Rabu, 28 Oktober 2020

Belajar Menghargai Pendapat dan Prinsip Orang Lain Dari Para Pendiri NU

Hadhratussyaikh KH Hasyim Asyari dan KH Faqih Maskumambang, keduanya sama-sama Alim Allamah, sama-sama tokoh NU, dan sama-sama berguru ke Syaikhona Kholil Bangkalan.. 

Pada Tahun 1926 Mbah Yai Hasyim pernah menulis artikel tentang haramnya memakai kentongan dalam majalah “suara Nahdlatul Ulama”, dalam kumpulan kitab beliau - Irsyadussyari - beliau bahkan memiliki risalah khusus tentang masalah ini yang beliau namakan الجاسوس في بيان أحكام الناقوس 

Tak berselang lama KH. Faqih Maskumambang juga mengeluarkan tulisan yang menyatakan bahwa kentongan hukumnya boleh karena menurut beliau sama sekali tidak ada dalil yang mengharamkan.

Akhirnya - KH. Hasyim Asyari yang waktu itu merupakah ketua ulama dan kiai di Jombang - mengumpulkan para ulama dan kiai se-Jombang. Alih-alih memerintahkan mereka untuk mengikuti pendapatnya, beliau justru meminta agar tulisan beliau dan tulisan KH. Faqih sama-sama dibacakan untuk hadirin. Beliau lalu berkata : 

“Kalian bebas mengikuti pendapat yang mana saja, karena keduanya benar, tetapi saya menekankan tidak diperbolehkannya Kentongan di pesantren saya".

Di lain waktu, Kiai Faqih mengundang Mbah Hasyim untuk menghadiri acara maulid di Gresik. Dan sebelum kedatangan Mbah Hasyim, Kiai Faqih memberikan instruksi kepada seluruh Imam Musholla dan Masjid untuk menurunkan kentongan di hari kunjungan Mbah Hasyim sebagai wujud penghormatan kepada pendapat beliau.. 

Tak ada yang salah dengan perbedaan, yang salah adalah mereka yang menjadikan perbedaan sebagai alat untuk merendahkan dan memecah belah persatuan.. Imam Syafii suatu ketika pernah sholat subuh tanpa memakai qunut, bukan karena beliau lupa, tapi karena ketika itu beliau sedang sholat di Masjid Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa tidak disunnahkan qunut dalam sholat subuh. Sebagai wujud penghormatan kepada pendapat dan prinsip beliau.. 

إحتراما لصاحب هذا القبر 

"(aku tidak qunut) untuk menghormati pemilik makam itu" ucap Imam Syafii kala itu sambil menunjuk makam Imam Hanafi.

Jadi marilah bersikap dewasa, hormati prinsip orang lain dan hargai perbedaan yang sudah menjadi keniscayaan diantara kita.. sampai kapan kita akan merendahkan dan berstigma negatif kepada orang lain hanya karena selembar cadar ? Seperti yang Habib Umar sampaikan kita harus menyelesaikan problem ini dan menghilangkan persepsi negatif kepada orang lain hanya karena mereka yang bercadar atau tidak, karena masih banyak titik-temu yang bisa menyatukan kita daripada hanya berkutat dan berdebat tentang masalah khilafiah yang tak kan ada habis-habisnya.

Saat itu ketika ditanya terkait masalah cadar di Universitas Zaitouna Tunisia, beliau Sayyidil Habib Umar menjawab :

"(dalam masalah ini) ada suatu problem yang harus kita selesaikan. Para wanita yang tidak bercadar, janganlah mereka merasa risih atau keberatan kepada para wanita yang bercadar. Begitu pula mereka yang bercadar janganlah meremehkan atau merendahkan mereka yang tidak bercadar.  Hendaknya mereka ingat dan sadar bahwa mereka ada dalam jalan yang sama, mereka juga mempunyai tugas dan tujuan yang sama. Masih banyak hal-hal yang bisa menjadi titik temu antara mereka. Lebih dari itu kita semua membutuhkan para wanita yang bisa menunjukkan nilai-nilai keindahan Islam, baik mereka bercadar atau tidak "

Saya juga Setuju dengan apa yang disampaikan Syaikh Buthi ketika cadar dilarang di salah satu Universitas Suriah :

"Itu yang hampir telanjang di jalanan gak kalian urusin, cadar malah kalian ributin.. Apa gak ada hal yang lebih penting yang bisa kalian urus ?" 

Pada akhirnya Marilah bersikap dewasa dan bijak.. hindari hal-hal sensitif yang bisa menimbulkan kegaduhan dan perpecahan. Jangan salahkan salah paham, salah sangka dan kritik orang lain jika kita sendiri tidak mau instropeksi dan enggan mengaca pada diri sendiri.. 

Bukankah Sayydina Umar Bin Khottob pernah dawuh :

من عرض نفسه للتهمة فلا يلومن من أساء الظن  به

"Siapa yg memancing kecurigaan, maka jangan salahkan orang-orang yang berburuk sangka padanya"

Allahumma kecuali kalo dari awal tujuannya memang sengaja untuk dicurigai.. biar banyak yang nonton dan mengomentari. Wallaahu A’lam. 

Kami Nu, Kami menghargai perbedaan.


Penulis : Ismael Amin Kholil
Bangkalan, 27 Oktober, 2020
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung