Sabtu, 17 April 2021

Turba Perdana Safari Ramadhan 1442 H. PAC GP. Ansor Watulimo di Ranting Karanggandu Pada Masa Pandemi Covid-19


Anwalin News
– Karanggandu (16/04) Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Watulimo mengadakan Turba Perdana Safari Ramadhan 1442 H./2021 M. dimasa Pandemi Covid-19. Kegiatan Safari Ramadhan tersebut dengan sasaran Turba di Ranting Karanggandu Kecamatan Watulimo, tepatnya di Masjid Darus Tsanawi Dukuh Nggentung yang berdekatan dengan MI Karanggandu.
.
Pada kegiatan turba safari Ramadhan tahun ini, PAC GP. Ansor Watulimo berkolaborasi dengan menggandeng berbagai pemangku kepentingan yang meliputi; Camat Watulimo, Kapolsek Watulimo, Koramil Watulimo, Kepala KUA Kecamatan Watulimo, MUI Kecamatan Watulimo, MWC NU Watulimo dan PAC IPNU-IPPNU Watulimo. Hal ini dikandung maksud untuk mendekatkan diri antara pemerintah dan pengurus Ormas yang ada di Kecamatan Watulimo dengan warga masyarakat setempat sehingga akan tercipta suasana lingkungan yang KONdusif, anDAlan dan NGangenin sesuai dengan slogan Kecamatan Watulimo saat ini yaitu “KONDANG”.


Pada kesempatan yang ada, dalam sambutannya ketua PAC GP. Ansor Watulimo yaitu sahabat Murdiyanto menyampaikan bahwa kegiatan Turba Safari Ramadhan ini awalnya diinisiasi oleh PAC GP. Ansor Watulimo dengan mengajak adik-adiknya yaitu dari Rekan/nita PAC IPNU-IPPNU Watulimo ketika audiensi dengan Kapolsek Watulimo, yaitu Bapak AKP. Suyono, SH., M.Hum yang bertempat di Mapolsek Watulimo pada tanggal 6 April 2021 sebelum bulan Ramadhan tiba. Namun seiring dengan perkembangan yang ada dan berbagai saran/masukan dari para sesepuh dan para tokoh masyarakat, akhirnya kegiatan safari Ramadhan diperluas dengan melibatkan seluruh Forkompimcam, Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Watulimo dan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Watulimo serta Banom-banom NU lainnya yang berada dibawah naungan MWC NU Watulimo.
.
Safari Ramadhan 1442 H./ 2021 M. ini berlangsung disaat Negara Indonesia khususnya Kecamatan Watulimo masih diuji dengan adanya wabah virus corona, sehingga dalam pelaksanaanya wajib menerapkan Protokol Kesehatan sebagaimana yang ditetapkan oleh Pemerintah. Kapolsek Watulimo saat ini, yaitu Bapak AKP. Suyono, SH., M.Hum dalam tausiyahnya juga berpesan agar warga masyarakat tetap mentaati protocol kesehatan yang ada serta menjaga kantibmas.
.
“Saat ini Negara kita masih diuji dengan adanya wabah virus corona, sehingga segenap lapisan masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan yang ada yaitu menjaga jarak, memakai masker dan sering mencuci tangan pakai sabun. Selain itu warga masyarakat bersama 3 pilar yang ada didesa harus menjaga kantibmas” pesan AKP. Suyono dalam tausiyahnya.


Hadir dalam kegiatan safari Ramadhan 1442 H, antara lain Camat Watulimo yang diwakili oleh bapak Agung (sekcam), Koramil Watulimo, Kapolsek Watulimo beserta jajarannya, MUI Kec. Watulimo, MWC NU Watulimo, Pengurus PAC GP. Ansor Watulimo, Jajaran Satkoryon Banser Watulimo, pengurus PAC IPNU-IPPNU Watulimo, Kepala Desa Karanggandu beserta 3 pilar Desa, Pengurus NU Ranting Karanggandu, Pengurus GP. Ansor Ranting Karanggandu, Takmir Masjid dan segenap Jamaah Masjid Darus Tsanawi Dukuh Nggentung Desa Karanggandu Kecamatan Watulimo.
.
Direncanakan kegiatan turba safari Ramadhan tahun ini dengan jadwal 13 titik sasaran/lokasi yang tersebar di 12 Desa dengan satu lokasi sebagai hajat khusus dari PAC GP. Ansor Watulimo seiring dengan peringatan Hari Lahir ke-87 Gerakan Pemuda Ansor yang jatuh pada tanggal 24 April nanti. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, nikmat, taufiq dan hidayahNya kepada kita semua dalam menebar kemanfaatan dan menjalin silaturahim (ukhuwah) yang pada akhirnya kita tergolong ummat yang beruntung di dunia hingga akhirat kelak. Aamiin (my)



Kontributor : Myanto Anwalin
Fotografer : Agus Salim, Agus Rianto
Share:

Kamis, 15 April 2021

Makna Logo Harlah GP ANSOR KE 87 Tahun 2021


Makna Logo Harlah GP ANSOR KE 87

● Angka 87 artinya usia Gerakan Pemuda Ansor 

● Bentuk bulat seperti bola bumi dengan garis-garis digital artinya GP Ansor selalu mengikuti perkembangan teknologi dengan berbagai terobosan khususnya digitalisasi organisasi. 

● Bentuk bulat juga memiliki arti energi dan kekuatan. GP Ansor selalu memberikan energi positif dan kuat dalam menghadapi berbagai tantangan khususnya masa pandemi yang belum berakhir 

● Bentuk/Shape Masker pada bagian kanan dengan tali masker bergantung ke angka 8 memiliki arti bahwa GP Ansor selalu komitmen mengkampanyekan protokol kesehatan dan menerapkannya dalam setiap kegiatan organisasi pada masa Pandemi Covid-19 

● Bentuk Angka 87 yang lebar artinya jumlah kader GP Ansor yang terus bertambah seiring usianya 

● Pada angka 87 terdapat peta dunia yang artinya peran GP Ansor di tingkat lokal hingga internasional 

● Tulisan GP Ansor berbentuk digital dengan font hero bermakna kepeloporan 

● Marna emas pada logo bermakna prestasi, kesuksesan, kemenangan, kemakmuran, kasih sayang, murah hati, optimisme, percaya diri. 

● Latar warna hitam pada logo bermakna keamanan dan juga ancaman COVID-19.

Share:

Rabu, 14 April 2021

Keutamaan Bulan Suci Ramadhan


Berikut adalah keistimewaan-keistimewaan yang disebutkan dalam berbagai ayat dan hadits. Semoga dengan mengetahui hal ini, kita akan semakin semangat di bulan Ramadhan. Hanya Allah yang beri taufik.
 
1. Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al Qur’an
Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
 
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
 
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)
 
Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan, ”(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ’alaihimus salam.”[1]
 
2. Setan-setan Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka Ketika Ramadhan Tiba
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
 
Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”[2]
 
Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Hadits di atas dapat bermakna, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu Jahannam dan terbelenggunya setan-setan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan mulianya bulan tersebut.” Lanjut Al Qodhi ‘Iyadh, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan hal maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” [3]
 
3. Terdapat Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan
Pada bulan ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah –yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.
Allah Ta’ala berfirman,
 
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1-3).
 
Dan Allah Ta’ala juga berfirman,
 
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
 
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan: 3).
 
Yang dimaksud malam yang diberkahi di sini adalah malam lailatul qadr. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah[4]

Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama di antaranya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.[5]
 
4. Bulan Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Do’a
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 
إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ
 
Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.”[6]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
 
Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi”.[7] 

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdo’a dari awal ia berpuasa hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang berpuasa ketika itu.”[8] 

An Nawawi rahimahullah mengatakan pula, “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdo’a demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan kaum muslimin lainnya.”[9]
 
[1] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2/179.
[2] HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
[3] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/188.
[4] Tafsir Ath Thobari, 21/6.
[5] Zaadul Masiir, 7/336-337.
[6] HR. Al Bazaar, dari Jabir bin ‘Abdillah. Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (10/149) mengatakan bahwa perowinya tsiqoh (terpercaya). Lihat Jaami’ul Ahadits, 9/224.
[7] HR. At Tirmidzi no. 3598. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[8] Al Majmu’, 6/375.
[9] Idem.
Share:

Selasa, 13 April 2021

Karakteristik Puasa Ramadhan


KARAKTERISTIK PUASA RAMADHAN.

Penetapan tanggal 1 Ramadhan dalam sidang Itsbat yang diselenggarakan oleh kementrian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) merupakan titik awal dalam menapaki indahnya bulan suci Ramadhan. Dengan masuknya bulan suci, secara otomatis umat Islam akan merasakan suka cita menjalankan berbagai amaliah ibadah yang secara khusus hanya ditemui dalam bulan Ramadhan, salah satunya ialah puasa ramadhan.

Secara pengertian, puasa berarti menahan. Adapun puasa dalam pengertian syariat adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan niat tertentu dimulai sejak terbitnya fajar (subuh) sampai tenggelamnya matahari (maghrib).[1] Legalitas puasa sebagai syariat telah tercantum dalam al-Qur’an, yang mana Allah SWT telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah; 183)

Sejak Kapan ada Puasa Ramadhan?

Dalam kitab Fathul Mu’in dijelaskan bahwa ibadah puasa ramadhan pertama kali diwajibkan pada bulan sya’ban di tahun kedua setelah Hijrah (2 Hijriyah).[2] Mengkaji dari aspek hirtoris sejarahnya, ibadah puasa sebenarnya merupakan syariat umat-umat terdahulu. Kemudian ibadah puasa juga menjadi bagian dari syariat umat Rasulullah SAW akan tetapi dengan format aplikatif yang berbeda.

Syekh Hasan Bashri berkata, “Zaman dulu orang-orang Yahudi diwajibkan berpuasa ramadhan. Namun mereka meninggalkannya. Dan justru mereka menggantinya dengan puasa satu hari dalam setahun, yakni puasa Asyuro’, karena mereka memiliki keyakinan pada hari itulah Allah menenggelamkan Fir’aun. Begitu juga kaum Nasrani, dulu mereka memiliki kewajiban berpuasa ramadhan. Namun mereka melakukannya secara terus menerus sampai melebihi tiga puluh hari yang berakibat mereka mengalami kelelahan yang luar biasa. Akhirnya para pemimpin dan pemuka agama Nasrani mengambil keputusan bahwa puasa ramadhan hanya dilakukan ketika musim semi.”[3]

Dari cerita yang dipaparkan tersebut nampak memberi dukungan pada pendapat kedua yang mengatakan bahwa puasa ramadhan merupakan ciri khas syariat umat Nabi Muhammad SAW yang tidak ditemukan sebelumnya. Berpijak pada pendapat yang diklaim sebagai pendapat Mu’tamad (pendapat yang dijadikan pegangan) ini, puasa yang dilakukan umat-umat terdahulu bukanlah puasa ramadhan seperti sekarang ini.

Pahala Puasa Ramadhan

Dalam pengaplikasiannya, ibadah puasa dilakukan hanya dapat dilakukan dengan menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa. Tentunya, seseorang yang berpuasa atau tidak tidak mampu terdeteksi dengan panca indera. Maka dari itu, sudah sangat layak kalau dikatakan puasa merupakan ibadah yang murni hanya diketahui oleh seorang hamba dengan Tuhannya. Tidak ada yang tahu secara pasti seberapa besar pahala yang dijanjikan Allah SWT kepada hambanya yang melakukan ibadah puasa ramadhan. Dengan demikian, Rasulullah SAW pernah bersabda dalam salah satu hadisnya;

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Allah Azza wa Jalla berkata; Puasa itu untukku dan aku sendiri yang akan membalasnya”.[4]

Maka dari itu, demi menumbuhkan spirit semangat ibadah puasa ramadhan, hendaklah umat Islam mengetahui dan memahami berbagai karakteristik yang dapat mengenalkannya kepada ibadah puasa ramadhan. Karena menjadi sebuah realita bahwa menjalankan ibadah puasa tak sekedar menggugurkan kewajiban belaka, melainkan sebagai usaha diri untuk memenuhi kebutuhan rohani demi kebahagiaan di hari esok. Rasulullah SAW bersabda:

وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ عِنْدَ الْفِطْرِ وَحِينَ يَلْقَى رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Kebahagiaan saat ia berbuka dan kebahagiaan saat bertemu Tuhannya”. []waAllahu a’lam

[1] Hasiyah al-Bajuri ‘ala Fathil Qorib, I/286.
[2] Hamisy Fathil Mu’in, hlm 158, cet. Al-Haromain.
[3] Ianah at-Thalibin, II/242-243.
[4] Shahih al-Bukhari, IX/143, Maktabah Syamilah.
.
.
Sumber : FB LIRBOYO
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung