Jumat, 16 Desember 2022

Untuk “Jihad” Dibidang Literasi Keuangan Digital, PW GP. Ansor Jatim Gandeng OJK.


Anwalin News - Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Jawa Timur menggelar acara Konsolidasi Badan Cyber yang diikuti sedikitnya diikuti 150 perwakilan dari Pengurus Cabang (PC) tingkat Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Acara digelar hari ini (15/12) hingga besok (16/12) di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur.
Acara dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Kepala OJK Regional IV Jawa Timur Bambang Mukti Riyadi dan Pimpinan Wilayah BNI Jatim Roy Wahyu Maulana.
Acara ini juga disertai kegiatan Literasi Keuangan Digital yang digelar berkat kerjasama antara PW Ansor Jawa Timur dan OJK Regional IV Jawa Timur. Acara ini juga menunjuk Cyber Ansor sebagai kader literasi keuangan digital dalam membantu tugas OJK untuk meningkatkan literasi keuangan khususnya secara digital.

Kepala OJK Regional IV Jawa Timur Bambang Mukti Riyadi dalam sambutannya mengatakan, bahwa generasi, khususnya generasi muda NU, memahami generasi media cyber.”Ansor adalah pilar NKRI, dan persaingan ekonomi dan digital harus diikuti, karena ini sangat penting sekali. Kepentingan kami menggandeng Ansor khususnya dibidang Cyber,” kata Bambang Mukti.
Kurangnya pemahaman terhadap literasi digital ini, akan bisa memberi dampak negatif.”Kita mempertahankan NKRI, ini jihad kita dibidang literasi digital dan keuangan,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak sangat penting anak-anak muda, khususnya kader Ansor Jawa Timur membuat akun media sosial yang membahas soal literasi keuangan.”Tapi harus hati-hati, misal mempromosikan saham tertentu, lalu sahamnya turun, Anda bisa dituntut, karena ini ada aturannya,” kata Emil.

Emil melanjutkan, kita harus bersepakat kalau bermain media sosial di dunia digital, harus diniati sebagai menebar manfaat.”Kita sama-sama sepakat kalau cyber Ansor ini bisa membuat channel yang beragam dan yang memberi manfaat,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua PW Ansor Jawa Timur Gus Syafiq Syauqi LC M.Ag dalam sambutannya mengatakan, dalam konsolidasi Badan Cyber ini, pihaknya menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur. Tujuannya, OJK mempunyai tujuan untuk melakukan literasi keuangan kepada masyarakat, khususnya anggota dan kader Ansor Jawa Timur.”Karena ada gap antara masyarakat yang mengakses keuangan dan yang melek literasi digital. Yang mengakses jasa keuangan seperti pinjam perbankan dan lain-lain, mencapai 90 persen, sedangkan yang melek literasi digital cuma 30 persen, ini sangat berbahaya karena bisa jadi nanti masyarakat banyak tertipu investasi bodong jika tdak melek literasi,” kata pria yang pernah menjabat sebagai Ketua PC GP Ansor Tuban ini.
Dia juga berharap, Badan Cyber ini bisa juga bermanfaat ekonomi kepada para kader Ansor Jawa Timur.”Tadi ada ide kita mau bikin crowdfunding atau urun dana, ini sangat bagus karena potensi bisnis di digital ini triliunan rupiah,” kata pria yang pernah menimba ilmu di Damaskus, Suriah ini. 

Hanya saja, kendati aspek ekonomi ditekankan, Ansor kata Gus Syafiq, juga perlu mengawal isu keagamaan.”Konten-konten moderat juga perlu kita buat, dan disebarluaskan secara masif,” katanya.”Kekuatan kita luar biasa, karena kita praktisi sosial yang gerakannya organik dan masif,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua PW Ansor Jawa Timur Habib Mahdi El Kherid mengatakan, konsolidasi Badan Cyber Ansor Jawa Timur ini merupakan follow up dari dibentuknya Badan Cyber oleh Pengurus Pusat (PP) GP Ansor dalam Konfrensi Besar (Konbes) di Bekasi 26-27 November 2022.

“Sebelumnya kami dari Jawa Timur yang mengusulkan Badan Cyber, dan akhirnya usulan itu ditetapkan sebagai sebuah keputusan, ini prestasi yang luar biasa,” kata Habib Mahdi dalam sambutannya.

Selain itu, PW Ansor Jatim juga pengurus wilayah pertama yang membentuk Badan Cyber.”Kita juga pertama dalam sejarah Ansor di dunia, yang menggelar Konsolidasi Badan Cyber,” katanya disambut riuh tepuk tangan.

Untuk pekerjaan rumah ke depan, Badan Cyber akan menyusun data base kader hingga tingkat ranting.”Kita juga akan terus mengawal dakwah digital yang rahmatal lil alamin di dunia maya,” imbuh peraih gelar sarjana dari UIN Malang dan master dari UIN Jember ini.
Share:

Rabu, 10 Agustus 2022

Kisah Ilmu Kanuragan Mbah Cholil Bisri Rembang


Bagi keluarga besar Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang, Maulud dan Rajab merupakan dua bulan yang istimewa. Di bulan Maulud, pesantren ini menyelenggarakan haul gede untuk memperingati wafatnya KH. Bisri Mustofa dan durriyyahnya dari atas-bawah hingga kiri-kanan. KH. Cholil Harun, KH. Suyuti Cholil, Nyai Ma’rufah Bisri Mustofa dan lain lain adalah nama-nama kiai-bu nyai yang menjadi bagian inti dari haul besar ini.

Biasanya diselenggarakan dalam beberapa hari, puncaknya adalah tahlil akbar di makam Mbah Bisri dan malamnya diadakan pengajian umum.

Sedang Rajab merupakan bulan lahir dan wafatnya KHM. Cholil Bisri (Mbah Cholil). Beliau lahir pada 27 Rajab 1263 H (12 Agustus 1941) dan meninggal pada 7 Rajab 1424 H bertepatan dengan 24 Agustus 2004. Pada bulan ini diadakan haul—kami menyebutnya sebagai haul cilik.

Peringatan wafatnya al-maghfurlah Mbah Cholil ini diadakan dengan sangat sederhana. Santri dan tetangga kiri-kanan hadir di rumah untuk membaca tahlil yang dihadiahkan untuk abah kami. Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya dan diampuni semua dosanya.

Pada Senin, 2 Maret 2020, keluarga besar Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang akan mengadakan haul cilik itu.

Selain untuk mendoakan beliau, haul juga momentum yang penting bagi keluarga dan santri untuk mengenang dan—kalau bisa—meneladani laku baik ketika beliau masih hidup.

Sekaligus mengingat kembali perjuangan beliau yang sudah dan yang belum dilakukan.

Tekadnya hanya satu, yakni melanjutkan perjuangan yang telah dimulai dan akan segera dilakukan. Syukur-syukur bisa menambahnya hingga menjadi lebih sempurna.

Putra sulung Mbah Bisri Mustofa dan Ny. Ma’rufah Cholil Harun ini lahir di Kasingan Rembang sebelum Indonesia merdeka. Era penjajahan masih berlangsung dan seluruh rakyat menderita karenanya.

Saat itu terjadi perpindahan kekuasaan dari penjajah Belanda beralih ke penjajah Jepang. Suhu politik memanas akibat tentara Jepang mendarat di pesisir-pesisir pantai termasuk Rembang. Perang setiap saat bisa saja terjadi.

Para santri yang mondok di Pesantren Kasingan asuhan KH. Cholil Harun juga terkena imbasnya. Mereka memilih atau disuruh pulang ke rumah masing-masing mengingat situasi yang genting.

Mbah Bisri Mustofa beserta keluarga kecilnya juga terpaksa mengungsi ke Sedan (salah satu kecamatan di Rembang yang terletak di bagian timur) untuk menghindari hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Dalam suasana mengungsi, serba kekurangan sudah menjadi karibnya setiap hari.

Memotong Jalan~

Kisah sedih sebagai pengungsi ini berulang lagi saat terjadi pemberontakan pertama PKI di Madiun 1948-1949. Pemberontakan ini lebih tepat disebut sebagai pengkhiatan PKI terhadap NKRI yang baru saja diproklamasikan pada 1945.

Pemimpin pengkhiatan itu, Muso dan Amir Syarifuddin seperti menggunting di lipatan, memotong jalan para pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan NKRI lalu ingin merampas di pinggir jalan.

Yang lebih menyakitkan, PKI menjadikan kiai dan santri sebagai musuh dan target pembunuhan.

Akibat ulah PKI ini, Mbah Cholil kecil beserta adiknya Gus Mus dan seluruh keluarga harus mengungsi ke Pare Kediri kurang lebih selama dua tahun. Hidup serba kekurangan dihadapi setiap hari.

Selain itu, Mbah Cholil beserta keluarga juga menerima ancaman pembunuhan dari PKI. Salah perhitungan atau terlambat sedikit saja, bisa jadi Mbah Bisri beserta keluarganya akan menjadi cerita semata.

Dua kali mengungsi dan beratnya hidup di masa revolusi, membuat Mbah Cholil harus mempersiapkan hidup dengan sebaik-baiknya. 

Pada saat belajar di Pesantren Lirboyo Kediri yang diasuh KH. Mahrus Ali, selain belajar kitab kuning (turats), kesukaan Mbah Cholil terhadap ilmu kanuragan mulai tumbuh.

Sebagaimana diceritakan KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya, putra sulung Mbah Cholil) pada waktu itu, Lirboyo masyhur sebagai gudangnya ilmu hikmah dan kanuragan.

Dua santri kakak-beradik, yakni Mbah Cholil dan adiknya Gus Mus, tidak ketinggalan ikut getol berlatih, mesu diri, tirakat, menekuni gemblengan dan mempelajari berbagai ilmu kejadugan.

Penampilan kedua santri muda mulai berubah dan mengikuti trend zamannya saat itu. Rambut gondrong sampai ke punggung pertanda tak mempan dicukur.

Baju khas pendekar dan berwarna hitam (baju kutung dan celana komprang sebatas dengkul). Memakai ikat kepala batik dan berterompah kayu (sandal teklek).

Suatu saat kesempatan untuk pulang ke Rembang tiba.

Dengan atribut kependekaran seperti itu, keduanya pulang menuju ke rumah. Dalam perjalanan, banyak orang disekitarnya yang segan melihat keduanya. Takut dikira menantang.

Begitu sampai di rumah, watak kependekarannya rontok seketika, ketika, tak disangka, Mbah Bisri, ayahanda mereka marah besar!

Segala pakaian dan atribut kependekaran mereka dilucuti dan dibakar. Termasuk rambutnya harus dicukur.

Untuk urusan rambut ini, Mbah Bisri harus turun tangan sendiri. Karena tak ada yang mampu mencukur rambut mereka—benar-benar jadug rupanya, Mbah Bisri memotong habis rambut mereka.

Pendek kata mereka divonis harus berhenti main jadug-jadugan!

Kenapa Mbah Bisri melakukan semua itu? “Aku saja cuma kiai, kok kalian mau jadi jadi wali” kata Mbah Bisri.

Mbah Cholil beserta adiknya Gus Mus akhirnya pindah mondok ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Dari sekian banyak atribuat kejadugan, ada satu yang tidak pernah ditinggalkan. Hingga akhir hayatnya,

Mbah Cholil selalu berteklek ketika di rumah.

Suara teklek ketika bersentuhan dengan tanah menjadi tanda merdu bagi santri untuk segera memulai ngaji. Tak…tok…tak…tok…

Lahul fātihah ... 
.
.
Sumber : FB Generasi Muda Nusantara
Share:

Jumat, 05 Agustus 2022

Dalil-dalil Cinta Tanah Air dari Al-Qur’an dan Hadits


Nasionalisme berasal dari kata nation (B. Inggris) yang berarti bangsa. Menuru ygt kamus besar bahasa Indonesia, kata bangsa memiliki beberapa arti: (1) kesatuan orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya serta berpemerintahan sendiri; (2) golongan manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan yang mempunyai asal usul yang sama dan sifat khas yang sama atau bersamaan, dan (3) kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum, dan biasanya menempati wilayah tertentu di muka bumi (Lukman Ali. Dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1994, hal. 98).
 
Istilah nasionalisme yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia memiliki dua pengertian: paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dan kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa. Nasionalisme dalam arti sempit dapat diartikan sebagai cinta tanah air. Selanjutnya, dalam tulisan ini yang dimaksud dengan nasionalisme yaitu nasionalisme dalam arti sempit.

Al-Jurjani dalam kitabnya al-Ta’rifat mendefinisikan tanah air dengan al-wathan al-ashli. 
 
اَلْوَطَنُ الْأَصْلِيُّ هُوَ مَوْلِدُ الرَّجُلِ وَالْبَلَدُ الَّذِي هُوَ فِيهِ 
 
Artinya; al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya. (Ali Al-Jurjani, al-Ta’rifat, Beirut, Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1405 H, halaman 327)
 
Dalil-dalil Cinta Tanah Air

Mencintai tanah air adalah hal yang sifatnya alami pada diri manusia. Karena sifatnya yang alamiah melekat pada diri manusia, maka hal tersebut tidak dilarang oleh agama Islam, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran/nilai-nilai Islam. 
 
Meskipun cinta tanah air bersifat alamiah, bukan berarti Islam tidak mengaturnya. Islam sebagai agama yang sempurna bagi kehidupan manusia mengatur fitrah manusia dalam mencintai tanah airnya, agar menjadi manusia yang dapat berperan secara maksimal dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, serta memiliki keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. 

Berkenaan dengan vonis bahwa cinta tanah air tidak ada dalilnya, maka guna menjawab vonis tersebut, perlu kiranya kita mencermati paparan ini. Berikut adalah dalil-dalil tentang bolehnya cinta tanah air:
 
1. Dalil Cinta Tanah Air Dari Al-Qur’an
 
Salah satu ayat Al-Qur’an yang menjadi dalil cinta tanah air menurut penuturan para ahli tafsir adalah Qur’an surat Al-Qashash ayat 85:
 
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ
 
Artinya: “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al Qashash: 85)
 
Para mufassir dalam menafsirkan kata "معاد" terbagi menjadi beberapa pendapat. Ada yang menafsirkan kata "معاد" dengan Makkah, akhirat, kematian, dan hari kiamat. Namun menurut Imam Fakhr Al-Din Al-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib, mengatakan bahwa pendapat yang lebih mendekati yaitu pendapat yang menafsirkan dengan Makkah.
 
Syekh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwathi (wafat 1127 H) dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan:
 
وفي تَفسيرِ الآيةِ إشَارَةٌ إلَى أنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإيمانِ، وكَانَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ كَثِيرًا: اَلْوَطَنَ الوَطَنَ، فَحَقَّقَ اللهُ سبحانه سُؤْلَهُ ....... قَالَ عُمَرُ رضى الله عنه لَوْلاَ حُبُّ الوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوءِ فَبِحُبِّ الأَوْطَانِ عُمِّرَتْ البُلْدَانُ.
 
Artinya: “Di dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash:85) terdapat suatu petunjuk atau isyarat bahwa “cinta tanah air sebagian dari iman”. Rasulullah SAW (dalam perjalanan hijrahnya menuju Madinah) banyak sekali menyebut kata; “tanah air, tanah air”, kemudian Allah SWT mewujudkan permohonannya (dengan kembali ke Makkah)….. Sahabat Umar RA berkata; “Jika bukan karena cinta tanah air, niscaya akan rusak negeri yang jelek (gersang), maka sebab cinta tanah air lah, dibangunlah negeri-negeri”. (Ismail Haqqi al-Hanafi, Ruhul Bayan, Beirut, Dar Al-Fikr, Juz 6, hal. 441-442)
 
Selanjutnya, ayat yang menjadi dalil cinta tanah air menurut ulama yaitu Al-Qur'an surat An-Nisa’ ayat 66.
 
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِم أَنِ اقْتُلُوْا أَنْفُسَكم أَوِ أخرُجُوا مِن دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوْه إِلَّا قليلٌ منهم 
 
Artinya: “Dan sesungguhnya jika seandainya Kami perintahkan kepada mereka (orang-orang munafik): ‘Bunuhlah diri kamu atau keluarlah dari kampung halaman kamu!’ niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka..." (QS. An-Nisa': 66).
 
Syekh Wahbah Al-Zuhaily dalam tafsirnya al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj menyebutkan: 
 
وفي قوله: (أَوِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ) إِيْمَاءٌ إِلىَ حُبِّ الوَطَنِ وتَعَلُّقِ النَّاسِ بِهِ، وَجَعَلَه قَرِيْنَ قَتْلِ النَّفْسِ، وَصُعُوْبَةِ الهِجْرَةِ مِنَ الأوْطَانِ. 
 
Artinya: “Di dalam firman-Nya (وِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ) terdapat isyarat akan cinta tanah air dan ketergantungan orang dengannya, dan Allah menjadikan keluar dari kampung halaman sebanding dengan bunuh diri, dan sulitnya hijrah dari tanah air.” (Wahbah Al-Zuhaily, al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj, Damaskus, Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir, 1418 H, Juz 5, hal. 144)
 
Pada kitabnya yang lain, Tafsir al-Wasith, Syekh Wahbah Al-Zuhaily mengatakan: 
 
وفي قَولِهِ تَعَالى: (أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيارِكُمْ) إِشَارَةٌ صَرِيْحَةٌ إلَى تَعَلُقِ النُفُوْسِ البَشَرِيَّةِ بِبِلادِها، وَإِلَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مُتَمَكِّنٌ فِي النُفُوْسِ وَمُتَعَلِقَةٌ بِهِ، لِأَنَّ اللهَ سُبْحانَهُ جَعَلَ الخُرُوْجَ مِنَ الدِّيَارِ وَالأَوْطانِ مُعَادِلاً وَمُقارِنًا قَتْلَ النَّفْسِ، فَكِلَا الأَمْرَيْنِ عَزِيْزٌ، وَلَا يُفَرِّطُ أغْلَبُ النَّاسِ بِذَرَّةٍ مِنْ تُرابِ الوَطَنِ مَهْمَا تَعَرَّضُوْا لِلْمَشَاقِّ والمَتَاعِبِ والمُضَايَقاتِ. 
 
Artinya: Di dalam firman Allah “keluarlah dari kampung halaman kamu” terdapat isyarat yang jelas akan ketergantungan hati manusia dengan negaranya, dan (isyarat) bahwa cinta tanah air adalah hal yang melekat di hati dan berhubungan dengannya. Karena Allah SWT menjadikan keluar dari kampung halaman dan tanah air, setara dan sebanding dengan bunuh diri. Kedua hal tersebut sama beratnya. Kebanyakan orang tidak akan membiarkan sedikitpun tanah dari negaranya manakala mereka dihadapkan pada penderitaan, ancaman, dan gangguan.” (Wahbah Al-Zuhaily, Tafsir al-Wasith, Damaskus, Dar Al-Fikr, 1422 H, Juz 1, hal. 342)
 
Ayat Al-Qur’an selanjutnya yang menjadi dalil cinta tanah air, menurut ahli tafsir kontemporer, Syekh Muhammad Mahmud Al-Hijazi yaitu pada QS. At-Taubah ayat 122.
 
وَما كانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
 
Artinya: Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)
 
Syekh Muhammad Mahmud al-Hijazi dalam Tafsir al-Wadlih menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:
 
وتُشِيرُ الآيةُ إلى أنَّ تَعَلُّمَ العلمِ أَمْرٌ واجِبٌ على الأمَّةِ جَميعًا وُجُوبًا لا يَقِلُّ عَن وُجوبِ الجِهادِ والدِّفاعُ عَنِ الوَطَنِ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ، فَإِنَّ الوَطَنَ يَحْتاجُ إلى مَنْ يُناضِلُ عَنْهُ بِالسَّيفِ وَإِلَى مَنْ يُنَاضِلُ عَنْهُ بِالْحُجَّةِ وَالبُرْهَانِ، بَلْ إِنَّ تَقْوِيَةَ الرُّوحِ المَعْنَوِيَّةِ، وغَرْسَ الوَطَنِيَّةِ وَحُبِّ التَّضْحِيَةِ، وَخَلْقَ جِيْلٍ يَرَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإِيمَانِ، وَأَنَّ الدِّفَاعَ عَنْهُ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ. هَذَا أَسَاسُ بِنَاءِ الأُمَّةِ، ودَعَامَةُ اسْتِقْلَالِهَا. 
 
Artinya: “Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa belajar ilmu adalah suatu kewajiban bagi umat secara keseluruhan, kewajiban yang tidak mengurangi kewajiban jihad, dan mempertahankan tanah air juga merupakan kewajiban yang suci. Karena tanah air membutuhkan orang yang berjuang dengan pedang (senjata), dan juga orang yang berjuang dengan argumentasi dan dalil. Bahwasannya memperkokoh moralitas jiwa, menanamkan nasionalisme dan gemar berkorban, mencetak generasi yang berwawasan ‘cinta tanah air sebagian dari iman’, serta mempertahankannya (tanah air) adalah kewajiban yang suci. Inilah pondasi bangunan umat dan pilar kemerdekaan mereka.” (Muhammad Mahmud al-Hijazi, Tafsir al-Wadlih, Beirut, Dar Al-Jil Al-Jadid, 1413 H, Juz 2, hal. 30)
 
Ayat-ayat di atas sebagaimana telah jelaskan oleh para mufassir dalam kitab tafsirnya masing-masing merupakan dalil cinta tanah air di dalam Al-Qur’an Al-Karim.
 
2. Dalil Cinta Tanah Air dari Hadits
 
Berikut ini adalah hadits-hadits yang menjadi dalil cinta tanah air menurut penjelasan para ulama ahli hadits, yang dikupas tuntas secara gamblang: 
 
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا ....... وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الوَطَنِ والحَنِينِ إِلَيْهِ
 
Artinya: “Diriwayatkan dari sahabat Anas; bahwa Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. (HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi).
 
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany (wafat 852 H) dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari (Beirut, Dar Al-Ma’rifah, 1379 H, Juz 3, hal. 621), menegaskan bahwa dalam hadits tersebut terdapat dalil (petunjuk): pertama, dalil atas keutamaan kota Madinah; kedua, dalil disyariatkannya cinta tanah air dan rindu padanya.
 
Sependapat dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar, Badr Al-Din Al-Aini (wafat 855 H) dalam kitabnya ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari menyatakan:
 
وَفِيه: دَلَالَة عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الوَطَنِ وَاْلحِنَّةِ إِلَيْهِ
 
Artinya; “Di dalamnya (hadits) terdapat dalil (petunjuk) atas keutamaan Madinah, dan (petunjuk) atas disyari’atkannya cinta tanah air dan rindu padanya.” (Badr Al-Din Al-Aini, Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 10, hal. 135)
 
Imam Jalaluddin Al-Suyuthi (wafat 911 H) dalam kitabnya Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih menyebutkan: 
 
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي حُمَيْدٌ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا»، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: زَادَ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ: حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا. حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: جُدُرَاتِ، تَابَعَهُ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ. (درجات): بفتح المهملة والراء والجيم، جمع "درجة"، وهي طرقها المرتفعة، وللمستملي: "دوحات" بسكون الواو، وحاء مهملة جمع دوحة، وهي الشجرة العظيمة. (أوضع): أسرع السير. (مِنْ حُبِّها) أي: المدينةِ، فِيْهِ مَشْرُوعِيَّةُ حُبِّ الوَطَنِ والحَنينِ إليه 
 
Artinya: “Bercerita kepadaku Sa’id ibn Abi Maryam, bercerita padaku Muhammad bin Ja’far, ia berkata: mengkabarkan padaku Humaid, bahwasannya ia mendengan Anas RA berkata: Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat tanjakan-tanjakan Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya. Berkata Abu Abdillah: Harits bin Umair, dari Humaid: beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. Bercerita kepadaku Qutaibah, bercerita padaku Ismail dari Humaid dari Anas, ia berkata: dinding-dinding. Harits bin Umair mengikutinya.” (Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih, Riyad, Maktabah Al-Rusyd, 1998, Juz 3, hal. 1360)
 
Sependapat dengan Ibn Hajar Al-Asqalany, Imam Suyuthi di dalam menjelaskan hadits sahabat Anas di atas, memberikan komentar: di dalamnya (hadits tersebut) terdapat unsur disyari’atkannya cinta tanah air dan merindukannya.
 
Ungkapan yang sama juga disampaikan oleh Syekh Abu Al Ula Muhammad Abd Al-Rahman Al-Mubarakfuri (wafat 1353 H), dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi Syarh at-Tirmidzi (Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Juz 9, hal. 283) berikut:
 
وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الْوَطَنِ وَالْحَنِينِ إِلَيْهِ .
 
Hadits berikutnya yang menjadi dalil cinta tanah air yaitu hadits riwayat Ibn Ishaq, sebagimana disampaikan Abu Al-Qosim Syihabuddin Abdurrahman bin Ismail yang masyhur dengan Abu Syamah (wafat 665 H) dalam kitabnya Syarhul Hadits al-Muqtafa fi Mab’atsil Nabi al-Mushtafa berikut: 
 
قَالَ السُّهَيْلِي: " وَفِي حَدِيْثِ وَرَقَةَ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - لَتُكَذَّبَنَّهْ، فَلَمْ يَقُلْ لَهُ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - شَيْئاً، ثُمَّ قَالَ: وَلَتُؤْذَيَنَّهْ، فَلَمْ يَقُلْ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - شَيْئاً، ثُمَّ قَالَ: وَلَتُخْرَجَنَّهْ، فَقَالَ: َأوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ؟ فَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى حُبِّ اْلوَطَنِ وَشِدَّةِ مُفَارَقَتِهِ عَلَى النَّفْسِ.
 
“Al-Suhaily berkata: Dan di dalam hadits (tentang) Waraqah, bahwasanya ia berakata kepada Rasulullah SAW; sungguh engkau akan didustakan, Nabi tidak berkata sedikitpun. Lalu ia berkata lagi; dan sungguh engkau akan disakiti, Nabi pun tidak berkata apapun. Lalu ia berkata; sungguh engkau akan diusir. Kemudian Nabi menjawab: “Apa mereka akan mengusirku?”. Al-Suhaily menyatakan di sinilah terdapat dalil atas cinta tanah air dan beratnya memisahkannya dari hati.” (Abu Syamah, Syarhul Hadits al-Muqtafa fi Mab’atsil Nabi al-Mushtafa, Maktabah al-Umrin Al-Ilmiyah, 1999, hal. 163)
 
Abdurrahim bin Husain Al-Iraqi (wafat 806 H) di dalam kitabnya Tatsrib fi Syarh Taqribil Asanid wa Tartibil Masanid, pada hadits yang sama, juga mengutip pendapatnya Al-Suhaily: 
 
فَقَالَ السُّهَيْلِيُّ فِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى حُبِّ الْوَطَنِ وَشِدَّةِ مُفَارَقَتِهِ عَلَى النَّفْسِ. 
 
Artinya: “Al-Suhaily berkata: di sinilah terdapat dalil atas cinta tanah air dan beratnya memisahkannya dari hati.” (Abdurrahim Al-Iraqi, Tatsrib fi Syarh Taqribil Asanid wa Tartibil Masanid, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 4, hal. 196)
 
Pemaparan di atas menunjukkan bahwa cinta tanah air memiliki dalil yang bersumber dari Qur’an dan Hadits, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama seperti; Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalany, Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Abdurrahim al-Iraqi, Syekh Ismail Haqqi al-Hanafi, dan yang lainnya. Sehingga vonis cinta tanah air tidak dalilnya, jelas tidak benar dan tidak berdasar. 

--------------
Supriyono,Wakil Sekretaris PC GP Ansor Bidang litbang Kabupaten Kudus. 
Ansor Banser Nusantara.
Share:

Rabu, 06 Juli 2022

ALASAN GUS MUS AKTIF DI MEDIA SOSIAL


Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri adalah salah satu ulama yang cukup aktif mengisi ruang media sosial.

Gus Mus sapaan akrabnya kini sudah berusia 77 tahun. Meskipun tidak setiap hari, Gus Mus setidaknya setiap hari Jumat bisa dipastikan mengunggah kalimat-kalimat sarat hikmah.
Pengikut setiap media sosialnya yang dimiliki juga tak sedikit, akun twitternya diketahui punya follower 2,4 juta lebih.

Gus Mus menegaskan, bahwa tokoh masyarakat, kiai, ulama, dan santri tidak boleh anti terhadap media sosial. Pasalnya, media sosial saat ini punya pengaruh besar dalam kehidupan manusia.

Sementara menurutnya, orang yang saat ini menguasai media sosial masih didominasi oleh orang-orang yang tidak punya ilmu memadai, terutama dalam bidang pengetahuan agama.

Menurut Gus Mus, media sosial tidak boleh dianggap remeh.

Kiai dalam pandangannya harus aktif mengisi ruang-ruang media sosial dengan pengetahuan-pengetahuan agama, khususnya yang saat ini dibutuhkan masyarakat luas.
Share:

Senin, 04 Juli 2022

Kiai Pesantren vs Kiai Langgar


Tanpa mengecilkan takzim sy kepada kiai-kiai pengasuh pondok yang mengasuh ratusan atau bahkan ribuan santri, sy sangat hormat kepada yang namanya kiai langgar. Beberapa menyebut mereka kiai kentongan, atau, menurut Gus Dur, kiai kampung. Sy kira, semua dari kita pun semestinya juga demikian.

Kepada kiai-kiai pengasuh pesantren, sudah barang tentu kita harus hormat. Sebab mereka adalah alim-allamah yang menjaga eksistensi ilmu agama. Tanpa mereka, dunia berakhir. Lantas apa alasan kita harus hormat kepada kiai langgar?

Ada banyak alasan untuk itu. Pertama, siapa yang mengajari anak-anak kecil agar mampu membaca alif-ba-ta, termasuk akidah dan fikih dasar, kalau bukan kiai langgar? Pesantren-pesantren besar umumnya tidak menyediakan pengajaran itu. Mereka hanya mau menerima calon santri yang sudah menyelesaikan kurikulum dasar tersebut. Nah, kiai langgar lah yang mengajari anak-anak calon santri agar bisa diterima di pesantren.

Bagaimana dengan kiai kampung yang tidak menyelenggarakan TPA? Lah, lantas siapa lagi yang membuka 'mindset' para masyarakat atau orang tua agar mau memondokkan anaknya, kalau bukan mereka?

Alasan kedua, adalah tentang ketelatenan dalam berdakwah. 

Dalam keseharian, kiai pesantren berjibaku pada kitab-kitab, baik untuk murajaah maupun mempelajari kitab baru, juga menghadapi para santri untuk mengajarnya. Sementara yang dihadapi kiai langgar atau kiai kampung adalah masyarakat atau jamaahnya, juga anak-anak TPA.

Nah, yang namanya kitab—yang digeluti kiai pesantren, bagaimanapun adalah 'benda mati', yang tidak memiliki kehendak. Sedangkan santri, meski mereka adalah manusia yang memiliki kehendak, adalah individu-individu yang "sam'an wa tha'atan", yang tidak ada kata selain "siap laksanakan" apabila berinteraksi dengan kiai. 

Sementara yang dihadapi kiai kampung atau kiai langgar adalah jamaah atau masyarakat dan anak-anak. Mereka awam. Tiap-tiap dari mereka memiliki kehendak yang mungkin berbeda satu sama lain. Mereka juga tidak mengenal kata "sami'na wa atha'na". Bayangkan sendiri bagaimana "mudah"-nya menghadapi masyarakat yang demikian.

Oleh karena itu, dalam mengelola lembaga pendidikan dan tempat berikut praktik ibadah di langgar dan TPA agar benar-benar sesuai dengan syariat, misalnya, tidak semudah di pesantren. (Maka jangan heran apabila salat di langgar-langgar kampung diimami oleh orang yang masih belepotan bacaan al-Qurannya).

Alasan selanjutnya adalah privillige. Kiai pesantren memperoleh kehormatan tidak hanya dari ribuan santrinya saja tetapi juga dari penguasa dan pelaku politik. Masyarakat umum, pada akhirnya (melalui testimoni para penguasa, termasuk efek media), juga menaruh hormat pada mereka. Banser pun berebut ingin mengawalnya. Kalau perlu terjunkan personil dari kesatuan terbaik. Kendaraan untuk menjemput-antar, jika perlu, dicarikan yang terbaik.

Bandingkan dengan kiai langgar. Seberapa besar privillige yang mereka peroleh jika dibandingkan dengan kiai pesantren? Juga adakah kiai langgar yang di garasinya terdapat Alphard atau Pajero Sport? (Hal-hal seperti ini, kan, yang cenderung dilihat oleh orang awam?)

Kemudian dengan ratusan atau ribuan santri—sebagaimana kita tahu budaya politik kita hari ini—kiai pesantren merupakan magnet yang kuat bagi penguasa dan para pelaku politik. Orang-orang yang memiliki kewenangan untuk "menata" kebijakan, termasuk anggaran, berebut untuk mencari testimoni dari kiai-kiai pesantren. Maka tidak perlu heran jika mereka relatif tidak perlu pusing apabila sekedar ingin membangun bangunan pondok, atau menggelar suatu acara. Bahkan tidak jarang pula yang mampu membeli lahan berhektar-hektar.

Sementara bagi kiai langgar atau kiai kampung, untuk merenovasi tembok langgar atau TPA-nya saja terkadang harus mempertaruhkan ''harga diri"-nya dengan membuat dan "ider" proposal. Apabila proposal tersebut diberikan ke penguasa, yang didapat hanya janji dan janji, yang mungkin akan ditepati hanya saat musim kampanye.

Memang, kemuliaan-kemuliaan yang didapat kiai pesantren merupakan buah dari ilmu yang mereka miliki, yang mereka raih dari laku riyadah (perjuangan) nan istikamah bertahun-tahun sebelumnya—termasuk riyadah dari pendahulunya. Sedangkan pesantren adalah lembaga pendidikan yang mapan karena dijangkari oleh orang-orang yang alim-allamah sepanjang waktu. 

Namun, sekali lagi—maksud tulisan ini—penghormatan kita kepada kiai langgar jangan sampai kalah dibandingkan penghormatan kita kepada kiai pesantren. Kalau perlu, jangan hanya kepada kiai-kiai pesantren saja kita sungkem atau cium tangan wolak-walik, tetapi kepada kiai langgar juga. 

Mengutip guyonan Gus Baha', barakahnya santri-santri yang kurang alim lah, agama bisa menyebar dan berkembang hingga ke desa bahkan ke daerah/daerah terpencil.

*
Oleh : Androw Dzulfikar
Share:

Rabu, 15 Juni 2022

Rencana Deklarasi IKA GP Ansor. Gus Syafiq: Gerakan Tidak Produktif dan Tidak Membangun Organisasi


Anwalin News - Beredarnya broadcst undangan deklarasi Ikatan Alumni GP Ansor (IKA GP Ansor) yang dalam informasi tersebut akan dilangsungkan di surabaya, telah membuat banyak pihak bersuara. 

Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur, melalui ketuanya, Gus Syafiq Syauqi meminta kepada semua pihak untuk tidak membuat gerakan diluar sistem organisasi GP Ansor. 

Dalam pernyataannya, Gus Syafiq menilai bahwa gerakan untuk membentuk IKA GP Ansor yang menjadi isu hangat hari ini adalah gerakan yang tidak produktif bagi organisasi, ia menilai saat ini yang dibutuhkan oleh GP Ansor bukan membentuk wadah alumni, tapi revitalisasi peran keumatan dan kebangsaan di tengah surplus anak muda dan tantangan era disrupsi. 

"Kita membaca dan menyimak dengan seksama bahwa rencana deklarasi IKA GP Ansor ini telah menjadi isu dan perbincangan keluarga besar Ansor, sangat disayangkan jika kemudian diskursus kita sebagai kader fokus pada hal yang tidak substansial seperti ini. Harusnya diskusi kita dan gagasan kita lebih progressif dan bermutu" Ujar Gus Syafiq. 

Terlebih Gus Syafiq juga mendengar informasi bahwa pembentukan IKA GP Ansor itu tujuannya adalah pragmatis dan jangka pendek. 

"Kita juga mencari informasi tentang ini, bahwa memang ada informasi dan analisis bahwa IKA GP Ansor ini tujuannya adalah politis menyambut kontestasi 2024. Semoga semuanya kembali pada frame besar bahwa GP Ansor adalah Organisasi Idealis yang membawa misi besar Islam dan Indonesia" Imbuhnya. 

Seperti diketahui bahwa rencana deklarasi yang bakal digelar di Parkir Barat Museum NU Kota Surabaya tersebut di luar sepengetahuan dan garis organisasi GP Ansor.

Gus Syafiq berharap kepada siapapun yang hendak melakukan deklarasi itu untuk memgurungkan niat dan kembali kepada tatanan organisasi yang selama ini sudah sangat baik. 

"Kepada para penggagas, kami harap ini untuk segera diakhiri, GP Ansor butuh ide gagasan lain untuk kebesaran organisasi, bukan gagasan yang belum lahir saja sudah bikin gaduh dan tidak produktif" Pungkasnya.


Sumber Berita: ansorjatim.or.id
Share:

Senin, 25 April 2022

Infinity legacy; Apa itu Virtual Reality, Oculus dan Metaverse?


Mungkin banyak yang bertanya hal yang sama, Ketum memakai kacamata VR dan kita membatin dalam hati, apa ya yang dilihat?

Sebelum kesitu, sedikit penjelasan tentang alam Virtual Reality (VR). Sebuah semesta digital yang persepsinya 360 derajat alias sama sepeerti dunia yang kita lihat, rasakan, dengar dan alami.

Ketika kita bebas mengarahkan pandangan tak terbatas ke segala arah, melihat apapun sejauh mata memandang. Demikian juga dunia VR, sebuah alam sadar baru yang diciptakan menggunakan tehnologi dengan tujuan menyingkat ruang dan waktu menjadi satu dalam sebuah cangkang digital.

Karena waktu sangat berharga, maka dunia VR adalah jawaban, saat ini kita mengenal zoom atau google meet yang menyatukan kita dalam sebuah layar. Membicarakan strategi, ngobrol santai, rapat tanpa harus bertemu secara fisik.

Dunia VR menawarkan kelengkapan baru, dimana dalam ruang VR tanpa batas ini kita bisa melokukan nyaris segalanya kecuali kontak langsung. Yang selama ini hanya menjadi fantasi, bisa dicecap dengan nyata. Saling bertukar data, menuju ke pasar digital, menuju ruang pameran, menuju sebuah ruang privat, bermain, nobar, apel Banser, memancing, memasak dan semua hal yang bisa dilakukan secara fisik. 

Kata kuncinya: 

SEMUA YANG BISA DILAKUKAN DI DUNIA FANA BISA DILAKUKAN DI DUNIA VIRTUAL. KECUALI BERSENTUHAN.

Gus Yaqut mencanangkan transformasi medan juang di tahun 2021, ciptakan sesuatu yang mendunia dan bermanfaat bagi kader. Sebuah pesan holistik tentang khidmat tanpa henti bagi kader Ansor Banser di seluruh Dunia.

Jawabannya ada di tahun 2022 ketika Gerakan Pemuda Ansor memasuki era Digitalisai. Mulai dari membangun digitisasi mengubah semua yang berbau kertas menjadi PDF yaitu SK yang tidak lagi memakai kertas yang rawan pemalsuan sampai database kader yang diklasterisasi dengan kaidah digital. 

Kemudian momentum harlah ke-88 GP Ansor yang mengenalkan Ansor Virtual Expo. Sebuah ruangb tanpa batas yang akan mengakomodasi ruang-ruang di Kantor Pimpinan Pusat dan juga membangun sebuah marketplace bagi Kader. Mulai kegiatan rapat harian, rapat koordinasi, apel Banser, seminar, bazar bahkan konferensi bisa dilakukan di “Kantor Virtual” PP GP Ansor di metaverse (Alam virtual besar terintergrasi dengan platform medsos terbesar)

Saat harlah ditampilkan sebuah bangunan yang sudah jadi dan terus dikembangkan selama 1 tahun kedepan menjadi marketplace untuk Kader. 

Untuk menyingkat cerita diatas, inilah yang ditampilkan di kacamata virtual yang dipakai Gus Ketum, dan bisa juga diakses menggunakan laptop di harlah88.ansor.id

Inilah sebuah warisan dari Gus Yaqut yang tanpa batas dan akan terus dikembangkan menuju kemaslahatan Kader dan juga berkontribusi untuk bangsa. Sebagai implementasi dari “Jangan Lelah Mencintai Indonesia”

Berkhidmat tanpa batas.


Sumber : FB. Gerakan Pemuda Ansor
Share:

Minggu, 24 April 2022

HARLAH KE-88 GERAKAN PEMUDA ANSOR


Sejarah lahirnya GP Ansor tidak terlepas dari sejarah kelahiran NU itu sendiri. Pada tahun 1921 telah muncul ide untuk mendirikan organisasi pemuda secara intensif. Hal itu juga didorong oleh kondisi saat itu, banyak muncul organisasi pemuda bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Minahasa, dll. Terlepas dari itu, muncul perbedaan pendapat antara kaum modernis dan tradisionalis yang disebabkan oleh perbedaan pendapat masalah mazhab dan masalah furu'iyah lainnya.

Pada tahun 1924, KH. A. Wahab Hasbullah membentuk organisasi sendiri bernama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) yang dipimpin oleh KH. Abdullah Ubaid sebagai Ketua dan KH. Thohir Bakri sebagai Wakil Ketua, serta KH. Abdurrahim selaku sekretaris.

Setelah mulai banyak remaja yang ingin bergabung Syubbanul Wathan, maka pengurus membuat sesi khusus mengurus mereka yang lebih mengarah kepada kepanduan yang disebut “Ahlul Wathan”.

Kemudian atas inisiatif KH. Abdullah Ubaid, pada tahun 1931 terbentuklah Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama (PPNU) dan pada 14 Desember 1932, PPNU berubah nama menjadi Pemuda Nahdlatul Ulama (PNU). Pada tahun 1934 berubah lagi menjadi Ansor Nahdlatul Oelama (ANO). Sampai sini meski ANO sudah diakui sebagai bagian dari NU, namun secara formal belum tercantum dalam struktur dan Banom NU.

Nama Ansor merupakan saran KH. A. Wahab Hasbullah yang diambil dari nama kehormatan dari Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan Islam dan Negeri. Dengan demikian, ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah dan teladan terhadap sikap, perilaku, dan semangat perjuangan para sahabat Nabi Muhammmad yang mendapat sebutan "Ansor " tersebut. Gerakan ANO (yang kini disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagai penolong, pejuang, dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan, dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).

Pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi yang dipimpin oleh KH. Saleh Lateng, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934 M, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: KH. Thohir Bakri sebagai Ketua, KH. Abdullah Ubaid sebagai Wakil Ketua, H. Achmad Barawi dan Abdus Salam sebagai Sekretaris.

Dalam perkembangannya secara diam-diam, khususnya ANO Cabang Malang mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut BANOE (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kini disebut BANSER (Barisan Serbaguna). Dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937, BANOE menunjukkan kebolehan pertama kalinya dalam baris-berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor TNI Hamid Roesdi. Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah didirikannya BANOE di tiap cabang ANO. Selain itu, menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal BANOE.

Pada masa penjajahan Jepang, organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh Jepang termasuk ANO. Kemudian tokoh ANO Cabang Surabaya, Moh. Chusaini Tiway mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO dan mendapat respon positif dari KH. Wachid Hasyim (Menteri Agama RIS kala itu), maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor atau disingkat GP Ansor.

GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikan rupa menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman, dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa. Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.

Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional.

Selamat Harlah 88 Gerakan Pemuda Ansor
Share:

Kamis, 21 April 2022

Jokowi: Jangan Ada yang Merasa Lebih Suci dari yang Lain


Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta tak ada kelompok masyarakat yang merasa lebih suci dari kelompok masyarakat yang lain.

Jokowi mengatakan keberagaman bangsa Indonesia merupakan karunia Tuhan. Dia meyakini setiap elemen bangsa memiliki kebaikan dan kelebihannya masing-masing.

"Jangan sampai ada di antara kiita yang merasa lebih dari yang lain, merasa lebih baik dari yang lain, atau bahkan lebih suci dari yang lain. Kita mungkin berbeda dari yang lain, tapi bukan berarti kita merasa lebih dari yang lain," kata Jokowi dalam Peringatan Nuzulul Quran Tingkat Kenegaraan di Jakarta, Selasa (19/4).

Dia percaya perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan sebuah ketetapan Tuhan. Menurut Jokowi, bangsa Indonesia harus bersyukur dan menerima pemberian itu dengan lapang dada.

Jokowi menyampaikan perbedaan yang ada harus dirawat dan dikelola dengan baik. Dengan demikian, bangsa Indonesia bisa membangun kebersamaan dengan semangat saling melengkapi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta dan Wali Kota Solo itu mengatakan kebaikan dari setiap elemen bangsa perlu dikedepankan dalam kehidupan bernegara di Indonesia. Dengan cara itu, setiap anak bangsa bisa berkontribusi demi kemanfaatan bersama.

"Saya mengajak umat Islam untuk menjadikan peringatan nuzulul quran ini sebagai momentum untuk memperkuat kebersamaan dalam keragaman yang sangat dibutuhkan dalam mewujudkan negeri dan bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur," ujarnya.
Share:

Senin, 18 April 2022

17 RAMADHAN HAUL AHLI BADAR


Pada tanggal 17 Ramadhan terjadi peristiwa besar dalam islam, yaitu "Perang Badr".

Para Ulama' mengatakan bahwa Allah sangat mencintai ahli Badr sehingga siapa yang membaca nama semua 313 pejuang Badar dan kemudian berdoa -Dia akan mendapati doa doanya dikabulkan- insha Allâh Mujarrab, banyak sekali Wali Allâh memperoleh derajat kewaliannya sebab barokah nama mereka dan banyak sekali orang-orang yang sakit meminta kesembuhan Allâh dengan lantaran mereka lalu mereka diberi kesembuhan oleh Allâh dst...

Berikut nama2 Shahabat yg ikut PERANG BADR bersama Baginda Nabi Muhammad ﷺ :

1. Sayyiduna Muhammad Rosululloh ﷺ
2. Abu Bakr ash-Shiddiq r.a.
3. 'Umar bin Khoththob r.a.
4. 'Utsman bin 'Affan r.a.
5. 'Ali bin Abi Tholib r.a.
6. Tholhah bin ‘Ubaidillah r.a.
7. Bilal bin Robbah r.a.
8. Hamzah bin 'Abdul Muththolib r.a.
9. 'Abdulloh bin Jahsyi r.a.
10. Zubair bin Awwam r.a.
11. Mus’ab bin 'Umair bin Hasyim r.a.
12. 'Abdurrohman bin ‘Auf r.a.
13. 'Abdulloh bin Mas’ud r.a.
14. Sa’ad bin Abi Waqqos r.a.
15. Abu Kabsyah al-Faris r.a.
16. Anasah al-Habsyi r.a.
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi r.a.
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi r.a.
19. Abu Marthad al-Ghanawi r.a.
20. Husain bin Harits bin 'Abdul Muththolib r.a.
21. ‘Ubaidah bin Harits bin 'Abdul Muththolib r.a.
22. Tufail bin Harits bin 'Abdul Muththolib r.a.
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin 'Abdul Muththolib r.a.
24. Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Robi’ah r.a.
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) r.a.
26. Salim (maula Abu Hudzaifah) r.a.
27. Sinan bin Muhsin r.a.
28. ‘Ukasyah bin Muhsin r.a.
29. Sinan bin Abi Sinan r.a.
30. Abu Sinan bin Muhsin r.a.
31. Syuja’ bin Wahab r.a.
32. ‘Utbah bin Wahab r.a.
33. Yazid bin Ruqais r.a.
34. Muhriz bin Nadhlah r.a.
35. Robi’ah bin Aksam r.a.
36. Thoqfu bin Amir r.a.
37. Malik bin Amir r.a.
38. Mudlij bin Amir r.a.
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i r.a.
40. ‘Utbah bin Ghazwan r.a.
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) r.a.
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi r.a.
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) r.a.
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah r.a.
45. Umair bin Abi Waqqas r.a.
46. al-Miqdad bin ‘Amru r.a.
47. Mas’ud bin Robi’ah r.a.
48. Zus Syimalain 'Amru bin 'Amru r.a.
49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi r.a.
50. Amir bin Fuhairah r.a.
51. Suhaib bin Sinan r.a.
52. Abu Salamah bin 'Abdul Asad r.a.
53. Syammas bin Uthman r.a.
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a.
55. Ammar bin Yasir r.a.
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i r.a.
57. Zaid bin Khoththob r.a.
58. Amru bin Suraqah r.a.
59. 'Abdullah bin Suraqah r.a.
60. Sa’id bin Zaid bin Amru r.a.
61. Mihja bin Akk (maula 'Umar bin Khoththob) r.a.
62. Waqid bin 'Abdullah al-Tamimi r.a.
63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
65. Amir bin Rabi’ah r.a.
66. Amir bin al-Bukair r.a.
67. 'Aqil bin al-Bukair r.a.
68. Khalid bin al-Bukair r.a.
69. Iyas bin al-Bukair r.a.
70. Utsman bin Maz’un r.a.
71. Qudamah bin Maz’un r.a.
72. 'Abdullah bin Maz’un r.a.
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un r.a.
74. Ma’mar bin al-Harits r.a.
75. Khunais bin Huzafah r.a.
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm r.a.
77. 'Abdullah bin Makhramah r.a.
78. 'Abdullah bin Suhail bin Amru r.a.
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah r.a.
80. Hatib bin Amru r.a.
81. 'Umair bin Auf r.a.
82. Sa’ad bin Khaulah r.a.
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah r.a.
84. Amru bin al-Harits r.a.
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah r.a.
86. Safwan bin Wahab r.a.
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah r.a.
88. Sa’ad bin Muaz r.a.
89. Amru bin Muaz r.a.
90. Al-Harits bin Aus r.a.
91. Al-Harits bin Anas r.a.
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik r.a.
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi r.a.
94. ‘Ubbad bin Waqsyi r.a.
95. Salamah bin Tsabit bin Waqsyi r.a.
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz r.a.
97. Al-Harits bin Khazamah bin ‘Adi r.a.
98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj r.a.
99. Salamah bin Aslam bin Harisy r.a.
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan r.a.
101. ‘Ubaid bin Tayyihan r.a.
102. 'Abdullah bin Sahl r.a.
103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid r.a.
104. 'Ubaid bin Aus r.a.
105. Nasr bin al-Harits bin ‘Abd r.a.
106. Mu’attib bin ‘Ubaid r.a.
107. 'Abdullah bin Thoriq al-Ba’lawi r.a.
108. Mas’ud bin Sa’ad r.a.
109. Abu Absi Jabr bin Amru r.a.
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi r.a.
111. Asim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah r.a.
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail r.a.
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid r.a.
114. 'Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar r.a.
115. Sahl bin Hunaif bin Wahib r.a.
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir r.a.
117. Mubasyir bin Abdul Munzir r.a.
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir r.a.
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man r.a.
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy r.a.
121. Rafi’ bin Anjadah r.a.
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid r.a.
123. Tsa’labah bin Hatib r.a.
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah r.a.
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi r.a.
126. Tsabit bin Akhram al-Ba’lawi r.a.
127. Zaid bin Aslam bin Tsa’labah al-Ba’lawi r.a.
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi r.a.
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi r.a.
130. Jubr bin ‘Atik r.a.
131. Malik bin Numailah al-Muzani r.a.
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi r.a.
133. 'Abdullah bin Jubair r.a.
134. Asim bin Qais bin Tsabit r.a.
135. Abu Dhayyah bin Tsabit bin al-Nu’man r.a.
136. Abu Hayyah bin Tsabit bin al-Nu’man r.a.
137. Salim bin Amir bin Tsabit r.a.
138. Al-Harits bin al-Nu’man bin Umayyah r.a.
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man r.a.
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah r.a.
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tsa’labah r.a.
142. Sa’ad bin Khaithamah r.a.
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah r.a.
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) r.a.
145. Al-Harith bin Arfajah r.a.
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair r.a.
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru r.a.
148. 'Abdullah bin Rawahah r.a.
149. Khallad bin Suwaid bin Tsa’labah r.a.
150. Basyir bin Sa’ad bin Tsa’labah r.a.
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tsa’labah r.a.
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah r.a.
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah r.a.
154. 'Abdullah bin Abbas r.a.
155. Yazid bin al-Harits bin Qais r.a.
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah r.a.
157. 'Abdullah bin Zaid bin Tsa’labah r.a.
158. Huraith bin Zaid bin Tsa’labah r.a.
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru r.a.
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais r.a.
161. 'Abdullah bin 'Umair r.a.
162. Zaid bin al-Marini bin Qais r.a.
163. 'Abdullah bin ‘Urfutah r.a.
164. 'Abdullah bin Rabi’ bin Qais r.a.
165. 'Abdullah bin 'Abdullah bin Ubai r.a.
166. Aus bin Khauli bin 'Abdullah r.a.
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru r.a.
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah r.a.
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid r.a.
170. Amir bin Salamah r.a.
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad r.a.
172. Amir bin al-Bukair r.a.
173. Naufal bin 'Abdullah bin Nadhlah r.a.
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan r.a.
175. ‘Ubadah bin al-Somit r.a.
176. Aus bin al-Somit r.a.
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tsa’labah r.a.
178. Tsabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus r.a.
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah r.a.
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam r.a.
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam r.a.
182. Amru bin Iyas r.a.
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru r.a.
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy r.a.
185. Nahhab bin Tsa’labah bin Khazamah r.a.
186. 'Abdullah bin Tsa’labah bin Khazamah r.a.
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid r.a.
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah r.a.
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais r.a.
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah r.a.
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan r.a.
192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus r.a.
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani r.a.
194. Dhamrah bin Amru r.a.
195. Ziyad bin Amru r.a.
196. Basbas bin Amru r.a.
197. 'Abdullah bin Amir al-Ba’lawi r.a.
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru r.a.
199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh r.a.
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh r.a.
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) r.a.
202. 'Abdullah bin Amru bin Haram r.a.
203. Mu'adz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh r.a.
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid r.a.
207. Hubaib bin Aswad r.a.
208. Tsabit bin al-Jiz’i r.a.
209. 'Umair bin al-Harits bin Labdah r.a.
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur r.a.
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ r.a.
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ r.a.
213. 'Abdullah bin al-Jaddi bin Qais r.a.
214. Atabah bin 'Abdullah bin Sakhr r.a.
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr r.a.
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
217. 'Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr r.a.
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr r.a.
220. 'Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah r.a.
221. Al-Dhahlak bin Haritsah bin Zaid r.a.
222. Sawad bin Razni bin Zaid r.a.
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
224. 'Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
225. 'Abdullah bin 'Abdi Manaf r.a.
226. Jabir bin 'Abdullah bin Riab r.a.
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man r.a.
228. An-Nu’man bin Yasar r.a.
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir r.a.
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah r.a.
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah r.a.
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) r.a.
233. Abbas bin Amir bin Adi r.a.
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad r.a.
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais r.a.
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah r.a.
237. Mu'adz bin Jabal bin Amru bin Aus r.a.
238. Qais bin Mihshan bin Khalid r.a.
239. Abu Khalid al-Harits bin Qais bin Khalid r.a.
240. Jubair bin Iyas bin Khalid r.a.
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Utsman r.a.
242. ‘Uqbah bin Utsman bin Khaladah r.a.
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid r.a.
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih r.a.
245. Al-Fakih bin Bisyr r.a.
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah r.a.
247. Mu'adz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah r.a.
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan r.a.
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah r.a.
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan r.a.
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid r.a.
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir r.a.
257. Khalifah bin Adi bin Amru r.a.
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan r.a.
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Anshori r.a.
260. Tsabit bin Khalid bin al-Nu’man r.a.
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid r.a.
262. Suraqah bin Ka’ab bin 'Abdul Uzza r.a.
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru r.a.
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani r.a.
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid r.a.
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid r.a.
267. Rafi’ bin al-Harits bin Sawad bin Zaid r.a.
268. Auf bin al-Harits bin Rifa’ah r.a.
269. Mu’awwaz bin al-Harits bin Rifa’ah r.a.
270. Muaz bin al-Harits bin Rifa’ah r.a.
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah r.a.
272. 'Abdullah bin Qais bin Khalid r.a.
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani r.a.
274. Ishmah al-Asyja’i r.a.
275. Tsabit bin Amru bin Zaid bin Adi r.a.
276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man r.a.
277. Tsa’labah bin Amru bin Mihshan r.a.
278. Al-Harits bin al-Shimmah bin Amru r.a.
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais r.a.
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais r.a.
281. Aus bin Tsabit bin al-Munzir bin Haram r.a.
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Tsabit r.a.
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl r.a.
284. Abu Syeikh Ubai bin Tsabit r.a.
285. Haritsah bin Suraqah bin al-Harits r.a.
286. Amru bin Tsa’labah bin Wahb bin Adi r.a.
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik r.a.
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru r.a.
289. Tsabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik r.a.
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid r.a.
291. Muhriz bin Amir bin Malik r.a.
292. Sawad bin Ghaziyyah r.a.
293. Abu Zaid Qais bin Sakan r.a.
294. Abul A’war bin al-Harits bin Zalim r.a.
295. Sulaim bin Milhan r.a.
296. Haram bin Milhan r.a.
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah r.a.
298. 'Abdullah bin Ka’ab bin Amru r.a.
299. ‘Ishmah al-Asadi r.a.
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik r.a.
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah r.a.
302. Qais bin Mukhallad bin Tsa’labah r.a.
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud r.a.
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru r.a.
305. Sulaim bin al-Harits bin Tsa’labah r.a.
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud r.a.
307. Sa’ad bin Suhail bin 'Abdul Asyhal r.a.
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais r.a.
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi r.a.
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan r.a.
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah r.a.
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj r.a.
313. Oleh bin Syuqrat r.a. (khodam Nabi Muhammad ﷺ)

Lahum... al-Faatihah 
___________________________
قبس من فضائل أهل بدر و بركاتهم

أولا :- من الأحاديث الواردة في فضلهم 
 أن الله تبارك وتعالى غفر لهم ما تقدم من ذنبهم وما تأخر منها قوله صلى الله عليه وسلم لعمر رضي الله عنه وما يدريك لعل الله أطلع على أهل بدر فقال أعملوا ما شئتم فقد وجبت لكم الجنة لما قال له في قصة حاطب بن أبي بلتعة دعي يا رسول الله اضرب عنق هذا المنافق ومنها أن القرآن نطق بأن الملائكة قاتلت وشهدت الوقعة معهم ودعت لهم بالمغفرة .

ثانيا :-  ذكر بعض أهل العلم أنَ كثيرا من الأولياء نال الولاية ببركة أسمائهم وأن كثيرا من المرضى سأل الله تعالى بهم فشفوا وقال بعضهم جربت أسماءهم تلاوة وقراءة وكتابة فما رأيت أسرع منها إجابة فمن كانت له حاجة وذكرهم أمامها قضيت إن شاء الله تعالى نفعنا الله بحبهم في الدارين ودفع عنا بسببهم شر كل حاسد وعين وأعاد علينا وعلى أولادنا من فيض سيدهم محمد صلى الله عليه وعلى آله وسلم فحبهم يكفيه قوله صلى الله عليه وسلم المرء مع من أحب لكن ينبغي لمن ذكرهم أن يرتضي عن كل واحد منهم عند ذكر اسمه يقول محمد صلى الله عليه وعلى آله وسلم أبو بكر الصديق رضي الله عنه عمر بن الخطاب رضي الله عنه علي بن أبي طالب رضي الله عنه إلى أخرهم فإنه أنجح الاعتقاد وحسن الظن بهم فعن يزيد بن عقيل رحمة الله تعالى عليه وهذا لم ينسبه المؤلف ولم يبين شيئا مما أشتهر به فلا لوم على فيه وذلك ليس من أدب المحدثين أن يتركوا من روى شيئا مجهولا أنه قال قد انقطعت طريق بأرض المغرب في بعض السنين من سباع ضارية و انقطعت طريق أخرى من لصوص فما كنت أرى أحد يخطر من تلك الطرق إلا هلك وإن كان في عدد عديد وقد ضاعت في تلك الطرق أموال كثيرة وأنفس كثيرة وكان إذا أورد علينا أحد من تلك الطرق استغربنا ذلك  فبينما نحن جلوس في بعض الأيام إذا أقبل رجل من تلك الطريق ومعه تجارة عظيمة وليس معه إلا عبده وهو يحرك شفتيه كالذي يتلو فابتدره  والدي وقال إن لهذا لشانا عظيما ونظرنا خلفه فلم نرى معه أحدا غير عبده وقال له والدي سبحان الله كيف سلمت بتجارتك وأنت وحدك والطريق مقطوع منذ أيام من اللصوص والسباع   وقال أما يكفيك أنى دخلت هذا الطريق بجيش دخل به رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم ولقي بهم أعداءه فنصره الله تعالى عليهم وقال أدركت أصحاب رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم وقال له والدي سألتك بالله أن تكشف لي عن قصتك فقال أعلم رحمك الله أني كنت أمير قوم لصوص نقطع الطريق فما تمر بنا قافلة إلا أنهبناها ولا تجارة إلا أخذناها فبينما نحن ليلة من الليالي إذ جاءتنا جواسيسنا بأن فلانا التاجر خارج  بتجارة عظيمة ومعه خمسة عشر رجلا ولما سمعنا ذلك حملنا عليهم وقتلنا منهم عشرة رجال ثم أقبل علينا التاجر وقال يا هؤلاء ما حاجتكم وما تريدون فقلنا نريد أن نأخذ هذه التجارة فأنجو بمن بقى من أصحابك قبل أن يقع بكم ما وقع بقومكم فقال لنا كيف تقدرون على ذلك ومعنا أهل بدر فقلت له أنا لا نعرف بدرا ولا أهله وقال الله أكبر فأخذ يتلو أسماء لا أعرفها فأخذنا الرعب وانهزمنا وثارت علينا ريح شديدة وسمعنا دكدكة وقعقعة سلاح واشتباك رماح وقائلا يقول استقبلوا أهل بدر بصبر جميل فنظرت رجال أي رجال كالعقبان على خيول تسبق الريح فلما عاينت ذلك بادرت صاحب التجارة فقلت أنا مستجير بك فقال تب إلى الله تعالى من هذه الفعال فتبت على يديه وقد قتل من أصحابي بعدة ما قتل من أصحابه ثم إني لما أردت الرجوع سألته فعلمني أسماء أهل بدر فمنذ عرفتها لم أحتج إلى خفارة  أحد من الخلق لا في البر ولا في البحر وبها جئت من هذا الطريق كما ترى فكل من رآني من لص أو سبع حاد عن طريقي فلله الحمد وهذا سبب خروجي وحدي اهـ..
وحكى بعضهم أنه خرج يريد الحج إلي بيت الله الحرام فكتب أسماء أهل بدر في قرطاس وجعله في أسكفة البيت وكان صاحب مال فلما سافر جاء اللصوص إلي داره ليأخذوا ما فيها فلما صعدوا السطح سمعوا حديثا وقعقعة سلاح فرجعوا ثم أتوا الليلة الثانية فسمعوا مثل ذلك ثم أتوا الليلة الثالثة فسمعوا مثل ذلك فتعجبوا وكفوا حتى جاء الرجل من الحج فجاءه رئيسهم فقال سألتك بالله أن تخبرني ما صنعت في دارك من التحفظات قال ما صنعت شيئا غير أني كتبت قوله تعالى "ولا يؤوده حفظهما وهو العلي العظيم" وكتبت أسماء أهل بدر بأسرهم فهذا ما فعلت في داري فقال ذلك اللص كفاني ذلك فائدة  و أخبر بعض من ركب البحر من المغاربة قال خرجت مسافرا في سفينة إلي مدينة سبتة وكان في السفينة خلق كثير فهاج بنا البحر و اشتدت الرياح وعظمت الأمواج حتى أشرفنا على الغرق فكنا بين باك وداع ومتضرع فقال لي بعض أصحابي إن في السفينة رجلا مجذوبا فهل لك أن تذهب إليه وتسأله لنا الدعاء فذهبت إليه فإذا هو نائم وقلت في نفسي إلي هذا أرسلوني لو كان لهذا المسكين عقل ما نام ونحن في هذه الحالة فوكزته برجلي ففاق وهو يرتعد ويقول بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم فقلت يا عبد الله ما ترى ما نحن فيه فسكت فلم يجبني فكلمته مرة ثانية فقال هاك هذا القرطاس فأجعله في مقدم السفينة و أشر به إلى الريح من حيث تأتي فأخذته وجعلته كما أمرني فكشف الله عن بصري وإذا رجال أخذوا بطرف السفينة وجروها إلي البر وركزوها في الرمل وقد انكسر كثير من السفن في تلك الليلة فلما كان من الغد جاءتنا ريح طيبة فأخرجنا السفينة من الرمل فسرنا والذي كان مكتوب في القرطاس أسماء أهل بدر فصرنا نقرأ أسماءهم ونتلوها حتى وصلنا سالمين رضي الله عنهم ونفعنا ببركتهم.........اللهم آمين يارب العالمين 

من شرح العلامة طه بن مهنى الجبريني لصحيح الإمام البخاري على أسماء أهل بدر التي جمعها العلامة الألمعي الفهامة الشيخ عبد اللطيف بن الشيخ أحمد البقاعي على الجميعسحب الرضوان من الكريم المنان.

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين
Share:

Jumat, 01 April 2022

BOLEHKAH NIAT PUASA RAMADHAN UNTUK SEBULAN PENUH?


Niat adalah perkara paling fundamental dalam setiap ibadah. Pada puasa Ramadhan, niat harus dilakukan setiap malam menurut madzhab Syafi’i. Namun, ketika ada kesibukan atau aktivitas tertentu seringkali membuat masyarakat lupa untuk niat puasa pada malam hari.

Untuk mengantisipasinya, para ulama menganjurkan niat puasa satu bulan penuh di malam pertama Ramadhan. Hal ini ditujukan apabila suatu hari seseorang lupa untuk niat, maka puasanya tetap sah karena dicukupkan dengan niat satu bulan penuh tersebut dengan mengikuti (taqlid) pada madzhab Maliki.

Imam al-Qulyubi menjelaskan:

وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ

“Disunahkan pada malam pertama bulan Ramadhan untuk niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil memanfaatkan pendapat Imam Malik pada suatu hari yang lupa untuk berniat di dalamnya. Karena beliau menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya di semua malam Ramadhan” (Hasyiyah Al-Qulyubi, II/66)

Yang perlu diperhatikan, niat satu bulan penuh tersebut hanya sebatas antisipasi apabila lupa tidak niat puasa. Sehingga untuk setiap malamnya tetap diwajibkan niat seperti biasa, sebagaimana pendapat madzhab Syafi’i. (Hasyiyah Al-Jamal, II/31)

Sumber : https://lirboyo.net/
Share:

Jumat, 25 Februari 2022

Anwalin News : Publik Diminta Waspadai Gerakan Framing Media Yang Pelintir Pernyataan Menag


Anwalin News,  Surabaya – Polemik pernyataan Menteri Agama tentang aturan pengeras suara yang menjadi sorotan publik membuat Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur untuk turut bersuara dan bersikap.

Melalui Ketua PW GP Ansor Jawa Timur H.M. Syafiq Syauqi, Lc memberikan beberapa pandangan dan analisa atas statement Menteri Agama yang kini dipolemikan oleh banyak pihak.

PW GP Ansor Jawa Timur secara tegas mengingatkan kepada semua pihak untuk bersama-sama mewaspadai pola gerakan lama dan pelaku yang sama yang kembali membuat gaduh dengan melakukan Framing media.

Framing media dengan teknik propaganda dan manipulasi informasi disebut oleh Syafiq Syauqi masih menjadi pilihan mereka dalam upaya sistematisnya membuat gaduh dan mengganggu stabilitas nasional.

“Tantangan dalam era disrupsi informasi saat ini adalah pola-pola gerakan framing media dengan teknik propaganda dan manipulasi informasi yang menyesatkan publik. Ini yang sedang mereka lakukan dengan memotong secara kejam pernyataan menteri agama” Jelas Gus Syafiq Sapaan akrabnya.

PW GP Ansor Jatim mencermati dengan detail pergerakan isu dan sentimen sosial media serta siapa yang memainkan isu ini dengan memotong sepenggal pernyataan utuh menteri agama.

“Framing bukanlah kebohongan. Namun mereka mencoba membelokkan fakta secara halus. Caranya dengan memilih angle (sudut pandang) yang berbeda. Mereka memotong dan mengambil diksi membenturkan antara adzan dengan suara anjing. Masyarakat harus cerdas memahami utuh tentang ini” Tegas Gus Syafiq.

Padahal menurut kajiannya tidak ada kata membandingkan atau mempersamakan antara adzan atau suara yang keluar dari masjid dengan gonggongan anjing.

Menteri Agama justru mempersilahkan bahkan mengajak umat islam untuk menggunakan pengeras suara sebagai syiar dakwah dan berbagai keperluan masyarakat lainnya sesuai dengan aturan untuk kemaslahatan bersama.

“Framing ini jelas teknik manipulasi informasi yang ditujukan memancing sisi emosional umat islam dengan angle membenturkan sesuatu yang sakral dengan hal yang tabu. Pola lama yang dicoba lagi” Bebernya.

Pernyataan menag adalah memberikan banyak contoh tentang sumber kebisingan di tengah masyarakat yang faktual. Berbagai contoh kebisingan yang disampaikan Menag itu menurut Gus Syafiq membuat Menag mengambil benang merah bahwa suara-suara apapun suara itu harus diatur supaya tidak menjadi gangguan.

“Gus Dur jauh hari sudah menulis tentang Islam Kaset dan kebisingan sosial bahkan ditulis di tahun 1982 karena kita semua menjunjung tinggi kaidah Dar’ul Mafasid Muqoddamun Ala Jalbil Mashalih. Mencegah kemudharatan itu harus menjadi skala prioritas diatas mengambil kemaslahatan. Saya kira cukup gerakan framing ini dan sudahi” Pungkasnya. 

Share:

Rabu, 05 Januari 2022

Pencipta Kalimat : "Wallaahul Muwafiq Ilaa Aqwamith Thariiq"


Pada umumnya umat Islam mengakhiri ceramah atau surat-menyurat keagamaan dengan kalimat “Billahit taufiq wal-hidayah” atau “Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq” yang diucapkan atau ditulis sebelum salam penutup. Tetapi tahukah mereka siapa pencipta ke dua kalimat tersebut...?

Pencipta kedua kalimat itu adalah K.H. Ahmad Abdul Hamid yang lebih dikenal dengan nama K.H. Achmad Abdul Hamid Kendal. Beliau adalah salah satu ulama kharismatik di Jawa Tengah, pengasuh Ponpes Al-Hidayah Kendal Kota dan Imam Masjid Besar Kendal. Karena peran dan ketokohan beliau, masyarakat Kendal menyebut beliau sebagai “Bapak Kabupaten Kendal”.

KH. Achmad Abdul Hamid Kendal lahir di Kendal Tahun 1915. Ayahandanya bernama KH. Abdul Hamid. Beliau dilahirkan pada saat di negeri ini sedang marak berdiri berbagai pergerekan dan organisasi keagamaan, sosial, ekonomi, politik dan lain-lain. Seperti Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan pada tahun 1905 lalu pada tahun 1906 berubah menjadi Sarikat Islam, Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912.

Pada tahun 1918 lahir Nahdlatul Tujjar sebagai cikal bakal Nahdatul Ulama (NU). Kemudian pada 31 Januari 1926 berdirilah NU, tahun 1928 terjadi Sumpah Pemuda dan lain-lain.

Mulanya kalimat “Billahit Taufiq wal Hidayah” beliau ciptakan sebagai ciri khas warga NU untuk mengakhiri ceramah, pidato dan surat menyurat. Pertama kali beliau mengucapkan kalimat itu di Magelang yang selanjutkan diikuti oleh para Ulama NU dan seluruh warga Nahdliyin. Namun kalimat itu akhirnya ditiru dan digunakan oleh hampir semua kalangan umat Islam dari berbagai organisasi dan pergerakan. Kekhasan untuk warga NU pun sudah tidak ada lagi.

Untuk itu beliau menciptakan kalimat baru “Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thariq” yang dirasa cukup sulit ditirukan oleh warga non-NU. Sehingga sejak itu warga Nahdliyyin menggunakan kalimat: “Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq” dalam mengakhiri ceramah, pidato dan surat menyurat sebelum salam penutup, meski yang tetap terbiasa menggunakan :”Billahit Taufiq wal Hidayah” juga masih banyak.

Khidmah Kiai Ahmad (Demikian panggilannya sehari-hari) di NU dimulai dari tingkat cabang sampai PBNU. Banyak tugas penting di NU yang pernah diembannya seperti Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Kendal, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah (Dengan Katib KH Sahal Mahfudz), dan terakhir sebagai Mustasyar PBNU dan MUI Jawa Tengah. Beliau juga tercatat sebagai kontributor dan distributor majalah Berita NO, yang terbit tahun 1930an.

Dalam sebuah tulisan, Kiai Sahal Mahfudz menyebutkan bahwa Kiai Ahmad menyimpan dokumen-dokumen jurnalistik NU seperti Buletin LINO (Lailatul Ijtima’ Nadhlatoel Oelama).
.
.
Dari Berbagai Sumber
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung