Kamis, 27 Agustus 2026

Keutamaan Perayaan Maulid Nabi Menurut Khulafaurrasyidin


Memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw merupakan suatu bentuk penghormatan dan rasa syukur umat atas kelahiran Rasulullah yang membawa risalah agama ke dunia. Peringatan maulid Nabi saw telah lama dipraktikkan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia sebagai wujud kecintaannya kepada Nabi saw. Mengagungkan maulid nabi merupakan kabar baik bagi umat itu sendiri, sebagaimana tersebut dalam kitab Maulid al-Barzanji:

فَطُوبَى لِمَنْ كَانَ تَعْظِيمُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَايَةَ مُرَامِهِ وَمَرْمَاهُ
Artinya: 
Maka beruntunglah siapa saja yang menjadikan pengagungan kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai tujuan tertinggi dan sasaran hidupnya (lihat: Maulid al-Barzanji dalam Majmu’ah al-Maulid, hlm. 45-46). 

Sebagai tujuan tertinggi seseorang, maka pengagungannya kepada Nabi saw bukan sekadar penghormatan lahiriah, melainkan juga sebuah komitmen batiniah bagi orang tersebut. Sehingga, ia berusaha untuk meneladani sifat-sifat Nabi saw, mengamalkan ajaran-ajarannya, dan menjaga rasa hormat kepada Nabi saw dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana Syaikh Muhammad Nawawi Banten mengomentari hal tersebut dalam kitab Madarij ash-Shu’ud. 

فَالثَّوَابُ لِمَنْ جَعَلَ تَعْظِيْمَهُ لَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقْصُودًا بِقَلْبِهِ دَائِمًا، وَمَنْصُوبًا بَيْنَ عَيْنَيْهِ
Artinya: 
Ganjaran diberikan kepada siapa saja yang menjadikan pengagungan nya kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai tujuan dalam hatinya dan prioritas dalam kehidupannya (lihat: Madarij ash-Shu’ud, hlm. 15).   

Memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah salah satu ibadah yang paling agung. Hal ini dapat dilakukan dengan membagikan makanan kepada liyan, membaca Al-Quran, dan membaca sirah Nabi Muhammad atau melantunkan syair-syair pujian kepadanya. Maka, penting mengkhususkan perayaan kelahiran pada malam kelahirannya. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِي، كُنْتُ شَفِيعًا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِي مَوْلِدِي، فَكَأَنَّمَا أَنْفَقَ جَبَلًا مِنَ الذَّهَبِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى
Artinya: 
Barang siapa mengagungkan hari kelahiranku, maka aku akan menjadi pemberi syafa’at baginya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menginfakkan satu dirham untuk memperingati kelahiranku, maka seakan-akan dia menginfakkan gunung emas (yang dilakukan) karena memuliakan agama Allah Swt. (lihat: Madarij ash-Shu’ud, hlm. 15). 

Syafa’at Nabi Muhammad Saw. ini benar adanya dan tidak diragukan lagi. Imam Jaluddin Abd ar-Rahman as-Suyuthi menyebutkan sejumlah syafa’at  dalam kitab Itmam ad-Dirayah li Qiro’ an-Niqoyah. Di antaranya adalah syafa’at Nabi Muhammad saw memasukkan sekelompok orang ke dalam surga tanpa hisab dan syafaat yang diperuntukkan bagi mereka yang berhak mendapatkannya. Adapun syafa’at Nabi yang paling agung ialah syafa’at pada saat pemutusan pengadilan untuk memberikan kelegaan dari lamanya keadaan di padang mahsyar kelak (lihat: Itmam ad-Dirayah li Qiro’ an-Niqoyah, hlm. 11).
 
Empat khalifah, atau yang kita sebut sebagai khulafaur rasyidin, juga menyampaikan keutamaan-keutamaan mengagungkan hari kelahiran Rasulullah saw Syaikh Muhammad Nawawi menuliskannya dalam kitab Madarij ash-Shu’ud (hlm. 15). Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra. 

وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِي مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَفِيقِي فِي الْجَنَّةِ

Artinya: 
Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. berkata: “Barangsiapa yang menginfakkan satu dirham dalam peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw, maka dia akan menjadi temanku di surga.” 

Surga akan menjadi tempat bagi orang yang menginfakkan satu dirham untuk memperingati maulid nabi, dan ia akan menjadi teman Sayyidina Abu Bakar di sana. Abu Hurairah pernah bertanya kepada Nabi tentang gambaran bangunan surga. Rasulullah saw menjawab, batu batanya dari emas dan perak, tanah liatnya adalah misik terbaik, debunya adalah za’faran, dan kerikilnya adalah mutiara dan permata. Orang yang memasukinya akan merasakan kenikmatan yang tak berujung, ia akan kekal di dalamnya dan tidak akan pernah mati, pakaiannya tidak akan usang, dan masa mudanya tidak akan pernah habis (lihat: Tanbih al-Ghafilin, hlm. 29). Sayyidina Umar Bin Khattab ra.

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ؛ مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَدْ أَحْيَا الْإِسْلَامَ

Artinya: 
Umar bin Khattab ra. berkata: “Barangsiapa yang mengagungkan kelahiran Nabi Muhammad Saw., maka sungguh dia telah menghidupkan Islam.” 

Keutamaan berupa menghidupkan Islam merupakan keutamaan yang luar biasa. Sebab, agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam. Allah tidak menerima agama apapun dari siapapun selain Islam, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Ali ‘Imran berikut:

 إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ 

Artinya: 
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah adalah Islam (QS. Ali ‘Imran, ayat 19). Sayyidina Utsman Bin Affan ra.

وَقَالَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ؛ مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلَى قِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَأَنَّمَا شَهِدَ يَوْمَ وَقْعَةِ بَدْرٍ وَحُنَيْنٍ

Artinya: 
Utsman bin Affan ra. berkata: “Barangsiapa yang menginfakkan satu dirham untuk pembacaan maulid Nabi Muhammad Saw., maka seakan-akan dia hadir pada hari perang Badar dan Hunain.” 

Keutamaan memuliakan maulid Nabi berdasarkan dawuh Sayyidina Utsman ini adalah seolah-olah ikut-serta menyaksikan perang Badar dan perang Hunain. Perang Badar yaitu perang yang dimenangkan oleh 313 orang pasukan muslim atas 1.000 orang pasukan kafir yang dipimpin oleh Abu Jahal pada tahun 2 H. Adapun perang Hunain yaitu perang yang terjadi setelah peristiwa Fathul Makkah pada tahun 8 H. Sayyidina Ali Bin Abi Thalib kw.

وَقَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ وَرَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لَا يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا بِالْإِيمَانِ

Artinya: 
Ali Bin Abi Thalib karramallahu wajhah berkata: “Barang siapa mengagungkan kelahiran Nabi Muhammad Saw., maka dia tidak akan meninggal dunia kecuali dalam keadaan beriman. 

Terakhir, keutamaan memuliakan maulid Nabi berdasarkan dawuh Sayyidina Ali adalah iman yang dibawa ketika ajal menjemputnya. Tentu, mati dalam keadaan iman adalah dambaan semua orang. Sebab, mati dalam keadaan iman sama dengan mati dalam keadaan husnul khatimah.

Referensi : NU Online

#MaulidNabiSAW
#NabiMuhammadSAW
#CintaRasul
Share:

Selasa, 25 Agustus 2026

Bergembira dengan Maulid Nabi Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Jalan Menuju Surga


Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat terbesar yang Allah SWT anugerahkan kepada umat Islam. Kehadiran Rasulullah SAW membawa risalah Islam yang sempurna, menjadi petunjuk bagi manusia untuk mengenal jalan kebenaran, keselamatan, serta kehidupan yang diridhai Allah SWT.

Atas dasar itulah, bergembira menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan dapat menjadi ungkapan rasa syukur seorang muslim atas hadirnya sosok mulia pembawa risalah Islam. Kegembiraan tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai amal kebaikan, seperti majelis taklim, pembacaan Maulid Diba'i dan Al-Barzanji, bersedekah, memperbanyak shalawat, serta berbagai bentuk ibadah dan kebaikan lainnya.

Dalam khazanah keilmuan Islam, sejumlah ulama menjelaskan tentang keutamaan berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi. Salah satunya dinukil dari Imam Yafi'i dalam I'anatut Thalibin, juz III halaman 365. Beliau menjelaskan tentang besarnya keutamaan orang yang menjadi sebab terselenggaranya pembacaan Maulid Nabi.

وَقَالَ الْإِمَامُ الْيَافَعِيُّ الْيَمَنِيُّ: مَنْ جَمَعَ لِمَوْلِدِ النَّبِيِّ ﷺ إِخْوَانًا، وَهَيَّأَ طَعَامًا، وَأَخْلَى مَكَانًا، وَعَمِلَ إِحْسَانًا، وَصَارَ سَبَبًا لِقِرَاءَةِ مَوْلِدِ الرَّسُولِ، بَعَثَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ، وَيَكُونُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ.

Artinya:
Imam Yafi'i berkata, “Orang yang mengumpulkan saudara-saudara untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, menyediakan makanan, menyediakan tempat, melakukan kebaikan, dan menjadi sebab dibacanya Maulid Nabi, maka Allah akan membangkitkannya di hari kiamat bersama orang-orang yang shalih dan berada di surga.”

Pesan yang disampaikan Imam Yafi'i tersebut menggambarkan bahwa kegiatan Maulid tidak hanya berkaitan dengan berkumpul dan membaca sejarah kelahiran Rasulullah SAW. Di dalamnya terdapat berbagai bentuk kebaikan: silaturahmi, menyediakan makanan, bersedekah, membaca shalawat, menghidupkan majelis ilmu, serta menjadi sebab orang lain mengingat dan mencintai Rasulullah SAW.

Kedua: Datang karena Cinta, Menuju Taman Surga

Keutamaan lainnya dinukil dari Sirri al-Saqati. Beliau menjelaskan bahwa seseorang yang datang ke tempat dibacakannya Maulid Nabi Muhammad SAW dengan niat ikhlas dan dilandasi kecintaan kepada Rasulullah, pada hakikatnya sedang menuju taman dari taman-taman surga.

وَقَالَ السَّرِيُّ السَّقَطِيُّ: مَنْ قَصَدَ مَوْضِعًا يُقْرَأُ فِيهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَدْ قَصَدَ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ؛ لِأَنَّهُ مَا قَصَدَ ذَلِكَ الْمَوْضِعَ إِلَّا لِمَحَبَّةِ الرَّسُولِ، وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ.

Artinya:
Sirri al-Saqati berkata, “Orang yang menuju ke tempat untuk membaca Maulid Nabi Muhammad SAW, maka ia telah menuju ke taman surga. Karena ia tidak menuju ke tempat itu kecuali karena cinta kepada Nabi. Dan Nabi SAW bersabda, ‘Barang siapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga.’”

Dari sini terlihat bahwa cinta kepada Rasulullah SAW tidak berhenti pada ucapan. Cinta dapat diwujudkan dengan menghadiri majelis, memperbanyak shalawat, mempelajari perjalanan hidup beliau, meneladani akhlaknya, serta menghadirkan ajaran Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga: Kegembiraan atas Rasulullah yang Mengandung Pelajaran Besar

Pembahasan berikutnya berkaitan dengan kisah Abu Lahab yang dinukil dalam riwayat yang disebutkan oleh Imam Bukhari. Berdasarkan riwayat dari Urwah bin Zubair, setelah Abu Lahab meninggal, salah seorang keluarganya melihatnya dalam mimpi dan menanyakan keadaannya.

Dalam riwayat tersebut, Abu Lahab disebut menjawab bahwa siksaannya diringankan setiap hari Senin karena pernah membebaskan seorang budak perempuan bernama Tsuwaibah, yang kemudian menyusui Nabi Muhammad SAW.

Kisah tersebut kemudian menjadi bahan renungan tentang betapa agungnya kedudukan Rasulullah SAW. Bahkan kegembiraan atas kelahiran beliau disebutkan memiliki konsekuensi tersendiri dalam kisah tersebut, meskipun orang yang bersangkutan bukan seorang mukmin.

Renungan itu kemudian diungkapkan oleh Hafidz Syam, Syekh Muhammad bin Nasir, melalui bait berikut:

وَرَحِمَ اللَّهُ الْقَائِلَ، وَهُوَ حَافِظُ الشَّامِ شَمْسُ الدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ نَاصِرٍ، حَيْثُ قَالَ: إِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ وَتَبَّتْ يَدَاهُ فِي الْجَحِيمِ مُخَلَّدًا أَتَى أَنَّهُ فِي يَوْمِ الِاثْنَيْنِ دَائِمًا يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُورِ بِأَحْمَدَ فَمَا الظَّنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِي كَانَ عُمْرُهُ بِأَحْمَدَ مَسْرُورًا وَمَاتَ مُوَحِّدًا

Artinya:
Hafidz Syam Syekh Muhammad bin Nasir berkata: “Jika orang seperti Abu Lahab saja, yang jelas-jelas tercela dan kekal di neraka, setiap hari Senin diringankan siksanya karena ia bergembira dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW, maka bagaimanakah dengan hamba yang sepanjang hidupnya bergembira dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW dan wafat dalam keadaan Islam?”

Pada akhirnya, pembahasan tentang Maulid mengajak umat untuk kembali melihat makna cinta kepada Rasulullah SAW. Bukan semata-mata tentang bagaimana sebuah peringatan dilaksanakan, tetapi tentang bagaimana momentum tersebut mampu menghidupkan kembali kecintaan kepada Nabi, memperbanyak shalawat, memperkuat silaturahmi, memperbanyak sedekah, serta mendorong umat untuk semakin mengenal dan meneladani akhlak beliau.

Jika kelahiran Rasulullah SAW menjadi sebab hati kita bersyukur, lisan kita bershalawat, tangan kita bersedekah, dan kehidupan kita semakin dekat dengan sunnah serta akhlak beliau, maka di situlah Maulid menemukan maknanya yang paling dalam.

Sebab Rasulullah SAW adalah rahmat. Dan mencintai beliau semestinya bukan hanya menjadi perayaan di satu hari, tetapi menjadi cahaya yang menyertai perjalanan hidup seorang muslim hingga akhir hayat.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Semoga Allah SWT menanamkan kecintaan yang tulus kepada Rasulullah SAW di dalam hati kita, menguatkan kita untuk mengikuti ajarannya, memperbanyak shalawat kepadanya, serta mengumpulkan kita bersama beliau dan orang-orang saleh di akhirat kelak. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

#MaulidNabi
#CintaRasul
#ShalawatNabi
#RahmatBagiSemesta
#TeladanRasulullah
.
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung