Sabtu, 26 September 2020

PAC GP. Ansor Watulimo Ikuti Sekolah Sungai Bersama KPST dan BBWS Brantas

Ansor Watulimo News - Beberapa bulan terakhir ini, ketika pandemi covid 19 menyebar, segala yang berkaitan dengan aktivitas lapangan dan gerakan masa tidak bisa dilaksanakan dengan maksimal. Sedangkan permasalahan yang berkaitan dengan isu pelestarian lingkungan semakin kompleks. Diantaranya adalah permasalahan yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan, sumber daya air serta pemanfaatannya.
 
Berkaitan dengan permasalahan tersebut, pada hari Sabtu, 26 September 2020, bertempat di Gedung Pusat Madani Jawa Timur, Komunitas Peduli Sungai Trenggalek (KPST) mengadakan acara Sekolah Sungai. Acara tersebut terselenggara atas  kerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.
 
Dalam sambutan Ketua KPST, Bapak Nurkholison menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan kembali semangat komunitas pecinta dan pelestari lingkungan serta organisasi sosial kepemudaan dalam menjaga serta melestarikan lingkungan serta sumber daya air. Sekolah Sungai yang diselenggarakan di wilayah Watulimo kali ini adalah Sekolah Sungai yang struktur kepesertaanya sangat ideal. Hal ini melihat topografi wilayah Kecamatan Watulimo yang struktur sungainya lengkap, terdiri atas kawasan hulu, kawasan tengah, serta kawasan hilir. Kawasan-kawasan tersebut sudah ada komunitas yang meng-handle-nya. Dan komunitas-komunitas tersebut hadir dalam acara Sekolah Sungai ini.


Sehubungan dengan hal tersebut, Ketua PAC GP Ansor Watulimo (sahabat Murdiyanto) bersama Kasatkoryon Banser Watulimo (sahabat Nurhamid) mendelegasikan dua anggotanya yaitu Sahabat Devid Hariyanto (GP. Ansor) dan Sahabat Sujito (Banser) untuk ikut serta dalam acara itu. Hal itu menunjukkan bahwa kehadiran dari GP Ansor mempunyai peran serta untuk ikut aktif bersama-sama melestarikan lingkungan serta pemanfaatan sumber daya air yang ada di Kecamatan Watulimo. Salah satu peran yang sangat strategis dan telah terjalin romantis dari PAC GP Ansor Watulimo dengan pihak Forkopimcam Watulimo ini adalah keterlibatan Banom muda NU ini untuk turut serta dalam kegiatan GESIKA MOLEK (Gerakan Resik Kali Watulimo Trenggalek).
 
Sekolah Sungai kali ini memaparkan beberapa materi yang sangat sederhana dan strategis. Sederhana di sini dimaksudkan bahwa materi ini mudah dan murah untuk diaplikasikan sebagai bentuk teknoogi baru dan terbarukan. Sedangkan strategis, bermaksud bahwa materi tersebut dimaksudkan berdayaguna bahkan memiliki nilai ekonomis. Diantara materi tersebut adalah budi daya Maggot BSF (Black Soldier Flies). Maggot ini adalah larva lalat hitam yang mempunyai nilai ekomonis yang lumayan tinggi yang bisa dijadikan untuk pakan ternak. Bahkan pemasarannya sudah masuk dalam pasaran online. Sampah organic (buah, sayur) yang biasanya masuk dalam sampah pasar bisa digunakan sebagai  pakan serangga ini. Sehingga salah satu keuntungannya sampah organic bisa dimanfaatkan tanpa harus dibuang di tempat pembuangan sampah.


Tidak kalah menariknya dengan budi daya maggot, yaitu Materi Memanen Air Hujan yang disampaikan oleh Bapak Amik Purdinata. Menyitir al-Qur’an Surat al-Anfal ayat 11, yang mengandung maksud bahwa air hujan memiliki empat fungsi, yaitu: untuk mensucikan; menghilangkan gangguan syaitan; untuk menguatkan hati; serta memperteguh telapak kaki. Hal itulah yang menjadikan motivasi beberapa kawan-kawan di BBWS Brantas untuk memaparkan instalasi serta teknis bagaimana memanen air hujan sehingga bisa dimanfatkan sebagai salah satu jenis air kesehatan.
 
Di akhir kegiatan Bapak Nurkholison selaku Ketua KPST dan Bpak Amik Purdinata selaku pihak BBWS Brantas, memberikan apresiasi serta siap memfasilitasi kawan-kawan di PAC GP Ansor Watulimo untuk menyelenggarakan bimbingan teknis atas materi Sekolah Sungai, khususnya pada materi Memanen Air Hujan.


Semoga kegiatan Sekolah Sungai ini memberikan manfaat dan barokah bagi lingkungan serta bagi sesama. Jika kita menjaga alam, maka alam pun akan menjaga kita. Aamiin. (DH)

Share:

Jumat, 25 September 2020

Kitab Kuning Karya Sepanjang Masa

Peradaban manusia akan terus bergerak, sejalan dengan berdetaknya jarum jam. Setiap yang bergerak, memiliki sumber energi berupa bahan bakar sebagai penggerak mesin atau sistem organnya. Pesawat terbang dapat mengangkat badan, bermanufer, dan menembus awan dengan Aviation Turbine alias avtur sebagai bahan bakarnya. Mobil mampu bergerak jika mesin telah meneguk cairan pertalite dari selang pengisian. Dan kapal laut bisa berekspedisi ketika Marine Fuel Oil (MFO) telah memasuki arteri mesin dari tangkinya.

Benda hidup juga perlu bahan bakar. Tumbuhan membutuhkan unsur hara tanah, karbon dioksida, air, dan sinar matahari sebagai bahan energi. Manusia dan binatang membutuhkan nutrisi dari makanan yang mereka makan. Dengan begitu, tumbuhan akan bergerak dengan caranya, sedang manusia dan binatang dapat beraktivitas sesuai keinginannya. Aktivitas manusia inilah yang paling dominan mengubah gerak suatu peradaban. Maju tidaknya peradaban suatu kaum, memiliki hubungan erat dalam komunitas kaum tersebut. Sementara bahan bakarnya, muncul dari ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan bisa didapat dari mana saja. Tak ketinggalan, pondok pesantren. Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren—hingga kini terus merawat semangatnya dalam membangun peradaban. Layaknya sebuah kendaraan, pondok pesantren akan terus bergerak dengan adanya mesin pelumas keorganisasian yang tertata, disertai bahan bakar berupa kurikulum yang bermutu. Melalui kurikulum yang bermutu inilah, sepak terjang pesantren dalam menghadapi tantangan medan zaman, dapat dilaluinya dengan teguh.

Berbicara kurikulum, pondok pesantren tak akan lepas dari Kitab Kuning. Perwujudan Kitab Kuning dalam dunia pesantren, menjadi konsentrasi utama dalam sistem program studinya. Sesuai dengan tujuan didirikannya pesantren oleh Wali Songo, yaitu—memberikan ruang kepada umat untuk memperdalam ajaran agama Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunah. Sehingga memahami tafsiran al-Qur’an dan as-Sunnah begitu sangat penting. Tetapi sebelum itu, terlebih dahulu santri diharuskan untuk menguasai ilmu alat, balaghoh, dan gramatika bahasa Arab. Sebab batang tubuh al-Qur’an memuat semua itu. Dengan hal ini, al-Qur’an tidak serta merta ditafsiri sekehendak hati menggunakan hawa nafsu.

Keberadaan Kitab Kuning memiliki kaitan yang sangat kuat dengan kepulan asap dapur pesantren khalaf atau modern. Konsentrasi Kitab Kuning juga mencakup kecakapan dalam ilmu syariat—menuntut para pembacanya untuk berlayar dalam samudra ilmu fikih. Tak lupa, ilmu ahlak dan tasawufnya.

Tirakat
Dalam menuliskan Kitab Kuning, ulama tidak hanya bermodal kecermerlangan intelektualitas saja. Tetapi disertai akhlak bathiniyyah yang selalu dijaga—hal inilah yang membedakan kebanyakan pengarang dan penulis pada zaman sekarang. Tirakat yang dilakukan oleh Mushonif sebelum menuliskan hasil renungan pemikiran intelektualitas, diantaranya dengan selalu daimul wudhu, berpuasa, dan mendawamkan qiyamul lail. Tamsil saja seperti tokoh Imam Al-Bukhori yang sebelum menuliskan hadist, beliau terlebih dahulu untuk mentajdidkan (memperbaharui) wudhu dan melakukan sholat sunnah dua rakaat—sehingga bagi orang yang mempelajarinya, dapat memunculkan keberkahan tersendiri. Kitab Kuning bagai memiliki tuah sakti atas izin Allah Swt. Keberkahan Kitab Kuning menjadi primadona. Bahkan kesuksesan bagi orang yang mempelajarinya, tidak ditentukan dari kepandaian akademis yang dimiliki—tetapi dilihat dari faktor Bifadh Lillahi Ta’ala sesuai dengan kadar kesungguhan, keistiqomahan, serta akhlak saat masa ta’lim wa ta’alum.

Hasil tirakat dari para Mushanif sangat berpengaruh pada relevansitas Kitab Kuning sampai saat ini. Sehingga memunculkan penilaian bahwa Kitab Kuning tidak akan ada tenggang waktu kadaluwarsa. Dengan adanya Kitab Kuning, santri belajar. Dunia pesantren tetap hidup dan terus hidup meramaikan peradaban—sekalipun di era 4.0 seperti sekarang ini. Walaupun Kitab Kuning disusun jauh berabad silam, tetapi melalui bahstul masa’il yang digelorakan oleh para santri, permasalahan kekinian bisa dipecahkan. Dulu santri dianggap khariqul adat bagi masyarakat non-pesantren. Sedang sekarang, mereka tampil dipermukaan untuk memberi solusi permasalah umat. Bahkan karena menterengnya, mereka banyak yang menjadi sosialita.[]

Penulis: Nayla I. Hisbiyah (Penulis adalah santri Pon-Pes Unit Tanfidzil Qur’an Lirboyo, asal Mojokerto)


Sumber : FB LIRBOYO
Share:

Biografi KH. Ridwan Abdullah

Pelukis berbakat alam ini, bersama Wahab Chasbullah dan Mas Abdul Aziz, adalah trio yang berjasa kepada NU.

Kenapa demikian?

Malam itu Ridwan Abdullah (63 tahun) tertidur nyenyak di pembaringannya. Sebelum tidur, ia telah melaksanakan shalat istikharah, minta petunjuk Allah. 

Kakek sekian cucu itu terdesak waktu. Hasil karyanya ditunggu untuk dikibarkan di forum muktamar kedua Nahdlatul Ulama (NU) di salah satu hotel di Surabaya dua hari lagi.

Padahal, ia telah menyanggupi sejak dua bulan sebelumnya, ketua panitia muktamar, K.H. Wahab Chasbullah, juga telah mengingatkan dirinya. 

Entah kenapa ilham untuk menciptakan lambang jam & rsquoiyyah ulama yang baru didirikan oleh Hadhratusy Syaikh K. H. Hasyim Asy’ari tahun lalu itu sulit didapat.

Masalahnya, dia juga tidak mau sembarangan. Itu karena jam’iyyah ulama tersebut merupakan organisasi yang menghimpun ahli agama, sehingga lambangnya juga harus mencitrakan keberadaan, kepaduan, kesungguhan, dan citacita yang ingin dicapai. 

Keinginan yang begitu luhur itu terus didesak waktu.

Ketika malam telah larut dan Ridwan Abdullah terbuai tertidur nyenyak di keheningan malam, dia mimpi melihat gambar di langit biru. 

Ketika terbangun, jam dinding menunjuk angka dua. Segera diambilnya kertas dan pinsil dan ditorehkannya gambar mimpi itu dalam bentuk sketsa.

Akhirnya, coretan itu pun selesai. Pada pagi harinya, sketsa itu disempurnakan lengkap dengan tulisan NU, huruf Arab dan Latin. 

Hanya dalam waktu satu hari, lambang itu selesai, sempurna wujudnya seperti yang kita kenal sampai hari ini. 

Maklum, kiai Ridwan memang dikenal sebagai ulama yang punya keahlian melukis. 

Itulah sebabnya K.H. Wahab Chasbullah menugasinya membuat lambang jam & rsquoiyyah tersebut.

Namun, untuk merepresentasikannya di atsa kain, dia kesulitan mencari bahan yang pas. 

Saking percaya kepada mimpinya, Ridwan juga berusaha mencari warna yang tepat dengan yang dilihatnya di mimpi. 

Namun, tidak mudah menemukan warna seperti itu. Beberapa toko kain di Surabaya yang didatangi tidak punya persediaan kain seperti itu.

Akhirnya, di Malang kain itu ditemukan. Itu pun Cuma selembar, berukuran 4 meter x 6 meter. ‘Tak apalah,” pikirnya. 

Maka, di atas kain warna hijau ukuran 4 x 6 itulah, lambang NU pertama kali ditorehkan oleh pelukisnya, K.H. Ridwan Abdullah. Besoknya, 9 Oktober 1927, lambang itu dipancang di pintu gerbang Hotel Paneleh, Surabaya, tempat berlangsungnya.

muktamar NU kedua. Hal itu memang disengaja untuk memancing perhatian warga Surabaya, baik terhadap lambangnya maupun kegiatan muktamar itu sendiri. 

Maklum, segalanya masih baru bagi masyarakat. Umpan itu mengena. 

Pejabat yang mewakili pemerintah Hindia Belanda datang dari Jakarta.

Saat mengikuti upacara pembukaan, dia dibuat terpana dan penasaran demi melihat lambang tersebut. 

Dia lantas bertanya kepada Bupati Surabaya yang berdiri di sampingnya. 

Karena sang Bupati tidak bisa menjawab, pertanyaan itu diteruskan kepada shahibul bait, H. Hasan Gipo. 

Ternyata yang punya gawe pun sama saja: tak tahu menahu..!! 

Dia hanya bisa mengatakan bahwa lambang itu dibuat oleh H. Ridwan Abdullah.

Selanjutnya, dituliskan dalam buku Karisma Ulama, bahwa untuk menjawab tekateki makna lambang NU itu dibentuk mahelis khusus. Beberapa wakil dari pemerintah dan para kiai dilibatkan dalam forum tersebut, termasuk Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. 

Di depan forum tersebut, K.H. Ridwan Abdullah memberikan presentasi untuk pertama kali.

Dalam penjelasannya, Kiai Ridwan menguraikan bahwa tali ini melambangkan agama sesuai dengan firman Allah:

Berpeganglah kepada tali Allah, dan jangan bercerai berai
(Q.s. Ali Imran: 103).

Posisi tali yang melingkari bumi melambangkan ukhuwah (persatuan) kaum muslimin seluruh dunia. 

Untaian tali berjumlah 99 melambangkan asmaul husna. Bintang sembilan melambangkan Wali Sanga. 

Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Muhammad Saw.

Empat bintang kecil di samping kiri dan kanan melambangkan Khulafa’ Ar-Rasyidin. Empat bintang kecil di bagian bawah melambangkan madzahibul arba’ah (madzhab yang empat).

Walhasil, seluruh peserta majelis sepakat, menerima lambang itu dan membuat rekomendasi agar muktamar kedua memutuskan lambang yang diciptakan oleh Kiai Ridwan tersebut menjadi lambang NU. 

Kiai Raden Muhammad Adnan, utusan dari Solo, kemudian merumuskan uraian Kiai Ridwan tadi pada acara penutupan muktamar dengan mengatakan:

“Lambang bola dunia berarti lambang persatuan kaum muslimin seluruh dunia, diikat oleh agama Allah, meneruskan perjuangan Wali Sanga yang sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad dan Khulafa’ Ar-Rasyidin, yang dibingkai dalam kerangka madzhab empat”.

Kelak, 27 tahun kemudian, pada 1954, Kiai Ridwan mengulangi presentasinya itu, namun dalam bentuk utuh. 

Hal itu terjadi pada muktamar ke-20 NU di Surabaya. 

Lambang dunia, yang dibikin bulat seperti bola hingga dapat diputar, diletakkan di medan muktamar, yaitu di depan Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.

Bakat Alam Kiai Ridwan Abdullah lahir di Kampung Carikan Gang I, Kelurahan Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya, pada tahun 1884. 

pendidikan dasarnya diperoleh di sekolah Belanda. Agaknya di situlah, dia mendapatkan pengetahuan teknik dasar menggambar dan melukis. 

Dia tergolong murid yang pintar, sehingga ada orang Belanda yang ingin mengadopsinya.

Belum selesai sekolah di situ, orangtuanyan kemudian mengirimnya ke Pesantren Buntet di Cirebon. Ayah Kiai Ridwan, Abdullah, memang berasal dari Cirebon, Ridwan adalah anak bungsu.

Dari Buntet, Ridwan masih mengembara mencari ilmu ke Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, dan Pesantren Bangkalan, Madura, asuhan Kiai Cholil. 

Di Pesantren terakhir itulah, Ridwan menimba ilmu cukup lama dibanding yang di tempat lain. 

Sebagai kiai, Ridwan lebih banyak bergerak di dalam kota. Dalam beberapa hal, dia tidak sependapat dengan kiai yang tinggal di pedesaan.

Misalnya, sementara kiai di pedesaan mengaharamkan kepiting, ia justru menghalalkan. Ia dapat dikategorikan sebagai kiai inteletual. 

Pergaulannya dengan tokoh nasionalis seperti Bung Karno, dr. Sutomo, dan H.O.S Tjokroaminoto cukup erat. Apalagi, tempat tinggal mereka tidak berjauhan dengan rumahnya, di Bubutan Gang IV/20. 

karena tidak punya pesantren, ia sering megadakan dakwah keliling, terutama pada malam hari, yaitu di kampung Kawatan, Tembok, dan Sawahan.

Sebelum NU berdiri, Kiai Ridwan mengajar di Madrasah Nahdlatul Wathan – lembaga pendidikan yang didirikan oleh Kiai Wahab Chasbullah pada tahun 1916 – dan terlibat dalam kelompok diskusi Tashwirul Afkar (1918), dua lembaga yang menjadi embrio lahirnya organisasi NU. 

Ketika NU sudah diresmikan, ia aktif di Cabang Surabaya dan mewakilinya dalam muktamar ke-13 NU di Menes, Pandeglang, pada tanggal 15 Juni 1938.

Dalam kehidupan rumah tangga, Kiai Ridwan menikah dua kali. Pernikahan pertama terjadi pada tahun 1910 dengan Makiyyah. 

Setelah dikaruniai tiga anak, sang istri meninggal dunia. Yang kedua dengan Siti Aisyah, gadis Bangil, yang dicomblangi oleh sahabatnya, Kiai Wahab Chasbullah.

Kiai Ridwan wafat 1962, pada umur 78 tahun, dimakamkan di Pemakaman Tembok, Surabaya. Kiai Wahab Chasbullah (pendiri NU), K.H. Mas Alwi Abdul Aziz (pencipta nama NU), dan K.H. Ridwan Abdullah (pencipta lambang NU) dikenal sebagai tiga serangkai NU.


Dari Berbagai Sumber
Share:

KAPANKAH SESEORANG DIANGGAP MEMUTUS SILATURAHIM.


Silaturahim bisa diartikan sebagai bentuk menjalin hubungan yang baik antar sesama kerabat dan sanak keluarga. Lalu Kapankah seseorang dianggap memutus silaturahim? Hal ini yang akan kita kupas nanti.

Dalam Alquran, Allah SWT telah berfirman:

وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

“Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. an-Nisa’: 1)

Menjalin tali silaturahim memiliki beberapa hikmah. Di antaranya adalah dilapangkan rezeki serta dipanjangkan umurnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka bersilaturrahimlah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Manifestasi Silaturahim
Dalam sudut pandang syariat, silaturahim dapat diaplikasikan sesuai keadaan, situasi dan kondisi. Imam an-Nawawi menjelaskan:

وَأَمَّا صِلَةُ الرَّحِمِ فَهِيَ الْإِحْسَانُ إِلَى الْأَقَارِبِ عَلَى حَسَبِ حَالِ الْوَاصِلِ وَالْمَوْصُولِ

“Adapun menyambung kekerabatan (silaturahim) ialah berbuat baik pada para kerabat sesuai keadaan orang yang menyambung dan orang yang disambung.” (Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, II/201)

Dengan demikian, tak heran jika silaturrahim dapat dilakukan dengan banyak cara. Tidak harus saling berkunjung ke rumah antara satu dengan yang lain. Imam Syihabuddin ar-Ramli menuturkan:

وَتُسَنُّ صِلَةُ الْقَرَابَةِ وَتَحْصُلُ بِالْمَالِ وَقَضَاءِ الْحَوَائِجِ وَالزِّيَارَةِ وَالْمُكَاتَبَةِ وَالْمُرَاسَلَةِ بِالسَّلَامِ وَنَحْوِ ذَلِكَ

“Disunahkan menyambung tali kekerabatan. Hal itu dapat dilakukan dengan media harta, memenuhi kebutuhannya, mengunjunginya, saling mengirim pesan dan ucapan salam atau sesamanya.” (Nihayah al-Muhtaj, V/422)

Sebaliknya, memutus tali silaturahim merupakan hal yang dilarang. Bahkan termasuk salah satu dari dosa besar. Dalam dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW mengingatkan:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali persaudaraan.“ (HR. Muslim)

Kriteria Putusnya Silaturahim
Namun yang perlu dicermati, sebatas manakah batasan memutus tali silaturahim. Dalam hal ini, Syekh Muhammad bin Salim menjelaskan demikian:

وَمِنْهَا قَطِيْعَةُ الرَّحِمِ وَاخْتُلِفَ فِي الْمُرَادِ بِهَا فَقِيْلَ يَنْبَغِيْ أَنْ تَخُصَّ بِالْإِسَاءَةِ وَقِيْلَ لَا بَلْ يَنْبَغِيْ أَنْ تَتَعَدَّى اِلَى تَرْكِ الْإِحْسَانِ … وَاسْتُوْجِهَ فِي الزَّوَاجِرِ أَنَّ الْمُرَادَ بِهَا قَطْعُ مَا أَلَّفَهُ الْقَرِيْبُ مِنْ سَاِبٍق لِغَيْرِ عُذْرٍ شَرْعِيٍّ

“Termasuk sebuah kemaksiatan ialah memutus tali persaudaraan. Kategori memutus silaturrahim pun masih dipersilisihkan. Ada yang mengatakan bahwa memutus silaturrahim adalah dengan berbuat jelek. Menurut pendapat lain, memutus silaturrahim adalah meninggalkan perbuatan baik… Pendapat lain dalam kitab Az-Zawajir, bahwa yang dimaksud memutus silaturrahim ialah memutus kebiasaan baik terhadap kerabat tanpa adanya udzur yang dibenarkan syariat.” (Is’adur Rofiq, II/117)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa apabila tidak memiliki kesempatan untuk bersilaturrahim kepada kerabat karena keterbatasan waktu, tempat, biaya, ataupun alat komunikasi, maka tidak termasuk kategori perbuatan memutus tali silaturahim yang diharamkan. []waAllahu a’lam


Sumber : FB LIRBOYO
Share:

Kamis, 24 September 2020

Gus Dur, Quraish Shihab dan Sepak Bola


Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga terfavorit di dunia. Sepak bola memiliki penggemar atau masa sangat banyak juga fanatik. Selain itu, semua kalangan bisa memainkan dan bisa menikmati. Jangkauan ke masyarakat lebih dekat ketimbang olahraga lain semacam glof, baseball dan olahraga lain. Dari masyarakat menengah ke bawah sampai kalangan menengah ke atas dapat memainkan si kulit bundar itu.

Tidak terkecuali anak-anak di desa yang minim fasilitas lapangan yang memadai, atau orang kota yang minim lahan bermain. Semua dapat bermain bola dengan senang hati tanpa memikirkan berapa ukuran lapangan maupun lebar gawang itu. Minimal ada lahan sepetak dan bola, pertandingan sudah bisa dilmainkan. 

Sepak bola bukan sekadar play of the game tetapi bisa untuk melihat world view. Artinya, sepak bola telah menyusup ke berbagai elemen. Pemimpin bangsa, elit politik, kaum buruh, mahasiswa, dosen, ibu-ibu rumah tangga, remaja, dewasa hingga anak kecil dan bahkan para ulama besar pun dapat menikmati olahraga yang satu ini.

Berbicara tentang sepak bola dan ulama, benak saya langsung tertuju pada sosok Abdurrahman Wahid dan Muhammad Quraish Shihab. Gus Dur, presiden keempat ini, kita telah mengenalnya sebagai sosok pengamat sepak bola yang brilian. Kejelian dan ketelitian dalam menganalisa sepak bola tak ada yang bisa menyangkal.

Siapa yang sangka, lahir dari kalangan pesantren, Gus Dur memiliki hobi sama seperti anak-anak seusianya, bermain bola. Saat kecil, teman-temannya kerapkali memergoki Gus Dur absen dari pelajaran di kelas hanya karena ia ingin bermain di luar kelas. Sorenya sebelum mengaji bersama kakeknya, Gus dur dengan teman sebayanya bermain sepak bola di pekarangan pesantren.
Gus Dur memiliki kegemaran membaca buku. Ia tidak membatasi dalam mengonsumsi buku. Gus Dur memiliki banyak koleksi buku-buku agama, filsafat, sastra, serta buku mengenai catur dan sepak bola pun tidak luput dari koleksinya.
Saking cintanya terhadap si kulit bundar, Gus Dur kerap melempar gagasan dan opininya tentang sepak bola di media massa. Hasilnya tulisan-tulisan tentang sepak bola bertebaran di media nasional. Bahkan, dari kejeliannya itu, Gus Dur menjadi pengamat sepak bola yang lihai. Buku Gus Dur dan Sepak Bola (2014), terbitan Imtiyaz merepresentasikan bahwa Gus Dur adalah seorang pengamat sepak bola sekaligus kolomnis sepak bola.

Gus Dur lahir di Kota Santri, Jombang, pada 7 September 1940. Ia merupakan cucu KH M Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia. Ia lahir dari pasangan Wahid Hasyim dan Sholihah. Saat lahir, sebenarnya Gus Dur diberi nama Abdurrahman Ad Dakhil, berarti sang penakluk.

Sebenarnya di usia 14 tahun, Gus Dur harus memakai kacamata minus dan mengalami rabun penglihatan. Tetapi ia masih mampu menelaah kejadian yang dilihatnya. Tidak hanya itu, ketajaman dalam menganalis dan mencatat tentang sepak bola semakin terasah. Gus Dur hafal jati diri seorang pemain berikut nomor punggungnya. Ia juga mampu memahami spesialisasi taktik seorang pelatih sampai faktor internal dan eksternal sebuah kesebelasan.

Menurut Cak Nun di suatu hari, Gus Dur itu jarang masuk sekolah atau kuliah. Ketika di Mesir, Gus Dur jarang terlihat  di kampus. Kalaupun ada di kampus, tidak berada di dalam kelas dan ikut pelajaran, tetapi ia berada di perpustakaan atau di luar kelas bermain sepak bola bersama teman-teman. Cak Nun memaparkan kegemaran Gus Dur terhadap sepak bola diam-diam tergambar dari peranan yang ia mainkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kata Cak Nun—dalam hal apa pun—Gus Dur ibarat seorang playmaker, si Jenderal lapangan tengah. Ia mendapuk dirinya di posisi sentral sebagai dirigen permainan. Mengatur alur dan ritme permainan. Menjadi otak serangan. Si pemberi umpan yang dinikmati para penyerang di negara ini maupun para murid-muridnya.

Sementara pada sosok Muhammad Quraish Shihab, kita tidak pernah menemukan tanda-tanda sebagai pencinta sepak bola. Karena sedari dulu, tulisan-tulisannya yang nonggol di media massa tidak ada yang menyinggung tentang olahraga sepak bola. Atau, barangkali kita belum pernah mendengar penuturan dari sumber mana pun, bahwa pengarang Tafsir Al-Misbah ini pencipta sepak bola.

Sebagai anak ulama—yang ayahnya adalah seorang pengajar studi-studi Islam dan Guru Besar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin, Ujungpandang—Quraish tumbuh sebagai anak dewasa seperti biasa. Sebagai anak yang tumbuh di lingkungan yang kental dengan pendidikan agama, ternyata darah mudanya juga mengalir jiwa fanatisme. Siapa yang menduga Quraish Shihab penggemar setia Los Blancos, Real Madrid.
Ulama kelahiran tanah Bugis ini merupakan salah satu penggila Real Madrid. Pengakuan ini ia tulis dalam buku teranyarnya yang berjudul Cahaya, Cinta, dan Canda M Quraish Shihab (2015) terbitan Lentera hati.
Quraish Shihab yang kecilnya hidup di Makassar, di tanah Bugis, sejatinya telah memiliki kecintaan terhadap permainan sebelas lawan sebelas ini. Meski kita mengenalnya sebagai Ahli Tafsir—berbicara tentang tema ke-Islam-an ini—adalah sosok yang mengidolakan Alfredo de Stefano dan Klub Real Madrid. Ketika sedang study di negara Piramida, ia pernah menyisihkan uang tabungannya demi menyaksikan tim jagongannya ketika tandang ke Mesir.

Di penghujung 1950-an—ketika sedang menempuh pendidikan di luar negeri—Quraish dan Alwi Shihab sedang berbunga-bunga hatinya. Ia bakal menyaksikan permainan idolanya secara langsung, Alfredo Di Stefao, peraih Ballon d’Or tahun 1957 dan 1959 itu. Pasalnya, tim Real Madrid sedang melakukan uji coba dengan klub lokal Al Zamayek.

Sementara itu, Quraish Shihab, ketika masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, ia juga pernah bergabung dengan klub sepak bola Zamalek. Ia juga sering bermain bola bersama mahasiswa Indonesia lainnya, di antaranya adalah Abdullah Zarkasy (pemimpin Pondok Modern Gontor) dan Mustofa Bisri (petinggi NU).

Dilihat kecintaan dua tokoh nasional terhadap olahraga sepak bola ini, dapat direpresentasikan bahwa sepak bola telah melebur dalam kalangan mana pun. Sepakbola bukan lagi pertandingan adu fisik, skema, maupun fanatisme. Namun, sepak bola telah merasuk dalam ranah ideologi bahkan sepak bola telah menjadi salah satu tolok ukur melihat dinamika politik nasional. []

Tulisan ini Tayang Perdana di Alif.id pada Jumat, 10 Agustus 2018
Share:

Rabu, 23 September 2020

Gus Baha' : Kyai Tidak Bisa Guyon Itu Kurang ALIM


Kedatangan Gus Baha di perpustakaan Ma’had Aly Ponpes Salafiyah Safi’iyyah Sukorejo saat digelarnya Haul Majemuk sekaligus reuni akbar alumni santri Sukorejo disambut hangat.

Para pengajar dan pengurus Ma’had Aly memfasilitasi para hadirin agar dapat bertatap muka dan berdiskusi dalam acara ‘Ngaji Bareng Gus Baha’ (13/1).

Dalam diskusi siang itu, Rais Syuriah PBNU ini banyak menyoroti pentingnya untuk tidsk terjebak dalam tekstualistik dalam memahami Qur’an dan Hadits. Begitu pula dalam mempelajari kitab-kitab klasik.

Menurut Gus Baha, kiai yang setiap ngaji tidak bisa guyon itu kurang ‘alim. Itu sebabnya mengapa dirinya kerap melontarkan guyonan saat memberi pengajian. Lalu dia pun mengutip perkataaan mendiang gurunya KH. Maimoen Zubair.

“Mbah Moen pernah mengatakan bahwa kiai yang ndak bisa guyon saat ngaji itu kurang lengakp ilmunya,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Maka dapat dikatakan bahwa selera dan kemampuan humor yang menjadi kekhasan para kiai NU ini menjadi penting agar penyampaian pesan bisa diterima dengan baik dan membekas oleh setiap jama’ah.

Melalui humor (guyonan), kiai dapat lebih mudah menyampaikan makna teks-teks yang dapat dikatakan ekstrem dan berat kepada jama’ahnya. Hal ini umum diterapkan di setiap pondok pesantren NU dimanapun di seluruh Nusantara.

“Tafsir itu gampang, tapi pastikan dulu kalian faham fikih, sehingga akan mudah menakwil Qur’an. Itu pasti gampang” katanya kepada para santri Ma’had Aly.
Share:

Menilik Resolusi Hasyim Asy’ari

Islam adalah agama penebar kasih sayang. Islam tidak memandang ras, suku bangsa, warna kulit, bahkan toleran terhadap agama lain. Islam adalah agama Rahmatan Lil ‘Alamin, namun pada kenyataannya sebagian umat manusia memandang agama Islam hanya sebagai ritual yang dikhususkan kepada Tuhan. Tidak diekspresikan dalam perilaku melindungi sesama mahkluk Tuhan di bumi.

Islam mengajarkan cinta kasih terhadap sesama. Tanpa ada kekerasan, misal saling membunuh. Namun berapa banyak orang Islam yang perilakunya bertentangan dengan ajaran agama. Misal aksi al-Qaeda di Timur Tengah yang membombardir gedung di Amerika Serikat tahun 2001, Jama’ah Islamiyah di Mesir yang telah banyak membunuh orang-orang Islam, bahkan yang sangat mengejutkan akhir-akhir ini adanya kelompok ISIS yang sangat radikal, yang banyak membunuh orang-orang Kurdi yang tidak sepaham gerakannya.

Begitu juga di dalam negeri, ketika bulan puasa, gerakan kelompok Islam radikal ini melakukan sweping. Dengan asumsi menghormati bulan puasa, dan ujung-ujungnya memakai kekerasan. Pun bom Bali yang dilakukan oleh Imam Samudra dan kawan-kawannya. Mereka beranggapan tempat dan perayaan-perayaan tersebut mengandung unsur maksiat atau tidak diperbolehkan, padahal tidak sedikit di antara korbannya yang beragama Islam.

Oleh karena, gerakan kelompok Islam radikal ini, menyalahartikan Islam, citra Islam sehingga tercemar. Islam dikaitkan dengan terorisme, yang benar-benar sudah keluar dari hakikat agama. Seringkali orang-orang fanatis terhadap golongan, menuhankan diri dan golongannya yang paling benar sendiri. Seakan-akan mereka yang paling benar sendiri. Selain itu, melekatnya citra jihad sebagai perang (qital), teror dan memaksa orang-orang non-muslim masuk dengan cara-cara militer dan kekerasan (hal. 9).

Karena mempertahankan faham radikal tersebut, sebagian orang (termasuk orientalis Barat) menyebut bahwa Islam adalah agama teroris dan tidak humanis. Pemahaman mereka (Islam radikal) yang sepotong-potong dan ahistoris, menganggap kekerasan atas nama agama sebagai bentuk jihad yang bertendensi pada ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist Nabi. Barangkali mereka lupa Nabi Muhammad diutus untk memperbaiki akhlak manusia.

Dari paradigma di atas, seharusnya perlu sekali diubah oleh umat Islam saat ini. Jihad bukan berarti harus selalu identik dengan perang atau kekerasan, tetapi juga mampu mengubah diri sendiri (jihad al-nafs), melindungi kaum lemah dan tertindas serta merawat alam demi keberlangsungan hidup penerus manusia ke depan. Selain itu, jihad juga memberi implikasi spiritual, dan memiliki implikasi sosial yang positif dalam menata kehidupan sepanjang sejarah manusia.

Salah satu ulama dan sekaligus guru bangsa yang terkenal dengan pemikiran jihadnya adalah KH. Hasyim Asy’ari. Konsep jihad Mbah Hasyim Asy’ari tidak selalu bersifat kekerasan dan lebih diprioritaskan untuk memperbaiki diri (jihad al-nafs), serta mempertimbangkan aspek kemaslahatan bagi umat.

Istilah jihad KH. Hasyim Asy’ari menunjukkan bahwa pada dasarnya Islam adalah agama santun, menghadapi tantangan hidup penuh kesungguhan dalam menyebarkan islam, membela dan mencegah segala bentuk kemungkaran ataupun kesejahteraan umat Islam. Apabila memaknai istilah jihad hanya mengacu pada perang sama artinya dengan melembagakan Islam sebagai agama kekerasan (hal. 114).

Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari sekaligus ulama pendiri Nahdhatul Ulama (NU) tidak mengartikan jihad sebagai perang, namun dalam perjalanan hidupnya, ia selalu membela rakyat kecil, menyantuni anak yatim dan memberikan pendidikan kepada masyarakat. Memberi kabar yang baik. Tidak menyebar berita-berita yang menyesatkan (HOAX). Ia selalu menekankan untuk menjalankan akidah secara benar, serta menjaga tali persaudaraan.

Buku yang ditulis oleh Muhammad Rahmatullah ini sangat penting dengan konteks kekinian. Rahmatullah mampu menulis percikan-percikan pemikiran para ulama—khususnya Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari—untuk memberikan informasi dan salah satu penangkal faham Islam radikal.

Ulama yang pernah difilmkan dengan judul Sang Kiai ini tidak segan-segan mengeluarkan fatwa jihad: wajib setiap orang Islam untuk berjihad (perang) melawan kolonial Belanda. Pada 17 Agustus 1945, Indonesia sudah menjadi sebuah negara berdaulat dan menjadi NKRI, belum genap satu bulan (8 September 1945) setelah proklamasi, pasukan AFNEI (Allied Forces Netherland East Indies) yang bergabung dengan tentara NICA menguasai NKRI lagi. Fatwa jihadnya pada 1945, setiap warga dan orang Islam mengangkat senjata ketika tentara NICA atau kolonial menduduki Tanah Air, Indonesia.

Karena itulah, Hasyim Asy’ari memberi statemen terkait dengan penjajahan dan kekafiran NICA pada tanggal 7-8 November 1945. Resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 yang kemudian ditindak-lanjuti oleh NU adalah salah satu bentuk perjuangan membela kedaulatan negara.

Mbah Hasyim mengatakan setiap penjajahan merupakan bentuk kedzaliman, yang melanggar perikemanusiaan. Jihad yang dilaksanakan oleh KH. Hasyim Asy’ari tidak bertujuan menegakkan ajaran Islam, tetapi juga menciptakan rasa aman dan damai di negeri yang plural, baik lintas agama, budaya maupun suku bangsa (hal. 110).

Kemudian melalui ekternalisasi keulamaan, beliau tidak hanya memainkan peran dalam hubungan diniyah saja, namun juga untuk kepentingan wathaniyah (kebangsaan). Seperti yang dideskripsikan dalam film Sang Kiai, para kiai dan santri terjun ke medan perang untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, baik yang bergabung dengan Hisbullah, PETA, dan laskar-laskar pejuang yang lain, (Hubbul Wathan Minal Iman). Karenanya, jihad KH. Hasyim Asy’ari tidak patron satu makna, akan tetapi lebih kepada konteks di mana dan dengan siapa jihad itu harus dilaksanakan.

Oleh sebab itu, gagasan jihad KH. Hasyim Asy’ari masih relevan dengan masyarakat Indonesia kekinian. Jihad (perang) melawan imperalisme dan kapitalisme kebudayaan dan tradisi Indonesia. Jihad Mbah Hasyim terinspirasi dari fakta sejarah Nabi Muhammad, yang memperbaiki akhlak umatnya.[]

Judul Buku : Jihad Ala KH. Hasyim Asy’ari; Upaya Menangkal Islam Radikal
Penulis : Muhammad Rahmatullah
Penerbit : Imtiyaz-Surabaya
Tebal : xviii +180 hlm
Cetakan : 1, April 2015
Share:

Kata-Kata Gusdur Yang Penuh Makna


Berikut adalah kata-kata bijak gusdur yang bertujuan untuk mengingatkan umat manusia, khususnya mengingatkan masayarakat Indonesia.
  1. Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba yang amatiran.
  2. Allah itu maha besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apapun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.
  3. Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu  bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak Tanya apa agamamu.
  4. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggi toleransinya.
  5. Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikannya. Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah.
  6. Perbedaan itu fitrah. Dan ia harus diletakkan dalam prinsip kemanusiaan universal.
  7. Islam itu datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk ‘aku’ menjadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’. Kita pertahankan milik kita. Kita harus serap ajarannya, bukan budaya Arabnya.
  8. Islam di Indonesia itu timbul dari basis kebudayaan. Jika itu dihilangkan, maka kemungkinannya ada dua, yaitu pertama kebudayaan akan mati, kedua Islam akan hancur. Pesan saya, jadilah pemikir yang sehat.
  9. Berkat perbedaan, semuanya jadi terang benderang.
  10. Dari sudut agama, saya ingin mengingatkan, agar ketidaksenangan kita terhadap seseorang atau suatu kaum jangan sampai menyebabkan kita berlaku tidak adil dalam memutuskan sesuatu.
  11. Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.
  12. Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa adanya perbedaan.
  13. Esensi Islam tidak terletak pada pakaian yang dikenakan, melainkan pada kahlak yang dilaksanakan.
  14. Rentenir memang melakukan kerja manipulatif, karena ia mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain. Sementara Tuhan tidak memanipulasikan apa-apa. Yang diberikan-Nya hanyalah kehidupan itu sendiri. Terserah mau diapakan oleh manusia, dijadikan ajang pengrusakan, atau lahan untuk penyejahteraan hidup.
  15. Jika kita merasa muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa.
  16. Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca Al-Quran, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Al-Quran. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhaknkan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah.
  17. Memaafkan tidak akan mengubah masa lalu, tetapi memberi ruang besar untuk masa depan.
  18. Sebenar apapun tingkahmu, sebaik apapun perilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.
  19. Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, sebaiknya diterima karena itu bukan sesuatu masalah.
  20. Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah maha segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil.
  21. Bukalah hatimu dan bertindaklah dengan jujur.
  22. Mestinya yang merayakan hari natal bukan hanya umat Kristen, melainkan juga umat Islam dan umat beragama lain, bahkan seluruh umat manusia. Sebab, Yesus Kristus atau Isa Al-Masih adalah juru selamat seluruh umat manusia, bukan juru selamat umat Kristen saja.
  23. Saya sudah pernah bilang, mereka itu masih seperti anak TK. Buktinya girang banget ketemu sama si Donald.
  24. Sebuah masyarakat tanpa spritualitas hanyalah akan berujung pada penindasan, ketidakadilan, pemerasan, dan perkosaan, atas hak-hak Asasi warganya.
  25. Negeri ini paling kaya di dunia tapi sekarang negeri ini menjadi melarat karena para koruptor tidak ditindak dengan tegas.
  26. Humor tidak bisa menjatuhkan pemerintah. Tetapi humor bisa membantu membusukkan suatu rezim.
  27. Tragedi BOM Bali yang terjadi di ambang Ramadhan adalah sebuah teguran Ilahi tentang berjangkitnya epidemi perilaku iblis di kalangan masyarakat yang semakin hari semakin sering melakukan kekerasan.
  28. Saya tidak peduli, mau popularitas saya hancur, difitnah, dicaci maki, atau dituduh apapun. Tapi bangsa dan negara ini harus diselamatkan dari perpecahan.
  29. Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan, Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga.
  30. Kepemimpian yang baik dapat membawa hasil yang baik tanpa banyak menumpahkan darah.
  31. Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian.
  32. Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.

Demikianlah beberapa kata-kata penuh makna Gusdur tentang agama ataupun tentang negara. Hingga saat ini kata-kata Gusdur  masih selalu diingat dan dikenang dalam hati masyarakat Indonesia.
Kagem Gus Dur Lahul Fatihah .....
Dari Berbagai Sumber
Share:

Romantisme Seorang Hamba Merayu Tuhan

Tokoh Kang Sudron banyak yang mengenal dengan tokoh yang sangat inspiratif, humoris serta paling balelo di antara teman-temannya di pesantren. Ia dikenal di kalangan santri di pondok dengan tampilan kisah yang menggelitik dan insipratif. Sangat indah bila diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ia biasanya dikisahkan sebagai seorang hamba yang melakukan perjalanan hidup penuh makna.

Dari sinilah pelajaran dan hikmah kehidupan yang penuh tantangan ini diambil. Lewat karakter Kang Sudron, hikmah dan pelajaran dalam melakoni hidup ini dapat diambil dengan jenaka. Sosok Kang Sudron ini ditulis oleh Yazid Muttaqin yang berjudul Kang Sudron Merayu Tuhan; Perjalanan Seorang Hamba Penuh Makna (2014).

Alkisah, seorang bocah yang penuh bentolan basah dan sebagiannya telah mengering kehitam-hitaman. Bocah itu memang sedang terkena cacar air. Ia bergegas menuju Rumah Sakit Kasih Ibu yang terletak tak kurang dari 500 meter utara asramanya. Ia berjalan sendirian tanpa seorang pun yang mengantarnya. Ia terlihat tegar meski dalam hatinya bertengger kesedihan.

Sebenarnya, ia ingin menghubungi orangtuanya. Namun, niat itu ia urungkan. Ia tahu persis bahwa orangtuanya akan tambah panik jika tahu dirinya sakit. Kepanikannya bertambah kala orangtuanya harus mencari pinjaman untuk berangkat menemui anaknya dan membiayai pengobatannya tersebut. Bocah kecil ini hidup dengan sederhana. Sejak berangkat di pesantren, ia harus rela makan hanya dengan menggunakan lauk ikan asin dan kecap, baik sarapan, makan siang, maupun makan malam. Ia sangat hidup prihatin.

Setelah sampai di RSKI (Rumah Sakit Kasih Ibu) ia mendaftarkan diri dan antre di depan ruang praktik dokter. Tak lama antre dan diperiksa ia mendapatkan resep dan segera menuju ke apotik rumah sakit lantai dua itu. Yang namanya orang berobat, dan orang sakit yang ia pikirkan hanyalah berobat. Saat namanya dipanggil dan disebutkan jumlah uang yag akan harus dibayar, bocah kecil itu makin cemas. Obat yang harus ia tebus seharga Rp. 50.000, tapi yang ada di kantong saku celananya hanya Rp. 15.000,.

Ia mencoba menawar. Pegawai apotik menghitung ulang. Lalu, menyebutkan angka Rp. 27.000. Bocah kecil ini kebingungan. Ia meminta maaf karena hanya membayar Rp. 15.000. Kemudian, ia keluakan semua uang yang ada di saku celananya. Ia makin lemas. Ternyata, uangnya tinggal Rp. 10.000. Ia lupa uang yang Rp. 5.000, sudah digunakan untuk membayar pendaftaran tadi. Ia semakin pucat. Matanya mulai membasah. Sementtara itu, beberapa pasang mata pasien lain memperhatikannya.

Di tengah kekacauan pikirannya, tiba-tiba sebuah tangan memegang pundaknya. “Kurang berapa, Dik?” suara dari seorang laki-laki muda, ramah, dan lembut. Seketika, laki-laki itu terlibat pembicaraan dengan pelayan apotik. Laki-laki itu, lantas menyeodorkan sejumlah uang dan segera pergi. Rupanya, ia dan istrinya baru saja mengobati bayinya. Tak lama kemudian, beberapa plastik obat telah ada dalam genggaman tangan si bocah. Tanpa sempat mengucapkan terima kasih, ke pemuda itu, ia hanya diberikannya kartu nama. Tertulis sebuah nama khas Solo yang titel di depan Ir, (insinyur).

Enam tahun berlalu, bocah kecil yang telah lulus Madrasah Aliyah itu datang ke rumah sang insinyur. Laki-laki itu sudah tak mengenali lagi. Ia baru paham setelah bocah itu bercerita bagaimana ia bisa datang ke rumahnya yang cukup besar tersebut.

Kini, setelah dua puluh satu tahun terlewati, insinyur itu pasti tidak ingat lagi dengan kejadian di apotik, di lantai dua Rumah Sakit Kasih Ibu. Ia pasti tidak lagi punya memori tentang bocah kecil itu. Akan tetapi bocah kecil itu tak pernah melupakan kejadian itu meski telah dua puluh satu tahun berlalu. Ia tetap dan akan terus mengingat dengan bantuan kecil itu. Tak akan terhapus dari memori bocah kecil itu tentang sosok laki-laki muda, istri dan bayinya itu. Bahkan, ia berpikir bahwa shodaqah kecil insinyur itu adalah satu mata rantai awal. Ia berkeinginan menyambungnya dengan mata rantai kedua. Kebaikan insinyur itu akan ia balas. Kepada insinyur ia akan membalas, tapi kepada orang lain yang membutuhkan

Kepada orang lain itu bisa menjadi mata rantai yang ketiga dan seterusnya. Sebiji benih yang ditanam insinyur itu semoga dapat menumbuhkan berhektare buah yang menebarkan keberkahan bagi kehidupan.

***

Saat kereta berhenti di sebuah stasiun kecil, ia melihat seorang bocah kecil berpakaian lusuh menengadahkan tangannya. “minta, Om... minta, Om...” Bocah itu segera membangkitkan memori Kang Sudron pada kejadian di apotek, dua puluh satu silam di RS kasih Ibu. Gambaran itu sangat jelas dalam benak Kang Sudron tentang sosok: insinyur, istri dan bayinya, terlebih bocah kecil yang besar yang dikenal dengan nama Kang Sudron, yang kecilnya bercacar air itu. Ketika ia melihat bocah kecil yang menengadah dengan menyebut “Minta, Om...” ia membawanya dalam puluhan tahun silam. Seperti insinyur itu, apabila memberi beberapa uang atau barang yang ia miliki ia telah menyambung mata antai yang sedemikian kalinya.

Imam Nawawi dalam kitab Arba’in menyebutkan sebuah hadits riwayat Imam Muslim. Dalam hadits tersebut sahabat Abu Dzar menceritakan adanya sekelompok sahabat Muhajirin yang mengadu Rasulullah. Terbatasnya harta yang mereka miliki menjadikan mereka tak mampu untuk bershadaqah, sebagaimana yang dilakukan oleh teman-teman yang lebih mampu secara ekonomi. Atas pengaduan mereka ini, Rasulullah menunjukkan betapa banyak jalan menuju kebaikan. Shadaqah tidak harus selamanya menggunakan harta. Bertakbir adalah shadaqah, bertahmid adalah shadaqah, bertasbih adalah bershadaqah, dan sebagainya. Bahkan dalam hubungan suami istri yang sah pun ada pahala shadaqah.

Sering kali kita mendengar—atau bahkan kita sendiri yang bicara—sebuah ucapan: kalau aku kaya nanti, aku akan bershadaqah. Atau, kalau aku sehat, aku akan beribadah. Atau, kalau aku sudah sempat, aku akan melakukan amalan. Amalan ini dan itu dan ucapan-ucapan semisal lainnya. Sering kali kita menggantungkan niat untuk melakukan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah pada keadaan tertentu yang belum tentu terjadi. Seakan kita berpikir sebuah kebaikan hanya bisa dilakukan dalam keadaan tertentu saja.

Sedangkan Allah Swt., dengan kebesaran dan keagungannya, memberikan rejeki dan kemurahan hati-Nya dan kedahsyatan-Nya itu cukup melafalkan dua huruf saja: kaf dan nun; KUN. Dan, terjadilah apa yang semestinya terjadi. Lalu terwujudlah apa yang semestinya terwujud.

Lalu bagaimana dengan kita? Apa kita sudah melakukan apa yang dilakukan oleh Kang Sudron itu? Misalnya, kita memiliki adik atau kerabat yang membutuhkan bantuan kita. Misal, kita sudah layak dan memiliki sendiri, adik kita masih tahap sekolah, kita membiayai perlengkapan sekolahnya. Dan misalnya lagi, kerabat kita yang membutuhkan bantuan ketika sedang sakit, kita memberi bantuan sekuat kemampuan kita. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh kang Sudron tadi. “Ia berpikir bahwa shadaqah kecil insiyur itu adalah satu mata rantai awal. Ia berkeinginan menyambungnya dengan mata rantai kedua. Kebaikan insinyur itu akan ia balas. Bukan kepadanya, tapi kepada orang lain agar orang itu bisa menjadi mata rantai yang ketiga dan seterusnya.

Sebiji benih yang ditanam insinyut itu semoga dapat menumbuhkan berhektare buah yang menebarkan keberkahan bagi kehidupan lainnya.” [MCR]
Share:

Selasa, 22 September 2020

41 Nasehat Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo


Bismillah hirrohmanirrohim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

41 Nasehat Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo

1. Yang penting NGAJI !!! Walaupun anaknya seorang tukang ngarit tapi mau ngaji, ya akan pinter. Anaknya orang alim tapi tidak mau ngaji, ya tidak akan pinter. YANG PENTING NGAJI SING TENANAN. - KH. Abdul Karim (Pendiri Ponpes Lirboyo)

2. Doakan aku supaya jangan dulu meninggal sebelum bisa puasa selama 9 tahun seperti Mbah Khalil. Dan doakan aku juga supaya diakui santrinya Mbah Khalil. - KH. Abdul Karim (Pendiri Ponpes Lirboyo)

3. Yang dinamakan santri yang manfaat ilmunya adalah santri yang ilmunya bisa menuntun mereka meraih ridho Allah. Masalah keadaan tiap-tiap santri di rumahnya kelak, terserah gusti Allah. - KH. Marzuqi Dahlan (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

4. Jangan sekali-kali kalian menyakiti hati orang tua. terlebih-lebih ibu. Karena menyebabkan ilmunya tidak bermanfaat. - KH. Marzuqi Dahlan (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

5. Jika ingin tujuanmu tercapai, jangan makan nasi alias ngerowot. - KH. Marzuqi Dahlan (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

6. Banyak dan sedikitnya ilmu itu sebuah amanat jadi harus disebarkan. - KH. Marzuqi Dahlan (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

7. Ingat kalau kamu jadi pemimpin, tolong hindari 2 masalah. Pertama, jangan sampai mata duitan. Kedua, jangan tergoda perempuan. Kalau bisa bertahan dari dua hal ini Insya Allah selamat. - KH. Mahrus Ali (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

8. Ngajarlah ngaji !!! Kalau nanti kamu tidak bisa makan, kethoken kupingku/potong telingaku. - KH. Mahrus Ali (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

9. Nabi Sulaiman itu sukses dalam 90 tahun dan Nabi Nuh sukses dalam waktu 900 tahun. Tetapi di dalam Al-Qur’an yang disebut Ulul 'Azmi adalah Nabi Nuh. Ini menunjukkan perjuangan dilihat dari kesulitan, bukan dari jumlah murid-muridnya. - KH. Mahrus Ali (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

10. Saya dulu waktu di pondok tidak pernah membayangkan akan jadi kyai, tidak pernah membayangkan akan menjadi orang kaya. Akhirnya menjadi orang mulia seperti ini saya takut. Jangan-jangan bagian saya ini saja, di akhirat tidak dapat bagian apa-apa. - KH. Mahrus Ali (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

11. Kalau ingin hidup mulia hormati orangtua, khususnya ibu. - KH. Mahrus Ali (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

12. Orang yang mempunyai ilmu sambil di riyadhohi dengan yang tidak di riyadhohi itu hasilnya beda. Riyadhoh yang paling utama adalah istiqomah. - KH. Mahrus Ali (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

13. Orang ingin sukses itu kuncinya menghormati istri. - KH. Mahrus Ali (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

14. Barang siapa yang tidak mati karena pedang, maka ia akan mati dengan sebab musabab lain. Sebab musabab kematian itu banyak, namun mati cuma sekali. - KH. Maksum Jauhari (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

15. Banyak orang yang ilmunya sedang-sedang saja Tapi betapa hebat manfaat dan barokahnya karena ditunjangi oleh sifat tawadhu’ dan banyak khidmah tholabul ‘ilmi. - KH. Makshum Jauhari (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

16. Menghormati guru harus juga menghormati apa yang dimiliki guru. - KH. Maksum Jauhari (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

17. Empat perkara untuk menjadi hamba Allah yang haqiqi adalah adab, ilmu, sidqu, dan amanah. - KH. Imam Yahya Mahrus (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

18. Santri kok pacaran berarti santri gadungan. Pernikahan yang berangkat dari pacaran biasanya tidak bahagia, karena saat pacaran yang diperhatikan hanya kebaikannya saja. Dan yang jelas menurut Islam pacaran itu dilarang. - KH. Ahmad Idris Marzuqi (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

19. Walaupun di rumah sudah menjadi tokoh masyarakat, bahkan menjadi wali. Kalau belum mengajar, masih kurang disenangi oleh Mbah Abdul Karim. - KH. Ahmad Idris Marzuqi (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

20. Orang yang ahli baca shalawat, dzurriyah dan anaknya akan mudah menjadi orang ‘alim, shalih akhlaq dan tingkah lakunya. - KH. Ahmad Idris Marzuqi (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

21. Ketika belajar di Lirboyo jangan pernah putus asa apapun yang terjadi. - KH. Ahmad Idris Marzuqi (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

22) Santri kalau pulang harus bisa menjadi seperti paku yang bisa menyatukan berbagai lapisan masyarakat, MESKIPUN DIRINYA TAK TERLIHAT.- KH. Abdul Aziz Manshur (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

23. Lisan hanya wasilah, dakwah sebenarnya (dengan) hati. -KH. Abdul Aziz Manshur (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

24. Jangan dikira umat Islam benci dengan orang Budha, tapi maksudnya yang dibenci adalah agamanya bukan orangnya. - KH. Abdul Aziz Manshur (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

25. Berbuatlah kebaikan sesuai dengan keahlianmu. - KH. Abdul Aziz Manshur (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

26. Kekuatan manusia terbatas. kewajiban kita adalah ikhlas dan berdoa. jangan cuma, "Saya harus bisa begini" - KH. Abdul Aziz Manshur (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

27. Puncak dari segala kenikmatan adalah meninggal dalam keadaan menetapi iman dan Islam. - KH. Abdul Aziz Manshur (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

28. Birrul walidain itu caranya bukan berarti orangtua digendong ke sana ke sini. Tapi yang terpenting jangan menyakiti hati orangtua. - KH. Anwar Manshur (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

29. Hidup di dunia ini pasti terkena cobaan, jangan heran. itu sudah menjadi ketentuannya. - KH. Anwar Manshur (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

30. Amalkanlah ilmu yang kalian peroleh sambil tetap mencari ilmu. Karena mencari ilmu itu tetap diwajibkan sampai akhir hayat. - KH. Anwar Manshur (Pengasuh Ponpes Lirboyo)
31. Kita harus benar-bemar ikhlas dalam berjuang. Jangan sampai mengharapkan pamrih dari segala sesuatu yang kita sumbangkan kepada masyarakat dan bangsa. - KH. Anwar Manshur (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

32. Harganya seseorang adalah ilmu dan pengamalannya. - KH. Anwar Manshur (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

33. Sebaik-baiknya orang, itu orang diajak pencuri, pencurinya malah sadar. Sejelek-jeleknya orang, itu orang diajak pencuri malah ikut jadi pencuri. Jangan mudah terbawa zaman, sekarang sudah tidak karuan. Jangan ikut-ikutan tidak karuan. - KH. Anwar Manshur (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

34. Orang sukses dan alim tentu ada hubungan dengan orangtua dan kakeknya. - KH. Abdullah Kafabihi Mahrus (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

35. Perjuangan membutuhkan pengorbanan. Kejayaan membutuhkan perjuangan. - KH. Abdullah Kafabihi Mahrus (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

36. Setan menggoda dengan cara apapun. Kadang dengan pemikiran. Ini yang berbahaya, maka tafakkur harus didasari ilmu. - KH. Abdullah Kafabihi Mahrus (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

37. Yang bertanggung jawab terhadap NU adalah santri, karena NU lahir dari kalangan pesantren. - KH. Abdullah Kafabihi Mahrus (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

38. Yang serius belajarnya !!! Mumpung masih muda. Kalau sudah tua pasti nambah repot, karena tidak ada orang tua yang tidak repot. - KH. Habibullah Zaini (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

39. Jangan takut ketika tidak bisa bekerja, tapi takutlah ketika hanya bisa bekerja. Pendidikan di Lirboyo bukan untuk bekerja, tapi untuk dakwah. - KH. Ma'ruf Zainuddin (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

40. Harus punya tanggung jawab, kewajiban orang yang mencari ilmu harus belajar. Kewajiban orang yang mempunyai ilmu harus mengajar. - KH. Ma'ruf Zainuddin (Pengasuh Ponpes Lirboyo)

41. Ilmu itu amanah, harus dipegang teguh dan disampaikan kepada yang berhak. - KH. Rofi'i Ya'kub (Pengasuh Ponpes Lirboyo)


Dari Berbagai Sumber
Share:

Raker dan Pemantapan Pengurus Gerakan Pemuda Ansor Tasikmadu



Tasikmadu, Anwalin News - Gerakan Pemuda Ansor Ranting Desa Tasikmadu melaksanakan Raker sekaligus Pemantapan Pengurus yang digelar di Masjid Al-Istiqomah RT 02 RW 01, Senin (21/09/2020). Namun raker tersebut sempat tertunda sejenak dari jadwal awal. Karena pada malam hari itu, mendung di atas langit Tasikmadu diguyur hujan dengan intensitas cukup lebat. Namun turunnya hujan tak menghentikan atau menghalangi acara raker tersebut. Meski sedikit molor dari jadwal awal, yang mana raker tersebut rencananya digelar Ba'dha Sholat Isyak, akhirnya acara tersebut dimulai pada pukul 20.30 WIB.

Dalam acara raker tersebut dihadiri kurang lebih sekitar 50 undangan. Yang mana hadir pula Ketua PAC GP. Ansor Watulimo, yakni sahabat Murdiyanto. Selain itu hadir pula sahabat Muh. Rifai dan para tamu undangan. Acara Raker sempat molor dari jadwal yang ditentukan oleh tuan rumah. Karena hujan menghiasi langit Tasikmadu dan sekitar. Namun turunnya hujan tidak menghalangi kekhidmatan dan kekhusyukan acara tersebut. 

Dalam sambutannya, Ketua Ansor Ranting Tasikmadu, Much. Muhyidin menyampaikan bahwa salah satu hal penting dalam berorganisasi adalah kekompakan dan kesolidan. Karena bagaimana pun, seperti dalam falsafah, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Oleh karena itu, penting untuk berjuang dan menghidupkan Ansor ini dari lingkung ranting.


"Dari Pemantapan Kepengurusan Gerakan Pemuda Ansor hal yang segera kami rapatkan adalah Departemen Pemberdayaan Ekonomi dan UKM, yakni didirikannya PertamiNU. Semoga PertamiNU segera terealisasi untuk Income dan menghidupi organisasi di tataran Ranting pada umumnya," ujar lelaki paruh baya tersebut.

Hidup di zaman yang sangat cepat ini, penting untuk memerangi HOAX. Di tengah guyuran derasnya hujan, Ketua PAC GP. ANSOR Watulimo ini menyampaikan pentingnya dicetuskan program kerja. Selain itu dalam berorganisasi wajib menertibkan administrasi. Hal tersebut penting karena untuk kepengurusan akreditasi dan kelayakan organisasi Banom Ansor dan Banom Banser.


Di kesempatan yang sama, sahabat Murdiyanto menyampaikan penting adanya kaderisasi Anggota Ansor, Struktur Kepengurusan, serta kegiatan Kemasyarakatan dengan kepemudaan.

Pada akhir kesempatan, para koordinator bidang membagikan semua kegiatan yang akan dilaksanakan di pengurusan ranting Desa Tasikmadu. Hingga ditemukan beberapa kegiatan atau bidang yang akan segera dilaksanakan, salah satunya adalah segera direalisasikannya PertamiNU di Desa Tasikmadu. Alhamdulillah acara tersebut berjalan sukses dan lancar dan mampu membawa kemanfaatan-keberkahan untuk kita semua. (MCR)
Share:

Senin, 21 September 2020

Inilah 6 Rekomendasi Konbes XXIII GP Ansor

ANSOR NEWS
, Konferensi Besar XXIII Gerakan Pemuda (GP) yang digelar di Kabupaten Minahasa, ditutup Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas. Kegiatan yang dihelat sejak Jumat (18/9/2020) hingga Minggu (20/9/2020) tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi.
 
Rekomendasi yang dikeluarkan berkaitan dengan pandemi Covid-19 yang telah memukul bahkan mengubah landskap sosial ekonomi masyarakat dunia dalam 6 bulan terakhir. Berdasarkan data per 18 September 2020, secara global Covid-19 telah menginfeksi 29,87 juta manusia dan menyebabkan 940.000 di antaranya meninggal dunia.
 
Adapun di Indonesia, tercatat 232.000 kasus positif dan menyebabkan 9.222 orang meninggal dunia per tanggal yang sama. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II tercatat mengalami perlambatan sebesar minus 5,32?n diperkirakan masih akan mencatatkan perlambatan di kuartal III.
 
"Pandemi belum terlihat kapan akan berakhir dan masih terus mencatatkan penambahan kasus baru. Seluruh dunia berharap segera ditemukan vaksin sehingga mobilitas sosial ekonomi kembali dapat dipulihkan," kata Yaqut Cholil Qoumas, di Minahasa, Minggu (20/9/2020).
 
Atas situasi yang serba tidak menentu ini, kata Gus Yaqut, sapaan akrabnya, GP Ansor menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia sebagai berikut:
 
  1. Pandemi COVID-19 adalah krisis kesehatan, sehingga semua pendekatan dan kebijakan harus dilakukan dengan menjadikan pertimbangan kesehatan sebagai prioritas utama;
  2. Belajar dari pengalaman negara lain yang telah berhasil membatasi penyebaran Covid-19, pengambil kebijakan harus terus menerus mengevaluasi pendekatan yang dijalankan dengan mengadopsi praktik terbaik dari negara lain dan menyesuaikannya dengan kearifan lokal;
  3. Dalam kondisi krisis kesehatan ini, semua keputusan yang diambil oleh para pemangku kebijakan termasuk birokrasi dan aparat pemerintah harus dilakukan secara cepat, efektif, dan efisien;
  4. Untuk menanggulangi dampak pertumbuhan ekonomi yang negatif, pemerintah diharapkan menyusun ulang prioritas baik kebijakan maupun anggaran untuk memastikan masyarakat terdampak tetap memiliki daya beli dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, dan program-program pembangunan diprioritaskan kepada program pemberdayaan dan jaring pengaman ekonomi untuk masyarakat;
  5. Para elite politik harus bergandengan tangan, saling menguatkan dan mengedepankan kemaslahatan bangsa dengan menghentikan rivalitas yang dapat berdampak kepada perlambatan pengambilan keputusan dalam penanggulangan krisis Covid-19 sebagai musuh bersama;
  6. Mengingat pembatasan mobilitas masyarakat untuk mencegah penyebaran Covid-19 tidak hanya menganggu kehidupan perekonomian, namun juga kehidupan sosial masyarakat, perlu dilakukan mitigasi dampak sosial dengan melibatkan para ahli dan pemimpin informal masyarakat untuk memastikan tidak muncul gejala keterasingan dan ketakutan/paranoid yang berlebihan dari sebagian rakyat kita.
 
"Semoga dengan ikhtiar tanpa terputus dan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT, bangsa Indonesia bisa selamat melewati ujian yang berat akibat pandemi ini. Amin ya Rabbal ‘alamin," harap Gus Yaqut. (*)
 
 
Sumber : ANSOR NEWS
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung