Minggu, 27 September 2020

HAL YANG SANGAT DITAKUTI KIAI MAHRUS ALY

Kiai Mahrus Aly dikenal sebagai sosok kiai yang tegas dan pemberani, bahkan kepada penguasa orde baru pada saat itu. Saat listrik baru masuk ke pondok Lirboyo, beliau dengan tegas mengatakan kepada pemerintah bahwa jika listrik ini murni untuk kemudahan pendidikan beliau sangat berterima kasih, namun jika ini bermuatan politik maka beliau mempersilahkan agar listrik ini dicabut kembali.

Namun dari itu, ada hal yang sangat ditakuti oleh Kiai Mahrus, bahkan mendengar nama seseorang yang berkaitan dengan hal itu saja sampai membuat beliau sakit.

Kisahnya, kisaran tahun 1958 M. para kiai NU Jawa Timur bersepakat mengangkat Mbah Mahrus untuk menjabat Rais Syuriah PWNU Jatim. Untuk itu, para kiai mengutus Kiai Imron Hamzah sowan ke lirboyo guna meminta kesediaan Mbah Mahrus. Hasilnya, sebagaimana yang dapat diduga, Mbah Mahrus Menolaknya.

Tidak putus asa, beberapa hari kemudian Kiai Imron Hamzah kembali datang ke Lirboyo dengan tujuan yang sama. Namun apa yang terjadi? Begitu mendengar Kiai Imron Hamzah datang lagi, beliau Mbah Mahrus langsung sakit.

Oleh sebab demikian, sampai-sampai isteri Mbah Mahrus memohon kepada Kiai Imron agar tidak datang Lagi Ke Lirboyo sebab Kiai Mahrus sangat trauma mendengar nama Kiai Imron. Karena takutnya beliau diangkat jadi Rais Syuriah.

Walau pun kemudian Mbah Mahrus tidak bisa mengelak ketika para Kiai dan Peserta Konferwil NU Jawa Timur memberikan amanah kepada beliau untuk menduduki jabatan Rais Syuriah PWNU Jawa Timur.(IM)


Sumber : FB LIRBOYO
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung