Sabtu, 04 April 2026

KREASI SANTRI PPHT Slawe: Ajang Ekspresi, Hafalan, dan Pelestarian Tradisi Pesantren


Slawe, Watulimo – Suasana penuh semangat dan kebersamaan menyelimuti kegiatan KREASI SANTRI yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Hidayatut Thullab (PPHT) Slawe, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, pada Jumat (03/04/2026). Kegiatan yang meliputi pentas seni, muhafadhoh (hafalan), serta lalaran nadhoman ini menjadi wadah bagi para santri untuk menampilkan kemampuan dan hasil belajar mereka di hadapan para pengasuh, dewan asatidz, wali santri, serta masyarakat sekitar.

Seluruh santri PPHT Slawe turut ambil bagian dalam kegiatan ini, mulai dari tingkat TPQ, Madrasah Ula, Wustho hingga ‘Ulya. Berbagai penampilan ditampilkan secara bergantian, mulai dari pembacaan hafalan Al-Qur’an, nadzam kitab kuning, hingga pertunjukan seni Islami yang memukau. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang unjuk bakat, tetapi juga sebagai sarana pembinaan mental, keberanian, serta penguatan nilai-nilai keislaman yang telah diajarkan di lingkungan pesantren.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pengasuh Pondok Pesantren PPHT Slawe, seluruh Dewan Asatidz TPQ dan Madin, para wali santri, serta masyarakat sekitar yang antusias menyaksikan setiap penampilan. Kehadiran para wali santri menjadi bentuk dukungan nyata terhadap proses pendidikan putra-putri mereka di pesantren, sekaligus mempererat hubungan antara pihak pesantren dengan masyarakat.


Dalam sambutannya, Kepala Madrasah Diniyah, Ustadz Abdul Azis, S.Pd.I menyampaikan laporan perkembangan hasil belajar santri selama ini. Ia menuturkan bahwa para santri menunjukkan kemajuan yang signifikan, baik dalam aspek bacaan Al-Qur’an, hafalan, maupun pemahaman dasar-dasar ilmu agama. “Alhamdulillah, dengan bimbingan para asatidz, santri-santri kita terus menunjukkan peningkatan, baik dalam hafalan maupun penguasaan materi diniyah. Ini adalah hasil dari kesungguhan mereka dalam belajar serta doa dan dukungan dari para wali santri,” ujarnya.

Lebih lanjut, beliau juga memohon dukungan dan kerjasama dari seluruh wali santri agar proses pendidikan dapat berjalan lebih optimal. “Kami mohon kepada para wali santri untuk senantiasa memberikan dukungan, baik moril maupun spiritual, agar anak-anak kita istiqamah dalam belajar. Sinergi antara pesantren dan wali santri sangat penting demi mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya. Kegiatan KREASI SANTRI ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang terus memotivasi santri dalam meningkatkan kualitas diri, sekaligus melestarikan tradisi keilmuan dan kesenian khas pesantren.

-------
Kontributor : Murdiyanto
Dept. Informatika PPHT Slawe
Fotografer : Yudi B'jutz & Aghuz Fuu
Tim BSA Trenggalek
Share:

Sabtu, 28 Maret 2026

Halal Bihalal Purna Ketua PAC GP Ansor Watulimo, Perkuat Kebersamaan dan Tegaskan Semangat Gerak Organisasi


Watulimo — Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan mewarnai kegiatan Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Murdiyanto di kediamannya, Dukuh Blungur, Desa Watulimo, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, pada Jumat (27/03/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat soliditas kader pasca Hari Raya Idul Fitri.

Acara yang mengusung tema “Dengan hati yang bersih kita bangun kebersamaan yang harmonis” ini dihadiri oleh berbagai unsur penting, mulai dari jajaran PC GP Ansor Trenggalek, Forkopimcam Watulimo, kader Ansor, anggota Banser Satkoryon Watulimo, Satuan Khusus Denwanser, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, hingga masyarakat sekitar. Turut hadir pula sahabat Ketua PAC GP Ansor Kampak beserta jajaran Satkoryon Banser Kampak yang semakin menambah semarak kebersamaan lintas wilayah.

Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, kegiatan diawali dengan ramah tamah dan saling bersalaman sebagai simbol saling memaafkan. Momentum ini tidak hanya menjadi ajang tradisi tahunan, tetapi juga sarana memperkuat komitmen perjuangan dalam bingkai organisasi Nahdlatul Ulama, khususnya di bawah naungan GP Ansor.

Hadir sebagai penceramah sekaligus memberikan pembekalan kepada kader Ansor dan Banser, Muhammad Izuddin Zakki atau yang akrab disapa Gus Zakki, menyampaikan pesan yang penuh semangat dan motivasi. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya pergerakan aktif dan inovatif dalam organisasi.

> “GP Ansor harus terus bergerak maju, jangan sampai jalan di tempat, apalagi tidak bergerak sama sekali. Organisasi ini adalah wadah kaderisasi dan pengabdian, maka setiap pemimpin harus memiliki banyak inovasi dan ide untuk kemajuan bersama,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gus Zakki juga mengingatkan tentang tanggung jawab kepemimpinan dalam organisasi.

> “Seorang pemimpin tidak boleh acuh tak acuh. Kepemimpinan adalah amanah. Jangan sampai ada yang tidak bertanggung jawab terhadap jalannya organisasi. Justru di situlah integritas dan dedikasi kita diuji,” imbuhnya di hadapan para kader.

Setelah sesi pembekalan, acara dilanjutkan dengan hiburan elekton yang menghadirkan Jopan Musision, memberikan suasana santai dan menghibur bagi para peserta yang hadir. Gelak tawa dan kebersamaan terasa begitu kental hingga akhir acara.

Sebagai penutup, doa dipimpin oleh Muhammad Zainul Fuad, memohon keberkahan, keselamatan, serta kekuatan dalam menjalankan amanah organisasi ke depan.

Kegiatan Halal Bihalal ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan komitmen perjuangan kader GP Ansor dan Banser di wilayah Watulimo dan sekitarnya tetap terjaga dengan baik. Dengan hati yang bersih dan tekad yang kuat, diharapkan seluruh elemen dapat terus bersinergi membangun organisasi yang semakin solid, progresif, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Share:

Sabtu, 07 Maret 2026

Delapan Golongan Mustahiq Zakat dalam Islam


Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran sangat penting dalam membangun kesejahteraan sosial umat. Melalui zakat, Islam mengajarkan kepedulian, keadilan, dan pemerataan ekonomi agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang-orang mampu saja. Namun demikian, zakat tidak diberikan kepada sembarang orang. Dalam syariat Islam telah ditentukan golongan-golongan tertentu yang berhak menerima zakat, yang disebut sebagai mustahiq zakat.

Allah SWT telah menjelaskan secara tegas mengenai golongan yang berhak menerima zakat dalam Al-Qur’an, yaitu pada firman-Nya:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya:
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

Berdasarkan ayat tersebut, terdapat delapan golongan yang berhak menerima zakat. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Fakir

Fakir adalah orang yang berada dalam kondisi kehidupan yang sangat memprihatinkan. Mereka hampir tidak memiliki harta maupun pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan, seringkali mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Oleh karena itu, golongan fakir menjadi salah satu prioritas utama dalam penyaluran zakat.

2. Miskin

Golongan miskin adalah orang yang sebenarnya memiliki pekerjaan atau penghasilan, namun penghasilan tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan hidupnya secara layak. Mereka masih berada dalam kondisi kekurangan, sehingga membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Zakat menjadi sarana untuk membantu meringankan beban hidup mereka.

3. Amil Zakat

Amil zakat adalah orang-orang yang diberi amanah untuk mengelola zakat. Tugas mereka meliputi mengumpulkan, mencatat, menjaga, serta menyalurkan zakat kepada para mustahiq yang berhak menerimanya. Karena mereka menjalankan tugas demi kemaslahatan umat, maka mereka berhak mendapatkan bagian dari zakat sebagai bentuk penghargaan atas tugas yang diemban.

4. Muallaf

Muallaf adalah orang-orang yang baru masuk Islam atau orang yang diharapkan kecenderungan hatinya kepada Islam. Bantuan zakat kepada mereka bertujuan untuk menguatkan keimanan serta memberikan dukungan moral dan sosial agar mereka semakin mantap dalam memeluk agama Islam.

5. Riqab (Memerdekakan Budak)

Golongan ini merujuk pada upaya memerdekakan budak atau hamba sahaya. Pada masa lalu, zakat dapat digunakan untuk membantu membebaskan budak dari perbudakan. Selain itu, sebagian ulama juga menafsirkan bahwa zakat dapat digunakan untuk membebaskan kaum Muslimin yang tertawan atau terzalimi sehingga dapat kembali hidup merdeka.

6. Gharimin (Orang yang Berhutang)

Gharimin adalah orang yang memiliki hutang dan tidak mampu melunasinya. Hutang tersebut bukan untuk tujuan maksiat, melainkan untuk kebutuhan yang dibenarkan dalam syariat. Bahkan, seseorang yang berhutang demi menjaga kemaslahatan umat atau mendamaikan perselisihan antar sesama Muslim juga dapat dibantu pelunasan hutangnya melalui zakat, meskipun secara pribadi ia sebenarnya mampu membayarnya.

7. Fi Sabilillah

Fi sabilillah berarti orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Dalam pengertian klasik, hal ini berkaitan dengan perjuangan mempertahankan agama dan kaum Muslimin. Namun sebagian ulama menafsirkan maknanya lebih luas, yaitu mencakup berbagai kegiatan yang bertujuan untuk kemaslahatan umat dan dakwah Islam, seperti pembangunan lembaga pendidikan, rumah sakit, kegiatan dakwah, dan berbagai sarana yang mendukung perjuangan Islam.

8. Ibnu Sabil

Ibnu sabil adalah orang yang sedang melakukan perjalanan jauh dan kehabisan bekal di tengah perjalanan, sehingga tidak mampu melanjutkan perjalanan atau kembali ke tempat asalnya. Selama perjalanan tersebut bukan untuk tujuan maksiat, maka ia berhak menerima bantuan dari zakat agar dapat melanjutkan perjalanannya dengan baik.

Penetapan delapan golongan mustahiq zakat ini menunjukkan bahwa Islam memiliki sistem sosial yang sangat jelas dan terstruktur dalam membantu mereka yang membutuhkan. Zakat tidak hanya menjadi ibadah yang bernilai spiritual, tetapi juga instrumen penting dalam menciptakan keadilan sosial, mengurangi kemiskinan, serta mempererat solidaritas antar sesama umat.

Dengan memahami golongan-golongan penerima zakat ini, diharapkan penyaluran zakat dapat dilakukan secara tepat sasaran sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh mereka yang berhak menerimanya, sekaligus menjadi sarana keberkahan bagi para muzakki yang menunaikannya.

Share:

Hakikat Ikhlas dalam Beramal: Membersihkan Hati dari Riya’ untuk Menggapai Ridha Allah


Ikhlas merupakan salah satu konsep paling mendasar dalam ajaran Islam yang menjadi ruh bagi setiap amal perbuatan. Amal yang dilakukan oleh seseorang tidak hanya dinilai dari bentuk lahiriahnya, tetapi sangat ditentukan oleh niat yang tersembunyi di dalam hati. Oleh karena itu, para ulama menegaskan bahwa keikhlasan merupakan syarat utama agar suatu amal diterima oleh Allah SWT. Tanpa keikhlasan, amal yang tampak besar sekalipun bisa menjadi tidak bernilai di sisi Allah.

Dalam banyak ajaran Islam dijelaskan bahwa amal yang diterima oleh Allah adalah amal yang memenuhi dua syarat: dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Para ulama merumuskan kaidah penting terkait hal ini dalam sebuah ungkapan yang terkenal, yaitu:

قَبُوْلُ الْعَمَلِ مَشْرُوْطٌ بِالْإِخْلَاصِ وَالْمُتَابَعَةِ

“Diterimanya suatu amal bergantung pada keikhlasan dan mengikuti tuntunan (Rasulullah).”

Kaidah ini menunjukkan bahwa keikhlasan adalah fondasi pertama yang menentukan nilai suatu amal. Tanpa keikhlasan, amal tersebut hanya menjadi aktivitas lahiriah yang tidak memiliki nilai spiritual.

Salah satu ulama besar yang menjelaskan makna ikhlas secara mendalam adalah Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Mirqotu Shu'udit Tashdiq (مِرْقَاةُ صُعُوْدِ التَّصْدِيْقِ). Pada halaman 58 beliau menjelaskan:

وَالْإِخْلَاصُ فِي الْعَمَلِ وَهُوَ تَصْفِيَةُ الْقَلْبِ مِنَ الرِّيَاءِ

Artinya: Ikhlas dalam beramal adalah membersihkan hati dari riya’.

Riya’ adalah melakukan amal dengan tujuan agar dilihat, dipuji, atau dihargai oleh manusia. Ketika seseorang beribadah atau melakukan kebaikan hanya untuk mendapatkan pujian dari orang lain, maka amal tersebut tidak lagi murni karena Allah SWT. Oleh sebab itu, ikhlas menuntut seseorang untuk memurnikan niatnya hanya demi mengharap ridha Allah semata.

Dalam penjelasan tersebut juga dikutip perkataan seorang ulama besar dari kalangan salaf, yaitu Al-Fudayl ibn Iyad. Beliau memberikan definisi yang sangat mendalam tentang ikhlas dengan mengatakan:

تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالْعَمَلُ لِأَجْلِهِمْ شِرْكٌ، وَالْإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا

Artinya:
Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, melakukan amal karena manusia adalah syirik, dan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.

Ungkapan ini menunjukkan betapa halusnya penyakit riya’ dalam hati manusia. Seseorang terkadang tidak melakukan amal karena takut dianggap pamer oleh orang lain. Namun jika niat meninggalkan amal tersebut karena manusia, maka hal itu juga termasuk riya’. Sebaliknya, jika seseorang melakukan amal karena ingin dipuji manusia, maka ia telah menjadikan manusia sebagai tujuan amalnya. Oleh karena itu, keikhlasan adalah keadaan ketika seorang hamba beramal semata-mata karena Allah tanpa terpengaruh oleh pandangan manusia.

Keikhlasan memang bukan perkara yang mudah, karena ia berkaitan dengan kondisi hati yang sering berubah. Hati manusia dapat dipengaruhi oleh keinginan untuk dipuji, dihormati, atau dihargai. Oleh sebab itu, para ulama selalu mengingatkan pentingnya menjaga niat dan melakukan muhasabah (introspeksi diri) agar amal tetap berada dalam koridor keikhlasan.

Penjelasan yang sangat mendalam tentang ikhlas juga disampaikan oleh ulama besar Islam, yaitu Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin (إِحْيَاءُ عُلُوْمِ الدِّيْنِ) juz 4 halaman 456. Beliau meriwayatkan sebuah hadits melalui Hasan al-Basri bahwa Rasulullah SAW bersabda dalam hadits qudsi:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: الْإِخْلَاصُ سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِي أَوْ سِرٌّ مِنْ سِرِّي أَسْتَوْدِعُهُ قَلْبَ مَنْ أُحِبُّ مِنْ عِبَادِي

Artinya:
Allah Ta’ala berfirman: Ikhlas adalah rahasia dari rahasia-Ku yang Aku titipkan dalam hati hamba yang Aku cintai di antara hamba-hamba-Ku.

Hadits ini memberikan gambaran betapa agungnya nilai keikhlasan di sisi Allah SWT. Ikhlas disebut sebagai rahasia Allah karena ia berada di dalam hati manusia yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Amal seseorang mungkin terlihat sama di hadapan manusia, tetapi nilai sebenarnya di sisi Allah ditentukan oleh niat yang tersembunyi di dalam hati.

Karena itulah para ulama sering mengingatkan bahwa menjaga keikhlasan lebih sulit daripada melakukan amal itu sendiri. Seseorang mungkin mampu melakukan berbagai ibadah seperti shalat, sedekah, atau berdakwah, tetapi menjaga agar semua itu tetap ikhlas hanya karena Allah merupakan perjuangan yang tidak ringan.

Dalam tradisi keilmuan Islam juga dikenal sebuah kaidah yang menggambarkan pentingnya keikhlasan dalam setiap amal:

الْإِخْلَاصُ سِرُّ نَجَاحِ الْعَمَلِ

“Ikhlas adalah rahasia keberhasilan suatu amal.”

Artinya, keberhasilan dan keberkahan suatu amal sangat bergantung pada ketulusan niat seseorang. Amal yang dilakukan dengan hati yang ikhlas akan memberikan ketenangan jiwa, keberkahan hidup, dan pahala yang besar di sisi Allah SWT.

Pada akhirnya, ikhlas adalah kunci utama yang menghubungkan seorang hamba dengan Tuhannya. Ia menjadikan setiap amal bernilai ibadah dan setiap aktivitas kehidupan bernilai pahala. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya selalu memperbaiki niatnya sebelum melakukan amal, menjaga niatnya ketika melaksanakan amal, dan mengoreksi kembali niatnya setelah amal tersebut dilakukan.

Dengan demikian, kehidupan seorang mukmin akan dipenuhi dengan amal yang tulus, bersih dari riya’, dan hanya mengharap ridha Allah SWT. Dan ketika keikhlasan telah tertanam kuat di dalam hati, maka setiap amal sekecil apa pun akan menjadi besar nilainya di sisi Allah.


Referensi:
Mirqotu Shu'udit Tashdiq, karya Syekh Nawawi al-Bantani, hlm. 58.
Ihya’ Ulumuddin, karya Imam Al-Ghazali, Juz 4, hlm. 456.
Share:

Jumat, 06 Maret 2026

Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri, Keluarga dan Orang yang Menjadi Tanggungan Nafkahnya


1. NIAT ZAKAT FITRAH UNTUK DIRI SENDIRI
ﻧَﻮَﻳْﺖُ أَﻥْ أُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْسيْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
Nawaitu an ukhrija zakâtal fithri ‘an nafsî fardhan lillâhi ta’âlâ
Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri, fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

2. NIAT ZAKAT FITRAH UNTUK ISTRI
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
Nawaitu an ukhrija zakâtal fithri ‘an zaujatî fardhan lillâhi ta’âlâ
Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk istriku, fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

3. NIAT ZAKAT FITRAH UNTUK ANAK LAKI-LAKI
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻭَﻟَﺪِﻱْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
Nawaitu an ukhrija zakâtal fithri ‘an waladî (sebutkan nama) fardhan lillâhi ta’âlâ
Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak laki-lakiku…. (sebutkan nama), fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

4. NIAT ZAKAT FITRAH UNTUK ANAK PEREMPUAN
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺑِﻨْﺘِﻲْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
Nawaitu an ukhrija zakâtal fithri ‘an bintî (sebutkan nama) fardhan lillâhi ta’âlâ
Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak perempuanku…. (sebutkan nama), fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

5. NIAT ZAKAT FITRAH UNTUK DIRI SENDIRI DAN KELUARGA
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَنِّيْ ﻭَﻋَﻦْ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﺎ تَلْزَﻣُنِيْ ﻧَﻔَﻘَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
Nawaitu an ukhrija zakâtal fithri ‘annî wa ‘an jamî’i mâ talzamunî nafaqâtuhum fardhan lillâhi ta’âlâ

Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang nafkahnya menjadi tanggunganku, fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

6. NIAT ZAKAT FITRAH UNTUK ORANG YANG DIWAKILKAN
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ (..…) ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
Nawaitu an ukhrija zakâtal fithri ‘an (sebutkan nama) fardhan lillâhi ta’âlâ
Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk… (sebutkan nama spesifik), fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

PENERIMA ZAKAT FITRAH
Zakat fitrah didistribusikan kepada salah satu dari delapan golongan penerima (mustahiq) yang sudah ditetapkan dalam Islam, yaitu fakir, miskin, amil (petugas zakat), muallaf (orang baru masuk Islam), budak, orang yang terlilit utang, orang yang sedang dalam jalan Allah, dan orang yang sedang dalam perjalanan jauh yang bukan maksiat.

DOA SAAT MENERIMA ZAKAT
Bagi penerima zakat, dianjurkan untuk mendoakan pemberi zakat agar apa yang telah diberinya mendapat balasan pahala dari Allah swt dan harta yang dimilikinya mendapat keberkahan. Di antara contoh doa tersebut adalah seperti di bawah ini:
ﺁﺟَﺮَﻙ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﻋْﻄَﻴْﺖَ، ﻭَﺑَﺎﺭَﻙَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﺑْﻘَﻴْﺖَ ﻭَﺟَﻌَﻠَﻪُ ﻟَﻚَ ﻃَﻬُﻮْﺭًﺍ
Âjarakallâhu fî mâ a’thaita wa bâraka fî mâ abqaita wa ja’alahu laka thahûran
Artinya, “Semoga Allah memberikan pahala atas apa yang engkau berikan, dan semoga Allah memberikan berkah atas harta yang kau simpan dan menjadikannya sebagai pembersih bagimu.”

Semoga Bermanfaat 🙏
Share:

Nuzulul Qur’an: Momentum Turunnya Wahyu Ilahi sebagai Petunjuk Kehidupan


Peristiwa Nuzulul Qur’an merupakan salah satu momentum paling agung dalam sejarah peradaban Islam. Secara bahasa, Nuzulul Qur’an berarti turunnya Al-Qur’an, yaitu wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril. Peristiwa ini menjadi awal dari perubahan besar dalam sejarah umat manusia, dari masa kegelapan menuju masa yang penuh cahaya petunjuk. Oleh karena itu, umat Islam setiap tahun memperingati Nuzulul Qur’an pada bulan Ramadhan sebagai bentuk penghormatan terhadap turunnya kitab suci yang menjadi pedoman hidup manusia.

Allah SWT menegaskan bahwa bulan Ramadhan memiliki kemuliaan karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya:

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).”
(QS. Al-Baqarah : 185)

Ayat tersebut menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya sekadar kitab suci untuk dibaca, tetapi juga menjadi petunjuk kehidupan (hudā lin-nās), penjelas terhadap berbagai persoalan hidup, serta pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Dengan demikian, Al-Qur’an memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih baik, adil, dan bermartabat.

Peristiwa Turunnya Wahyu Pertama

Peristiwa awal turunnya Al-Qur’an terjadi ketika Nabi Muhammad SAW berusia sekitar 40 tahun. Saat itu beliau sering menyendiri dan beribadah di Gua Hira yang terletak di Jabal Nur, dekat kota Makkah. Dalam kesunyian tersebut, Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama yang berisi lima ayat dari Surah Al-‘Alaq. Allah SWT berfirman:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-'Alaq : 1-5)

Ayat ini memiliki makna yang sangat mendalam. Wahyu pertama dimulai dengan perintah “Iqra’” (Bacalah), yang menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan dalam Islam. Hal ini menandakan bahwa Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi pendidikan, literasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Para ulama menjelaskan bahwa setelah wahyu pertama tersebut, Al-Qur’an tidak langsung turun secara keseluruhan, tetapi diturunkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun, yaitu 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Hikmah dari turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur adalah agar umat Islam dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajarannya secara bertahap dalam kehidupan mereka.

Al-Qur’an Diturunkan pada Malam Kemuliaan

Selain dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah, Al-Qur’an juga disebut diturunkan pada malam yang sangat mulia, yaitu Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr : 1)

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Para ulama tafsir seperti dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pada malam tersebut Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia, kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril sesuai dengan kebutuhan umat pada waktu itu.

Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu yang memiliki kedudukan sangat tinggi dan penuh kemuliaan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak membaca dan merenungkan Al-Qur’an terutama pada bulan Ramadhan.

Keutamaan Mempelajari Al-Qur’an

Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an kepada umatnya. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari No. 5027)

Hadits ini menunjukkan bahwa kedudukan orang yang berinteraksi dengan Al-Qur’an sangatlah mulia. Tidak hanya membaca, tetapi juga memahami maknanya, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mengajarkannya kepada orang lain.

Interaksi dengan Al-Qur’an dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti membaca (tilawah), menghafal (tahfidz), memahami tafsirnya, serta mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ketika Al-Qur’an dijadikan pedoman hidup, maka kehidupan manusia akan dipenuhi dengan nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan kasih sayang.

Makna Peringatan Nuzulul Qur’an

Peringatan Nuzulul Qur’an yang biasanya dilakukan pada malam ke-17 Ramadhan bukan sekadar kegiatan seremonial atau tradisi tahunan. Lebih dari itu, peringatan ini seharusnya menjadi momentum refleksi spiritual bagi umat Islam untuk kembali mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.

Umat Islam diajak untuk bertanya pada diri sendiri: sejauh mana Al-Qur’an telah menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita hanya membacanya tanpa memahami maknanya, ataukah kita telah berusaha mengamalkan ajarannya?

Dalam kehidupan modern yang penuh tantangan, Al-Qur’an tetap relevan sebagai sumber inspirasi dan solusi bagi berbagai persoalan manusia. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seperti keadilan, kejujuran, persaudaraan, dan kepedulian sosial sangat dibutuhkan untuk membangun masyarakat yang damai dan sejahtera.

Menjadikan Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup

Sebagai kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT, Al-Qur’an memiliki fungsi utama sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Oleh karena itu, umat Islam tidak hanya dituntut untuk membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.

Ketika nilai-nilai Al-Qur’an benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat, maka akan tercipta kehidupan yang penuh keberkahan. Sebaliknya, ketika manusia menjauh dari petunjuk Al-Qur’an, maka berbagai masalah sosial dan moral akan semakin mudah muncul.

Momentum Nuzulul Qur’an hendaknya menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang menerangi kehidupan manusia. Dengan membaca, memahami, dan mengamalkan ajarannya, umat Islam dapat meraih kebahagiaan tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Penutup

Peristiwa Nuzulul Qur’an adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia. Melalui Al-Qur’an, manusia mendapatkan petunjuk yang jelas tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan penuh iman, ilmu, dan akhlak mulia.

Oleh karena itu, memperingati Nuzulul Qur’an bukan sekadar mengenang sejarah turunnya wahyu, tetapi juga menjadi momentum untuk memperbarui komitmen kita dalam menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Semoga dengan semakin dekatnya kita kepada Al-Qur’an, kehidupan kita akan dipenuhi dengan cahaya petunjuk, keberkahan, dan kedamaian.


Referensi :
  1. Al-Qur'an
  2. Sahih al-Bukhari, Hadits No. 5027
  3. Tafsir Ibnu Katsir
  4. Tafsir Al-Mishbah

 

Share:

Santri di Balik Layar Negara: Jejak Pengabdian As’ad Said Ali


Di tengah masa ketika banyak kiai dan pesantren menghadapi tekanan pada era Orde Baru, muncul seorang santri dengan jalan hidup yang tak biasa. Namanya As'ad Said Ali. Ia lahir dari keluarga Nahdlatul Ulama yang kuat tradisi pesantrennya di Kudus. Namun sejak muda, jalan yang ia tempuh berbeda dari kebanyakan santri. Ketika banyak santri diarahkan untuk menempuh pendidikan pesantren tertentu, bahkan ayahnya sempat menawarkan untuk mondok di Pondok Modern Darussalam Gontor, As’ad justru memilih menempuh pendidikan di SMA umum. Pilihan ini menjadi awal dari perjalanan panjang yang kelak membawanya ke dunia yang tak pernah terbayangkan sebelumnya: dunia intelijen.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, jiwa kesantriannya tetap terjaga. Ia sempat menimba ilmu di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, lalu melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada. Dari sinilah langkah hidupnya berubah. Tanpa banyak diketahui keluarga, As’ad mendaftarkan diri menjadi bagian dari dunia intelijen negara. Awalnya sang ayah yang merupakan alumni Pondok Pesantren Tremas terkejut mendengar keputusan tersebut. Namun setelah memahami cara kerja intelijen—yang mengumpulkan informasi, menelusuri sumber, dan memverifikasi kebenaran—sang ayah justru memberi analogi yang menenangkan: pekerjaan intelijen mirip dengan ilmu hadis, ada matan, perawi, dan sanad. Analogi itu membuat As’ad semakin mantap menjalankan tugasnya sebagai penjaga informasi negara.

Kariernya sebagai intelijen membawanya bertugas di berbagai negara, terutama di Timur Tengah. Salah satu wilayah penugasannya adalah Arab Saudi, di mana ia memantau perkembangan gerakan Islam internasional seperti Ikhwanul Muslimin dan dinamika pemikiran keagamaan yang berpengaruh pada mahasiswa Indonesia di luar negeri. Ia juga mengikuti perkembangan gerakan Islam dan politik kawasan, berinteraksi dengan berbagai kelompok serta memahami dinamika organisasi seperti Hamas dan Hezbollah. Di balik kehidupan yang senyap dan jauh dari sorotan publik, As’ad bekerja mengumpulkan informasi strategis untuk memastikan stabilitas dan keamanan Indonesia tetap terjaga.

Salah satu kisah menarik dalam kariernya adalah keterlibatannya dalam memantau jaringan radikalisme di Timur Tengah, termasuk di Yaman. Ia pernah menugaskan dua santri untuk melakukan penelusuran informasi di wilayah tersebut guna mengetahui kemungkinan adanya inkubasi gerakan ekstrem. Langkah-langkah seperti ini jarang diketahui publik, tetapi menjadi bagian dari kerja intelijen yang bertujuan mencegah ancaman sebelum sampai ke tanah air. Dalam dunia intelijen, pekerjaan seperti ini bukan soal popularitas, melainkan tentang ketepatan informasi dan ketenangan negara.

Dalam dinamika global pasca konflik di Ambon, muncul nama Ja'far Umar Thalib, tokoh Laskar Jihad yang sempat menjadi sorotan internasional. Ketika ada dorongan dari pihak luar untuk memasukkannya ke dalam daftar teroris, As’ad mengambil posisi objektif sebagai pejabat di Badan Intelijen Negara. Ia menjelaskan bahwa tokoh tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan jaringan Al-Qaeda. Sikap ini menunjukkan pendekatan intelijen yang tidak didasarkan pada sentimen ideologis, melainkan pada data dan analisis yang akurat. Sikap objektif inilah yang membuat banyak pihak menilai bahwa berbagai kelompok—termasuk yang berbeda pandangan dengan NU—secara tidak langsung pernah mendapatkan perlindungan dari penilaian yang adil tersebut.

Puncak pengabdiannya terjadi ketika As’ad menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen Negara selama hampir satu dekade (2001–2010), melintasi masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah purnatugas dari dunia intelijen, ia kembali mengabdi di lingkungan Nahdlatul Ulama dengan menjadi Wakil Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mendampingi Said Aqil Siradj. Pengalaman panjangnya kemudian ia tuangkan dalam karya tulis, salah satunya buku berjudul Perjalanan Intelijen Santri.

Kisah hidup As’ad Said Ali menunjukkan bahwa jalan pengabdian seorang santri tidak selalu berada di mimbar atau ruang kelas pesantren. Ada yang mengabdi dalam sunyi, bekerja di balik layar, menjaga negeri dengan informasi dan analisis yang akurat. Ia membuktikan bahwa kesantrian tidak harus dilepaskan ketika seseorang memasuki dunia profesional. Justru nilai-nilai pesantren—kejujuran, kehati-hatian, dan tanggung jawab—dapat menjadi fondasi kuat untuk mengabdi kepada agama, bangsa, negara, serta menjaga martabat kemanusiaan. (MY)

Share:

Kamis, 05 Maret 2026

Jejak Kepedulian Muhammad Ali Taher dalam Mendukung Kemerdekaan Indonesia


Kemerdekaan Indonesia tidak hanya lahir dari perjuangan rakyat di dalam negeri, tetapi juga mendapat dukungan dari berbagai pihak di luar negeri. Salah satu kisah yang jarang diketahui publik adalah peran seorang tokoh asal Palestina yang dengan tulus membantu perjuangan diplomasi Indonesia di masa awal kemerdekaan. Dukungan tersebut menjadi bukti kuat bahwa solidaritas antarbangsa dapat melampaui batas wilayah dan latar belakang.

Tokoh tersebut adalah Muhammad Ali Taher, seorang saudagar kaya, jurnalis, sekaligus tokoh pergerakan Palestina yang pada masa itu menetap di Cairo, Egypt. Meskipun ia belum pernah mengunjungi Indonesia, Muhammad Ali Taher memiliki simpati yang mendalam terhadap perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan Belanda. Empatinya muncul dari kesadaran bahwa perjuangan melawan penindasan adalah perjuangan kemanusiaan yang harus didukung bersama.

Pada masa awal kemerdekaan, sekitar tahun 1944–1945, kondisi Indonesia sangat terbatas secara ekonomi. Negara yang baru diproklamasikan pada peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini belum memiliki kas negara yang memadai untuk mendukung kegiatan diplomasi internasional. Para diplomat Indonesia yang berada di Timur Tengah, termasuk M. Zein Hassan, menghadapi kesulitan besar dalam membiayai perjalanan serta menyebarkan informasi mengenai kemerdekaan Indonesia kepada dunia internasional.

Melihat kondisi tersebut, Muhammad Ali Taher mengambil langkah yang sangat luar biasa. Ia menarik seluruh simpanan pribadinya dari Bank of Arabia dan menyerahkannya kepada para delegasi Indonesia. Ketika para diplomat Indonesia yang terkejut hendak memberikan tanda terima sebagai bukti utang negara, ia menolaknya dengan tegas. Dengan penuh ketulusan ia menyampaikan bahwa bantuan tersebut bukanlah pinjaman, melainkan dukungan tulus dari hati untuk membantu kemenangan perjuangan bangsa Indonesia.

Bantuan dana tersebut menjadi faktor penting bagi keberhasilan diplomasi Indonesia di kawasan Timur Tengah. Berkat dukungan tersebut, para diplomat Indonesia dapat melakukan perjalanan dan lobi ke berbagai negara Arab. Upaya ini akhirnya membuahkan hasil ketika Mesir menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia, sebuah pengakuan yang kemudian mendorong negara-negara lain untuk mengikuti langkah yang sama.

Namun terdapat ironi yang menyentuh hati dalam kisah ini. Sosok yang telah berkontribusi besar terhadap kemerdekaan Indonesia tersebut justru harus menyaksikan tanah kelahirannya sendiri, Palestina, hingga kini masih menghadapi konflik dan perjuangan panjang untuk memperoleh kemerdekaan dan keadilan. Kisah Muhammad Ali Taher menjadi pengingat bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia juga dipenuhi oleh dukungan dan pengorbanan dari sahabat-sahabat bangsa di berbagai belahan dunia.

Oleh karena itu, bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk tidak melupakan jasa tersebut. Semangat solidaritas yang pernah ditunjukkan Muhammad Ali Taher hendaknya menjadi inspirasi bagi generasi masa kini untuk terus menumbuhkan kepedulian, kemanusiaan, dan dukungan terhadap perjuangan bangsa lain yang masih mencari keadilan.

Sumber: Arsip Peristiwa

Share:

Selasa, 03 Maret 2026

Rezeki yang Tak Pernah Tertukar: Ikhtiar, Kejujuran, dan Keteguhan Hati


Maqolah yang dinisbatkan kepada Imam Syafi'i ini mengandung pesan ketauhidan yang sangat mendalam: “Rezekimu telah tertulis dengan sangat rapi di langit dan tidak akan pernah tertukar dengan milik orang lain. Maka bekerjalah dengan jujur tanpa harus merasa cemas atau iri hati terhadap apa yang dimiliki orang lain.” Kalimat tersebut bukan sekadar nasihat spiritual, tetapi juga fondasi etika sosial dan ekonomi dalam kehidupan seorang mukmin. Ia menanamkan keyakinan bahwa Allah telah menetapkan bagian setiap hamba dengan keadilan dan kebijaksanaan-Nya.

Dalam perspektif akidah, keyakinan bahwa rezeki telah tertulis merupakan bagian dari iman kepada takdir. Seorang manusia diperintahkan untuk berikhtiar, namun hasil akhirnya tetap berada dalam ketentuan Allah. Di sinilah keseimbangan antara usaha dan tawakal menemukan titik temu. Keyakinan terhadap ketetapan rezeki bukanlah alasan untuk bermalas-malasan, melainkan justru menjadi energi moral agar seseorang bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa diliputi kegelisahan berlebihan.

Lebih jauh, maqolah ini juga menjadi obat bagi penyakit sosial berupa iri hati dan dengki. Banyak konflik, persaingan tidak sehat, bahkan praktik ketidakjujuran lahir dari rasa takut kehilangan rezeki atau merasa tersaingi oleh keberhasilan orang lain. Padahal jika seseorang benar-benar meyakini bahwa rezekinya tidak akan tertukar, ia tidak perlu menjatuhkan orang lain demi meraih sesuatu. Ia akan fokus pada peningkatan kualitas diri, bukan pada membandingkan diri dengan orang lain.

Dalam konteks kehidupan modern yang sarat kompetisi, pesan ini terasa semakin relevan. Dunia kerja dan usaha sering kali membuat manusia terjebak dalam kecemasan: takut tersaingi, takut tertinggal, takut gagal. Padahal, kegelisahan semacam itu justru menggerus ketenangan batin dan mengaburkan nilai kejujuran. Maqolah ini mengajarkan bahwa kejujuran adalah jalan panjang yang mungkin tidak selalu tampak cepat hasilnya, tetapi pasti membawa keberkahan. Rezeki bukan hanya soal jumlah, melainkan juga soal ketenangan dan kemanfaatan.

Akhirnya, keyakinan bahwa rezeki tidak akan tertukar membentuk pribadi yang lapang dada, pekerja keras, dan berintegritas. Ia tidak mudah goyah oleh keberhasilan orang lain, karena ia percaya bahwa Allah Maha Adil dalam membagi karunia-Nya. Ia pun tidak tergoda untuk menempuh jalan curang, karena sadar bahwa apa yang bukan menjadi bagiannya tak akan pernah menjadi miliknya. Inilah pesan moral yang abadi: bekerjalah dengan jujur, berusahalah dengan sungguh-sungguh, dan serahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang tenang.


----------
Oleh : Murdiyanto
Foto : Giat Pramuka bersama Galang MI Dukuh
Di Pantai Cengkrong, 15 Agustus 2015
Share:

Senin, 02 Maret 2026

Nasihat Penting bagi Para Pejuang Nafkah Agar Penghasilannya Menjadi Berkah


Mencari nafkah adalah bagian dari ibadah. Ia bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi jalan pengabdian kepada Allah SWT ketika diniatkan dengan benar dan dijalani dengan etika yang lurus. Imam Abu al-Layts al-Samarqandy memberikan panduan mendalam tentang bagaimana usaha manusia tidak hanya menghasilkan harta, tetapi juga menghadirkan keberkahan sesuatu yang sering tak terlihat, namun sangat terasa dampaknya dalam hidup.

Keberkahan rezeki tidak selalu diukur dari besar kecilnya nominal, melainkan dari ketenangan hati, kecukupan hidup, keharmonisan keluarga, dan kemanfaatannya bagi sesama. Untuk itu, beliau menekankan lima perkara penting yang wajib dijaga oleh setiap pencari nafkah.

1. Tidak Menunda Kewajiban kepada Allah karena Pekerjaan

Perkara pertama adalah menjaga agar urusan dunia tidak menggeser kewajiban kepada Allah SWT. Pekerjaan sering kali dijadikan alasan untuk menunda shalat, meremehkan ibadah, atau mengurangi kualitasnya. Padahal, justru ketaatan itulah yang menjadi pintu utama datangnya keberkahan rezeki.

Allah SWT tidak membutuhkan usaha manusia, tetapi manusia sangat membutuhkan pertolongan Allah. Ketika seseorang mendahulukan perintah-Nya di tengah kesibukan kerja, sejatinya ia sedang meneguhkan bahwa hidupnya berada dalam kendali iman, bukan sekadar rutinitas dunia.

2. Tidak Menyakiti Makhluk Allah dalam Mencari Nafkah

Mencari nafkah tidak boleh dilakukan dengan cara menzalimi orang lain, baik secara fisik, lisan, maupun perbuatan. Menipu, memanipulasi, mengurangi timbangan, mengambil hak orang lain, atau memperdaya demi keuntungan adalah jalan rezeki yang kering dari berkah.

Harta yang diperoleh dari penderitaan orang lain, meskipun tampak melimpah, sejatinya menjadi sebab sempitnya hidup. Islam mengajarkan bahwa keselamatan hubungan antar manusia adalah syarat penting agar rezeki membawa kebaikan, bukan petaka.

3. Meluruskan Niat: Menjaga Diri dan Keluarga, Bukan Menumpuk Harta

Tujuan utama mencari nafkah adalah menjaga kehormatan diri dan keluarga agar tidak bergantung pada orang lain. Ketika niat bergeser menjadi sekadar ambisi menumpuk harta, mengejar gengsi, atau berbangga dengan kepemilikan, maka keberkahan perlahan menghilang.

Rezeki yang diberkahi adalah yang cukup dan menenangkan, bukan yang membuat lalai dan rakus. Niat yang lurus menjadikan kerja sebagai ibadah dan hasilnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjauhkan.

4. Tidak Memforsir Diri Secara Berlebihan dalam Bekerja

Islam tidak mengajarkan hidup yang melelahkan diri tanpa batas demi dunia. Memforsir tenaga, waktu, dan pikiran secara berlebihan sering kali mengorbankan kesehatan, keluarga, bahkan ibadah. Padahal, semua itu adalah amanah.

Bekerja keras memang dianjurkan, namun harus diimbangi dengan kebijaksanaan. Istirahat, kebersamaan keluarga, dan ketenangan batin adalah bagian dari nikmat Allah yang tak boleh diabaikan. Rezeki yang berkah tidak menuntut manusia kehilangan kemanusiaannya.

5. Meyakini Rezeki Berasal dari Allah, Usaha Hanyalah Perantara

Inilah kunci paling halus sekaligus paling penting: keyakinan. Usaha bukanlah sumber rezeki, melainkan sebab yang diperintahkan Allah. Sumber sejati rezeki hanyalah Allah SWT. Ketika seseorang menggantungkan hatinya sepenuhnya pada usaha, jabatan, atau relasi, maka ia akan mudah gelisah dan sombong.

Sebaliknya, ketika ia menyandarkan hati kepada Allah, ia akan bekerja dengan tenang, jujur, dan penuh tawakal. Gagal tidak membuatnya putus asa, berhasil tidak menjadikannya lupa diri. Inilah tanda rezeki yang diberkahi.

Penutup

Nasihat Abu al-Layts al-Samarqandy ini mengajarkan bahwa keberkahan nafkah bukan hanya persoalan bagaimana bekerja, tetapi juga bagaimana bersikap, berniat, dan meyakini. Dunia dan akhirat tidak harus dipertentangkan. Dengan iman yang lurus dan akhlak yang terjaga, usaha dunia justru menjadi jalan keselamatan akhirat.

Semoga setiap langkah para pejuang nafkah senantiasa bernilai ibadah, membawa ketenangan, dan mengalirkan keberkahan bagi diri, keluarga, serta lingkungan sekitarnya. Aamiin. (My)

Share:

QUNUT WITIR DIMULAI MALAM 15 ATAU MALAM 16 RAMADHAN?


Mengenai kesunnahan Qunut witir pertengahan bulan Ramadhan berdasarkan hadis-hadist Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di antaranya:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ:  كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ إِلَى آخِرِهِ

Dari Anas Bin Malik radhiyallahu anhu: Sering kali Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan qunut witir dari pertengahan bulan Ramadhan sampai akhir Ramadhan. (al-Baihaqiy Sunan al-Kubra hadist no: 4307).

عَنْ مُحَمَّدٍ هُوَ ابْنُ سِيرِينَ، عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِهِ " أَنَّ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ أَمَّهُمْ، يَعْنِي فِي رَمَضَانَ، وَكَانَ يَقْنُتُ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Dari Muhammad bin Sirin, dari sebagian sahabatnya, bahwa Ubay bin Ka’ab mengimami mereka, yakni pada bulan Ramadhan, ia berqunut pada pertengahan terakhir bulan Ramadhan” (Abu Daud dalam Sunannya hadist no: 1428 dan al-Baihaqiy kitab Sunan al-Kubra hadist no: 4299)

عَنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ " أَنَّهُ " كَانَ يَقْنُتُ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Dari Al-Harits, dari ‘Ali radliyallahu ‘anh, bahwa ia berqunut pada pertengahan terakhir dari bulan Ramadhan” (al-Baihaqiy kitab Sunan al-Kubra hadist no: 4301).

Hadist-hadits di atas menyebutkan bahwa Qunut Shalat Witir dimulai pada pertengahan bulan Ramadhan. Dalam riwayat Ibn Abi Syaibah ditegaskan yang di maksud pertengahan bulan Ramadhan adalah malam ke-16:

عَنِ الْحَسَنِ، أَنَّ عُمَرَ، حَيْثُ «أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ فِي رَمَضَانَ، وَأَمَرَهُ أَنْ يَقْنُتَ بِهِمْ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي، لَيْلَةَ سِتَّ عَشْرَةَ» قَالَ: وَكَانَ الْحَسَنُ يَقُولُ: «إِذَا كَانَ إِمَامًا قَنَتَ فِي النِّصْفِ، وَإِذَا لَمْ يَكُنْ إِمَامًا قَنَتَ الشَّهْرَ كُلَّهُ»

Diriwayatkan dari al-Hasan: Sesungguhnya Umar Bin Khatthab memerintahkan Ubay Bin Kaab mengimami para jamaah shalat di bulan Ramadhan untuk melakukan qunut ketika pertengahan tersisa bulan Ramadhan tepatnya malam ke-16. Al-Hasan mengatakan: Apabila Umar Bin Khatthab shalat menjadi imam beliau melakukan qunut pada pertengahan bulan Ramadhan. Bila tidak menjadi imam (shalat sendiri) beliau melakukan qunut sebulan penuh.” (kitab Mushannaf Ibn Abi Syaibah hadist no: 6941).

Imam Abu Daud bertanya kepada Imam Ahmad Bin Hambal:

قال أَبُو دَاوُدَ، قُلْتُ لِأَحْمَدَ: الْقُنُوتُ فِي الْوِتْرِ السَّنَةُ كُلُّهَا؟، قَالَ: «إِنْ شَاءَ» قُلْتُ: فَمَا تَخْتَارُ، قَالَ: «أَمَّا أَنَا فَلَا أَقْنُتُ إِلَّا فِي النِّصْفِ الْبَاقِي إِلَّا أَنْ أُصَلِّيَ خَلْفَ إِمَامٍ يَقْنُتُ فَأَقْنُتُ مَعَهُ» قُلْتُ: إِذَا كَانَ يَقْنُتُ النِّصْفَ الْآخَرِ مَتَى يَبْتَدِئُ؟، قَالَ: «إِذَا مَضَى خَمْسَ عَشْرَةَ لَيْلَةً سَادِسَ عَشْرَةَ»

Abu Daud bertanya kepada Imam Ahmad: Apakah qunut witir dilakukan sepanjang tahun (bulan Ramadhan dan bulan lainnya)? Imam Ahmad menjawab: Terserah yang ia kehendaki. Abu Daud bertanya lagi: Pendapat yang kau pilih bagaimana? Ahmad Bin Hambal menjawab: Adapun pendapat yang aku pilih, aku tak melakukan qunut witir kecuali pada pertengahan bulan Ramadhan yang tersisa dan kecuali aku shalat di belakang imam yang yang melakukan qunut, maka aku mengikuti imam itu untuk qunut. Abu Daud lagi-lagi bertanya: Bila imam ingin melakukan qunut witir pada pertengahan bulan Ramadhan kapan waktu yang ideal ia mulai qunutnya? Ahmad Bin Hambal menjawab: kalau sudah berlalu 15 hari bulan Ramadhan tepatnya malam 16 Ramadhan.” (kitab Qiyamul Lail Wa Qiyam Ramadhan Wal Witr karya Imam Muhammad Bin Nashr al-Marwaziy jilid 1 halaman: 315)


- Taqrirotus sadidah hal. 437 :

مسئلة : متى يجوز صوم الشك أو النصف الأخير من شعبان ؟

يجوز صومهما في ثلاث حالات ؛ ١ ـ إذا كان الصوم واجبا : كقضاء أو كفارة أو نذر ٢ ـ إذا كانت له سنة معتادة { ورد } : كصوم الإثنين والخميس ٣ ـ إذا وصل النصف الثاني بما قبله : بأن صام يوم ١٥ ، فيجوز له أن يصوم اليوم الذي بعده يوم ١٦ ، وإذا صام يوم ١٦ جاز له صوم يوم ١٧ ، وهكذا إلى آخر الشهر ، فإذا أفطر يوما واحدا حرم عليه صوم بقية الشهر

Dengan melihat ibarot tentang separuh kedua / akhir dari bulan sya'ban yang menjelaskan tentang puasa yang diperbolehkan ketika separuh kedua disambung dengan hari sebelumnya (point ke-3) yang menjelaskan bahwa separuh kedua dalam setiap bulan hijriyah dihitung mulai hari ke-16.

Dalam keterangan itu menyatakan diperbolehkan orang yang berpuasa di separuh kedua/akhir dari bulan sya'ban, apabila disambung dengan hari sebelumnya dengan adanya contoh : " Jika seseorang berpuasa pada hari ke-15 sya'ban, maka diperbolehkan baginya puasa pada hari setelahnya yakni hari ke-16, apabila puasa pada hari ke-16 maka boleh berpuasa pada hari ke-17 dan begitu seterusnya (secara berkesinambungan) hingga akhir dari bulan sya'ban. maka jika seseorang berbuka dalam artian tidak berpuasa pada satu hari, maka haram berpuasa pada sisa hari berikutnya."

Berdasarkan penjelasan tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud separuh kedua/akhir dari bulan hijriyah dimulai pada hari ke-16. Jadi untuk menjawab pertanyaan : Separuh akhir dari Ramadlan itu disunnahkan qunut pada rokaat terakhir sholat witir.

Bagaimana hukum sholatnya orang yang qunut pada sholat witir di malam 15 Ramadlan?

Sebagaimana dimaklumi selain dalam i'tidal pada rokaat kedua sholat subuh, bahwa qunut itu juga disunnahkan pada i'tidal dalam rokaat terakhir dari sholat witir di separuh yang kedua atau separuh yang terakhir di bulan ramadlan.

Jika ada seseorang yang melakukan qunut pada sholat witir di selain separuh yang akhir dari bulan ramadlan atau tidak qunut waktu sholat tersebut pada separuh akhir dari bulan ramadlan maka hukumnya makruh dan orang itu sunnah untuk sujud sahwi, jadi sholatnya tetap sah.

- Taqrirotus sadidah hal. 244 :

قنوت راتبة ، وهو في موضعين ؛ ١ ـ في الاعتدال الثاني من صلاة الفجر ٢ ـ في الاعتدال الأخير لصلاة الوتر في النصف الثاني من رمضان

- Al-bajuri juz 1, hal. 164 :

؛{ و } القنوت { في } آخر الوتر { في النصف الثاني من شهر رمضان } وهو كقنوت الصبح المتقدم في محله ولفظه ، ولا يتعين كلمات القنوت السابقة ، فلو قنت بآية تتضمن دعاء وقصد القنوت حصلت سنة القنوت

؛{ قوله والقنوت في آخر الوتر } أي في اعتدال الركعة الأخيرة منه وقوله : في النصف الثاني ، وفي نسخة في النصف الأخير ، فلو قنت في غير النصف الأخير من رمضان أو تركه في النصف الأخير منه كره ذلك وسجد للسهو.

والله أعلم بالصواب


Semoga bermanfaat

Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung