Minggu, 16 November 2025

DIPECAT KARENA TAK PERNAH KALAH


Di zaman pemerintahan Khalifah Sayidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." Ya..!! beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus. 

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit. 

Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas. 

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin Sayidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap..!"

Menerima kabar tersebut, tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu. 

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya. 

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya dipecat?"

"Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.

"Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"

"Kamu tidak punya kesalahan."

"Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"

"Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."

"Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya. 

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong''

''Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!"

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"

Bayangkan…. mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, 'kegagalan' atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat.....bahkan hingga yang paling ekstrim.... Tuhan pun digugat..

Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin. 

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.."
Share:

Rabu, 27 Agustus 2025

MUI Watulimo Lepas H. Fatkurrohman, Sosok Kepala KUA yang Bersahaja dan Bersinergi


Watulimo – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Watulimo turut memberikan apresiasi dan penghormatan atas pengabdian H. Fatkurrohman, S.Ag., M.Si, yang telah bertugas sebagai Kepala KUA Watulimo selama lebih dari tiga tahun. Kini, beliau resmi pindah tugas dan diamanahi jabatan baru sebagai Kepala KUA Kecamatan Munjungan.

Selama bertugas di Watulimo, H. Fatkurrohman dikenal sebagai sosok yang bersahaja, ramah, dan mampu membangun sinergi dengan berbagai pihak, termasuk dengan MUI. Kiprahnya dalam membangun pelayanan keagamaan, penguatan kerukunan umat, serta pendampingan masyarakat dalam urusan ibadah dan keluarga sakinah, meninggalkan kesan mendalam bagi jajaran pengurus MUI Watulimo.

Mewakili MUI Watulimo, Murdiyanto, Wakil Sekretaris MUI Kecamatan Watulimo, menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus pesan perpisahan.

“Kami keluarga besar MUI Kecamatan Watulimo menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak H. Fatkurrohman. Beliau adalah figur Kepala KUA yang tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, mendampingi, dan bersinergi dengan para ulama, tokoh agama, serta organisasi masyarakat. Tentu selama bersama ada banyak pengalaman, kerja sama, dan program keumatan yang telah berjalan dengan baik. Kami juga memohon maaf jika selama berinteraksi terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Doa kami menyertai Bapak, semoga di tempat tugas baru di Kecamatan Munjungan, Bapak senantiasa diberi kesehatan, kekuatan, dan keberkahan dalam melanjutkan pengabdian untuk umat,” ungkap Murdiyanto.

Murdiyanto juga menambahkan bahwa jejak pengabdian H. Fatkurrohman di Watulimo akan selalu dikenang, terutama perannya dalam memperkuat koordinasi antara KUA dengan lembaga keagamaan, khususnya MUI.

“Watulimo tentu kehilangan sosok yang hangat dan bersahabat, tetapi kami percaya beliau akan membawa semangat yang sama bahkan lebih baik di Munjungan. Semoga tali silaturahmi dan kolaborasi ini tetap terjalin meskipun beliau bertugas di tempat baru,” imbuhnya.

Acara pelepasan H. Fatkurrohman berlangsung sederhana namun penuh makna. Sejumlah tokoh agama, pemerintah, ormas, dan masyarakat hadir memberikan doa dan harapan terbaik bagi keberhasilan beliau di tempat pengabdian yang baru.

Dengan kepindahan ini, MUI Watulimo berharap agar sinergi yang sudah dibangun dapat terus dilanjutkan, dan semoga KUA Munjungan semakin berkembang di bawah kepemimpinan beliau.


By : Myanto-ID

Share:

Senin, 18 Agustus 2025

Murdiyanto: Naharul Ijtima’ NU Watulimo Jadi Momentum Konsolidasi dan Spirit Kemerdekaan


Karanggandu, 17 Agustus 2025 — Bagi Murdiyanto, Wakil Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Watulimo, pelaksanaan Naharul Ijtima’ kali ini terasa istimewa. Bukan hanya karena diadakan di Masjid Darus Tsanawi, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, tetapi juga karena bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam pengantar pembukaan, Murdiyanto menegaskan bahwa pertemuan rutin NU bukan sekadar agenda formal organisasi, melainkan wahana untuk mempererat ukhuwah, menguatkan struktur jam’iyyah, dan menyatukan langkah perjuangan.

“Hari ini kita berkumpul dalam forum Naharul Ijtima’ yang insyaAllah penuh berkah. Bersamaan dengan momentum kemerdekaan bangsa, mari kita jadikan forum ini sebagai ajang konsolidasi dan penguatan khidmah kita di NU,” ujarnya.

Acara dimulai dengan iftitah dan tahlil qashar yang dipimpin oleh Kyai Chalimy Anwar dari LTMNU Watulimo, diikuti dengan khidmat oleh seluruh jamaah. Selanjutnya, sambutan diberikan oleh Shahibul Bait, yakni Kyai Saeroji (Rais Syuriyah Ranting Karanggandu) dan Kyai Ahmad Kholik (Wakil Ketua Tanfidziyah Ranting Karanggandu).

“Karanggandu merasa mendapat kehormatan menjadi tuan rumah kegiatan ini, terlebih bertepatan dengan Hari Kemerdekaan. Semoga memberikan manfaat dan berkah untuk masyarakat,” ungkap Kyai Saeroji.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua MWC NU Watulimo, Kyai Leif Sulaiman, yang menekankan pentingnya meneladani perjuangan ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan, serta menyampaikan hasil Muskercab PCNU Trenggalek terbaru sebagai pedoman kerja organisasi.

“Kemerdekaan ini lahir dari perjuangan panjang para ulama, kiai, dan santri. Maka tugas kita adalah menjaga dan melanjutkan perjuangan itu melalui NU di segala lini kehidupan,” pesan beliau.

Dalam sesi musyawarah, beberapa agenda strategis dibahas dan disampaikan oleh para tokoh NU, di antaranya:

  • Pendataan Aset NU oleh Kyai Chalimy Anwar, yang mengingatkan pentingnya menjaga aset jam’iyyah.

    “Aset NU adalah titipan jamaah, harus kita rawat dan data dengan baik agar bermanfaat untuk umat,” jelasnya.

  • Informasi KBIHU NU oleh H. Juwito, yang menegaskan kesiapan NU dalam membimbing jamaah haji dan umroh.

    “Bimbingan haji dan umroh perlu diarahkan sesuai manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah agar jamaah kita tenang dalam beribadah,” terangnya.

  • Program Kaderisasi PD-PKPNU berbasis Masjid/Mushola oleh Murdiyanto, yang menegaskan bahwa pusat kaderisasi harus kembali ke basis jamaah.

    “Masjid dan mushola adalah pusat peradaban umat. Kaderisasi yang dimulai dari sana akan mengakar kuat dan berkesinambungan,” tutur Murdiyanto.

  • Peran NU di segala bidang kehidupan oleh K.H. Thohirin, yang mengajak NU untuk tampil dalam sektor sosial, pendidikan, hingga ekonomi.

    “NU tidak boleh hanya hadir di forum keagamaan, tapi juga harus memberi manfaat nyata di semua lini kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Bagi Murdiyanto, pertemuan ini adalah bukti nyata bahwa NU selalu beriringan dengan perjalanan bangsa. Spirit kemerdekaan dan semangat khidmah NU berjalan seiring, menjadi energi dalam menguatkan peran NU di tengah masyarakat.

“NU dan Indonesia adalah satu nafas. Semoga Naharul Ijtima’ kali ini membawa keberkahan dan menjadi pijakan bagi langkah NU Watulimo ke depan,” pungkasnya.

Acara ditutup dengan doa khidmat, memohon keberkahan dan kekuatan dalam melanjutkan perjuangan, sekaligus meneguhkan komitmen NU sebagai penjaga agama dan bangsa.


By : Admin

Share:

Minggu, 17 Agustus 2025

MWC NU Watulimo Hadiri Upacara Detik-Detik Proklamasi HUT ke-80 RI di PPN Prigi: “NU Akan Terus Bersinergi untuk Indonesia Maju"


Watulimo, 17 Agustus 2025 – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Watulimo turut berperan aktif dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia yang digelar di Halaman Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, Tasikmadu, Ahad (17/8/2025). Upacara Detik-Detik Proklamasi yang mengusung tema "Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju" ini menjadi momen kebersamaan lintas elemen masyarakat dan pemerintahan.

Hadir mewakili Ketua MWC NU Watulimo, Murdiyanto, selaku Wakil Sekretaris MWC NU, bersama jajaran Banom NU seperti GP Ansor, Banser, Fatayat NU, dan IPSNU Pagar Nusa. Kehadiran tersebut menjadi wujud komitmen NU dalam menjaga semangat nasionalisme sekaligus mempererat tali silaturahmi dengan seluruh elemen bangsa.

Saat dikonfirmasi secara terpisah dalam sambutannya seusai upacara, Murdiyanto menyampaikan bahwa NU memandang peringatan HUT RI bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pengingat pentingnya menjaga kemerdekaan dengan kerja nyata.

“NU akan terus bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat dalam menjaga persatuan, meneguhkan kedaulatan, serta memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Semangat kemerdekaan harus kita wujudkan dalam langkah nyata, agar Indonesia benar-benar maju sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa,” ujarnya.


Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tema HUT ke-80 RI tahun ini sangat relevan dengan nilai-nilai yang dipegang NU. “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju adalah semangat yang sejalan dengan khidmat NU di masyarakat. NU ada untuk semua, bekerja untuk kemaslahatan bersama,” tambahnya.

Upacara di PPN Prigi ini dihadiri oleh Anggota DPRD Kabupaten Trenggalek dari Kecamatan Watulimo, Forkopimcam Watulimo, Danposmat TNI AL Prigi, Kapospol Air Trenggalek, Kepala Instansi dan Sekolah, Kepala Desa se-Kecamatan Watulimo, Ketua Ormas, Komunitas, Perguruan Pencak Silat, Pendamping Desa, Korcam PKH, Kepala Perbankan, Ketua Organisasi Wanita, Ketua PPDI, Ketua PGRI, Ketua Muhammadiyah dan Aisyiyah, Ketua LDII, Ketua PWRI, serta Ketua PEPABRI/PPAD Kecamatan Watulimo.

Bagi MWC NU Watulimo, momentum 17 Agustus ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah amanah yang harus dijaga melalui kebersamaan, gotong royong, dan penguatan ukhuwah di tengah masyarakat.



Kontributor : Tim Media MWC NU Watulimo
.
Share:

Doa Kebangsaan di MI Watuagung: Merajut Spirit Kemerdekaan dengan Doa dan Kebersamaan


Watuagung – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Keluarga Besar PAUD, RA Miftahul Huda, dan MI Watuagung bersama Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Watuagung menyelenggarakan Doa Kebangsaan pada Sabtu (16/8/2025). Acara yang digelar di halaman MI Watuagung, Dusun Suwur, Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo ini berlangsung penuh khidmat dengan melibatkan ratusan hadirin dari berbagai unsur masyarakat.

Peserta kegiatan terdiri dari para santri, wali santri, dewan asatidz-asatidzat, pengurus ranting NU, serta para takmir masjid dan mushola setempat. Semangat nasionalisme dan nuansa religius sangat terasa ketika seluruh hadirin larut dalam doa dan lantunan istighotsah, mendoakan bangsa agar senantiasa dalam lindungan Allah SWT.

Acara diawali dengan sambutan pengantar dari Kepala MI Watuagung, Bapak Mustarom, S.Pd.I. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa Doa Kebangsaan ini merupakan wujud nyata kecintaan warga madrasah terhadap tanah air.

“Hari kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga bagaimana kita menanamkan semangat nasionalisme kepada anak-anak didik sejak dini. Doa kebangsaan ini menjadi sarana untuk menyatukan hati kita agar bangsa Indonesia senantiasa diberi kekuatan, kedamaian, dan persatuan,” ujar Mustarom di hadapan para hadirin.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan istighotsah yang dipimpin oleh Bapak Murdiyanto, Wakil Sekretaris MWC NU Watulimo. Suasana semakin khusyuk ketika jamaah bersama-sama membaca doa untuk keselamatan bangsa dan arwah para pahlawan. Dalam tausiyah singkatnya, Murdiyanto mengingatkan kembali peran spiritualitas dalam menjaga keberlangsungan kemerdekaan.

“Kemerdekaan bangsa Indonesia diraih dengan perjuangan dan doa yang tak henti-henti dari para pejuang dan ulama. Maka sudah sepatutnya kita, generasi penerus, menjaga dan mengisi kemerdekaan itu dengan semangat ukhuwah, pengabdian, dan doa yang tulus,” tutur Murdiyanto.


Puncak acara diisi dengan doa penutup oleh KH. Muyani, Wakil Rais Syuriyah NU Ranting Watuagung. Dengan penuh kekhusyukan, beliau memanjatkan doa agar bangsa Indonesia tetap dalam lindungan Allah SWT, dijauhkan dari segala bencana, serta dianugerahi pemimpin yang amanah dan rakyat yang rukun dalam bingkai persatuan.

Kegiatan Doa Kebangsaan ini tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga menjadi ruang silaturahim yang mempererat hubungan antara madrasah, wali murid, masyarakat, dan pengurus NU. Kehangatan kebersamaan terlihat dari wajah para santri yang antusias, orang tua yang penuh rasa syukur, serta para tokoh agama yang hadir dengan semangat kebangsaan yang tinggi.

Bagi masyarakat Desa Watuagung, acara ini adalah simbol bahwa nilai-nilai nasionalisme dan religiusitas tidak dapat dipisahkan. Semangat cinta tanah air harus berjalan beriringan dengan ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana ajaran para ulama NU yang selalu menekankan prinsip hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman).



🔹 Kontributor : Tim Media MWC NU Watulimo
Share:

Sabtu, 09 Agustus 2025

Ketua MWC NU Watulimo: “Ansor Harus Jadi Benteng Ulama dan Selalu Hadir di Tengah Masyarakat”


NU Online Watulimo – Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Watulimo, Bapak Kyai Leif Sulaiman, M.Pd., menerima kunjungan silaturahim jajaran Panitia Konferancab ke-XIII PAC GP Ansor Watulimo bersama Ketua Demisioner, sahabat Murdiyanto, dan Ketua terpilih masa khidmah 2025–2028, sahabat Muh. Afif Wahyudin, di kediamannya pada Jum’at malam Sabtu (8/8/2025).

Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk melaporkan hasil Konferancab ke-XIII, menyampaikan perkembangan kaderisasi, serta memohon pembekalan dan pengarahan dari Ketua MWC NU Watulimo.

Dalam pertemuan tersebut, Kyai Leif Sulaiman memberikan apresiasi atas inisiatif jajaran PAC GP Ansor Watulimo yang datang untuk bersilaturahim dan melapor secara resmi. “Ini tradisi baik yang harus dijaga. Organisasi harus selalu berkoordinasi dengan MWC NU, agar program berjalan searah dengan visi Nahdlatul Ulama,” ungkap beliau.

Kyai Leif Sulaiman menegaskan peran strategis Ansor dan Banser di masyarakat. “Ansor dan Banser adalah benteng ulama dan NKRI. Kepengurusan yang baru harus melanjutkan program yang baik, meningkatkan sinergi dengan MWC NU, serta menjaga akhlak dan adab sebagai kader Nahdliyin,” pesannya.

Beliau juga mengingatkan pentingnya kelanjutan kaderisasi dan hubungan harmonis antaranggota. “Pergantian kepemimpinan itu wajar, tapi jangan sampai memutus tali persaudaraan. Jadikan estafet ini sebagai penguat ukhuwah dan pemacu semangat untuk bekerja lebih baik,” tegasnya.

Selain itu, beliau menekankan perlunya peran aktif di tengah masyarakat. “Jangan hanya aktif di internal organisasi. Turunlah ke tengah masyarakat, bantu mereka, dan tunjukkan bahwa Ansor selalu hadir untuk umat,” tambah Kyai Leif.

Pertemuan yang berlangsung hangat ini diakhiri dengan diskusi ringan membahas rencana kerja sama antara MWC NU Watulimo dan PAC GP Ansor Watulimo, khususnya dalam bidang kaderisasi, dakwah, dan pemberdayaan pemuda.

Dengan kunjungan ini, Ketua MWC NU Watulimo berharap kolaborasi dan kekompakan antara Ansor, Banser, dan seluruh Banom NU di Watulimo semakin menguat, sehingga perjuangan membentengi aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan menjaga NKRI bisa berjalan lebih optimal.



Kontributor : Tim Media NU Online Watulimo
.
Share:

MWC NU Watulimo Apresiasi dan Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Sahabat Muh. Afif Wahyudin sebagai Ketua PAC GP Ansor Watulimo 2025–2028


NU Online Watulimo – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Watulimo memberikan ucapan selamat dan sukses atas terpilihnya Sahabat Muh. Afif Wahyudin sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Watulimo masa khidmat 2025–2028.

Ucapan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua MWC NU Watulimo, Kyai Leif Sulaiman, M.Pd., pada saat menerima kunjungan silaturahim dari Ketua PAC Demisioner bersama Panitia Konferancab ke-XIII dan ketua terpilih dikediaman beliau. Dalam kesempatan tersebut, Kyai Leif menegaskan bahwa terpilihnya Sahabat Afif merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, keikhlasan, dan semangat khidmat kepada jam’iyah dan umat.

“Atas nama keluarga besar MWC NU Watulimo, kami mengucapkan selamat dan sukses kepada Sahabat Muh. Afif Wahyudin. Semoga amanah ini mampu dijalankan dengan baik, menjadi pemimpin yang istiqamah, visioner, serta mampu menjaga dan memperkuat ukhuwah di tubuh Ansor dan Banser,” ungkap Kyai Leif Sulaiman.


Selain itu, MWC NU Watulimo juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada Sahabat Murdiyanto, Ketua PAC GP Ansor Watulimo masa khidmat 2023–2025, atas dedikasi, kerja keras, dan pengabdiannya selama memimpin organisasi.

“Jasa dan kiprah Sahabat Murdiyanto selama memimpin PAC GP Ansor Watulimo sangat kami apresiasi. Beliau telah menjadi teladan dalam pengabdian dan membangun sinergi dengan berbagai pihak. Semoga semua yang telah beliau lakukan menjadi amal jariyah di sisi Allah,” tambah Kyai Leif.

Dengan terpilihnya kepengurusan baru, MWC NU Watulimo berharap PAC GP Ansor Watulimo dapat semakin maju, solid, dan berkontribusi besar dalam menjaga keutuhan NKRI, meneguhkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, serta mengawal kaderisasi pemuda di Kecamatan Watulimo.



Kontributor : Tim Media NU Online Watulimo
.
Share:

Kamis, 07 Agustus 2025

MWC NU Watulimo Dorong GP Ansor Terus Perkuat Khidmad dan Sinergi dalam Konferancab Ke-XIII


NU Online WatulimoKonferensi Anak Cabang (Konferancab) Ke-XIII PAC GP Ansor Watulimo resmi dibuka pada Rabu (06/08/2025) dengan penuh khidmat. Pembukaan yang digelar di Hotel Prigi - Jln. Raya Tasikmadu Kecamatan Watulimo ini turut dihadiri oleh jajaran Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Watulimo, tokoh masyarakat, aparat pemerintah, kepolisian, dan ratusan kader Ansor-Banser se-Kecamatan Watulimo.

MWC NU Watulimo diwakili oleh Kyai Chalimy Anwar, selaku Pelaksana Rais Syuriyah, memberikan sambutan yang penuh motivasi dan nasihat. Dalam arahannya, beliau menegaskan pentingnya Ansor untuk selalu berpegang teguh pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, menjaga marwah organisasi, dan memperkuat peran dalam membentengi umat serta mengawal keutuhan NKRI.

“Konferancab ini bukan hanya ajang pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk meneguhkan niat khidmah kepada agama, bangsa, dan organisasi. GP Ansor harus menjadi garda terdepan yang siap menghadapi tantangan zaman, menjaga ukhuwah, dan bersinergi dengan seluruh elemen masyarakat,” ujar Kyai Chalimy Anwar.


Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran PAC GP Ansor Watulimo masa khidmad 2023–2025 yang telah bekerja keras membangun sinergi, baik dengan MWC NU, pemerintah, maupun pihak keamanan. Harapannya, kepengurusan baru nanti dapat melanjutkan bahkan meningkatkan capaian yang telah diraih, sehingga eksistensi Ansor di Watulimo semakin kuat dan bermanfaat.

Acara pembukaan ini berlangsung penuh semangat, diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars Syubbanul Wathon, dan Mars GP Ansor, serta sambutan dari berbagai pihak. Konferancab Ke-XIII ini dijadwalkan membahas laporan pertanggungjawaban pengurus, merumuskan program kerja strategis, dan memilih ketua PAC GP Ansor Watulimo masa khidmat 2025–2028.

Dengan dibukanya Konferancab Ke-XIII ini, MWC NU Watulimo berharap GP Ansor terus menjadi pelopor kebaikan, perisai ulama, dan pejuang kebangsaan di tengah masyarakat.



Kontributor : Tim Media NU Online Watulimo
.
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung