Jumat, 31 Januari 2020

16 Poin Harga Mati NU, Pertegas Khittah Nahdliyah


Makna Khittah
— Rais Syuriah PBNU KH. Afifuddin Muhajir memberikan arti terkini dari Khittah Nahdlatul Ulama. Berikut penjelasan lengkap KH Afifuddin, yang juga Pengasuh Ma’had Aly Al-Ibrahimy, Sukorejo, Asembagus Situbondo:

Khittah 26 yang dipertegas perumusannya pada Munas 83 dan Muktamar 84 di Situbondo adalah harga mati, yaitu :
 
  1. Bahwa NU sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah adalah harga mati.
  2. Bahwa NU mendasarkan paham keagmaannya pada Alquran, sunnah, ijma’, dan qiyas adalah harga mati.
  3. Bahwa dalam menafsirkan dan menerjemahkan empat sumber tersebut, NU menempuh pendekatan bermazhab pada ulama ahlussunnah wal jama’ah qaulan wa manhajan adalah harga mati.
  4. Bahwa di bidang akidah, NU mengikuti mazhab Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi qaulan wa manhajan adalah harga mati.
  5. Bahwa di bidang Fikih, NU mengikuti al-Madzahib al-Arba’ah qaulan wa manhajan adalah harga mati.
  6. Bahwa di bidang tasawuf, NU mengikuti mazhab Imam al-Junaid al-Baghdadi dan Imam Abu Hamid al-Ghazali wa sair al-sadat al-shuffiyah al-muhaqqiqin qaulan wa manhajan adalah harga mati.
  7. Bahwa dalam berpikir, bersikap, dan bertindak, NU berpegang pada prinsip tasamuh, tawassuth, i’tidal, dan tawazun adalah harga mati.
  8. Bahwa NU tidak liberal dan tidak fundamental konservatif adalah harga mati.
  9. Bahwa ulama sebagai penyambung mata rantai paham ahlussunnah waljama’ah berposisi sebagai pengelola, pengawas, dan pembimbing utama jalannya organisasi adalah harga mati.
  10. Bahwa lembaga syuriah yang diisi oleh para ulama berfungsi sebagai pembuat kebijakan dan lembaga tanfidziyyah sebagai pelaksana kebijakan adalah harga mati.
  11. Bahwa NKRI yang berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah sah menurut pandang Nahdlatul Ulama Pancasila, bahkan merupakan bentuk final, maka keharusan menjaga, mempertahankan, dan mengusahakan perbaikannya secara terus-menerus adalah harga mati.
  12. Bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, bahkan selaras dengan Islam adalah harga mati.
  13. Bahwa NU memiliki jarak yang sama dengan semua partai politik adalah harga mati.
  14. Bahwa NU harus mandiri dan tidak terkooptasi oleh kepentingan penguasa dan pengusaha adalah harga mati.
  15. Bahwa ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah harus dijaga adalah harga mati.
  16. Bahwa tidak ada pertentangan antara keberagamaan dan kebhinekaan adalah harga mati.
 
 
Sumber : PWNU Online
Share:

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

H. Yaqut Cholil Qoumas atau lebih dikenal dengan nama panggilan Gus Yaqut, lahir di Rembang tanggal 4 Januari 1975 dari pasangan K.H Muhammad Cholil Bisri dan Hj. Muhsinah Cholil. Masa kecil Gus Yaqut dibesarkan di lingkungan Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Kabupaten Rembang, yang merupakan pondok pesantren ayahnya. Ayah Gus Yaqut (K.H Muhammad Cholil Bisri) juga salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sedangkan saudaranya Gus Yaqut yakni Yahya Staquf adalah salah satu tokoh Nahdlatul Ulama, yang saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Gus Yaqut saat in mendapat kepercayaan sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor periode 2015-2020, yang merupakan organisasi sayap kepemudaan dari Nahdlatul Ulama. Selama menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor, Gus Yaqut adalah orang yang berdiri paling depan, dlama menyuarakan cinta tanah air dan tegas menolak paham radikal di Indonesia. K.H Bisri Mustofa (1915-1977) adalah kakek Gus Yaqut, sosok ulama terkenal yang meninggalkan banyak karya sekita 54 buah judul. Salah satu karya terkenal beliau adalah kitab tafsir Al-Ibriz. Pemikiran beliau lebih cenderung berada ditengah-tengah antara tekstual-skripturalis dan rasional. Beliau hidup dalam tiga era, yaitu era penjajahan, Soekarno dan orde baru.

Jabatan yang pernah diemban K.H Bisri Mustofa antara lain : Ketua Nahdlatul Ulama, Hizbullah Cabang Rembang, Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Masyumi  Cabang Rembang, kepala Kantor Urusan Agama, ketua Pengadilan Agama Rembang, anggota konstituante, anggota MPRS dan Pembantu Menteri Penghubung Ulama. Di masa Orde Baru, K.H Bisri Mustofa pernah menjadi anggota DPRD I Jawa Tengah (Pemilu 1971) dari Fraksi NU dan anggota MPR dari utusan Daerah Golongan Ulama. Pada tahun 1977, beliau menjadi anggota Majelis Syuro PPP Pusat. Secara bersamaan, beliau juga duduk sebagai Syuriah NU wilayah Jawa Tengah.

Gus Yaqut adlaah putera ke empat dari K.H M. Cholil Bisri (anak pertama dari K.H Bisri Mustofa) Kiprah K.H M. Cholil Bisri dalam kegiatan politik tidak diragukan lagi. Pada pemilu 1982, beliau diminta untuk menjadi anggota DPRD tingkat I, tetapii beliau tolak (beliau hanya mau di DPRD tingkat II). Tawaran menjadi anggota DPRD tingkat I diserahkan kepada adiknya K.H A. Mustofa Bisri. Pada tahun 1992 beliau menjadi anggota DPRD RI dari PPP. Ketika NU mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), beliaupun turut aktif sebagai inisiator dan akhirnya terpilih sebagai Wakil Ketua MPR RI, menggantikan kedudukan Matori Abdul Jalil (Menteri Pertahanan Kabinet Gotong Royong). 

Gus Yaqut juga keponakan dari KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus). Gus Mus dikenal sebagai sastrawan dan budayawan yang lahir di Leteh, Rembang, 10 Agustus 1944. Gus Mus adik dari KH. M. Cholil Bisri ayah H. yaqut Cholil Qoumas. Dalam dunia politik, Gus Mus bersama Gus Dur dan beberapa Kyai sepuh lainnya ikut mendeklarasikan berdirinya PKB dan beliau perancang gambar lambangnya. Setelah KH. M. Cholil Bisri wafat, Gus Mus memimpin Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin dengan dibantu KH. Yahya Cholil Staquf (Kakak Gus Yaqut). KH. Yahya Cholil Staquf adalah putera pertama KH. M. Cholil Bisri, pernah menjadi juru bicara Kepresidenan era Gus Dur yang saat ini menjabat sebagai Katib Aam PBNU dan salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Joko Widodo.

Karir H. Yaqut Cholil Qoumas
-    Ketua Umum PC PMII UI-Depok 1996 - 1999
-    Ketua DPC PKB Kabupaten Rembang 2001 - 2014
-    Anggota DPRD Kabupaten Rembang 2005
-    Wakil Bupati Rembang 2005 - 2010
-    Manager PSIR Rembang 2006 - 2007
-    Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor 2010 - 2015
-    Ketua Yayasan KH. Bisri Mustofa Rembang 2012 – sekarang
-    Anggota DPR RI FPKB 2014 - 2019
-    Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor 2015 - 2020
-    Dewan Penasehat FKDT 2017 - sekarang

Sumber : Brosur Gus Yaqut
Share:

Pedoman, Aqidah dan Asas NU

Pedoman Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas. Aqidah Nahdlatul Ulama beraqidah Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah; dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi; dalam fiqih mengikuti salah satu dari madzhab empat (Hanafi, Maliki Syafi’i dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam Al-Junaidi.
.
Pedoman
Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas.
Aqidah
Nahdlatul Ulama beraqidah Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah; dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi; dalam fiqih mengikuti salah satu dari madzhab empat (Hanafi, Maliki Syafi’i dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam Al-Junaidi Al-Bagdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali.
Asas
Dalam Kehidup berbangsa dan bernegara di Indonesia Nahdlatul Ulama berasas kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Sumber : PWNU Jatim
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung