Senin, 24 Agustus 2020

Meraih Kedekatan Al-Quran Sehari-hari


IBADAH — Setiap Muslim perlu menyadari bahwa tujuan diutusnya Nabi Muhammad dengan diturunkan Al-Quran ialah agar manusia mendapatkan petunjuk sehingga bisa keluar dari aneka kegelapan.

الٓرۚ كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ لِتُخۡرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ

Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji. (QS. Ibrahim: 1)

Menurut Saepuloh, Muballigh Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyyah (TQN) Pontren Suryalaya, kedekatan dengan Nabi Muhammad Saw dan Al-Quran berpotensi untuk mentransformasi diri dan masyarakat keluar dari aneka kegelapan menuju cahaya.

Menarik karena kata adz dzulumat dalam ayat tersebut menggunakan kata jama’ atau plural sehingga berarti aneka kegelapan. Sedangkan An-Nur yang artinya cahaya menggunakan kata tunggal atau mufrad.

Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan bahwa minadz dzulumat ilan nur itu dari gelapnya kekufuran, kesesatan dan kebodohan menuju cahaya iman dan ilmu. Imam Al-Qurthubi menyebutkan bahwa istilah kegelapan dan cahaya adalah perumpamaan. Kekufuran itu digambarkan dengan kegelapan dan ajaran Islam itu ialah cahaya.

Demikian penjelasan Koordinator Dai Instruktur Nasional (DIN) JATMAN dan Peneliti Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta.

Bisa jadi setiap kita memiliki sisi gelap masing masing. Ada kekurangannya, tak luput dari kesalahannya, serta ada pula kesesatan yang kita alami karena kebodohan atau kelalaian. Oleh karenanya, kita perlu terus menjaga kedekatan dengan Rasulullah Saw dan Al-Quran yang diturunkan kepadanya.

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Ali ‘Imran, Ayat 31)

Jalinlah kedekatan itu dengan menjalin hubungan rohani dengan beliau. Bershalawat, bertawassul dan menghidupkan sunah disertai rasa cinta kepadanya dan ahli baitnya. Serta dekat dengan penerus beliau dari kalangan ulama al amilin. Dengan begitu otomatis kita akan dekat dengan Al-Quran.

Memang, Al-Quran diturunkan secara khusus pada bulan Ramadhan. Oleh karenanya bulan ini disebut juga sebagai Syahrul Qur’an atau bulannya Al-Quran.

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, (Al-Baqarah: 185)
Meski begitu, setiap hari setiap pribadi Muslim sebaiknya berdekat-dekat dengan Al-Quran. Meraih kedekatan dengan Al-Quran sangat dianjurkan dalam kehidupan sehari-hari. Al-Quran janganlah hanya terpajang di lemari atau rak buku.

Kini Al-Quran lebih mendapatkan perhatian. Banyak umat Islam mengisi waktunya untuk berdekatan dengan Al-Quran. Mulai dari membacanya, menghafalnya hingga menelaah dan mempelajari isi dan kandungannya. (My)


Sumber : PWNU Jatim
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung