Minggu, 10 Desember 2023

KEZUHUDAN KH. MARZUQI DAHLAN Lirboyo


Suatu hari KH. Mahrus Aly mengajak Abdul Halim Zainuddin (salah seorang pengurus NU kota Kediri yang biasa melayani beliau) untuk menghadiri sebuah acara, sebelum menuju ke tempat acara, mereka mampir ke rumah KH. Marzuqi Dahlan untuk mengajaknya sekalian karena beliau termasuk orang mendapat undangan acara itu jg. Sesampainya di muka jalan menuju rumah beliau, KH. Mahrus menyuruh Abdul Halim ngaturi KH. Marzuqi, sementara KH. Mahrus menunggu di kendaraan dengan sang sopir.

Setelah dipersilahkan masuk, Abdul Halim segera menyampaikan maksud kedatangannya. " Masya Alloh. kulo supe menawi dinten meniko acaranipun" (Masya Alloh saya lupa kalo acaranya hari ini) kata KH. Marzuqi yang waktu itu hanya mengenakan sarung saja dan bertelanjang dada. Kemudian beliau berjalan menuju kebelakang mengambil sesuatu dari bak yang biasa digunakan untuk mencuci baju. 

Ternyata yang beliau ambil itu baju belliau yang belum sempat dicuci, lalu dengan tenang tanpa canggung dan risih beliau kenakan kembali baju itu. Sepertinya hal-hal yang bersifat duniawi begitu sederhana sekali di mata beliau serta tidak perlu dibuat susah, atau dalam bahasa Gus Dur "Begitu saja kok repot". Dan sambil tersenyum beliau berkata " Alhamdulillah durung sido di umbah" (Alhamdulillah, bajunya belum sempat dicuci). Ternyata pada waktu itu beliau hanya memiliki satu baju, ketika baju itu dicuci otomatis beliau tidak mengenakan baju lagi, padahal beliau seorang kyai besar dengan ribuan santri yang diasuhnya.

Selesai mendatangi tempat acara dan mengantarkan kembali KH. Marzuqi kerumah beliau, Abdul Halim menceritakan apa yang ia ketahui perihal KH. Marzuqi tadi kepada KH. Mahrus, sontak beliau sesenggukan tidak kuasa menahan tangis, Rasa iba, prihatin, trenyuh dan haru berbaur menjadi satu dalam dada beliau melihat pilihan hidup yg sedang dilakoni KH. Marzuqi, pasangan beliau dalam mengelola dan melestarikan pondok pesantren Lirboyo peninggalan dari mertua mereka berdua.

Setelah itu KH. Mahrus memanggil sebagian pengurus pondok tempat KH. Marzuqi tinggal dan menanyai mereka apakah tidak tahu perihal kondisi Kyai nya itu. Ternyata mereka baru menyadari bahwa pemandangan yang kadang mereka lihat dari Kyai Marzuqi yg hanya mengenakan kaos oblong compang camping atau malah kadang bertelanjang dada bukan karena gerah atau panasnya udara, tetapi karena satu-satunya baju beliau yg sedang dicuci..

 KH. Mahrus kemudian menegur dan menasehati para pengurus pondok agar lebih memperhatikan dan memperdulikan kondisi Kyai nya meski sebenarnya sang kyiai tidak pernah mengharapkan perhatian sama sekali.
Sangat indah apa yg dinukil KH. Ihsan Jampes dalam kitab Manahijul Imdadnya :

" ﻗﻴﻞ ﺍﻭﺣﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻰ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﺴﻼﻡ، ﺍﺫﺍ ﺍﺭﺩﺕ ﺍﻥ ﺗﻌﺮﻑ ﺭﺿﺎﻱ ﻋﻨﻚ ﻓﺎﻧﻈﺮ ﻛﻴﻒ ﺭﺿﺎ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﻋﻨﻚ ."

Diriwayatkan bahwa Alloh swt pernah berfirman kepada sebagian para nabi : Jika engkau ingin melihat keridloanku kepadamu maka lihatlah bagaimana orang-orang faqir ridlo kepadamu.

Artinya: Di saat engkau memberikan bantuan atau setidakmya memberikan perhatian kepada si faqir yg membuatnya ridlo & gembira, maka pada saat itu Alloh swt juga ridlo & gembira kepadamu. . .
Wallohu A'lam.

Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung