Sabtu, 15 Mei 2021

Gelar Koordinasi dan Konsolidasi, Kapolres Trenggalek Ajak Perguruan Silat Jaga Kamtibmas

 

Anwalin News - Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi umat Islam. Setelah sebulan lamanya kaum muslimin ditempa menjadi muttaqin. Menahan lapar, dahaga, serta meninggalkan hawa nafsu lainnya yang dapat membatalkan dari ibadah puasa. Semua itu dilakukan semata-mata untuk mengharap ridha Ilahi serta mendapatkan pahala dari-Nya.

Di malam hari kemenangan itu, selayaknya muslim mengagungkan asma Allah. Menggemakan takbir, tahlil, tasbih serta tahmid seraya merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Mulia. Penuh dengan harapan, agar muslim benar-benar kembali fitri sebagaimana seorang bayi yang baru saja dilahirkan oleh sang ibu.

Namun ternyata dibalik perayaan hari raya yang seharusnya penuh dengan hikmat itu, ada aksi yang seharusnya tidak perlu terjadi. Adanya clash antar oknum anggota perguruan silat hingga sampai adanya pengrusakan atribut organisasi kepemudaan, memaksa pihak berwajib serta pihak terkait untuk harus turun tangan. Hingga akhirnya kejadian tersebut harus diselesaikan ke ranah hukum.

Oleh karena itulah, pada hari Sabtu, 15 Mei 2021, bertempat di Gedung Pujasera Taman 360 Tasikmadu, Kapolres Trenggalek beserta Kapolsek Watulimo mengadakan pertemuan koordinasi dan konsolidasi dengan beberapa pengurus perguruan pencak silat yang ada di Kecamatan Watulimo. Acara tersebut langsung dipimpin oleh Kapolres Trenggalek Bapak AKBP Doni Satria Sembiring, S.H., S.I.K., M.Si. Turut hadir dalam acara tersebut, Kasat Intelkam Polres Trenggalek, Wakapolres Trenggalek, Kapolsek Watulimo, Ketua PAC GP Ansor Watulimo beserta Kasatkoryon Banser Watulimo, Disparbud Watulimo, Ketua Pagar Nusa, Pengurus PSHT, Pengurus TS, Pengurus IKSPI.

Acara ini dibuka dengan sambutan dari Bapak Kapolres Trenggalek. Dalam sambutan pembukanya, Beliau menjelaskan maksud dan tujuannya diadakan acara pertemuan ini, yaitu untuk tetap menggalang semangat persatuan dan kesatuan demi terwujudnya kerukunan dan nama baik Kecamatan Watulimo. Beliau juga menjelaskan adanya permasalahan kamtibmas yang telah terjadi sehingga pada akhirnya memerlukan komunikasi yang lebih intens antara pihak berwajib dengan pihak terkait. Sehingga pada akhirnya keamanan dan ketertiban di Kecamatan Watulimo bisa kondusif.

“Adanya clash yang terjadi di malam hari raya, serta adanya pengrusakan atribut salah satu organisasi kepemudaan mengharuskan kita untuk mengadakan pertemuan ini. Siapa yang terlibat (bersalah) pada kejadian itu, akan ditindak secara hukum. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga persatuan dan kesatuan demi kerukunan bersama serta nama baik Watulimo”, ungkap Kapolres Trengglek mengawali sambutannya.

Kedepannya pihaknya akan berkoordinasi dengan IPSI kaitannya dengan pembuatan aturan bagi anggora perguruan pecak silat yang melanggar hukum akan dikeluarkan dan tidak boleh diterima di perguruan lain. Selain itu, adanya beberapa organisasi atau komunitas yang tidak masuk dalam wadah IPSI akan ditindaklanjuti bersama. Hal ini merupakan langkah prefentif terhadap adanya gangguan-gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Beberapa tahun terakhir ini, untuk meminimalisir gangguan kamtibmas yang disebabkan adanya clash antar perguruan silat ini, telah diadakannya program pembuatan spanduk/benner bersama dalam rangka menyambut Bulan Ramadhan dan Idul fitri. Hal ini bertujuan, agar semangat keakraban, kebersamaan serta persatuan di antara anggota perguruan silat ini semakin kuat. Menjaga nama baik perguruan serta daerah domisilinya. Sehingga dengan demikian, tawuran dan bentrok tidak akan terjadi. Dan malah sebaliknya, solidaritas sebagai sesama anggota perguruan semakin erat.

Ke depannya, pihak kepolisian akan masuk dalam acara perguruan silat. Misalnya saja untuk penyampaian materi Wawasan Kebangsaan, materi Pancasila, serta perundang-undangan yang kesemuanya itu mempunyai tujuan akhir yaitu untuk menumbuhkan rasa memiliki, merawat kebhinekaan dan cinta tanah air serta persauan sesama anak bangsa.

Pernyataan dari Kapolres Trenggalek tersebut juga dikuatkan oleh Kasat Intelkam Polres Trenggalek.Pihaknya telah mengetahui ada beberapa organisasi/komunitas di luar perguruan silat.

“Terdapat beberapa kelompok atau komunitas (pencak silat) yang ada di luar perguruan. Hal ini memberikan efek yang sangat besar, sehingga pengawasannya menjadi sangat sulit. Dan juga karena tidak melekat pada perguruan silat, maka pengendalinya menjadi tidak ada”, ungkapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa adanya kelompok-kelompok tersebut harus segera dipetakan. Hal tersebut bertujuan untuk mengantisipasi serta menghindari adanya gangguan stabilitas keamanan. Oleh sebab itu, semua potensi konflik atau masalah tersebut secepanya ada usaha pencegahan sejak dini.

Menanggapi kejadian malam hari raya, Kapolsek Watulimo, Bapak AKP. Suyono, S.H.,M.Hum, mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait karena sudah bisa berdamai. Adapun tentang adanya atribut salah satu organisasi pemudaan yang telah dirusak pihaknya mengatakan bahwa hal ini telah dikomunikasikan dengan pengurus atau ketua organisasi tersebut. Namun selebihnya proses hukum tetap berlanjut. Karena hal ini pada dasarnya bukan permasalahan organisasi, tetapi sudah masuk dalam masalah pribadi.

Senada dengan yang dikatakan oleh Kapolsek Watulimo, Ketua PAC GP Ansor Watulimo, Sahabat Murdiyanto mengungkapkan bahwa pihaknya terus melakukan komunikasi dan menjalin koordinasi dengan pihak berwajib. Hukum adalah kuasa tertinggi dalam berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sebagai warga negara yang baik hendaklah mendukung serta menerima keputusan dari pihak berwajib. Pun demikian, Beliau juga meminta kepada seluruh ketua atau pengurus perguruan silat yang ada di Kecamatan Watulimo untuk legowo (menerima dengan lapang dada) menerima dari hasil putusan hukum, apapun hasilnya.

Kaitannya dengan clash yang terjadi di Desa Tasikmadu, yang notabenenya daerah wisata, Disparbud Kabupaten Trenggalek, Bapak Sunyoto, mengatakan bahwa kamtibmas merupakan modal dasar majunya pariwisata. Dengan majunya parwisata tentunya akan meningkatkan taraf ekonomi masyaraat sekitar. Kamtibmas yang buruk disamping akan mempengaruhi nama Watulimo juga akan mempengaruhi sektor pariwisata.

Sebagai pernyataan penutup, Bapak Kapolres Trenggalek mengajak kepada semua masyarakat umumnya serta kepada perguruan pencak silat khususnya, untuk bersama-sama menjaga serta meningkatkan keamanan dan ketertiban masyarakat agar pembangunan serta kegiatan pariwisata tetap berjalan dengan baik. Memberikan sumbangsih bagi masyarakat serta pembangunan nasional. (dh)

Share:

Jumat, 14 Mei 2021

KH Abdul Wahab Chasbullah Penggagas Istilah "Halal Bi Halal"


Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. 

Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain."

"Itu gampang". kata Kiai Wahab. 

"Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah 'Halal Bi Halal'." jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul 'Halal bi Halal' dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.
.
.
Sumber : FB Pesantren Online
Share:

Rabu, 12 Mei 2021

Kisah Kawanan Perampok Tobat Berkat Kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani


Saat masih belia, Syekh Abdul Qodir Al-Jilani mencari ilmu dengan melakukan perjalanan dari Kota Mekah menuju Kota Baghdad, Irak. Sang ibu pun membekalinya uang sebanyak 40 dinar yang dijahit di dalam ketiak bajunya. Sang ibu juga berpesan agar ia senantiasa menjaga kejujuran.

Ketika sampai di wilayah Hamdzan, datanglah sekelompok orang yang berusaha menghadang dan merampok rombongan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

Saat yang lain merampas harta para rombongan, salah seorang perampok menghampiri Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil dan bertanya, “Apa yang kau miliki?”

Mendengar pertanyaan itu, Syekh Abdul Qodir Al-Jilani pun memberitahu apa yang ia miliki, yakni uang saku sebanyak 40 dinar pemberian ibunya yang diletakkan di jahitan ketiak.

Perampok itu pun merasa aneh dan kemudian membawa Syekh Abdul Qodir Al-Jilani untuk dihadapkan pada pimpinannya. Pemimpin perampok itu pun menanyakan hal serupa. Dan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kembali mengulangi jawaban yang sama.

Mendengar jawaban itu, pemimpin perampok itu pun curiga dan bertanya, “Apa yang membuat engkau berkata jujur wahai anak kecil?”

“Ibu berpesan kepadaku agar aku senantiasa jujur. Dan aku takut untuk berkhianat terhadap pesan ibuku.” Jawab Syekh Abdul Qodir Al-Jilani dengan polosnya.

Untuk membuktikan kejujuran itu, pemimpin perampok itu pun menyobek pakaian Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. Dan benar, di dalamnya ada uang 40 dinar.

Meleleh
Sambil terharu, pemimpin perampok berkata, “Engkau takut untuk mengkhianati pesan ibumu. Sementara aku tidak sekali pun takut mengkhianati Allah.”

Ia pun memerintahkan para anak buahnya untuk mengembalikan semua barang hasil rampokan dari rombongan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

“Aku bertobat kepada Allah di depanmu.” Kata pemimpin perampok kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil.

Ia pun bertobat dan disusul para anak buahnya. Salah satu dari mereka pun berkata, “Engkau (pemimpin rampok) adalah pembesar kita dalam hal merampok. Dan Engkau (Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil) adalah pembesar kita dalam bertobat.”

Sejak saat itu, semua perampok bertobat berkat kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. []WaAllahu a’lam

Disarikan dari kitab Irsyad al-Ibad, halaman 71, karya Syekh Zainuddin al-Malibari.
Share:

Senin, 10 Mei 2021

Gelar Koordinasi dan Konsolidasi dengan PC GP Ansor Trenggalek, PAC GP Ansor Watulimo Mantapkan Kepengurusan Masa Khidmah 2021-2023

 

Anwalin News- Organisasi dapat diibaratkan dengan sebuah pohon. Di mana antara bagian satu dengan yang lainnya terkoneksikan dengan sempurna. Pokok dengan cabang, cabang dengan ranting, ranting dengan daun, bunga ataupun dengan buah. Pola hubungan dalam pohon ini menjadikannya tumbuh kembang dengan sempurna. Hal ini dikarenakan ada alasan yang mendasar. Pertama, semua bagian-bagian tersebut berjalan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dan yang kedua, semua bagian terkoneksikan atau terhubung dengan sempurna.

Begitupun dengan organisasi, di satu sisi setiap tingkatan bagian harus mampu untuk menjalankan tugas serta fungsinya berdasarkan peraturan organisasi yang ada dalam setiap tingkatan. Dan di sisi lain, antara bagian atau tingkatan, garis perintah dan koordinasi harus jelas dan terhubung dengan baik. Sehingga dengan demikian, ketika dua faktor ini berjalan dan berfungsi dengan baik, maka sebuah organisasi akan dapat berjalan dengan baik, mulai dari tingkatan paling bawah (ranting) sampai dengan pusat (pokok).

Koordinasi serta konsolidasi perlu bahkan harus terjalin dengan baik antara organisasi di tingkat bawah dengan di tingkat atasnya. Agar kedekatan dan keserasian hubungan antar tingkatan ini dapat memudahkan dalam mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itulah, pada hari Ahad malam, tanggal 9 Mei 2021 M yang dalam hal ini bertepatan dengan malam yang ke 28 Ramadhan 1442 H, PAC GP Ansor Watulimo mengadakan silaturrahim dalam agenda Koordinasi dan Konsolidasi Kepengurusan GP Ansor Watulimo masa khidmah 2021-2023 dengan PC GP Ansor Trenggalek. Acara silaturrahim ini diadakan di kediaman Ketua PC GP Ansor Trenggalek, Sahabat Agus Muhammad Izzudin Zakki.

Terdapat beberapa poin agenda dari acara koordinasi dan konsolidasi tersebut, diantaranya yaitu:

1.      Ini merupakan agenda silaturrahim antara pengurus harian PAC GP Ansor Watulimo dengan Ketua PC GP Ansor Trenggalek. Oleh karena itulah Ketua PAC GP Ansor Watulimo memperkenalkan personil dari pengurus harian PAC GP Ansor Watulimo untuk masa khidmah 2021-2023.

2.      Sekaligus melalui silaturahim ini, PAC GP Ansor Watulimo mengundang Ketua PC GP Ansor Trenggalek dalam acara Malam Penutupan Safari Ramadhan 1442 H yang akan di gelar di Masjid Baiturrahman Desa Gemaharjo Kecamatan Watulimo pada hari Ahad tanggal 10 Mei 2021.

3.      Penyampaian serta koreksi dari progres kegiatan yang sedang dilaksanakan oleh PAC GP Ansor Watulimo. Termasuk juga dalam hal ini adalah kegiatan yang akan dilaksanakan dalam jangka waktu dekat ini.

4.      Bahwa dalam Reker ke-2 PC GP Ansor Trenggalek, sebagian agenda kegiatan GP Ansor akan dipusatkan di tingkat PAC. Hal ini dimaksudkan sebagai langkah untuk penguatan internal organisasi. Karena selama ini menurut Ketua PC GP Ansor Trenggalek sudah banyak agenda yang bersifat show on eksternal. Di sisi lain, kinerja dari PAC serta Ranting perlu untuk optimalkan.

5.      Ketua PC GP Ansor Trenggalek berpesan bahwa apa yang sudah tertulis dan tertuang dalam SK pengangkatan dalam struktural organisasi, harus mampu untuk sepenuhnya dijalankan oleh kader organisasi. Hal ini bermakna bahwa anggota GP Ansor -Banser harus berperan secara aktif sesuai dengan pedelegasian wewenang dalam jabatan yang sedang diembannya. Hal ini tentunya sebagai wujud khidmah kader kepada organisasinya yaitu GP Ansor.

6.      Di era milenial yang serba digital ini, kader GP Ansor harus mampu mengambil peluang untuk keuntungan pergerakan organisasi. Media sosial sebagai sarana yang paling efektif dan efisien untuk menunjukkan eksistensi kader dan organisasi. Artinya, kader GP Ansor harus bisa menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah, menyebarkan Islam ala ahlussunnah wal jama’ah an-nahdhiyyah, sekaligus untuk memperkuat keberadaan GP Ansor di tengah-tengah masyarakat. Di sisi lain, tujuan digunakannya media sosial untuk sarana dakwah dan menunjukkan pelaksanaan program kerja atau kegiatan GP Ansor yaitu sebagai motivasi kepada pimpinan di daerah-daerah lain untuk berlomba-lomba dalam hal pelaksanaan program kerja strategis demi terwujudnya tujuan oraganisasi.

Semoga acara silaturrahim kali ini mempererat jalinan ukhuwah islamiyyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah bashariyah serta membawa membawa manfaat bagi semua pihak. (dh)

Share:

Minggu, 09 Mei 2021

Safari Ramadhan Ke-12 PAC GP Ansor Watulimo, LDNU Watulimo: "Santri Harus Jelas Sanad Keilmuannya".

 

Anwalin News- Sabtu, 8 Mei 2021, Tim Safari Ramadhan PAC GP Ansor Watulimo bersama dengan MWC NU Watulimo, MUI Kecamatan Watulimo, Forkopimcam Watulimo, PAC IPNU IPPNU Watulimo menggelar safari yang ke-12. Safari kali ini bertempat di Masjid Shirotul Iman, Desa Slawe, Kecamatan Watulimo. Bertepatan dengan malam ke-27 Ramadhan 1442 H, maka acara ini sekaligus ditujukan untuk memperingati malam lailatul qadar.

Sebagaimana rundown terjadwal dari Tim Safari Ramadhan. Acara ini dimulai dengan Shalat Isya’ berjamaah dan dilanjutkan dengan Shalat Tarawih dan Witir berjamaah di Masjid Shirotul Iman. Memasuki acara inti safari ramadhan, acara dibuka dengan pembacaan Ummul Kitab, dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an yang dalam hal ini dilantunkan oleh Rekanita Riska Dwi Cahyani dari PAC IPPNU Watulimo.

Meningkat acara selanjutnya sambutan dari Takmir Masjid Shirotul Iman, Bapak H. Supeno, S.Pd. Dalam sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih atas kepercayaannya dalam gelaran safari Ramadhan yang laksanakan di Masjid Shiratul Iman. Karena juga dalam memperingati malam laiatul qadar, beliau berpesan untuk meningkatkan kuanitas serta kualitas ibadahnya. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya menyambut lailatul qadar. Diharapkan dengan begitu, bisa mendapatkan “rahmah dan hikmah” dari malam yang lebih baik dari seribu bulan itu.

Sambutan selanjutnya dari Bapak Mujiyat selaku Kepala Desa Slawe. Beliau menyampaikan semangat Ramadhan ini harus berimbas pada meningkatnya kualitas ibadah, khususnya pada 10 terakhir Bulan Ramadhan ini. Beliau juga menghimbau kepada masyarakat khususnya jamaah Masjid Shiratul Iman untuk tetap mematuhi protokol kesehatan ketika melakukan ibadah qiyamul lail di masjid ataupun musholla.

Memasuki acara yang selanjutnya, yaitu sambutan dari PAC GP Ansor Watulimo. Dalam kesempatan kali ini, sambutan disampaikan oleh Sahabat Devid Hariyanto. Dalam sambutannya, mewakili PAC GP Ansor Watulimo, ia menjelaskan tentang pelaksanaan dari Safari Ramadhan tahun 1442 H ini. Penjelasan tersebut meliputi dari latar belakang, tim pelaksana lapangan, sasaran, tujuan serta fungsi atau nilai-nilai yang yang terdapat dalam pelaksanaan Safari Ramadhan tahun ini.

Di samping itu, ia juga memberikan pesan serta motivasi kepada para jamaah untuk terus menjalankan protokol kesehatan. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, serta mengurangi interaksi. Pelaksanaan protokol kesehatan ini harus dilaksanakan baik ketika beraktifitas di dalam maupun di luar ruangan. Terlebih pada saat di tempat atau fasilitas umum.

Sambutan selanjutnya dari pihak Forkopimcam Watuimo yang dalam hal ini disampaikan oleh Babinkamtibmas Desa Slawe, Bapak Setiono. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan kondisi terkini persebaran covid-19, khususnya yang terjadi di Desa Slawe. Masyarakat harus selalu patuh untuk memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak aman. Upaya ini merupakan langkah yang paling efektif dan efisien untuk melindungi diri sendiri, keluarga dan lingkungan dari ancamaan covid-19. Beliau juga berharap kepada masyarakat untuk terus mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah dalam kaitannya penanganan covid-19. Tidak lain dan tidak bukan, kebijakan-kebijakan tersebut dalam upaya melindungi segenap masyarakat Indonesia dari wabah covid-19.

Memasuki sesi orasi keagamaan, tausiyah disampaikan oleh Bapak K. Syamsudin dari Rais Syuriah NU Ranting Slawe sekaligus Ketua LDNU MWC NU Watulimo. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan bahwa sanad keilmuan harus bersambung sampai kepada guru. Santri harus tawadhu’ dan taat pada sang guru, agar ridho dan hikmah dari bisa masuk dalam hati santri. Sedangkan di era sekarang banyak orang yang mencari ilmu agama dengan mengenyampingkan sanad keilmuannya. Misal, adanya anggapan bahwa cukup dengan melihat google. Sehingga hal ini tentunya juga berimbas pada ilmu serta pengetahuan yang didapat. Munculnya kaum takfiri, seakan mengulngi sejarah masa lalu akan adanya kelompok Khawarij. Maka dari itulah, NU dengan sistem pendidikan agamanya, terlebih lagi tradisi mengaji di pondok pesantren merupakan trend sistem pembelajaran yang sangat komprehensif. mencetak generasi yang benar-benar paham agama, penerus perjuangan bangsa dan negara.

Semoga safari ke-12 ini sekaligus malam peringatan lailatul qadar memberi manfaat dan barokah kepada kite sekalian. Aamiin.

Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung