Kamis, 29 Oktober 2020

Peringatan Maulid ; Momentum Meneladani Sifat dan Akhlak Nabi Muhammad SAW


Anwalin News, Margomulyo - Nabi Muhammad SAW adalah khatam al-anbiya’. Hal ini mengandung maksud bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi dan rasul pamungkas atau terakhir yang diturunkan Oleh Allah SWT kepada umat-Nya. Sehingga kehadirannya tidak hanya dikhususkan untuk umat tertentu saja sebagaimana para nabi sebelumnya. Akan tetapi Allah menghadirkan Nabi Muhammad diperuntukkan sebagai rahmat bagi semesta alam. Sebagaimana Firman Allah dalam al-Qur'an surat al-anbiya’ ayat 107:

“Dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”

Makna lainnya tentang  khatam al-anbiya’  ini adalah adanya keistimewaan yang diberikan Allah kepada Nabi yaitu Uswah Hasanah atau suri tauladan yang baik. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam al-Qur'an surat al-Ahzab ayat 21:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri tauladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

Meneladani Nabi Muhammad SAW adalah suatu keharusan bagi setiap muslim. Melaksanakan tuntunan dari Nabi SAW, menunaikan apa yeng terkandung dalam sunnah-sunnahnya secara tidak langsung juga melaksanakan segala perintah serta menjauhi segala larangan Allah. Dan hal inilah yang merupakan pengejawentahan dari makna taqwa.

Salah satu cara untuk meneladani akhlak Nabi SAW ini adalah dengan memperingati hari kelahiran beliau atau maulid Nabi SAW. adalah pada tanggal 28 Oktober 2020 M atau bertepatan dengan malam 12 Rabiul awal 1442 H, (ba’da Maghrib) Jamaah Masjid Nurul Ahadiyah Jajar - Margomulyo, menggelar acara peringatan Maulid Nabi SAW. Acara ini diisi dengan pembacaan al-Barzanji dan ceramah agama oleh Ust. Sanusi M.Pd.I


Dalam tausiyahnya beliau menyampaikan bahwa Maulid Nabi SAW ini adalah acara rutin yang setiap tahun diperingati. Acara peringatan ini seharusnya tidak hanya bersifat formalitas-seremonial saja. Cuma sebatas memperingati setiap tahunnya sebagaimana biasanya. Namun yang lebih ditekankan adalah adanya upaya mengambil ibrah (pelajaran) tentang hakikat yang tekandung dalam Maulid ini. Setidaknya peringatan ini bisa melahirkan rasa mencintai kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga dengan rasa cinta kepada Nabi SAW inilah nantinya akan ada peningkatan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Dari peringatan maulid inilah nantinya akan menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW yang selanjutnya bisa menemukan adanya uswah hasanah atau teladan yang baik dalam diri Rasulullah SAW. Ketika telah  menemukan uswah hasanah karena didasari rasa cinta kepada Nabi SAW ini, seorang hamba kemudian bisa mengaplikasikan nilai-nilai keteladanan Nabi SAW di dalam kehidupannya. Baik itu yang bersifat dengan hablu mina Allah, maupun yang bersifat hablu mina al-nas. Setelah meneladaninya maka seseorang akan lebih bisa untukl mendekatkan dirinya kepada Allah. Derajat iman dan tawanya kepada Allah akan meningkat. Kecintaan serta ketaatan kepada Rasulullah SAW akan menguatkan dirinya untuk terus mengamalkan sunnah-sunnahnya.

 
Ada dua indikator seseorang bisa dikatakan cinta kepada Rasulullah SAW, yaitu:

1. Sering Menyebut Namanya
Orang yang mencintai seseorang, biasanya senang untuk menyebut namanya, menceritakanya ataupun gembira apabila mendengar nama yang dicintainya itu disebut oleh orang lain.

Begitu pula seseorang yang cinta kepada Nabi SAW, maka senang untuk menyebut namanya dengan senandung shalawatnya. Nabi SAW pun bersabda, “Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku”. (H.R. Tirmidzi). Ternyata ada legalisasi kemudahan untuk masuk surga untuk orang-orang yang gemar atau banyak bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Tapi di sisi lain, Nabi SAW juga bersabda, “Orang yang pelit adalah orang yang ketika namaku disebut di sampingnya, ia tidak mau membaca shalawat kepadaku”. (H.R. Tirmidzi). Itulah sebabnya ketika nama Nabi Muhammad Saw disebut, seorang muslim harus bershalawat kepadanya.

2. Meneladani Nabi Muhammad SAW
Sudah jelas bahwa pada diri Nabi Muhammad SAW suri tauladan yang baik. Mauslim yang sejati harus bersungguh-sungguh untuk meneladani sifat dan akhak Nabi SAW. meskipun sangat berat dan tidak mungkin menirukan untuk keseluruhannya, seorang muslim harus sekuat tenaga untuk meneladaninya.

Semoga peringatan Maulid Nabi SAW ini, menjadi sarana untuk meneladani sefat dan akhlak beliau serta dapat meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Aamiin. (DH)

Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung