Minggu, 22 Agustus 2021

Doa Kebangsaan Peringatan HUT KE 76 RI dan Sosialisasi Akreditasi Gerakan Pemuda Ansor Ranting se Kecamatan Watulimo


Anwalin News
- Pimpinan Anak Cabang Gerakan pemuda Ansor gelar Doa Kebangsaan Peringatan HUT KE 76 RI serta Sosialisasi Akreditasi GP Ansor ranting se kecamatan Watulimo di Pendopo GUPILI Desa Slawe Kecamatan Watulimo. Pada agenda kali ini dihadiri oleh Pengurus Harian PAC GP Ansor Watulimo, dan perwakilan dari masing masing Ranting se Kecamatan Watulimo yang terdiri dari Ketua Ansor Ranting, Ketua MDS Rijalul Ansor, Sekertaris dan Kasatkorkel.

Adapun serangkaian acara pada hari ini yakni pembukaan dengan pembacaan surat Al fatihah, menyanyikan lagu Indonesia raya, Syubbanul Wathan, Mars GP Ansor, Mars banser, kemudian Istighosah bersama, dilanjut dengan sambutan dari Sahabat Murdianto selaku ketua Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Watulimo, pada sambutannya beliau berpesan untuk setiap ranting sesegera mungkin menyelesaikan susunan kepengurusan Ansor dan banser tingkat ranting, Membuat instrumen akreditasi dari masing masing ranting, akreditasi merupakan sarana tolak ukur kinerja organisasi. Pengejawentahan dari program kerja menjadi kegiatan yang terpadu dengan adminiatrasi dan dokumentasi.


Memasuki Pada Acara inti yakni terkait dengan Sosialisasi dan bedah instrumen yang dipimpin langsung oleh sahabat Mustarom selaku Koordinator Departemen Akreditasi PAC GP Ansor Kecamatan Watulimo bersama sahabat Devid Hariyanto. Dalam pembahasan Akreditasi ini terdapat berkas Instrumen legalitas Organisasi , yang didalamnya terdapat poin poin penting meliputi Legalitas organisasi, Kebanseran, Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor, Instrumen Kaderisasi Anggota GP Ansor,Kegiatan Sosial Bermasyarakat, Pengembangan Kapasitas Digital Kader.

Alhamdulillah kegiatan terlaksana dengan lancar aman dan sukses; Semoga membawa kemanfaatan dan keberkahan untuk pribadi dan organisasi.


Share:

Senin, 16 Agustus 2021

9 Tokoh NU Bergelar Pahlawan Nasional


Jam’iyyah Nahdlatul Ulama melahirkan para pejuang yang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Meski para pahlawan dari NU dan pesantren terbilang banyak, tapi hanya beberapa nama yang kemudian mendapat gelar Pahlawan Nasional. 

Para pahlawan nasional dari NU ini, menurut sejarawan KH Abdul Mun’im DZ menunjukkan bahwa NU bukan pemain figuran dalam pembentukan negara ini, melainkan pemeran utama.  Berikut ini nama tokoh bergelar pahlawan nasional yang pernah aktif di NU di berbagai tingkatan yang disusun berdasarkan tahun penetapan gelar. Hanya disajikan riwayat sangat singkat dan sebagian kecil peran dan jasa mereka yang besar untuk umat dan negaranya.

1. Hadratussyekh KH Hasyim Asyari
Hadratussyekh KH Hasyim As’yari adalah tokoh utama dan pendiri Nahdatul Ulama pada 31 Januari 1926. Ia merupakan satu-satunya penyandang gelar Rais Akbar NU hingga akhir hayatnya dan tak pernah ada lagi hingga sekarang. Ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 17 November 1964 berkat jasanya yang berperan besar dalam pendidikan melalui NU dan melawan penjajah. Salah satu di antara jasanya untuk negara ini adalah memutuskan NU untuk mengeluarkan Resolusi Jihad fi Sabilillah yang direkomendasikan untuk pemerintah RI yang baru berdiri dan Jihad fi Sabilillah untuk umat Islam dengan fatwa, setiap orang dewaasa yang berada dalam radius 90 km dari medan pertempuran melawan penjajah wajib berperang. Keduanya diputuskan menjadi pernyataan resmi organisasi NU pada 22 Oktober 1945. Tanggal tersebut kemudian dijadikan sebagai Hari Santri Nasional.

2. KH Abdul Wahid Hasyim 
KH Abdul Wahid Hasyim adalah putra Hadratussyekh KH Hasyim As’yari dan ayah dari presiden keempat RI KH Abdurrahmann Wahid. Ia merupakan salah satu anggota Badan Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Di pondok pesantren Tebuireng ia mempelopori masuknya ilmu pengetahuan umum ke dunia pesantren dengan mendirikan Madrasah Nidzmiyah dengan ilmu umum 70 persen, ilmu agama 30 persen. Ia  ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 17 November 1960.

3. KH Zainul Arifin
KH Zainul Arifin, merupakan tokoh NU asal Barus, Sumatera Utara. Keturunan raja-raja Barus ini aktif di NU sejak muda melalui kader dakwah. Di antara jasanya adalah pada pembentukan pasukan semi militer Hizbullah. Kemudian menjadi panglimanya. Ia pernah menjadi perdana menteri Indonesia, Ketua DPR-GR. Selain itu, beliau juga berjasa dalam menjadi anggota badan pekerja Komite Nasional Pusat. Pemerintah menetapkan dirinya sebagai pahlawan nasional pada 4 maret 1963. 

4. KH Zainal Musthafa
KH Zainal Musthafa merupakan tokoh NU dari Tasikmalaya, pernah menjadi salah seorang Wakil Rais Syuriyah. Ia salah seorang kiai yang secara terang-terangan melawan para penjajah Belanda. Ketika Belanda lengser dan diganti penjajah Jepang, ia tetap menolak kehadiran mereka. Bersama para santrinya mengadakan perang dengan Jepang. Atas jasanya ia dianugerahi sebagai pahlawan nasional pada1972.

5. KH Idham Chalid
Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR. Selain sebagai politikus, ia merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada tahun 1956-1984. Hingga saat ini ia merupakan ketua paling lama di ormas bentukan para kiai ini. Atas jasanya, ia ditetapkan sebagai pahlawan pada 8 November 2011. Kemudian pada 19 Desember 2016, Pemerintah mengabadikannya di pecahan uang kertas rupiah baru, pecahan Rp 5 ribu.

6. KH Abdul Wahab Chasbullah  KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan Salah seorang pendiri NU. Sebelumnya, ia pendiri kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran), pendiri Madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negeri), pendiri Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang). Sejak 1924, mengusulkan agar dibentuk perhimpunan ulama untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis yang bermazhab. Usulannya terwujud dengan mendirikan NU pada 1926 bersama kiai-kiai lain. Ia juga salah seorang penggagas MIAI, pernah menjadi Rais ‘Aam PBNU. Kiai yang wafat pada 29 Desember 1971 itu mendapatkan gelar pahlawan pada 8 November 2014.

7. KH As’ad Syamsul Arifin
KH As’ad Syamsul Arifin salah seorang kiai berperang melawan penjajah. Ia menjadi pemimpin para pejuang di Situbondo, Jember maupun Bondowoso, Jawa Timur. Di masa revolusi fisik, Kiai As'ad menjadi motor yang menggerakkan massa dalam pertempuran melawan penjajah pada 10 November 1945. Selepas kemerdekaan Kiai As'ad adalah penggerak ekonomi-sosial masyarakat. Ia menyerap aspirasi dari warga kemudian mendorong pemerintah daerah, menteri, maupun presiden guna mewujudkan pembangunan yang merata. Kiai As'ad juga berperan menjelaskan kedudukan Pancasila tidak akan mengganggu nilai-nilai keislaman. Atas jasa-jasanya, ia mendapat anugerah pahlawan pada 9 November 2016.

8. KH Syam’un
KH Syam’un merupakan pengurus NU di Serang, banten. Ia pernah hadir di Muktamar NU keempat di Semarang pada 1929, pada Muktamar NU kelima di Pekalongan 1930 dan pada Muktamar NU kesebelas di Banjarmasin pada 1936. KH Syam'un selain alim dalam keilmuan, menguasai tiga bahasa asing dan pernah mengajar di Arab Saudi pada masa mudanya, ketika kembali ke tanah air, ia bergabung dengan kelaskaran. Ia pernah menjadi perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Pernah menjadi Komandan Batalyon berpangkat daidancho atau mayor tahun 1943. Tahun 1944 dilantik jadi Komandan Batalion PETA berpangkat mayor, memimpin 567-600 orang pasukan. Saat TKR dibentuk 5 Oktober 1945, pangkatnya naik jadi kolonel, Komandan Divisi l TKR dengan memimpin 10.000 orang pasukan. Tahun 1948, ia naik pangkat brigadir jenderal. Ia memimpin gerilya di wilayah Banten, sampai wafatnya tahun 1949. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah RI pada 8 November 2018.

9.  KH Masykur
KH Masjkur adalah tokoh Nahdlatul Ulama pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Di antara kontribusinya semasa hidup adalah ikut terlibat merumuskan Pancasila sebagai dasar negara. KH Masjkur juga tercatat selaku pendiri Pembela Tanah Air (Peta) yang kemudian menjadi unsur laskar rakyat dan TNI di seluruh Jawa. Ketika pertempuran 10 November 1945, namanya muncul sebagai pemimpin Barisan Sabilillah. Ia pernah menjadi Menteri Agama Indonesia pada 1947 hingga 1949 dan 1953 sampai 1955. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI periode 1956 sampai 1971 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1968. Selain itu, Kiai Masjkur ikut serta membangun moral anak bangsa dengan mendirikan Yayasan Sabililah, lembaga masyarakat yang bergelut di bidang pendidikan. Ia ditetapkan pemerintah sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah pada 8 November 2019

Sumber: nu.or.id
Share:

Senin, 09 Agustus 2021

Raih Keberkahan Pada Bulan Muharram


Bulan Muharram adalah salah satu bulan yang istimewa. Bulan ini merupakan awal pergantian tahun hijriah. Pada tahun ini, 1 Muharram 1443 H akan jatuh pada hari Selasa (10/8/2021).

Di bulan Muharram, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan ibadah sunnah, seperti puasa. Disebutkan dalam sebuah hadits, puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram. Hadits ini berasal dari Abu Hurairah ra.
 
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
 
Artinya: "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah - Muharram. Sementara sholat yang paling utama setelah shalat wajib adalah sholat malam." (HR. Muslim).

 

Ada banyak puasa sunnah yang bisa dilakukan pada bulan Muharram, seperti puasa Tasu'a dan Asyura, puasa Senin dan Kamis, dan puasa Ayyamul Bidh.
 
Di dalam Kitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu juz 3, Wahbah Az Zuhaili mengatakan, puasa Tasu'a disepakati oleh para ulama termasuk jenis ibadah Tathawwu' atau sunnah. Puasa ini dikerjakan pada tanggal 9 Muharram.
 
Sedangkan puasa Asyura adalah puasa yang dikerjakan pada tanggal 10 Muharram. Puasa Asyura merupakan ibadah sunnah yang dapat menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Imam Muslim, Abu Qotadah Al Anshori mengatakan:
 
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
 
Artinya: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, "Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa 'Asyura? Beliau menjawab, "Puasa 'Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim).
 

Jadwal Puasa Tasu'a dan Asyura

Puasa Tasu'a 9 Muharram : Rabu, 18 Agustus 2021
Puasa Asyura 10 Muharram : Kamis, 19 Agustus 2021

 
Niat puasa Tasu'a (18 Agustus 2021)

نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُعَاءْ سُنَّةَ ِللهِ تَعَالَى

Arab-latin: Nawaitu shauma tasu'a sunnatal lillaahita'ala
 
Niat puasa Asyura (19 Agustus 2021)

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Arab-latin: Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i sunnati 'Asyura lillahi ta'ala
 
Itulah niat puasa Tasu'a dan Asyura. Selamat menjalankan ibadah puasa! (my)

Share:

Kemuliaan Bulan Muharram Menurut KH Sholeh Darat


Orang Jawa menyebut bulan Muharram dengan “Sasi Suro” dan terdapat peristiwa agung di dalamnya yang disebut “Bodo Suro”. Bagi masyarakat Muslim, Muharram memang menjadi momentum mulia karena menjadi bulan pembuka tahun baru. Wajar jika dalam kondisi ini disebut sebagai “Hari Raya Umat Islam” karena banyak kenangan yang terdapat dalam bulan Muharram. Darimana penjelasan “Hari Raya Suro” itu didapatkan?

Penjelasan tentang kemuliaan bulan Muharram ini ditulis oleh KH Sholeh Darat pada bulan Muharram tahun 1317 H. Jika dilihat dalam penanggalan Jawa online, 1 Muharram 1317 H jatuh pada hari Jum’at Pon bersamaan dengan 12 Mei 1899 M atau 1 Suro 1829 (Jawa). Jika kita hitung sekarang sudah memasuki tahun 2021, maka kitab karya KH Sholeh Darat ini sudah berumur 122 tahun. Kitab ini ditulis saat KH Sholeh Darat berusia 79 tahun.


KH Sholeh Darat menyebutkan dalam kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Shalah tentang kemuliaan bulan Muharram: “Bahwa awal Muharram itu adalah tahun barunya seluruh umat Islam. Adapun tanggal 10 Muharram adalah “Hari Raya”yang digunakan untuk bergembira dengan shadaqah. Hari raya ini adalah untuk mensyukuri nikmat Allah, bukan hari raya dengan shalat. Tetap hari raya dengan pakaian rapi dan memberikan makanan kepada para faqir. Sebaiknya orang Islam mengetahui tahun baru Islam. Hari wuquf di Arafah itu akan menjadi hari pertama bulan Muharram dan akan menjadi tanggal 27 bulan Rajab”.



Dalam menyambut tahun baru ini, maka umat Islam diminta untuk membaca doa akhir tahun pada tanggal 30 Dzulhijjah saat akhir shalat ashar sebanyak tiga kali. Bacaan doa akhir tahun adalah begini :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْأتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ، فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّي وَلاَ تَقْطَعْرَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيْمُ.وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.


KH Sholeh Darat menjelaskan bahwa siapa saja yang membaca doa akhir tahun ini tidak akan digoda oleh syetan dalam tahun itu. Syetan hanya bisa merusak manusia dalam waktu satu jam. Itupun semua dosa selama setahun telah diampuni oleh Allah karena membaca doa ini. “Maka seyogyanya bagi orang beriman, jangan lupa membaca doa ini saat akhir tahun” tegas KH Sholeh Darat.



Selain membaca doa akhir tahun, umat Islam juga diminta untuk membaca tiga kali doa awal tahun setelah shalat maghrib pada awal bulan Muharram. Bacaan doa awal tahun adalah sebagai berikut:


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللّهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ اْلقَدِيْمُ اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَاءِهِ وَجُنُوْدِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ اْلأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلإِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ زُلْفٰى يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ. يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا ومولانا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَاصْحَابِهِ وَسَلَّم.


Doa awal tahun ini ketika dibaca, akan membuat umat Islam terlindungi dari godaan syetan. KH Sholeh Darat menjelaskan: “Barangsiapa membaca doa ini tiga kali di awal bulan Muharram setelah shalat maghrib, maka sesungguhnya syetan itu mengucapkan bahwa anak Adam ini sudah aman dalam sisa umurnya selama tahun itu. Sebab Allah Swt memberikan asisten berupa dua Malaikat untuk menjaganya agar tidak digoda syetan”.


Sungguh mulia sekali bacaan doa akhir dan awal tahun Islam ini. Tentunya amalan-amalan semacam ini akan semakin memperkuat hubungan antara manusia dengan Allah Swt, termasuk memperkuat hubungan manusia dengan manusia. Maka ketika suasana semacam ini, muslim Jawa selalu menggelar acara Suronan dengan berdoa bersama di Musholla dan Masjid. Ada dua hal penting dalam majelis itu, berdoa pada Allah dan berkumpul antar jama’ah untuk membuat hidup rukun dan damai.


Dalam memahami dimensi waktu bulan Muharram ini dapat diambil sebuah hikmah bahwa kehidupan itu mengenal awal (hidup) dan mengenal akhir (kematian).  Manusia akan melewati proses itu semua. Untuk menjelaskan kehidupan dan kematian, KH Sholeh Darat juga menyinggung tentang husnul khatimah dan su’ul khatimah dalam Kitab Munjiyat. Bahkan secara rinci tanda-tanda adanya husnul khatimah dan su’ul khatimah bagi setiap orang.


Oleh sebab itu, dalam menyiapkan kehidupan yang baik menuju khusnul khatimah, maka KH Sholeh Darat mengajarkan tentang ketenangan hati dan ketenangan perilaku. Dua hal ini penting untuk dijalani bagi setiap orang yang masih hidup. Ketenangan hati akan didapatkan jika manusia sadar dan menghayati kalimat “La ilaha illallah”. Kalimat itu selalu diucapkan tanpa putus dan dijalani dengan baik. Yang muncul kemudian adalah sifat positif dalam melihat keberadaan Allah sebagai dzat yang maha rahman dan ra’uf.


Setiap gerak langkah orang yang dekat dengan Allah selalu mendapatkan jalan terbaik dari Allah. Maka KH Sholeh Darat mengingatkan agar orang Islam tidak minta kesehatan dan selalu menyalahkan Allah. Sebab Allah sudah memberikan kenikmatan sehat selamanya, dan jika dalam kondisi sakit, maka Allah tetap memberikan kasih sayangnya. Menyalahkan Allah sama halnya dengan kita protes dan lepas dari makna “La ilaha illallah”. Disitulah ketenangan hati dan ketenangan perilaku itu diuji.


Adapun tanda-tanda orang husnul khatimah ketika sudah wafat sebagaimana dijelaskan oleh KH Sholeh Darat berdasar hadits Nabi adalah tiga hal: kening atau pelipisnya berkeringat, kedua matanya mengeluarkan air mata dan mulutnya kering. Dalam kondisi itu, Allah Swt memberikan kasih sayangnya bagi jenazah itu. Semoga kita dituntun oleh Allah dengan hidayahnya dalam menatap tahun baru hijriyah ini.


Sumber : NU Online

Share:

Jumat, 09 Juli 2021

KISAH TRAGIS PEMBENCI SHALAWAT


Alkisah, hidup seorang pecinta Rasulullah saw., Abdulloh bin Mubarok namanya. Nafas yang dihembuskannya tak pernah lepas dari menyebut nama sang kekasih, Nabi Muhammad saw. Mulutnya selalu terbasahi oleh ucapan shalawat kepadanya.

Suatu saat, ia didatangi seseorang tiba-tiba. Seseorang itu begitu membenci bacaan shalawat yang terus didengungkan Abdulloh. Ia menenteng senjata tajam. Kala berhadap-hadapan dengan Abdulloh, ia angkat senjatanya. Ia tarik lidah Abdulloh. Crass!! Lidah Abdulloh tergelepar di atas tanah.

Abdulloh merintih. Sang pemotong lidah itu berlalu dengan bangga. Gembira karena tak bakal ada lagi lantunan shalawat yang mengganggunya.

Tetapi pena malaikat tak diam. Ditulisnya peristiwa itu. Di waktu yang tak disangka-sangka kelak, laknat Allah dihujamkan padanya.

Seusai kejadian kejam itu, Abdulloh yang tak bisa lagi mendesahkan shalawat dengan bahagia, tentu saja berkeluh kesah. Rasulullah, kekasih yang selalu ia sebut namanya itu, mendengar keluh kesah itu.

Beliau hadir di dalam mimpi Abdulloh. didengarnya kisah mengerikan itu. Maka kemudian inilah yang terjadi: lidah Abdulloh tersambung seperti sediakala, si pemotong lidah terkutuk menjadi kera.

Sangat lama kera itu menanggung perbuatannya. Sang anak, yang tak tega melihat penderitaan ayahnya, berulangkali memohonkan maaf atas peristiwa itu kepada Abdulloh.

Ia memohon dengan sebenar-benarnya. Ia berjanji, maaf yang diberikan akan ia tebus dengan bacaan shalawat sepanjang hidupnya.

Hati Abdulloh bin Mubarok yang penuh belas kasih, menerima permohonannya. Maka sang ayah sembuh seperti semula. Dan sang anak berjuang memenuhi janjinya: mengembuskan shalawat bersamaan dengan setiap detak jantungnya.
--------------------

*disarikan dari mauidhoh hasanah KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dalam even Lirboyo Bersholawat, dalam rangka Haul Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Qur’an (P3TQ), Kamis (15/03) kemarin.


Sumber : FB Pondok Lirboyo
Share:

Minggu, 27 Juni 2021

Mujahaddah Bersama Oleh GP. Ansor Ranting Dukuh Sebagai Ikhtiyar Bathin Menghadapi Covid-19


Anwalin News
– Dukuh (26/06), Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Desa Dukuh menggelar Mujahaddah bersama dengan rangkaian acara Istighotsah, Pembacaan Hizib dan Sosialisasi Prokes serta Proker Gerakan Pemuda Ansor. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Masjid Miftahul Huda yang berlokasi di RT. 09 RW. 03 Dusun Krajan Desa Dukuh Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
.
Tujuan dilaksanakannya kegiatan mujahaddah yang diisi dengan istighotsah dan dzikir bersama tersebut adalah sebagai ikhtiyar bathin keluarga besar GP. Ansor dalam menghadapi adanya wabah corona yang sampai saat ini belum sirna dari wilayah Kecamatan Watulimo dan bumi Indonesia. Dengan harapan dan memohon kepada Allah SWT, supaya pandemi covid-19 tersebut segera diangkat dari bumi Indonesia sehingga semua warga bisa beraktifitas normal seperti sebelum adanya pandemi.


Acara mujahaddah dihadiri oleh segenap Pengurus GP. Ansor Desa Dukuh, Pengurus Harian PAC GP. Ansor Watulimo, Pengurus Nahdlatul Ulama Ranting Dukuh, Crew Media Anwalin, dan segenap Jamaah Masjid Miftahul Huda Dusun Krajan Desa Dukuh. Sebelum acara mujahaddah bersama dilaksanakan sholat Isya’ berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Istighotsah bersama yang dipimpin oleh bapak Kyai Muhammad Syamsun yang mana beliau adalah Rais Syuriyah Nahdlatul Ulama Desa Dukuh. Selesai istighotsah acara dilanjutkan dengan pembacaan hizib dan diteruskan dengan sosialisasi Prokes serta planning Program Kerja PAC GP. Ansor Watulimo oleh sahabat Murdiyanto (Ketua PAC GP. Ansor Watulimo).
.
Pada sambutannya, kang Myanto (begitu panggilan akrabnya) menyampaikan himbauan dari Pemerintah terkait dengan pengetatan penerapan protokol kesehatan kepada seluruh warga masyarakat yang hadir diacara mujahadah bersama tersebut. Mengingat sampai saat ini wabah corona semakin meningkat dan semakin ganas penularannya kepada setiap warga yang daya tahan tubuhnya (imunnya) lemah.
.
“Sampai saat ini, wabah covid-19 belum sirna/hilang dari bumi Indonesia; maka penerapan protokol kesehatan harus ditingkatkan guna meminimalisir serta mencegah terhadap penularannya virus (covid-19) tersebut. Selain ikhtiyar lahir (penerapan prokes) setiap warga/jamaah harus secara istiqomah mengadakan mujahaddah yang berisi istighotsah, dzikir bersama, pembacaab hizib, dan lain-lain; dan tentunya harus dibersamai dengan penerapan protokol kesehatan tersebut” begitu kang Myanto menyampaikan dalam pembukaan Sambutannya.


Selain menyampaikan masalah Prokes, Kang Myanto yang diamanahi sebagai ketua PAC untuk yang kedua kalinya tersebut juga menyampaikan Planning Program Kerja PAC GP. Ansor Watulimo masa Bhakti 2021-2023 untuk tahun pertama. Ia menyampaikan bahwa Proker PAC untuk periode saat ini, metode dan penerapannya berbeda dengan periode sebelumnya. Mengingat sampai saat ini Pandemi Covid-19 belum hilang, maka untuk system kerja, perencanaan dan realisasi program diselaraskan dengan kondisi wilayah saat ini. Begitu juga dengan Tupoksi Pengurus Harian dan Departemensasi PAC disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi yang ada guna meminimalisir (mencegah) tertularnya virus corona serta untuk memaksimalkan realisasi program kerja PAC GP. Ansor Watulimo masa khidmah 2021-2023.
.
Diakhir kegiatan acara diisi dengan diskusi bersama sebagai upaya untuk menyerap usulan dan masukan dari sahabat-sahabat Ansor dengan harapan organisasi Gerakan Pemuda Ansor yang berada dibawah komando Pimpinan Anak Cabang Watulimo semakin baik, bermanfaat, maju dan membawa keberkahan untuk semuanya. (MY).
.

Kontributor : MY
Fotografer : Agus Rianto
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung