Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, jiwa kesantriannya tetap terjaga. Ia sempat menimba ilmu di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, lalu melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada. Dari sinilah langkah hidupnya berubah. Tanpa banyak diketahui keluarga, As’ad mendaftarkan diri menjadi bagian dari dunia intelijen negara. Awalnya sang ayah yang merupakan alumni Pondok Pesantren Tremas terkejut mendengar keputusan tersebut. Namun setelah memahami cara kerja intelijen—yang mengumpulkan informasi, menelusuri sumber, dan memverifikasi kebenaran—sang ayah justru memberi analogi yang menenangkan: pekerjaan intelijen mirip dengan ilmu hadis, ada matan, perawi, dan sanad. Analogi itu membuat As’ad semakin mantap menjalankan tugasnya sebagai penjaga informasi negara.
Kariernya sebagai intelijen membawanya bertugas di berbagai negara, terutama di Timur Tengah. Salah satu wilayah penugasannya adalah Arab Saudi, di mana ia memantau perkembangan gerakan Islam internasional seperti Ikhwanul Muslimin dan dinamika pemikiran keagamaan yang berpengaruh pada mahasiswa Indonesia di luar negeri. Ia juga mengikuti perkembangan gerakan Islam dan politik kawasan, berinteraksi dengan berbagai kelompok serta memahami dinamika organisasi seperti Hamas dan Hezbollah. Di balik kehidupan yang senyap dan jauh dari sorotan publik, As’ad bekerja mengumpulkan informasi strategis untuk memastikan stabilitas dan keamanan Indonesia tetap terjaga.
Salah satu kisah menarik dalam kariernya adalah keterlibatannya dalam memantau jaringan radikalisme di Timur Tengah, termasuk di Yaman. Ia pernah menugaskan dua santri untuk melakukan penelusuran informasi di wilayah tersebut guna mengetahui kemungkinan adanya inkubasi gerakan ekstrem. Langkah-langkah seperti ini jarang diketahui publik, tetapi menjadi bagian dari kerja intelijen yang bertujuan mencegah ancaman sebelum sampai ke tanah air. Dalam dunia intelijen, pekerjaan seperti ini bukan soal popularitas, melainkan tentang ketepatan informasi dan ketenangan negara.
Dalam dinamika global pasca konflik di Ambon, muncul nama Ja'far Umar Thalib, tokoh Laskar Jihad yang sempat menjadi sorotan internasional. Ketika ada dorongan dari pihak luar untuk memasukkannya ke dalam daftar teroris, As’ad mengambil posisi objektif sebagai pejabat di Badan Intelijen Negara. Ia menjelaskan bahwa tokoh tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan jaringan Al-Qaeda. Sikap ini menunjukkan pendekatan intelijen yang tidak didasarkan pada sentimen ideologis, melainkan pada data dan analisis yang akurat. Sikap objektif inilah yang membuat banyak pihak menilai bahwa berbagai kelompok—termasuk yang berbeda pandangan dengan NU—secara tidak langsung pernah mendapatkan perlindungan dari penilaian yang adil tersebut.
Puncak pengabdiannya terjadi ketika As’ad menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen Negara selama hampir satu dekade (2001–2010), melintasi masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah purnatugas dari dunia intelijen, ia kembali mengabdi di lingkungan Nahdlatul Ulama dengan menjadi Wakil Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mendampingi Said Aqil Siradj. Pengalaman panjangnya kemudian ia tuangkan dalam karya tulis, salah satunya buku berjudul Perjalanan Intelijen Santri.
Kisah hidup As’ad Said Ali menunjukkan bahwa jalan pengabdian seorang santri tidak selalu berada di mimbar atau ruang kelas pesantren. Ada yang mengabdi dalam sunyi, bekerja di balik layar, menjaga negeri dengan informasi dan analisis yang akurat. Ia membuktikan bahwa kesantrian tidak harus dilepaskan ketika seseorang memasuki dunia profesional. Justru nilai-nilai pesantren—kejujuran, kehati-hatian, dan tanggung jawab—dapat menjadi fondasi kuat untuk mengabdi kepada agama, bangsa, negara, serta menjaga martabat kemanusiaan. (MY)






