Minggu, 16 Mei 2021

Gus Yaqut: Kader Ansor Harus Percepat Adaptasi Teknologi, Jangan Sampai Mlongo


JAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas meminta pada kader Ansor dan Banser untuk merespons dengan cepat perubahan zaman yang berkembang pesat saat ini. Adaptasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi mendesak dilakukan sebab situasi sekarang tidak senormal dibandingkan sebelumnya. 

“Kita harus ubah cara berpikir kita dengan pendekatan transformasi. Kader harus bisa beradaptasi dengan teknologi dengan lebih cepat. Jangan sampai kita tertinggal dan akhirnya mlongo (tidak bisa berbuat apa-apa lagi, red),” kata Gus Yaqut, panggilan akrabnya, saat memberikan sambutan pada Halalbihalal Virtual GP Ansor, Sabtu (15/5/2021) malam.

Menurut Gus Yaqut, di tengah pandemi Covid-19 saat ini, kegiatan-kegiatan organisasi harus tetap berjalan namun tak bisa lagi seluruhnya dilakukan dengan cara bertemu fisik. Untuk itu, perlu terobosan baru atau penyiasatan yang taktis agar kader tetap bisa berkhidmat dan berdakwah. 

Gus Yaqut mencontohkan, beberapa pengkaderan di Ansor seperti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) atau Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) saatnya untuk diujicoba dengan mengombinasikan secara virtual. “Meski kehangatan tidak pernah sama dengan bertemu fisik,  namun saya meyakini, hati, perasaan dan alam pikiran kita tetap bisa tersambung dan menyatu,” terang Gus Yaqut.

Pemanfaatan teknologi dan penguasaan di dunia maya menjadi keniscayaan para kader agar dakwah yang dilakukan juga lebih masif dan berdampak kuat. Dia menilai, kekuatan Ansor dan Banser yang sangat besar saat ini harus dioptimalkan untuk memberi kemanfaatan di berbagai lini kehidupan. Dengan penguasaan teknologi itu, ujar Gus Yaqut, maka komitmen besar Ansor dan Banser dalam menjaga ulama, serta NKRI tetap terwujud. 

Dalam kesempatan itu, Gus Yaqut secara pribadi maupun sebagai Menteri Agama RI juga meminta maaf kepada seluruh kader karena Kongres Ansor belum bisa dilaksanakan sesuai rencana awal. Meski demikian, penundaan kongres akibat pandemi Covid-19 ini diyakini akan banyak mendatangkan hikmah bagi kemajuan organisasi pemuda NU ini ke depan. 

“Untuk itu melalui forum ini saya meminta maaf kepada seluruh kader dan semoga kita bisa terus berkhidmat untuk NU dan NKRI,” terangnya. 

Instruktur nasional GP Ansor KH Ahmad Nadhif Mujib (Gus Nadhif) juga menilai kekuatan Ansor dan Banser saat ini luar biasa. Selain memiliki jumlah yang sangat besar, kiprah Ansor dan Banser di lapangan juga semakin nyata. Di berbagai daerah, Ansor dan Banser selalu menjadi penggerak utama dalam kegiatan sosial  seperti penanganan Covid-19. 

Meski demikian, Gus Nadhif  berharap Ansor dan Banser tidak lengah dengan potensi besar yang dimiliki tersebut. Sebab tantangan bangsa ke depan semakin kompleks lebih-lebih di era teknologi digital. Menurut Gus Nadhif, Ansor dan Banser tak hanya kuat berkiprah di lapangan, tapi juga perlu di dunia maya. Selama ini, diakui kekuatan Ansor di dunia maya belum sangat kuat. 

“Kebesaran Ansor saat disiapkan Allah untuk segalanya, maka transformasi media juang adalah keniscayaan, utama di media. Kekuatan di dunia maya harus kita imbangi,” terang Pengasuh Pesantren Nahdlatut Thalibin, Tayu Wetan, Kabupaten Pati ini.

Halal bihalal Virtual GP Ansor ini selain diikuti Sekjen Abdul Rochman, Waketum Mohammad Haerul Amri, Wakasatkornas Banser.

Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung