada hari H kurang seminggu, pelaksanaan Muktamar ke-34 NU semua sarana sudah harus siap semua. 

“Mudah-mudahan Muktamar ke-34 NU ini berjalan lancar, sukses. Kita sambut hajatan lima tahunan warga NU ini dengan riang gembira. Semua elemen panitia lokal dan panitia daerah harus kompak dan bersinergi,” tambah mantan Rektor ITS Surabaya, Jawa Timur ini. 

Demikian disampaikan Ketua PCNU Lampung Tengah, KH Imam Suhadi, yang mendampingi panitia pusat dalam agenda silaturahim dengan Rais Syuriyah PWNU Lampung KH Muhsin Abdillah, Jumat (12/11/2021) malam. 

“Prof Nuh bersama panitia lokal dan pengurus PCNU Lampung Tengah lainnya selama satu jam lebih berkeliling Pesantren Daruss’adah dan meninjau lokasi pembangunan Aula Muktamar NU ke-34,” kata Kiai Imam Suhadi kepada NU Online melalui WhatsApp, Sabtu (13/11).

 Sebagaimana diketahui, Muktamar ke-34 NU akan digelar komplek Pesantren Darussa’adah Mojo Agung, Seputih Jaya, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung, dan di Kota Bandar Lampung, pada Kamis-Sabtu, 23-25 Desember 2021 yang bertepatan 18-20 Jumadil Ula 1443 H. 

Sebagai informasi, forum permusyawaratan tertinggi di Nahdlatul Ulama ini mengusung tema Menuju Satu Abad NU: Membangun Kemandirian Warga untuk Perdamaian Dunia. 

Sejumlah agenda Dari informasi yang dihimpun NU Online, beberapa agenda Banom dan Lembaga NU untuk menyambut muktamar, baik yang akan digelar di komplek Pesantren Darussa’adah Mojo Agung maupun kabupaten/kota lainnya antara lain, pertama, Semaan Kubro yang akan diselenggarakan Pengurus Wilayah Jam’iyyatul Qurra’ wal Hufadz (PW JQH NU) Lampung pada Ahad, 5 Desember 2021 mendatang. 

Kedua, Pendidikan dan Latihan Khusus (Diklatsus) Ansor-Banser meliputi; Protokoler, Provost, dan Balantas Satkorwil Banser Provinsi Lampung, diagendakan di komplek Pesantren Darussa’adah Mojo Agung, pada Jumat-Ahad, 3-5 Desember 2021 mendatang, bertepatan 27-29 Rabiul Akhir 1443 H. Ketiga, Silaturahim Nasional (Silatnas) Jam’iyyah Ruqyah Aswaja An Nahdliyyah (JRA) se-Indonesia di komplek Pesantren Tri Bhakti At-Taqwa Rama Puja, Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung Timur, pada Rabu, 22 Desember 2021.

Kontributor: A Syarief Kurniawan 
Editor: Musthofa Asrori

Sumber: NU Online
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung