Jumat, 19 Februari 2021

Download Logo Harlah NU ke-98 versi Hijriah


Download – Jelang peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama #HarlahNU yang ke-98 versi hitungan Hijriah, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur merilis logo resmi #HarlahNU98 logo tersebut terinspirasi dari salah satu ornament yang ada di masjid Pati Mantingan Jawa Tengah, yaitu ornament anyaman yang menyambung.

Perlu diketahui, Hari Lahir Nahdlatul Ulama diperingati 2 kali setiap tahun, yaitu dalam hitungan masehi dan hijriah, yang mana setiap 16 Rajab adalah peringatan harlah hijriah dan 31 Januari hitungan versi Masehi.

Makna filosofi lain yang desainer tetapkan adalah adanya empat penjuru titik desain yang bermankan bawasanya warga Nahdliyin mempunyai 4 hukum fiqih islam yang diakui oleh golongan ahli sunnah wal jamaah, yaitu Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali

Ikatan sebagai nilai dari logo Harlah NU ke-98 yang mempunyai arti bawasanya Agama dan Kebangsaan adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisah dari kultural dan struktural Nahdlatul Ulama (Jam’iyah dan Jama’ah).

Hari Lahir Nahdlatul Ulama kali ini bertemakan tentang “Menyongsong Satu Abad, Meneladani Mu’asis, Menuju kemandirian Umat”

Cara Download Logo Harlah NU 98

Link Download Logo Harlah NU 98 Tahun ketik sesuai perintah perhatikan besar kecil huruf. 
Bulan Rajab bulan Harlah NU. NU lahir pada 16 Rajab 1344 H 98 tahun lalu

Link download : s.id/LOGO98NU
.
.
Sumber : PWNU Jatim

Share:

Kamis, 18 Februari 2021

KISAH HIKMAH: PENGAMPUNAN DI BULAN RAJAB


Ada salah satu hadis dari Rasulullah SAW. Beliau pernah bercerita dalam sabdanya:

Sesungguhnya di balik gunung Qaf terdapat sebidang tanah putih. Debu tanahnya hampir menyerupai perak. Luas tanah itu seperti luas dunia tujuh kali, di tempat itu penuh sesak dengan para malaikat. Sehingga andai kata sebuah jarum dijatuhkan ke bawah, niscaya akan terjatuh di atas salah satu dari mereka.

Setiap tangan mereka memegang sebuah bendera. Bendera itu bertuliskan kata:

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ
“Tiada Tuhan Kecuali Allah. Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.

Di setiap malam jum’at di bulan Rajab, mereka berkumpul di sekeliling gunung itu untuk merendahkan diri kepada Allah, dan memohon keselamatan untuk umat Nabi Muhammad SAW.

Dengan diiringi tangisan dan penuh harapan, mereka berdoa ,“Wahai Tuhan kami, kasihanilah umat Nabi Muhammad SAW. Janganlah Engkau siksa mereka”.

Setelah itu, Allah SWT berfirman, “Wahai para Malaikatku, apa yang kalian kehendaki?”

“Kami menginginkan Engkau mengampuni dosa umat Nabi Muhammad SAW.” Jawab para malaikat.

Mendengar jawaban itu, Allah SWT berfirman, “Aku telah mengampuni mereka.”

_______________________
Disarikan dari hikayat ke tujuh puluh, kitab An-Nawadir, karya syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyubi, hlm. 63, cet. Al-Haromain

Sumber : FB LIRBOYO
Share:

Minggu, 14 Februari 2021

Asal Usul Gelar “Hadratussyaikh” untuk KH. Hasyim Asy’ari


Oleh: M. Abror Rosyidin
Banyak orang berlomba-lomba menumpuk gelar akademik, maupun non akademik untuk sebuah kualifikasi yang belum kaffah (jangkep dan pepak). Adapula yang gelarnya sampai kayak rel kereta api, panjang banget, sampai susah sekali dieja. Salah? Tidak salah juga sih, itu hak masing-masing orang dalam menentukan nama gelarnya. Bisa saja tiba-tiba saya mengarang gelar, S.Ok (sarjana omong kosong), atau S.Tl. (sarjana tidak lulus). Sah-sah saja, wong itu guyonan. 
Dulu, para ulama, tak ada yang membuat gelar keilmuan sendiri, rata-rata disematkan oleh orang lain yang mengakui atas pencapaian keilmuannya. Bahkan saking tawaduknya, ogahan-ogahan sebenarnya menerima gelar itu, karena dapat mengurangi keikhlasan dalam mencari dan mengamalkan ilmu-ilmu Allah.

Tapi, tetap saja masyarakat merasa perlu untuk menyematkan gelar itu.  Untuk itu menarik jika kita mencoba mempreteli asal-usul dan makna gelar salah satu ulama terkemuka kita, khususnya warga nahdliyin, yaitu gelar “Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari”. Rasanya tak ada yang lain, selain beliau yang mendapatkan sematan gelar tersebut, kecuali yang mengaku-ngaku ya, kalau itu mah banyak. 
Kenapa bisa begitu? Karena memang gelar ini tidak didapat hanya karena hafal Jurumiyah, Imrithi, Alfiyah, atau Al Quran saja, tetapi dari berbagai disiplin ilmu, khususnya ilmu Hadist, KH. Hasyim Asy’ari telah diakui oleh ulama dunia, bukan hanya level se-Nusantara saja.
Gelar ini bahkan didapatkan beliau semasa masih tinggal dan mengajar di Mekkah al Mukarramah sana.  Hadratussyaikh yang artinya “Maha Guru” menjadi gelar yang diberikan secara khusus untuk orang yang benar-benar laik mendapatkannya. Gelar ini maksudnya satu tingkat  di atas gelar Syaikh.
Sebelum ke Hadratussyaikh perlu juga memahami apa itu Syaikh terlebih dahulu.  Istilah Syaikh di Timur Tengah jamak dipakai untuk penyebutan orang sudah lanjut usianya. Artinya Syaikh itu sebutan untuk kakek-kakek yang sudah tua dan usia lanjut. Namun, dalam perkembangannya Syaikh juga diperuntukkan menyebut pemimpin, bangsawan atau para tetua dalam suatu tatanan masyarakat.

Penyebutan ini juga diberlakukan di Teluk Persia. Di sebagian Afrika juga menggunakan gelar ini untuk merujuk pada pejabat tinggi, bangsawan, atau pemimpin.
Waktu penulis tinggal di Maroko, juga menemukan orang-orang tua disebut Syaikh, tapi untuk menyebut orang yang lebih tua dan lebih tinggi status sosialnya menggunakan kata “Sidi”, tapi tidak harus tua juga. Setiap negara dan suku di Arab kadang juga berbeda-beda budayanya. 
Sedangkan di Indonesia kata Syaikh biasanya merujuk pada seorang ulama dengan keilmuan agama Islam yang tinggi, mulai dari perilaku, perbuatan dan sikap. Bisa juga ulama besar, baik yang ahli fikih, ahli hadits atau ahli tasawuf, tarekat atau sufi.

Namun penggunaan kata Syaikh ini di Indonesia sekarang ini jarang, lebih banyak penggunaan kata Kiai, Gus, Lora (Madura), ustadz, dan penyebutan lain yang bersifat kedaerahaan, misal Tubagus, Teuku, Tuan Guru, Anregurutta, dan lain-lain. 
Kata Syekh, bisa ditulis; Syekh, Syeh, Shaikh, Shaykh, Sheikh, Syaikh dan sejenisnya. Secara bahasa (harfiah) arti Syaikh (الشَّيخُ) adalah orang tua, orang lanjut usia, kepa suku, ketua, pemimpin, kepala, dan tuan.

Secara definisi, gelar Syaikh mirip dengan sebutan keagamaan Islam, seperti kiai atau ustadz. Guru-guru di Arab atau Mesir biasa disebut Syaikh.  Di Indonesia, gelar Syaikh tidak merujuk pada akademik seperti profesor.
Namun lebih kepada ulama besar yang memiliki kedalaman ilmu agama Islam. Baik dari segi fikih, tasawuf maupun spiritualnya, menguasai syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Memiliki tingkatan pengetahuan yang tinggi. Bahkan dalam dunia tarekat bisa jadi adalah wali Allah, atau mursyid dalam tarekat itu. 
Sementara makna Hadratu bisa merujuk pada asal kata bahasa Arab Hadhara-yahdhuru artinya hadir, pergi, menyaksikan, memandang, melihat, dan mengamati. Hadratussyaikh secara leterlek berarti kehadiran seorang syaikh. Artinya tidak hanya wujud manusianya, tetapi juga tingkatan keilmuannya, kedalaman berpikirnya, serta tingkatan spiritualnya.

Secara makna, kata tersebut bisa disematkan karena menganggap yang disebut hadir atau karena melihat adanya derajat yang luhur disemati hadhroh. Beliau dinilai dzi makanah fi al Ilmi wa ghoiri min mazaya. Sedangkan Kiai Hasyim lebih dinilai dari kedudukan dalam segi intelektual dan keilmuan bukan dari hal lain. Gelar ini hampir tidak dipakaikan kepada orang lain selain Kiai Hasyim, bahkan di Arab pun gelar ini tidak begitu dikenal luas.

Kalau mungkin boleh mengumpamakan, gelar Hadratussyaikh itu, seperti “panjenenganipun” dalam bahasa Jawa. Kata itu sangat halus dan sopan, dipakai untuk menyebut kata ganti orang kedua (kamu, anda) bagi seseorang yang sangat dihormati. 

Gelar Hadratussyaikh diberikan dengan verifikasi mendalam. Tidak bisa  nyogok, apalagi bikin ijazah palsu untuk itu. Dan ada begitu banyak ulama, baik dari dalam dan luar negeri, mempersembahkan gelar Hadratussyaikh kepada beliau Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asyari.

Hal ini karena kepakaran beliau di berbagai bidang ilmu Islam. Juga karena beliau adalah seorang ulama yang secara gigih dan tegas mempertahankan ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Gelar ini disandang beliau sejak di Mekkah.
Karena selain KH. Hasyim Asyari menguasai berbagai disiplin keilmuan Islam secara mendalam, juga hafal kitab-kitab babon hadits dari Kutubus Sittah yang meliputi Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Turmudzi, an Nasa’i, dan Ibnu Majah. Murid kinasih Syaikh Mahfudz at Tarmasyi, pakar hadis dari Termas Pacitan yang mukim di Mekkah.

Dari Syaikh Mahfudz inilah, Kiai Hasyim menganut faham bermadzhab dan memperoleh ijazah (legitimasi pewarisan) tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Di samping itu, Syaikh Mahfudz sebagai isnad (mata rantai) terakhir dari 2-3 generasi penerima Shahih Bukhori dan Shahih Muslim yang ditulis ribuan tahun lalu, juga mengijazahkan isnad tersebut Kiai Hasyim.

Inilah di antara faktor yang menjadikan Kiai Hasyim sebagai orang Jawa pertama yang mengajarkan kitab hadis lengkap dengan sanad yang muttashil (menyambung).  Bahkan sekaliber pakar hadis Nusantara dari Padang, Syaikh Yasin bin Isa al Fadani juga belajar kepada Kiai Hasyim melalui menantu Kiai Hasyim yang tinggal di Mekkah, KH Muhaimin Lasem (suami pertama Nyai Khoiriyah Hasyim).
Syaikh Yasin juga memanfaatkan kesempatan talaqqi kepada Kiai Hasyim saat sedang di Nusantara, dan berkunjung ke Jawa. Kepakaran Kiai Hasyim dalam hadis benar-benar diakui oleh dunia.
Tidak heran jika setiap Ramadan beliau mengkaji Shahih Bukhari dan Shahih Muslim di Tebuireng, yang ikut mengaji bisa sampai dari pelosok negeri. Mereka rela menginap di Tebuireng sebelum Ramadan dan jelang Idul Fitri untuk mengaji hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang dibacakan oleh Kiai Hasyim.
Sampai sekarang pengajian itu masih menjadi tradisi rutin di Tebuireng.  Jadi miris jika, ada anak-anak muda NU tidak mengenal dan mempelajari KH. Hasyim Asy’ari baik sejarah maupun keilmuannya.
Gelar ini sangat mubadzir disematkan oleh para ulama dunia, jika tidak dikaji terus menerus oleh generasi penerus beliau dari masa ke masa. Harusnya semakin banyak kelompok-kelompok diskusi tentang pemikiran KH. Hasyim Asy’ari.
Apalagi kalau ada yang bilang, pemikiran beliau tidak relevan dengan perkembangan zaman. Sungguh terlalu.  Melihat betapa sulitnya gelar ini, sampai tidak disematkan pada ulama manapun, tentu sangat aneh jika ada yang sampai mengaku-ngaku atau menyematkan di depan namanya, gelar “Hadratussyaikh” itu. Bukan gelar sembarangan.
Maka menurut Kiai Ma’ruf Khozin, sebaiknya tidak ada siapapun yang memakai gelar ini, apalagi yang kualifikasinya masih di bawah Kiai Hasyim. Sudahlah hidup biasa saja, tak usah neko-neko menggapai gelar Hadratussyaikh. Toh beliau saja tidak pernah berharap mendapat gelar itu, orang-orang saja yang menyematkannya kepada beliau.

Maka, mari kita teladani saja akhlak dan tuntunan beliau, apalagi sebagai warga nahdliyin sejati yang tidak gila hormat, tapi ngandap asor, tawaduk dan merasa rendah hati. 

*Penulis adalah Tim Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari.

Sumber: tebuireng.online
Sugeng Ambal Warso KH. Hasyim Asy'ari
Share:

HARI KASIH SAYANG, LIMA BELAS ABAD LALU


Sungguh paradoks. Hari itu seharusnya menjadi hari duka bagi penduduk Makkah. Mereka bakal kehilangan pemuda terbaiknya. Tapi Allah berkehendak lain. Ia jadikan hari itu menjadi hari tak terlupakan oleh mereka: Hari paling bahagia.

Bertahun-tahun seusai menikah, Abdul Muthalib tak kunjung dikaruniai putra. Bangsa Arab di masa-masa sebelumnya mewariskan tradisi nazar untuk hal-hal yang sangat diharapkan. Karenanya Abdul Muthalib merasa perlu melakukannya: Jikalau ia dikarunai putra, sepuluh jumlahnya, akan ia kurbankan putra terakhirnya.

Tahun demi tahun berlalu. Mula-mula ia bergembira. Ia benar-benar dikarunia putra. Satu putra lahir, kegembiraan luar biasa terukir. Satu lagi lahir menyusul kakaknya. Bertambah lagi kebahagiaannya. Hingga kemudian lahirlah Abdullah. Kebahagiaan itu lambat laun berubah kengerian: Abdullah adalah putra yang kesepuluh.

Abdullah tumbuh menjadi pemuda yang luar biasa tampannya. Budi pekertinya santun, selayaknya putra pemegang kunci Ka’bah. Di masa itu, tak ada perawan yang tak memajang potret tampan Abdullah di hatinya. Bukan hanya klan Quraisy, tapi seluruh perawan Makkah. Abdullah menjelma cita-cita perawan di mana-mana: menjadi pilihan Abdullah sebagai pelabuhan terakhirnya.

Tetapi hari itu tetap tiba. Hari di mana Abdul Muthalib berkehendak menunaikan janjinya: menyembelih salah satu putranya. Berbagai rayuan dihaturkan pada Abdul Muthalib untuk mengurungkan niatnya. Dari keluarga hingga tetangga. Semua berakhir percuma.

Tetapi sungguh. Masyarakat Makkah tak rela pemuda setampan dan sesantun itu meninggalkan dunia ini dengan sia-sia. Abdul Muthalib sebenarnya tak kuasa membunuh Abdullah. Dia putra tercintanya. Tetapi ia bukan orang yang gampang mengingkari janji. Walaupun sebuah janji untuk membunuh anak sendiri. Ia begitu kukuh pada pendiriannya. Sebab sifatnya itulah ia pantas menjadi pemuka masyarakat Makkah.

Tetapi kaum Quraisy yang enggan kehilangan pangeran terbaiknya itu menawarkan hal yang tak bisa ditolak Abdul Muthalib.

“Wahai Abdul Muthalib. Apa yang kau perbuat ini justru akan memperburuk watak kaummu. Mereka akan menganggap pembunuhan ini sebagai perbuatan yang wajar, ‘Toh, pemimpin kita juga melakukannya’. Dan apa yang akan terjadi tahun-tahun kemudian? Mereka akan terbiasa memenggal anak kandungnya. Kau ingin kaum kita mewariskan tradisi seperti ini?”

Dan pada akhirnya hati Abdul Muthalib perlahan luluh. Apalagi kaum Quraisy juga menawarkan win-win solution. Sebagai pengganti kepala Abdullah, Abdul Muthalib dipersilahkan untuk menyembelih seratus unta. Ia terima itu.

Kabar batalnya pengurbanan Abdullah itu tersiar cepat. Maka bergembiralah seantero Makkah. Tak terkecuali seseorang di sudut rumah sana. Perempuan muda yang tak kalah tenarnya dengan Abdullah. Dialah Aminah.

Rumahnya sangat dekat dengan bukit tempat Abdul Muthalib melaksanakan kafaratnya. Ketika Aminah di dalam kamar dan berusaha meredam suka hatinya, di detik yang sama Abdul Muthalib memandang ke arah rumahnya.

“Ibu, untuk apa pemuka Bani Hasyim itu datang ke sini?” Pikirannya bertanya-tanya ketika Abdul Muthalib dipersilahkan ayahnya masuk ke dalam rumah. Tentu saja bersama Abdullah.

Beberapa saat kemudian sang ayah menyusul ke kamar. “Ia datang untuk melamar engkau, Aminah. Sebagai istri bagi anaknya, Abdullah.”

Wahab bin Abdi Manaf, sang ayah, segera kembali ke ruang tamu. Menjamu sang tamu agung. Ia meninggalkan Aminah yang hatinya sedang meluap-luap bahagia. Begitu bahagianya ia. Dadanya yang tak kuat menahan letupan-letupan itu ia tangkupkan ke dada ibunya. Sulit baginya percaya bahwa pemuda idaman Makkah itu memilih dirinya.

Kabar rencana pernikahan ini menyebar ke seantero Makkah. Turut bahagialah mereka. Bagi masyarakat Makkah, pernikahan ini adalah pernikahan yang sempurna: Abdullah diidam-idamkan pemudi Makkah, dan Aminah adalah puncak harapan pemuda-pemudanya.

Jika Abdullah adalah lambang ketampanan Makkah, Aminah adalah lambang kecantikannya. Jika Abdullah mewakili ketangguhan, Aminah adalah tauladan keanggunan. Jika Abdullah simbol budi pekerti, Aminah adalah pemudi dengan kesucian hati.

Maka wajar jika pesta pernikahan itu diselenggarakan Makkah sangat lama: tiga hari beserta malamnya.

Seusai pesta itu, Aminah diboyong ke rumah suaminya. Rumah yang sederhana. Bagi Aminah, dan bagi siapapun yang hidup bersama kekasih hatinya, sesederhana apapun rumah tangga jauh lebih indah daripada istana manapun di dunia.

Innaha Fathimah al-Zahra. Dr. Muhammad Abduh Yamani. Muassasah Ulum al-Quran, Beirut.

Penulis : M. Hisyam Syafiqurrahman santri Lirboyo

Sumber : FB LIRBOYO
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung