Kamis, 27 Agustus 2020

KH. A. Muchit Muzadi dan Pandangan Kebangsaannya


Pada malam takbiran 1 Syawal 1429 H/ 1 Oktober 2008, saya diajak (almarhum) bapak saya sowan ke KH. A. Muchith Muzadi. Beliau adalah ulama empat zaman: era revolusi fisik, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi.

Di tengah ramai takbir, banyak pitutur yang telah beliau sampaikan, dan hanya beberapa yang saya ingat dan saya catat, di antaranya soal hubungan antara agama dan negara di Indonesia dan pandangan NU mengenai NKRI.

Mbah Muchith lebih memandang hubungan antara agama dan negara dalam perspektif simbiotik, saling membutuhkan dan memperkokoh (hirasat ad-din wa siyasat ad-dunya); bukan integralistik apalagi sekuleristik. Beliau menolak pandangan Negara Islam Indonesia (NII), juga khilafah. Beliau juga tidak sepakat sekularisme, atau konsep negara sekuler ala AS atau Perancis. Kakak kandung KH. Hasyim Muzadi ini lebih sepakat dengan pandangan negara simbiotik seperti Indonesia saat ini. Konsepsi kenegaraan yang terilhami dari prinsip agama; negara tidak secara langsung ikut campur urusan agama, melainkan menyediakan perangkat yang membantu kelancaran urusan keagamaan melalui Kemenag; dan agama juga tidak secara kaku "mengatur" negara. Dari sini akan terjadi simbiosis mutualisme yang berbasis dialog antara "agama" dan "negara" dalam sistem kenegaraan.

Pandangan beliau ini saya rasa banyak diilhami oleh pandangan para guru beliau, seperti KH. A. Wahid Hasyim dan tentu saja kompatriot beliau, KH. Achmad Siddiq. 

Dalam soal keislaman dan keindonesiaan, Mbah Muchith mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah rumah besar. Semua agama ikut andil membangun rumah besar ini. Beliau mengibaratkan umat Islam telah membangun fondasinya, agama lain ikut menyumbang bata buat membangun tembok, menyumbang genteng, semen dll. Intinya semua ikut bekerjasama membangun rumah bernama Indonesia. 

Ini pula yang disebut ukhuwah wathaniah, persaudaraan sebangsa dan setanah air (selain ukhuwah islamiyah dan ukhuwah basyariah). Persaudaraan sebangsa dan setanah air ini yang sejak dulu berusaha diwujudkan dan diikat oleh para pendiri negara ini. Para arsitek yang mendesain Indonesia sebagai tempat berteduh bersama-sama, tanpa memandang agama, suku bangsa, dan ras.

Memang, rumah ini belum ideal, tapi kita harus realistis dan menjaga agar tidak roboh. "Kalaupun ada pihak-pihak yang ingin mencongkel daun pintu, merobohkan tembok, sampai melempari genteng, ya harus kita cegah. Demikian pula kalau dari internal penghuni rumah melakukan hal ini, harus kita hadapi, ditangani baik-baik."  kata kiai yang dijuluki Gus Dur sebagai "kiai nyentrik" ini.

Mbah Muchith juga banyak menceritakan bagaimana pandangan para ulama dalam menjaga dan merawat NKRI, khususnya lika-liku saat berhadapan dengan Orde Lama dan Orde Baru.

"Kalaupun ada pihak yang tiba-tiba ingin merobohkan rumah besar ini, apapun ideologinya, biasanya tidak ikut andil membangun dan merawatnya dengan susah payah."

Demikian beberapa poin yang saya ingat saat sowan beberapa tahun silam. Pandangan keagamaan dan kebangsaan Mbah Muchith ini mengingatkan saya pada satu hal: semakin sepuh usia ulama Indonesia, semakin sering kesana kemari menyampaikan pandangan kerukunan antar anak bangsa, Indonesia sebagai sebuah rumah bersama, dan konsepsi negara yang didirikan bersama eksponen kebangsaan lain. Silahkan cek pandangan Gus Dur, Mbah Maimoen Zubair, Habib Lutfi bin Yahya, Abuy Muhtadi Pandeglang, dan sebagainya.

Mbah Muchith, santri KH. M. Hasyim Asy'ari ini, wafat pada 6 September 2015. Lahul Fatihah...

Penulis : Gus rijal mumazziq z
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung