Sabtu, 14 November 2020

PAC GP Ansor Watulimo Menggelar 2 Diklat Sekaligus, Yaitu PKD dan Diklatsar


Anwalin News
– Watuagung, (13/11) Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar Gerakan Pemuda Ansor serta Pendidikan dan Pelatihan Dasar Barisan Ansor Serbaguna. Dua Diklat tersebut dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
 
Pada awalnya PAC GP. Ansor Watulimo bermaksud menyelenggarakan Diklatsar Banser saja, sehingga konsentrasi kepanitiaan hanya pada satu agenda kegiatan. Mengingat banyaknya permintaan serta semangatnya para kader Ansor, akhirnya Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Watulimo yang dikomandani oleh Sahabat Murdiyanto tersebut mengiyakan untuk melaksanakan dua Diklat sekaligus yaitu, PKD (Pelatihan Kepemimpinan Dasar) untuk Pengurus dan Kader Ansor, serta Diklatsar (Pendidikan dan Pelatihan Dasar) untuk para Kader Banser.


Kegiatan PKD dan Diklatsar tersebut dilaksanakan selama 3 hari 2 malam yang dimulai pada tanggal 13 s.d. 15 November 2020. Pembukaan Diklat dilaksanakan pada hari Jum’at, 13 November 2020 dengan Instruktur Apel Komandan H. Fathkurohman MQ, selaku Kasatkorcab Banser Trenggalek. Dalam Sambutannya Ndan Fathkur sapaan Kasatkorcab mengapresiasi segenap Jajaran PAC GP. Ansor dan Satkoryon Banser Watulimo, dimana dalam satu periode kepengurusan telah berhasil mengadakan PKD dan Diklatsar 2 kali. Selain itu juga mengapresiasi kegiatan Upgrading Banser yang diselenggarakan oleh PAC GP. Ansor bersama segenap jajaran Satkoryon Banser Watulimo yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 yang lalu.
 
Setelah Apel Pembukaan PKD dan Diklatsar dalam sambutannya ketua PAC GP. Ansor Watulimo, yaitu Sahabat Murdiyanto menyampaikan dan melaporkan beberapa hal antara lain; bahwasanya Diklat tersebut semula dibatasi hanya 65 peserta untuk Diklatsar dan 30 peserta  untuk PKD. Namun hal itu diluar ketentuan yang telah ditetapkan bersama sehingga jumlah peserta akhirnya melebihi kuota. Untuk Diklatsar jumlah peserta yang mendaftar 103 orang dan lolos screening 94 orang, sedangkan untuk PKD jumlah peserta yang mendaftar 34 orang dan lolos administrasi serta screening 24 orang. Peserta Diklat tersebut menyebar dari utusan ranting yang ada di PAC Watulimo dan luar Watulimo. Dari luar Kecamatan Watulimo diantaranya adalah dari PAC Pule, Suruh, Munjungan, Tugu, Karangan, Gandusari, Kampak dan ada juga peserta utusan dari Kabupaten Tulungagung.

 
Di waktu yang terpisah, sahabat Muh. Izuddin Zaki atau yang lebih akrab dipanggil Gus Zaki selaku Ketua PC GP. Ansor Trenggalek menyampaikan sambutan dan arahannya, bahwa maksud diselenggarakannya kegiatan PKD-DIKLATSAR adalah untuk menanamkan nilai dan ideologi, menguatkan karakter dan militansi, meningkatkan pengetahuan, mengembangkan potensi dan kecakapan, serta membangun kapasitas gerakan pada diri kader untuk mempertinggi harkat martabat diri dan meneruskan cita-cita dan perjuangan organisasi. Selain itu juga disampaikan tujuan dari PKD-Diklatsar tersebut, yaitu :
  • Mempersiapkan kader  Gerakan Pemuda Ansor yang mumpuni, terstruktur dan dan berkesinambungan
  • Meningkatkan kemampuan pengetahuan, teknis dan  jiwa korsa terhadap  proses kaderisasi
  • Menyampaikan konsep dasar ajaran Islam Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdliyah
  • Mengembangkan pengetahuan wawasan dan ketrampilan berorganisasi
  • Pemahaman visi, misi dan etika Banser dan Ansor
 
Dengan adanya PKD dan Diklatsar yang diselenggarakan oleh PAC GP. Ansor Watulimo tersebut diharapkan Kader Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sebagai tenaga inti GP Ansor memiliki tanggung jawab yang besar dalam melakukan perannya sebagai kader penggerak, pengemban dan pengaman program-program sosial kemasyarakatan baik yang dilakukan GP Ansor maupun oleh Nahdlatul Ulama.

 
Jati diri sebagai sosok personil yang memiliki kualifikasi khusus harus dapat ditunjukkan dalam setiap gerak dan langkahnya dalam melaksanakan fungsi dan perannya dengan dedikasi yang tinggi, memiliki pola pikir realistis dan matang, mampu menfasilitasi terwujudnya cita-cita GP Ansor dan kemaslakhatan bagi masyarakat, Nusa dan Bangsa.
 
Peningkatan profesionalisme dan kemampuan ke-Banser-an yang nantinya mampu menyiapkan kader-kader Banser yang handal dan profesional harus melalui proses penataan kaderisasi yang matang dan terarah, sehingga langkah Banser kedepan diharapkan mampu menghadapi berbagai perkembangan dan tuntutan masyarakat yang penuh dengan dinamika dan perkembangan. (MY)

Share:

Selasa, 10 November 2020

Resolusi Jihad NU dan Hari Pahlawan


Anwalin News - Kala 10 November 1945, arek-arek Suroboyo bertempur melawan tentara sekutu NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) dan sekutunya.

Tanggal itu sekarang dikenang sebagai Hari Pahlawan, menandai pernah terjadi perang dahsyat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Momen bersejarah itu tak bisa lepas dari peran fatwa Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU), yang menggerakkan warga dan juga kalangan santri untuk menghantam pasukan sekutu di Surabaya.

Keluarnya Resolusi Jihad tersebut tak terlepas dari permohonan Presiden Sukarno pada 17 September 1945, yang memohon fatwa hukum kepada ulama.

Karena NU merupakan organisasi Islam terbesar, maka Presiden Soekarno meminta fatwa untuk mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam kepada KH Hasyim Asyari.

Hal yang sama juga dilakukan Mayor Jenderal TKR Mustopo, sebagai komandan sektor perlawanan Surabaya pada waktu itu, bersama Sungkono, Bung Tomo, dan tokoh-tokoh Jawa Timur menghadap Almarhum Almaghfurlah Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari.

Intinya meminta fatwa untuk melakukan perang suci atau jihad dengan sasaran mengusir sekutu dan NICA yang dipimpin oleh Brigjen Mallaby di Surabaya. Hal ini didasari situasi Kota Surabaya pada waktu itu.

Maka, di tengah situasi yang memanas, pada 21-22 Oktober 1945, wakil-wakil dari cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya.

Dipimpin langsung oleh Kiai Hasyim Asy'ari, dideklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai perang suci alias jihad.

5 Fatwa Resolusi Jihad

Dalam resolusi jihad, Kiai Hasyim Asy'ari meminta pemerintah untuk segera meneriakkan perang suci melawan penjajah yang ingin berkuasa kembali. Kontan saja, reolusi tersebut disambut rakyat dengan semangat berapi-api.

Fatwa atau Resolusi Jihad NU (Hasyim Asy'ari) berisi lima butir. Dalam buku berjudul Fajar Kebangunan Ulama, Biografi Kiyai Hasyim Asy'ari menyebut butir Pertama Resolusi Jihad berbunyi: kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus wajib dipertahankan.

Butir Kedua : Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dijaga dan ditolong. 

Ketiga : musuh Republik Indonesia yaitu Belanda, yang kembali ke Indonesia dengan bantuan sekutu Inggris, pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia.

Keempat : umat Islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan penjajah Belanda dan sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali.

Kelima : kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 94 kilo meter, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu dalam bentuk material terhadap mereka yang berjuang.

Momen Resolusi Jihad ini menjadi cikal bakal diberlakukannya hari Santri Nasional.

Fatwa Resolusi Jihad tersebutlah yang memantik semangat pertempuran seluruh rakyat Indonesia untuk saling bahu membahu dalam satu tekad dan tujuan, yaitu mengusir segala bentuk penjajahan di muka bumi Indonesia sampai titik darah penghabisan.
Share:

Minggu, 08 November 2020

SAAT CINTA TERSANDUNG KEHENDAK ORANG TUA

Kisah cinta Laila-Majnun dan Siti Nurbaya adalah salah satu kisah cinta mengharukan sepanjang sejarah kehidupan manusia yang sampai saat ini tetap dikenang. Kisah percintaan mereka harus berakhir dengan air mata dan penderitaan yang mendalam saat kehendak orang tua menjadi batu penghalang, sehingga meski hati Laila hanya untuk Qois, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mencinta tanpa bisa memiliki.

Tak bisa dibayangkan jika kisah percintaan semacam itu harus terulang kembali dalam pentas kehidupan modern saat ini. Tetapi, apa yang terjadi pada masa silam bukan hal yang mustahil akan terulang di masa mendatang. Sebab, kehidupan ini menyimpan beragam teka-teki yang penuh misteri, tak hanya kebahagiaan namun juga ada penderitaan.

Cinta tak direstui tak ubahnya disuguhi buah si malakama “dimakan bapak mati, tidak di makan ibu yang mati”. Sebuah pilihan yang benar-benar membingungkan dan tak bisa ditentukan. Dalam kondisi seperti ini seseorang akan serba salah dalam menentukan pilihannya, antara mengikuti kehendak cintanya ataukah kehendak orang tuanya, yang pasti akan ada hati yang tersakiti apapun yang dipilih.

Namun, yang mesti menjadi catatan dalam keadaan seperti ini adalah bahwa tak ada yang mengharuskan seseorang tunduk dan patuh pada kehendak hatinya. Secara norma agama dan sosial mengikuti kehendak orang tua adalah suatu keharusan bagi seorang anak, kepatuhan kepada kedua orang tua adalah perintah agama yang semua orang mengetahuinya karena ridhollah fii ridhol walidain, ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua. Sehingga, tidak heran ketika ada sahabat Nabi yang hendak ikut serta berperang, Nabi tidak langsung mempersilahkannya sebelum ia mendapat restu dari orang tuanya, “Wahai, Rasulullah… Aku ingin ikut berperang bersamamu,” pinta sahabat Jahimah kepada Nabi. “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Tanya Nabi. “Iya..” jawabnya. “Kalau begitu pulanglah, mintalah izin kepadanya karena surga berada di telapak kaki keduanya.” (HR. Bukhori)

Hadis di atas bisa dipahami bahwa kalau fardu kifayah saja harus ada izin dari orang tua, apalagi yang mubah. Maka dari sini adalah sebuah keharusan dan sebagai bentuk etika yang luhur seorang anak haruslah meminta doa dan restu orang tua sebelum mengambil keputusan untuk menempuh hidup baru. Doa restu kedua orang tua mutlak dibutuhkan untuk mengiringi perjalanan hidup mengarungi bahtera rumah tangga.

Sekarang, saat orang tua tidak merestui dikarenakan pertimbangan yang matang, maka tidak ada alasan bagi seorang anak untuk tidak mengikuti kehendak mereka. Sebab sejatinya tidak ada orang tua yang tak ingin melihat anaknya tersenyum bahagia, hanya saja mereka juga tak ingin melihat anaknya terjerumus pada derita disebabkan pilihan hatinya yang salah, sebab kesalahan sedetik memilih pasangan hidup maka penderitaannya akan dirasakan selamanya. Disinilah mengapa orang tua terkadang enggan memberikan doa restu.

Hati memang tak bisa dikompromi. Saat hati sudah terlanjur cinta, sangat sulit untuk bisa dilupa. Namun demikian, pilihan hati masih bisa dicari dan diganti meski hal itu butuh waktu yang amat panjang dan menyulitkan, takkan selamanya derita itu ada, inna ma’al usri yusroo. Namun halnya dengan orang tua, apapun yang terjadi, ibu tetaplah dia yang melahirkan dan membesarkan kita dan ayah tetaplah dia yang banting tulang demi menjaga keberlangsungan hidup kita, maka akankah hanya karena sedetik kehadiran orang lain, air susu ibu selama bertahun-tahun akan dibalas dengan air tuba?][

Sumber : FB LIRBOYO
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung