Rabu, 07 Juni 2023

Kisah Mimpi K.H Simbah Ahmad Maksum Lasem yang Mengubah Jalan Hidupnya


KH Maksum Ahmad Lasem, dikenal dengan sebutan Mbah Maksum, adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang penuh dengan karomah. Kisah karomahnya sudah ditandai oleh gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan, ketika Maksum muda masih masa ngaji. Walaupun tidak lama ngaji di Bangkalan, tapi Maksum muda sudah diakui keulamannya.

Selain kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, Maksum muda juga pernah belajar di brbagai daerah, yakni ke Jepara, Kajen (Kiai Abdullah, Kiai Abdul Salam, dan Kiai Siroj), Kudus (Kiai Ma’shum dan Kiai Syarofudin), Sarang Rembang (Kiai Umar Harun), Solo (Kiai Idris), Termas (Kiai Dimyati), Semarang (Kiai Ridhwan), Jombang (Kiai Hasyim Asy’ari), hingga Makkah (Kiai Mahfudz At-Turmusi).

Setelah selesai mengembara, jadilah Maksum muda sosok kiai yang terkemuka dalam ilmu agama. Tapi setelah berkeluarga, waktunya Mbah Maksum banyak digunakan untuk urusan dagang. Sampai akhirnya dalam sebuah perjalanan di Semarang, Mbah Maksum tertidur dan bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Hal yang sama, ketika di Bojonegoro, Mbah Maksum antara tertidur dan terjaga, kembali bertemu dengan Kanjeng Rasul SAW.

“La khayra ilia fi nasyr al-ilmi, Tidak ada kebaikan (yang lebih utama) daripada menyebarkan ilmu.” Pesan Rasulullah SAW kepada Mbah Maksum.

Bahkan dalam suatu saat, di rumahnya sendiri, Mbah Maksum kembali bermimpi dengan Kanjeng Rasul. Dalam mimpinya, Mbah Maksum bersalaman dan setelah terjaga, tangannya masih wangi karena salaman dengan Kanjeng Nabi.

“Mengajarlah, segala kebutuhanmu insya Allah akan dipenuhi semuanya oleh Allah.” Pesan Kanjeng Nabi.

Karena mimpi-mimpi ini, Mbah Maksum akhirnya konsultasi dengan sahabat dan gurunya, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

“Mimpi itu sudah jelas. Tidak perlu ditafsirkan kembali.” Tegas Kiai Hasyim Asy’ari yang mendorong Mbah Maksum agar secepatnya fokus ngaji dan mendirikan pesantren di kampungnya.

Setelah itu, Mbah Maksum akhirnya berhenti berdagang dan fokus menetap di Lasem mendirikan Pesantren bernama Al-Hidayat. Fokus ngaji dengan para santri dan masyarakat.


Dari berbagai Sumber
Share:

Sabtu, 20 Mei 2023

Habib Mahdi: GP Ansor Paling Berdosa Jika NU “Diserang”


Meskipun baru dibentuk sekitar tiga bulan lalu, Badan Siber Ansor atau yang sering disingkat BSA menjadi lembaga yang strategis untuk menghadapi tantangan era digital seperti sekarang ini.

Menurut Habib Muhammad Mahdi Khered, Wakil Ketua GP Ansor Jawa Timur sekaligus Kepala Badan Siber Ansor Jawa Timur, saat ini adalah zaman yang bergerak tapi tidak kelihatan. Namun demikian, Ansor tetap harus pasang badan untuk tetap terlihat dalam setiap pertarungan di dunia maya. Terutama yang menyangkut Islam Aswaja dan kebangsaan.

Sebagai anak pertama NU, lanjut Mahdi, Ansor memiliki warisan paling besar dari NU yaitu tanggungjawab. Jika NU diserang oleh pihak luar, maka Ansor lah yang paling berdosa dan bertanggungjawab untuk membangun pertahanan dan melakukan pembelaan terhadap NU.

“Tugas Ansor hanya satu yaitu mengampanyekan atau mendakwahkan Islam Aswaja An-Nahdliyyah ke kalangan pemuda, termasuk di ruang-ruang modern. Tidak yang lain,” tegas pria asal Ambunten Sumenep tersebut.

Oleh karena itu, dalam tradisi Ansor ada hukum tak tertulis, Ansor tidak boleh sarungan. Agar bisa masuk ke medan dakwah yang strategis yakni ruang milenial atau setelahnya.

“Meskipun tinggal lima bulan, saya harap Badan Siber Ansor Kota Malang ini menjadi percontohan dan kebanggaan bagi Ansor di seluruh dunia. Ini lembaga kedua yang dibentuk untuk Jawa Timur,” tegas alumni PMII UIN Malang tersebut.

Habib Mahdi Khered juga meminta Badan Siber Ansor Kota Malang untuk segera membentuk tim di setiap PAC Ansor, membuat Madrasah Siber, dan perkuat jaringan tingkat basis.

Hal ini disampaikan oleh Habib Mahdi dalam Halal Bi Halal GP Ansor Kota Malang sekaligus pelantikan Badan Siber Ansor di Gedung PCNU Kota Malang pada Jumat, 19 Mei 2023.

Editor: Herlinto. A


Sumber : Tugu Malang
Share:

Jumat, 16 Desember 2022

Untuk “Jihad” Dibidang Literasi Keuangan Digital, PW GP. Ansor Jatim Gandeng OJK.


Anwalin News - Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Jawa Timur menggelar acara Konsolidasi Badan Cyber yang diikuti sedikitnya diikuti 150 perwakilan dari Pengurus Cabang (PC) tingkat Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Acara digelar hari ini (15/12) hingga besok (16/12) di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur.
Acara dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Kepala OJK Regional IV Jawa Timur Bambang Mukti Riyadi dan Pimpinan Wilayah BNI Jatim Roy Wahyu Maulana.
Acara ini juga disertai kegiatan Literasi Keuangan Digital yang digelar berkat kerjasama antara PW Ansor Jawa Timur dan OJK Regional IV Jawa Timur. Acara ini juga menunjuk Cyber Ansor sebagai kader literasi keuangan digital dalam membantu tugas OJK untuk meningkatkan literasi keuangan khususnya secara digital.

Kepala OJK Regional IV Jawa Timur Bambang Mukti Riyadi dalam sambutannya mengatakan, bahwa generasi, khususnya generasi muda NU, memahami generasi media cyber.”Ansor adalah pilar NKRI, dan persaingan ekonomi dan digital harus diikuti, karena ini sangat penting sekali. Kepentingan kami menggandeng Ansor khususnya dibidang Cyber,” kata Bambang Mukti.
Kurangnya pemahaman terhadap literasi digital ini, akan bisa memberi dampak negatif.”Kita mempertahankan NKRI, ini jihad kita dibidang literasi digital dan keuangan,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak sangat penting anak-anak muda, khususnya kader Ansor Jawa Timur membuat akun media sosial yang membahas soal literasi keuangan.”Tapi harus hati-hati, misal mempromosikan saham tertentu, lalu sahamnya turun, Anda bisa dituntut, karena ini ada aturannya,” kata Emil.

Emil melanjutkan, kita harus bersepakat kalau bermain media sosial di dunia digital, harus diniati sebagai menebar manfaat.”Kita sama-sama sepakat kalau cyber Ansor ini bisa membuat channel yang beragam dan yang memberi manfaat,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua PW Ansor Jawa Timur Gus Syafiq Syauqi LC M.Ag dalam sambutannya mengatakan, dalam konsolidasi Badan Cyber ini, pihaknya menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur. Tujuannya, OJK mempunyai tujuan untuk melakukan literasi keuangan kepada masyarakat, khususnya anggota dan kader Ansor Jawa Timur.”Karena ada gap antara masyarakat yang mengakses keuangan dan yang melek literasi digital. Yang mengakses jasa keuangan seperti pinjam perbankan dan lain-lain, mencapai 90 persen, sedangkan yang melek literasi digital cuma 30 persen, ini sangat berbahaya karena bisa jadi nanti masyarakat banyak tertipu investasi bodong jika tdak melek literasi,” kata pria yang pernah menjabat sebagai Ketua PC GP Ansor Tuban ini.
Dia juga berharap, Badan Cyber ini bisa juga bermanfaat ekonomi kepada para kader Ansor Jawa Timur.”Tadi ada ide kita mau bikin crowdfunding atau urun dana, ini sangat bagus karena potensi bisnis di digital ini triliunan rupiah,” kata pria yang pernah menimba ilmu di Damaskus, Suriah ini. 

Hanya saja, kendati aspek ekonomi ditekankan, Ansor kata Gus Syafiq, juga perlu mengawal isu keagamaan.”Konten-konten moderat juga perlu kita buat, dan disebarluaskan secara masif,” katanya.”Kekuatan kita luar biasa, karena kita praktisi sosial yang gerakannya organik dan masif,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua PW Ansor Jawa Timur Habib Mahdi El Kherid mengatakan, konsolidasi Badan Cyber Ansor Jawa Timur ini merupakan follow up dari dibentuknya Badan Cyber oleh Pengurus Pusat (PP) GP Ansor dalam Konfrensi Besar (Konbes) di Bekasi 26-27 November 2022.

“Sebelumnya kami dari Jawa Timur yang mengusulkan Badan Cyber, dan akhirnya usulan itu ditetapkan sebagai sebuah keputusan, ini prestasi yang luar biasa,” kata Habib Mahdi dalam sambutannya.

Selain itu, PW Ansor Jatim juga pengurus wilayah pertama yang membentuk Badan Cyber.”Kita juga pertama dalam sejarah Ansor di dunia, yang menggelar Konsolidasi Badan Cyber,” katanya disambut riuh tepuk tangan.

Untuk pekerjaan rumah ke depan, Badan Cyber akan menyusun data base kader hingga tingkat ranting.”Kita juga akan terus mengawal dakwah digital yang rahmatal lil alamin di dunia maya,” imbuh peraih gelar sarjana dari UIN Malang dan master dari UIN Jember ini.
Share:

Rabu, 10 Agustus 2022

Kisah Ilmu Kanuragan Mbah Cholil Bisri Rembang


Bagi keluarga besar Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang, Maulud dan Rajab merupakan dua bulan yang istimewa. Di bulan Maulud, pesantren ini menyelenggarakan haul gede untuk memperingati wafatnya KH. Bisri Mustofa dan durriyyahnya dari atas-bawah hingga kiri-kanan. KH. Cholil Harun, KH. Suyuti Cholil, Nyai Ma’rufah Bisri Mustofa dan lain lain adalah nama-nama kiai-bu nyai yang menjadi bagian inti dari haul besar ini.

Biasanya diselenggarakan dalam beberapa hari, puncaknya adalah tahlil akbar di makam Mbah Bisri dan malamnya diadakan pengajian umum.

Sedang Rajab merupakan bulan lahir dan wafatnya KHM. Cholil Bisri (Mbah Cholil). Beliau lahir pada 27 Rajab 1263 H (12 Agustus 1941) dan meninggal pada 7 Rajab 1424 H bertepatan dengan 24 Agustus 2004. Pada bulan ini diadakan haul—kami menyebutnya sebagai haul cilik.

Peringatan wafatnya al-maghfurlah Mbah Cholil ini diadakan dengan sangat sederhana. Santri dan tetangga kiri-kanan hadir di rumah untuk membaca tahlil yang dihadiahkan untuk abah kami. Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya dan diampuni semua dosanya.

Pada Senin, 2 Maret 2020, keluarga besar Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang akan mengadakan haul cilik itu.

Selain untuk mendoakan beliau, haul juga momentum yang penting bagi keluarga dan santri untuk mengenang dan—kalau bisa—meneladani laku baik ketika beliau masih hidup.

Sekaligus mengingat kembali perjuangan beliau yang sudah dan yang belum dilakukan.

Tekadnya hanya satu, yakni melanjutkan perjuangan yang telah dimulai dan akan segera dilakukan. Syukur-syukur bisa menambahnya hingga menjadi lebih sempurna.

Putra sulung Mbah Bisri Mustofa dan Ny. Ma’rufah Cholil Harun ini lahir di Kasingan Rembang sebelum Indonesia merdeka. Era penjajahan masih berlangsung dan seluruh rakyat menderita karenanya.

Saat itu terjadi perpindahan kekuasaan dari penjajah Belanda beralih ke penjajah Jepang. Suhu politik memanas akibat tentara Jepang mendarat di pesisir-pesisir pantai termasuk Rembang. Perang setiap saat bisa saja terjadi.

Para santri yang mondok di Pesantren Kasingan asuhan KH. Cholil Harun juga terkena imbasnya. Mereka memilih atau disuruh pulang ke rumah masing-masing mengingat situasi yang genting.

Mbah Bisri Mustofa beserta keluarga kecilnya juga terpaksa mengungsi ke Sedan (salah satu kecamatan di Rembang yang terletak di bagian timur) untuk menghindari hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Dalam suasana mengungsi, serba kekurangan sudah menjadi karibnya setiap hari.

Memotong Jalan~

Kisah sedih sebagai pengungsi ini berulang lagi saat terjadi pemberontakan pertama PKI di Madiun 1948-1949. Pemberontakan ini lebih tepat disebut sebagai pengkhiatan PKI terhadap NKRI yang baru saja diproklamasikan pada 1945.

Pemimpin pengkhiatan itu, Muso dan Amir Syarifuddin seperti menggunting di lipatan, memotong jalan para pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan NKRI lalu ingin merampas di pinggir jalan.

Yang lebih menyakitkan, PKI menjadikan kiai dan santri sebagai musuh dan target pembunuhan.

Akibat ulah PKI ini, Mbah Cholil kecil beserta adiknya Gus Mus dan seluruh keluarga harus mengungsi ke Pare Kediri kurang lebih selama dua tahun. Hidup serba kekurangan dihadapi setiap hari.

Selain itu, Mbah Cholil beserta keluarga juga menerima ancaman pembunuhan dari PKI. Salah perhitungan atau terlambat sedikit saja, bisa jadi Mbah Bisri beserta keluarganya akan menjadi cerita semata.

Dua kali mengungsi dan beratnya hidup di masa revolusi, membuat Mbah Cholil harus mempersiapkan hidup dengan sebaik-baiknya. 

Pada saat belajar di Pesantren Lirboyo Kediri yang diasuh KH. Mahrus Ali, selain belajar kitab kuning (turats), kesukaan Mbah Cholil terhadap ilmu kanuragan mulai tumbuh.

Sebagaimana diceritakan KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya, putra sulung Mbah Cholil) pada waktu itu, Lirboyo masyhur sebagai gudangnya ilmu hikmah dan kanuragan.

Dua santri kakak-beradik, yakni Mbah Cholil dan adiknya Gus Mus, tidak ketinggalan ikut getol berlatih, mesu diri, tirakat, menekuni gemblengan dan mempelajari berbagai ilmu kejadugan.

Penampilan kedua santri muda mulai berubah dan mengikuti trend zamannya saat itu. Rambut gondrong sampai ke punggung pertanda tak mempan dicukur.

Baju khas pendekar dan berwarna hitam (baju kutung dan celana komprang sebatas dengkul). Memakai ikat kepala batik dan berterompah kayu (sandal teklek).

Suatu saat kesempatan untuk pulang ke Rembang tiba.

Dengan atribut kependekaran seperti itu, keduanya pulang menuju ke rumah. Dalam perjalanan, banyak orang disekitarnya yang segan melihat keduanya. Takut dikira menantang.

Begitu sampai di rumah, watak kependekarannya rontok seketika, ketika, tak disangka, Mbah Bisri, ayahanda mereka marah besar!

Segala pakaian dan atribut kependekaran mereka dilucuti dan dibakar. Termasuk rambutnya harus dicukur.

Untuk urusan rambut ini, Mbah Bisri harus turun tangan sendiri. Karena tak ada yang mampu mencukur rambut mereka—benar-benar jadug rupanya, Mbah Bisri memotong habis rambut mereka.

Pendek kata mereka divonis harus berhenti main jadug-jadugan!

Kenapa Mbah Bisri melakukan semua itu? “Aku saja cuma kiai, kok kalian mau jadi jadi wali” kata Mbah Bisri.

Mbah Cholil beserta adiknya Gus Mus akhirnya pindah mondok ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Dari sekian banyak atribuat kejadugan, ada satu yang tidak pernah ditinggalkan. Hingga akhir hayatnya,

Mbah Cholil selalu berteklek ketika di rumah.

Suara teklek ketika bersentuhan dengan tanah menjadi tanda merdu bagi santri untuk segera memulai ngaji. Tak…tok…tak…tok…

Lahul fātihah ... 
.
.
Sumber : FB Generasi Muda Nusantara
Share:

Jumat, 05 Agustus 2022

Dalil-dalil Cinta Tanah Air dari Al-Qur’an dan Hadits


Nasionalisme berasal dari kata nation (B. Inggris) yang berarti bangsa. Menuru ygt kamus besar bahasa Indonesia, kata bangsa memiliki beberapa arti: (1) kesatuan orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya serta berpemerintahan sendiri; (2) golongan manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan yang mempunyai asal usul yang sama dan sifat khas yang sama atau bersamaan, dan (3) kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum, dan biasanya menempati wilayah tertentu di muka bumi (Lukman Ali. Dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1994, hal. 98).
 
Istilah nasionalisme yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia memiliki dua pengertian: paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dan kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa. Nasionalisme dalam arti sempit dapat diartikan sebagai cinta tanah air. Selanjutnya, dalam tulisan ini yang dimaksud dengan nasionalisme yaitu nasionalisme dalam arti sempit.

Al-Jurjani dalam kitabnya al-Ta’rifat mendefinisikan tanah air dengan al-wathan al-ashli. 
 
اَلْوَطَنُ الْأَصْلِيُّ هُوَ مَوْلِدُ الرَّجُلِ وَالْبَلَدُ الَّذِي هُوَ فِيهِ 
 
Artinya; al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya. (Ali Al-Jurjani, al-Ta’rifat, Beirut, Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1405 H, halaman 327)
 
Dalil-dalil Cinta Tanah Air

Mencintai tanah air adalah hal yang sifatnya alami pada diri manusia. Karena sifatnya yang alamiah melekat pada diri manusia, maka hal tersebut tidak dilarang oleh agama Islam, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran/nilai-nilai Islam. 
 
Meskipun cinta tanah air bersifat alamiah, bukan berarti Islam tidak mengaturnya. Islam sebagai agama yang sempurna bagi kehidupan manusia mengatur fitrah manusia dalam mencintai tanah airnya, agar menjadi manusia yang dapat berperan secara maksimal dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, serta memiliki keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. 

Berkenaan dengan vonis bahwa cinta tanah air tidak ada dalilnya, maka guna menjawab vonis tersebut, perlu kiranya kita mencermati paparan ini. Berikut adalah dalil-dalil tentang bolehnya cinta tanah air:
 
1. Dalil Cinta Tanah Air Dari Al-Qur’an
 
Salah satu ayat Al-Qur’an yang menjadi dalil cinta tanah air menurut penuturan para ahli tafsir adalah Qur’an surat Al-Qashash ayat 85:
 
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ
 
Artinya: “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al Qashash: 85)
 
Para mufassir dalam menafsirkan kata "معاد" terbagi menjadi beberapa pendapat. Ada yang menafsirkan kata "معاد" dengan Makkah, akhirat, kematian, dan hari kiamat. Namun menurut Imam Fakhr Al-Din Al-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib, mengatakan bahwa pendapat yang lebih mendekati yaitu pendapat yang menafsirkan dengan Makkah.
 
Syekh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwathi (wafat 1127 H) dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan:
 
وفي تَفسيرِ الآيةِ إشَارَةٌ إلَى أنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإيمانِ، وكَانَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ كَثِيرًا: اَلْوَطَنَ الوَطَنَ، فَحَقَّقَ اللهُ سبحانه سُؤْلَهُ ....... قَالَ عُمَرُ رضى الله عنه لَوْلاَ حُبُّ الوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوءِ فَبِحُبِّ الأَوْطَانِ عُمِّرَتْ البُلْدَانُ.
 
Artinya: “Di dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash:85) terdapat suatu petunjuk atau isyarat bahwa “cinta tanah air sebagian dari iman”. Rasulullah SAW (dalam perjalanan hijrahnya menuju Madinah) banyak sekali menyebut kata; “tanah air, tanah air”, kemudian Allah SWT mewujudkan permohonannya (dengan kembali ke Makkah)….. Sahabat Umar RA berkata; “Jika bukan karena cinta tanah air, niscaya akan rusak negeri yang jelek (gersang), maka sebab cinta tanah air lah, dibangunlah negeri-negeri”. (Ismail Haqqi al-Hanafi, Ruhul Bayan, Beirut, Dar Al-Fikr, Juz 6, hal. 441-442)
 
Selanjutnya, ayat yang menjadi dalil cinta tanah air menurut ulama yaitu Al-Qur'an surat An-Nisa’ ayat 66.
 
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِم أَنِ اقْتُلُوْا أَنْفُسَكم أَوِ أخرُجُوا مِن دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوْه إِلَّا قليلٌ منهم 
 
Artinya: “Dan sesungguhnya jika seandainya Kami perintahkan kepada mereka (orang-orang munafik): ‘Bunuhlah diri kamu atau keluarlah dari kampung halaman kamu!’ niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka..." (QS. An-Nisa': 66).
 
Syekh Wahbah Al-Zuhaily dalam tafsirnya al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj menyebutkan: 
 
وفي قوله: (أَوِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ) إِيْمَاءٌ إِلىَ حُبِّ الوَطَنِ وتَعَلُّقِ النَّاسِ بِهِ، وَجَعَلَه قَرِيْنَ قَتْلِ النَّفْسِ، وَصُعُوْبَةِ الهِجْرَةِ مِنَ الأوْطَانِ. 
 
Artinya: “Di dalam firman-Nya (وِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ) terdapat isyarat akan cinta tanah air dan ketergantungan orang dengannya, dan Allah menjadikan keluar dari kampung halaman sebanding dengan bunuh diri, dan sulitnya hijrah dari tanah air.” (Wahbah Al-Zuhaily, al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj, Damaskus, Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir, 1418 H, Juz 5, hal. 144)
 
Pada kitabnya yang lain, Tafsir al-Wasith, Syekh Wahbah Al-Zuhaily mengatakan: 
 
وفي قَولِهِ تَعَالى: (أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيارِكُمْ) إِشَارَةٌ صَرِيْحَةٌ إلَى تَعَلُقِ النُفُوْسِ البَشَرِيَّةِ بِبِلادِها، وَإِلَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مُتَمَكِّنٌ فِي النُفُوْسِ وَمُتَعَلِقَةٌ بِهِ، لِأَنَّ اللهَ سُبْحانَهُ جَعَلَ الخُرُوْجَ مِنَ الدِّيَارِ وَالأَوْطانِ مُعَادِلاً وَمُقارِنًا قَتْلَ النَّفْسِ، فَكِلَا الأَمْرَيْنِ عَزِيْزٌ، وَلَا يُفَرِّطُ أغْلَبُ النَّاسِ بِذَرَّةٍ مِنْ تُرابِ الوَطَنِ مَهْمَا تَعَرَّضُوْا لِلْمَشَاقِّ والمَتَاعِبِ والمُضَايَقاتِ. 
 
Artinya: Di dalam firman Allah “keluarlah dari kampung halaman kamu” terdapat isyarat yang jelas akan ketergantungan hati manusia dengan negaranya, dan (isyarat) bahwa cinta tanah air adalah hal yang melekat di hati dan berhubungan dengannya. Karena Allah SWT menjadikan keluar dari kampung halaman dan tanah air, setara dan sebanding dengan bunuh diri. Kedua hal tersebut sama beratnya. Kebanyakan orang tidak akan membiarkan sedikitpun tanah dari negaranya manakala mereka dihadapkan pada penderitaan, ancaman, dan gangguan.” (Wahbah Al-Zuhaily, Tafsir al-Wasith, Damaskus, Dar Al-Fikr, 1422 H, Juz 1, hal. 342)
 
Ayat Al-Qur’an selanjutnya yang menjadi dalil cinta tanah air, menurut ahli tafsir kontemporer, Syekh Muhammad Mahmud Al-Hijazi yaitu pada QS. At-Taubah ayat 122.
 
وَما كانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
 
Artinya: Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)
 
Syekh Muhammad Mahmud al-Hijazi dalam Tafsir al-Wadlih menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:
 
وتُشِيرُ الآيةُ إلى أنَّ تَعَلُّمَ العلمِ أَمْرٌ واجِبٌ على الأمَّةِ جَميعًا وُجُوبًا لا يَقِلُّ عَن وُجوبِ الجِهادِ والدِّفاعُ عَنِ الوَطَنِ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ، فَإِنَّ الوَطَنَ يَحْتاجُ إلى مَنْ يُناضِلُ عَنْهُ بِالسَّيفِ وَإِلَى مَنْ يُنَاضِلُ عَنْهُ بِالْحُجَّةِ وَالبُرْهَانِ، بَلْ إِنَّ تَقْوِيَةَ الرُّوحِ المَعْنَوِيَّةِ، وغَرْسَ الوَطَنِيَّةِ وَحُبِّ التَّضْحِيَةِ، وَخَلْقَ جِيْلٍ يَرَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإِيمَانِ، وَأَنَّ الدِّفَاعَ عَنْهُ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ. هَذَا أَسَاسُ بِنَاءِ الأُمَّةِ، ودَعَامَةُ اسْتِقْلَالِهَا. 
 
Artinya: “Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa belajar ilmu adalah suatu kewajiban bagi umat secara keseluruhan, kewajiban yang tidak mengurangi kewajiban jihad, dan mempertahankan tanah air juga merupakan kewajiban yang suci. Karena tanah air membutuhkan orang yang berjuang dengan pedang (senjata), dan juga orang yang berjuang dengan argumentasi dan dalil. Bahwasannya memperkokoh moralitas jiwa, menanamkan nasionalisme dan gemar berkorban, mencetak generasi yang berwawasan ‘cinta tanah air sebagian dari iman’, serta mempertahankannya (tanah air) adalah kewajiban yang suci. Inilah pondasi bangunan umat dan pilar kemerdekaan mereka.” (Muhammad Mahmud al-Hijazi, Tafsir al-Wadlih, Beirut, Dar Al-Jil Al-Jadid, 1413 H, Juz 2, hal. 30)
 
Ayat-ayat di atas sebagaimana telah jelaskan oleh para mufassir dalam kitab tafsirnya masing-masing merupakan dalil cinta tanah air di dalam Al-Qur’an Al-Karim.
 
2. Dalil Cinta Tanah Air dari Hadits
 
Berikut ini adalah hadits-hadits yang menjadi dalil cinta tanah air menurut penjelasan para ulama ahli hadits, yang dikupas tuntas secara gamblang: 
 
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا ....... وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الوَطَنِ والحَنِينِ إِلَيْهِ
 
Artinya: “Diriwayatkan dari sahabat Anas; bahwa Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. (HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi).
 
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany (wafat 852 H) dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari (Beirut, Dar Al-Ma’rifah, 1379 H, Juz 3, hal. 621), menegaskan bahwa dalam hadits tersebut terdapat dalil (petunjuk): pertama, dalil atas keutamaan kota Madinah; kedua, dalil disyariatkannya cinta tanah air dan rindu padanya.
 
Sependapat dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar, Badr Al-Din Al-Aini (wafat 855 H) dalam kitabnya ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari menyatakan:
 
وَفِيه: دَلَالَة عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الوَطَنِ وَاْلحِنَّةِ إِلَيْهِ
 
Artinya; “Di dalamnya (hadits) terdapat dalil (petunjuk) atas keutamaan Madinah, dan (petunjuk) atas disyari’atkannya cinta tanah air dan rindu padanya.” (Badr Al-Din Al-Aini, Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 10, hal. 135)
 
Imam Jalaluddin Al-Suyuthi (wafat 911 H) dalam kitabnya Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih menyebutkan: 
 
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي حُمَيْدٌ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا»، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: زَادَ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ: حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا. حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: جُدُرَاتِ، تَابَعَهُ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ. (درجات): بفتح المهملة والراء والجيم، جمع "درجة"، وهي طرقها المرتفعة، وللمستملي: "دوحات" بسكون الواو، وحاء مهملة جمع دوحة، وهي الشجرة العظيمة. (أوضع): أسرع السير. (مِنْ حُبِّها) أي: المدينةِ، فِيْهِ مَشْرُوعِيَّةُ حُبِّ الوَطَنِ والحَنينِ إليه 
 
Artinya: “Bercerita kepadaku Sa’id ibn Abi Maryam, bercerita padaku Muhammad bin Ja’far, ia berkata: mengkabarkan padaku Humaid, bahwasannya ia mendengan Anas RA berkata: Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat tanjakan-tanjakan Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya. Berkata Abu Abdillah: Harits bin Umair, dari Humaid: beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. Bercerita kepadaku Qutaibah, bercerita padaku Ismail dari Humaid dari Anas, ia berkata: dinding-dinding. Harits bin Umair mengikutinya.” (Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih, Riyad, Maktabah Al-Rusyd, 1998, Juz 3, hal. 1360)
 
Sependapat dengan Ibn Hajar Al-Asqalany, Imam Suyuthi di dalam menjelaskan hadits sahabat Anas di atas, memberikan komentar: di dalamnya (hadits tersebut) terdapat unsur disyari’atkannya cinta tanah air dan merindukannya.
 
Ungkapan yang sama juga disampaikan oleh Syekh Abu Al Ula Muhammad Abd Al-Rahman Al-Mubarakfuri (wafat 1353 H), dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi Syarh at-Tirmidzi (Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Juz 9, hal. 283) berikut:
 
وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الْوَطَنِ وَالْحَنِينِ إِلَيْهِ .
 
Hadits berikutnya yang menjadi dalil cinta tanah air yaitu hadits riwayat Ibn Ishaq, sebagimana disampaikan Abu Al-Qosim Syihabuddin Abdurrahman bin Ismail yang masyhur dengan Abu Syamah (wafat 665 H) dalam kitabnya Syarhul Hadits al-Muqtafa fi Mab’atsil Nabi al-Mushtafa berikut: 
 
قَالَ السُّهَيْلِي: " وَفِي حَدِيْثِ وَرَقَةَ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - لَتُكَذَّبَنَّهْ، فَلَمْ يَقُلْ لَهُ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - شَيْئاً، ثُمَّ قَالَ: وَلَتُؤْذَيَنَّهْ، فَلَمْ يَقُلْ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - شَيْئاً، ثُمَّ قَالَ: وَلَتُخْرَجَنَّهْ، فَقَالَ: َأوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ؟ فَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى حُبِّ اْلوَطَنِ وَشِدَّةِ مُفَارَقَتِهِ عَلَى النَّفْسِ.
 
“Al-Suhaily berkata: Dan di dalam hadits (tentang) Waraqah, bahwasanya ia berakata kepada Rasulullah SAW; sungguh engkau akan didustakan, Nabi tidak berkata sedikitpun. Lalu ia berkata lagi; dan sungguh engkau akan disakiti, Nabi pun tidak berkata apapun. Lalu ia berkata; sungguh engkau akan diusir. Kemudian Nabi menjawab: “Apa mereka akan mengusirku?”. Al-Suhaily menyatakan di sinilah terdapat dalil atas cinta tanah air dan beratnya memisahkannya dari hati.” (Abu Syamah, Syarhul Hadits al-Muqtafa fi Mab’atsil Nabi al-Mushtafa, Maktabah al-Umrin Al-Ilmiyah, 1999, hal. 163)
 
Abdurrahim bin Husain Al-Iraqi (wafat 806 H) di dalam kitabnya Tatsrib fi Syarh Taqribil Asanid wa Tartibil Masanid, pada hadits yang sama, juga mengutip pendapatnya Al-Suhaily: 
 
فَقَالَ السُّهَيْلِيُّ فِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى حُبِّ الْوَطَنِ وَشِدَّةِ مُفَارَقَتِهِ عَلَى النَّفْسِ. 
 
Artinya: “Al-Suhaily berkata: di sinilah terdapat dalil atas cinta tanah air dan beratnya memisahkannya dari hati.” (Abdurrahim Al-Iraqi, Tatsrib fi Syarh Taqribil Asanid wa Tartibil Masanid, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 4, hal. 196)
 
Pemaparan di atas menunjukkan bahwa cinta tanah air memiliki dalil yang bersumber dari Qur’an dan Hadits, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama seperti; Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalany, Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Abdurrahim al-Iraqi, Syekh Ismail Haqqi al-Hanafi, dan yang lainnya. Sehingga vonis cinta tanah air tidak dalilnya, jelas tidak benar dan tidak berdasar. 

--------------
Supriyono,Wakil Sekretaris PC GP Ansor Bidang litbang Kabupaten Kudus. 
Ansor Banser Nusantara.
Share:

Rabu, 06 Juli 2022

ALASAN GUS MUS AKTIF DI MEDIA SOSIAL


Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri adalah salah satu ulama yang cukup aktif mengisi ruang media sosial.

Gus Mus sapaan akrabnya kini sudah berusia 77 tahun. Meskipun tidak setiap hari, Gus Mus setidaknya setiap hari Jumat bisa dipastikan mengunggah kalimat-kalimat sarat hikmah.
Pengikut setiap media sosialnya yang dimiliki juga tak sedikit, akun twitternya diketahui punya follower 2,4 juta lebih.

Gus Mus menegaskan, bahwa tokoh masyarakat, kiai, ulama, dan santri tidak boleh anti terhadap media sosial. Pasalnya, media sosial saat ini punya pengaruh besar dalam kehidupan manusia.

Sementara menurutnya, orang yang saat ini menguasai media sosial masih didominasi oleh orang-orang yang tidak punya ilmu memadai, terutama dalam bidang pengetahuan agama.

Menurut Gus Mus, media sosial tidak boleh dianggap remeh.

Kiai dalam pandangannya harus aktif mengisi ruang-ruang media sosial dengan pengetahuan-pengetahuan agama, khususnya yang saat ini dibutuhkan masyarakat luas.
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung