Kamis, 27 Agustus 2020

Sahabat Ansor dan Tamu yang Kelaparan


Seperti biasa, sehabis Isya Rasulullah SAW melakukan halqah atau kajian keagamaan bersama para sahabat di masjid. Namun tiba-tiba ada seorang lelaki datang dan kemudian berkata kepada Rasulullah SAW. ”Wahai Rasulullah saya lapar,” sontak halqah

Setelah itu Rasulullah SAW mengajak orang tersebut pulang ke tempat salah satu istrinya. Dan ternyata di tempat tersebut tidak ada makanan, hanya ada seteguk udara. Kemudian Rasulullah mengajak juga ke isterinya yang lain. Namun keadaannya sama juga. Kemudian Rasulullah kembali ke masjid. Tampak para sahabat masih setia menunggu.

Tak lama kemudian Rasulullah menawarkan kepada sahabatnya siapa diantara mereka yang bisa menjamu tamu tersebut. Tawaran itu diterima salah seorang sahabat Anshor. Kemudian tamu itu diajaknya pulang. Sesampainya di rumah ia bercakap dengan istrinya, "Istriku jamulah tamu Rasulullah ini."

Kemudian istrinya pergi ke dapur bersama suaminya. “Suamiku malam ini kita tidak memilki apa-apa kecuali persediaan makan untuk anak kita,” kata istrinya.
“Istriku, hiburlah anak kita dengan sesuatu. Kalau ia minta makan ajaklah tidur. Jadi siapkan makan untuk tamu kita itu, ”kata suaminya.

Istrinya tampak bingung. Sesaat kemudian sahabat Ansor itu berkata lagi, ”Sediakan dua piring makan di meja makan, satu piring lagi untuk tamu itu, satu lagi piring kosong untukku. Apabila tamu itu masuk ke ruang makan, maka matikanlah lampu. '

Apa yang dikatakan oleh suaminya itu membuat bangga. Sikap suaminya yang ikhlas dan memperhatikan perawatan yang lapar itu merasa sangat senang hati. Maka makanpun dimulai. Tamu dengan makan apa yang dihidangkan oleh keluarga tersebut. Sedangkan si tuan rumah memainkan piring yang kosong.

Keesokan harinya sahabat Ansor itu menemui Rasulullah SAW. Sebelum mengisahkan pengalamannya semalam, Rasulullah SAW. telah mendahuluinya dan bersabda, ”Sandiwaramu semalam telah membuat Allah takjub. Semoga Allah memberkati kehidupanmu.”


Sumber : Muslimat NU
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung