Tokoh tersebut adalah Muhammad Ali Taher, seorang saudagar kaya, jurnalis, sekaligus tokoh pergerakan Palestina yang pada masa itu menetap di Cairo, Egypt. Meskipun ia belum pernah mengunjungi Indonesia, Muhammad Ali Taher memiliki simpati yang mendalam terhadap perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan Belanda. Empatinya muncul dari kesadaran bahwa perjuangan melawan penindasan adalah perjuangan kemanusiaan yang harus didukung bersama.
Pada masa awal kemerdekaan, sekitar tahun 1944–1945, kondisi Indonesia sangat terbatas secara ekonomi. Negara yang baru diproklamasikan pada peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini belum memiliki kas negara yang memadai untuk mendukung kegiatan diplomasi internasional. Para diplomat Indonesia yang berada di Timur Tengah, termasuk M. Zein Hassan, menghadapi kesulitan besar dalam membiayai perjalanan serta menyebarkan informasi mengenai kemerdekaan Indonesia kepada dunia internasional.
Melihat kondisi tersebut, Muhammad Ali Taher mengambil langkah yang sangat luar biasa. Ia menarik seluruh simpanan pribadinya dari Bank of Arabia dan menyerahkannya kepada para delegasi Indonesia. Ketika para diplomat Indonesia yang terkejut hendak memberikan tanda terima sebagai bukti utang negara, ia menolaknya dengan tegas. Dengan penuh ketulusan ia menyampaikan bahwa bantuan tersebut bukanlah pinjaman, melainkan dukungan tulus dari hati untuk membantu kemenangan perjuangan bangsa Indonesia.
Bantuan dana tersebut menjadi faktor penting bagi keberhasilan diplomasi Indonesia di kawasan Timur Tengah. Berkat dukungan tersebut, para diplomat Indonesia dapat melakukan perjalanan dan lobi ke berbagai negara Arab. Upaya ini akhirnya membuahkan hasil ketika Mesir menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia, sebuah pengakuan yang kemudian mendorong negara-negara lain untuk mengikuti langkah yang sama.
Namun terdapat ironi yang menyentuh hati dalam kisah ini. Sosok yang telah berkontribusi besar terhadap kemerdekaan Indonesia tersebut justru harus menyaksikan tanah kelahirannya sendiri, Palestina, hingga kini masih menghadapi konflik dan perjuangan panjang untuk memperoleh kemerdekaan dan keadilan. Kisah Muhammad Ali Taher menjadi pengingat bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia juga dipenuhi oleh dukungan dan pengorbanan dari sahabat-sahabat bangsa di berbagai belahan dunia.
Oleh karena itu, bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk tidak melupakan jasa tersebut. Semangat solidaritas yang pernah ditunjukkan Muhammad Ali Taher hendaknya menjadi inspirasi bagi generasi masa kini untuk terus menumbuhkan kepedulian, kemanusiaan, dan dukungan terhadap perjuangan bangsa lain yang masih mencari keadilan.
Sumber: Arsip Peristiwa






