Jumat, 09 Juli 2021

KISAH TRAGIS PEMBENCI SHALAWAT


Alkisah, hidup seorang pecinta Rasulullah saw., Abdulloh bin Mubarok namanya. Nafas yang dihembuskannya tak pernah lepas dari menyebut nama sang kekasih, Nabi Muhammad saw. Mulutnya selalu terbasahi oleh ucapan shalawat kepadanya.

Suatu saat, ia didatangi seseorang tiba-tiba. Seseorang itu begitu membenci bacaan shalawat yang terus didengungkan Abdulloh. Ia menenteng senjata tajam. Kala berhadap-hadapan dengan Abdulloh, ia angkat senjatanya. Ia tarik lidah Abdulloh. Crass!! Lidah Abdulloh tergelepar di atas tanah.

Abdulloh merintih. Sang pemotong lidah itu berlalu dengan bangga. Gembira karena tak bakal ada lagi lantunan shalawat yang mengganggunya.

Tetapi pena malaikat tak diam. Ditulisnya peristiwa itu. Di waktu yang tak disangka-sangka kelak, laknat Allah dihujamkan padanya.

Seusai kejadian kejam itu, Abdulloh yang tak bisa lagi mendesahkan shalawat dengan bahagia, tentu saja berkeluh kesah. Rasulullah, kekasih yang selalu ia sebut namanya itu, mendengar keluh kesah itu.

Beliau hadir di dalam mimpi Abdulloh. didengarnya kisah mengerikan itu. Maka kemudian inilah yang terjadi: lidah Abdulloh tersambung seperti sediakala, si pemotong lidah terkutuk menjadi kera.

Sangat lama kera itu menanggung perbuatannya. Sang anak, yang tak tega melihat penderitaan ayahnya, berulangkali memohonkan maaf atas peristiwa itu kepada Abdulloh.

Ia memohon dengan sebenar-benarnya. Ia berjanji, maaf yang diberikan akan ia tebus dengan bacaan shalawat sepanjang hidupnya.

Hati Abdulloh bin Mubarok yang penuh belas kasih, menerima permohonannya. Maka sang ayah sembuh seperti semula. Dan sang anak berjuang memenuhi janjinya: mengembuskan shalawat bersamaan dengan setiap detak jantungnya.
--------------------

*disarikan dari mauidhoh hasanah KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dalam even Lirboyo Bersholawat, dalam rangka Haul Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Qur’an (P3TQ), Kamis (15/03) kemarin.


Sumber : FB Pondok Lirboyo
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung