Penjelasan tentang
kemuliaan bulan Muharram ini ditulis oleh KH Sholeh Darat pada bulan Muharram
tahun 1317 H. Jika dilihat dalam penanggalan Jawa online, 1 Muharram 1317 H
jatuh pada hari Jum’at Pon bersamaan dengan 12 Mei 1899 M atau 1 Suro 1829
(Jawa). Jika kita hitung sekarang sudah memasuki tahun 2021, maka kitab karya
KH Sholeh Darat ini sudah berumur 122 tahun. Kitab ini ditulis saat KH Sholeh
Darat berusia 79 tahun.
KH Sholeh Darat
menyebutkan dalam kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Shalah tentang kemuliaan
bulan Muharram: “Bahwa awal Muharram itu adalah tahun barunya seluruh umat
Islam. Adapun tanggal 10 Muharram adalah “Hari Raya”yang digunakan untuk
bergembira dengan shadaqah. Hari raya ini adalah untuk mensyukuri nikmat Allah,
bukan hari raya dengan shalat. Tetap hari raya dengan pakaian rapi dan
memberikan makanan kepada para faqir. Sebaiknya orang Islam mengetahui tahun
baru Islam. Hari wuquf di Arafah itu akan menjadi hari pertama bulan Muharram
dan akan menjadi tanggal 27 bulan Rajab”.
Dalam menyambut tahun baru
ini, maka umat Islam diminta untuk membaca doa akhir tahun pada tanggal 30
Dzulhijjah saat akhir shalat ashar sebanyak tiga kali. Bacaan doa akhir tahun
adalah begini :
بِسْمِ اللهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هٰذِهِ
السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ
تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِي وَدَعَوْتَنِي
إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْأتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي
أَسْتَغْفِرُكَ، فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ
وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَا ذَا
الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّي وَلاَ تَقْطَعْرَجَائِي
مِنْكَ يَا كَرِيْمُ.وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ
وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
KH Sholeh Darat
menjelaskan bahwa siapa saja yang membaca doa akhir tahun ini tidak akan digoda
oleh syetan dalam tahun itu. Syetan hanya bisa merusak manusia dalam waktu satu
jam. Itupun semua dosa selama setahun telah diampuni oleh Allah karena membaca
doa ini. “Maka seyogyanya bagi orang beriman, jangan lupa membaca doa ini saat
akhir tahun” tegas KH Sholeh Darat.
Selain membaca doa akhir
tahun, umat Islam juga diminta untuk membaca tiga kali doa awal tahun setelah
shalat maghrib pada awal bulan Muharram. Bacaan doa awal tahun adalah sebagai
berikut:
بِسْمِ اللهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللّهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ اْلقَدِيْمُ
اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ وَهٰذَا عَامٌ
جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ
وَأَوْلِيَاءِهِ وَجُنُوْدِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ اْلأَمَّارَةِ
بِالسُّوْءِ وَاْلإِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ زُلْفٰى يَا ذَا
الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ. يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا
ومولانا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَاصْحَابِهِ وَسَلَّم.
Doa awal tahun ini ketika
dibaca, akan membuat umat Islam terlindungi dari godaan syetan. KH Sholeh Darat
menjelaskan: “Barangsiapa membaca doa ini tiga kali di awal bulan Muharram
setelah shalat maghrib, maka sesungguhnya syetan itu mengucapkan bahwa anak
Adam ini sudah aman dalam sisa umurnya selama tahun itu. Sebab Allah Swt
memberikan asisten berupa dua Malaikat untuk menjaganya agar tidak digoda
syetan”.
Sungguh mulia sekali
bacaan doa akhir dan awal tahun Islam ini. Tentunya amalan-amalan semacam ini
akan semakin memperkuat hubungan antara manusia dengan Allah Swt, termasuk
memperkuat hubungan manusia dengan manusia. Maka ketika suasana semacam ini,
muslim Jawa selalu menggelar acara Suronan dengan berdoa bersama di Musholla
dan Masjid. Ada dua hal penting dalam majelis itu, berdoa pada Allah dan
berkumpul antar jama’ah untuk membuat hidup rukun dan damai.
Dalam memahami dimensi
waktu bulan Muharram ini dapat diambil sebuah hikmah bahwa kehidupan itu
mengenal awal (hidup) dan mengenal akhir (kematian). Manusia akan
melewati proses itu semua. Untuk menjelaskan kehidupan dan kematian, KH Sholeh
Darat juga menyinggung tentang husnul khatimah dan su’ul khatimah dalam Kitab
Munjiyat. Bahkan secara rinci tanda-tanda adanya husnul khatimah dan su’ul
khatimah bagi setiap orang.
Oleh sebab itu, dalam
menyiapkan kehidupan yang baik menuju khusnul khatimah, maka KH Sholeh Darat
mengajarkan tentang ketenangan hati dan ketenangan perilaku. Dua hal ini
penting untuk dijalani bagi setiap orang yang masih hidup. Ketenangan hati akan
didapatkan jika manusia sadar dan menghayati kalimat “La ilaha illallah”.
Kalimat itu selalu diucapkan tanpa putus dan dijalani dengan baik. Yang muncul
kemudian adalah sifat positif dalam melihat keberadaan Allah sebagai dzat yang
maha rahman dan ra’uf.
Setiap gerak langkah orang
yang dekat dengan Allah selalu mendapatkan jalan terbaik dari Allah. Maka KH
Sholeh Darat mengingatkan agar orang Islam tidak minta kesehatan dan selalu
menyalahkan Allah. Sebab Allah sudah memberikan kenikmatan sehat selamanya, dan
jika dalam kondisi sakit, maka Allah tetap memberikan kasih sayangnya.
Menyalahkan Allah sama halnya dengan kita protes dan lepas dari makna “La ilaha
illallah”. Disitulah ketenangan hati dan ketenangan perilaku itu diuji.
Adapun tanda-tanda orang
husnul khatimah ketika sudah wafat sebagaimana dijelaskan oleh KH Sholeh Darat
berdasar hadits Nabi adalah tiga hal: kening atau pelipisnya berkeringat, kedua
matanya mengeluarkan air mata dan mulutnya kering. Dalam kondisi itu, Allah Swt
memberikan kasih sayangnya bagi jenazah itu. Semoga kita dituntun oleh Allah
dengan hidayahnya dalam menatap tahun baru hijriyah ini.
Sumber : NU Online