Rabu, 23 Desember 2020

HUKUM MENJAGA GEREJA DEMI STABILITAS KEAMANAN


Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara bangsa dengan komposisi penduduk yang beragam, baik dari sisi agama, suku, ras dan bahasa. Semuanya hidup rukun berdampingan yang dirajut oleh jiwa persatuan dan kesatuan. Di sini, toleransi memiliki wilayah yang urgen, termasuk dalam hal hubungan antar umat beragama.

Persoalan menjaga gereja pada momentum tertentu, seperti saat Misa Natal dan semacamnya, masih saja menjadi polemik perbincangan yang tak pernah usai. Namun sejatinya, persoalan tersebut telah selesai diperbincangkan oleh para ulama salaf maupun kontemporer yang memiliki kredibilitas keilmuan yang mumpuni. Sebagaimana Syekh Izzuddin bin ‘Abdissalam pernah menuturkan dalam kitabnya yang berjudul Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam:

وَمِنْهَا إعَانَةُ الْقُضَاةِ وَالْوُلَاةِ وَأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مَا تَوَلَّوْهُ مِنْ الْقِيَامِ بِتَحْصِيلِ الرَّشَادِ وَدَفْعِ الْفَسَادِ وَحِفْظِ الْبِلَادِ وَتَجْنِيدِ الْأَجْنَادِ وَمَنْعِ الْمُفْسِدِينَ وَالْمُعَانِدِينَ

“(Hak-hak orang mukallaf) diantaranya adalah membantu para Qadhi (penegak hukum), pemimpin, dan imam umat Islam atas tugas yang telah diwajibkan atas mereka, meliputi tugas untuk memberikan pengarahan, menolak kerusakan, menjaga negara, merekrut pasukan keamanan, serta mencegah para perusak dan penghianat bangsa”.[1]

Menjaga gereja pada momen-momen tertentu yang ditengarai akan terjadi gangguan keamanan, seperti terancamnya keselamatan jiwa yang jelas-jelas dilindungi oleh negara, hukumnya adalah Fardhu Kifayah (kewajiban kolektif). Karena tindakan pengamanan tersebut termasuk dari bagian menjaga stabilitas keamanan negara. Apalagi bila dilakukan atas permintaan dari pemerintah atau yang dalam hal ini adalah aparat kepolisian.[2]

Menjaga gereja yang dilakukan dengan misi mengamankan stabilitas negara serta menjaga keharmonisan sosial bukan termasuk upaya membantu kemaksiatan (i’anah ‘ala al-ma’shiyyah). Kalaupun ada anggapan demikian, maka tidak dapat menjadi kebenaran tunggal. Sebab, tanpa dijaga ritual keagamaan nonmuslim di dalam gereja tetap berjalan, sehingga penjagaan bukan merupakan pemicu dalam terjadinya kemaksiatan nonmuslim tersebut. Sebagaimana penjelasan dalam kitab Buhuts Wa Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah:

أَنَّ الْإِعَانَةَ عَلَى الْمَعْصِيَّةِ حَرَامٌ مُطْلَقًا بِنَصِّ الْقُرْآنِ أَعْنِيْ قَوْلَهُ تَعَالَى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ (المائدة : 2) وَقَوْلَهُ تَعَالَى فَلَنْ أَكُوْنَ ظَهِيْرًا لِلْمُجْرِمِيْنَ (القصص : 17) وَلَكِنِ الْإِعَانَةُ حَقِيْقَةً هِيَ مَا قَامَتِ الْمَعْصِيَّةُ بِعَيْنِ فِعْلِ الْمُعِيْنِ وَلَا يَتَحَقَّقُ إِلَّا بِنِيَّةِ الْإِعَانَةِ اَوِ التَّصْرِيْحِ بِهَا أَوْ تُعِيْنُهَا فِي اسْتِعْمَالِ هَذَا الشَّيْئِ بِحَيْثُ لَا يَحْتَمِلُ غَيْرَ الْمَعْصِيَّةِ

“Sesungguhnya menolong kemaksiatan adalah haram secara mutlak. Berdasarkan Nash Al-Qur’an, yaitu firman Allah yang berbunyi ‘Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan’ (QS. Al-Maidah: 2) dan firman Allah yang berbunyi ‘Aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa’ (QS. Al-Qashash: 17). Akan tetapi pada hakikatnya menolong itu adalah sebuah kemaksiatan yang secara murni muncul dari aktivitas penolong tersebut. Menolong kemaksiatan itu juga tidak akan terealisasi kecuali ada niatan menolong (kemaksiatan) atau mengucapkannya secara langsung atau menolongnya dalam menjalankan kemaksiatan itu sekiranya tidak mungkin diarahkan pada selain kemaksiatan.”[3]

Dengan demikian sudah jelas pula bagaimana hukum menjaga gereja yang dilakukan oleh aparat keamanan negara. Orientasi menjaga keselamatan warga negara yang dilindungi konstitusi merupakan tugas mulia yang mendapatkan payung hukum syariat. Statement yang mengatakan bahwa tindakan menjaga gereja dianggap membantu kemaksiatan bukanlah kebenaran tunggal. Kejelian dalam memandang kasus persoalan mutlak dibutuhkan demi tercapainya penilaian hukum yang objektif sesuai dengan yang telah digariskan para ulama.

[]waAllahu a’lam

[1] Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam, vol. I hal 134.
[2] Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam, vol. I hal 131
[3] Buhuts Wa Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah, hal. 360.


Sumber : FB LIRBOYO
Share:

Selasa, 22 Desember 2020

MEMAHAMI ARTI HARI IBU


Sejarah adanya Hari Ibu di Indonesia tepat pada tanggal 22 Desember, ditetapkan sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959 yang menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Peranan ibu dalam kehidupan seseorang tidak bisa digambarkan lagi. Sejak mengandung, melahirkan, sampai anak itu dewasa, ibu merupakan sosok yang tidak pernah berubah. Bahkan tidak pernah tergantikan. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. mengisyaratkan agar berbakti kepada ibu tiga kali lebih besar daripada berbakti kepada ayah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah Ra. yang menceritakan bahwa suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Rasulillah Saw. untuk menanyakan terkait seorang ibu:

مَنْ أحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِيْ؟ قَالَ:أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :أُمُّكَ، قَالَ :ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :أُمُّكَ، قَالَ :ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :أَبُوْكَ

“Siapakah di antara manusia yang paling berhak kami sikapi dengan baik. Nabi menjawab: ibumu. Orang itu bertanya lagi: siapa lagi setelah itu?. Nabi menjawab: ibumu. Orang itu bertanya lagi:  siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab: ibumu. Orang itu  bertanya lagi: siapa lagi setelah itu. Nabi kemudian menjawab, ayahmu.”

Tidak sampai di sana, kemuliaan seorang ibu pernah disinggung dalam hadis lain. Rasulullah Saw. juga bersabda bahwa seorang ibu diakui sangat mulia sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatakan dari Anas bin Malik Ra.:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ

“Surga itu di bawah telapak kaki ibu.”

Bagaimanakah maksud dari hadits yang menyebutkan bahwa Surga itu di bawah telapak kaki Ibu? Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitab Mafahim Yajibu An Tushahhaha menyebutkan sabda Rasulullah Saw. yang berbunyi:

إِنَّمَا اَنَا قَاسِمٌ وَاللّٰهُ يُعْطِيْ

“Aku adalah pembagi, dan Allah yang memberi.”

Maha suci Allah akan kekuasaan-Nya, bahwa Nabi Muhammad lah kekasihnya yang diberi kekuasaan untuk membagi, bagaimana caranya agar umatnya bisa memperoleh surga dengan cara yang sederhana.

Sayyid Muhammad melanjutkan dalam karyanya bahwa ungkapan Nabi Saw. seperti “Surga di bawah telapak kaki ibu” menjadikan kita umatnya yang ingin menggapai surga bisa tersampaikan, jika mereka menempuh jalan birrul walidain atau berbakti orang tua, berkhidmah kepada mereka, terkhusus kepada ibu. Dengan menempuh jalan itu (birrul walidain) secara absolut dan tanpa kita sadari, sebagai umat kita sudah menjalankan perintah Nabi dengan taat, cinta, dan kasih sayang. []WaAllahu a’lam

Disarikan dari kitab Mafahim Yajibu An Tushahhaha, hlm. 215-216.
Share:

Rabu, 09 Desember 2020

SEHELAI RAMBUT MU LEBIH MULIA DARI JUBAH ULAMA


Suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikunjungi seorang wanita yang ingin mengadu.

“Ustadz, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami. 
Saya ini sangat miskin, sehingga untuk menghidupi anak-anak saya, saya merajut benang di malam hari, sementara siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak saya dan menyambi sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada.
Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan.

”Imam Ahmad rahimahullah menyimak dengan serius penuturan ibu tadi. Perasaannya miris mendengar ceritanya yang memprihatinkan.Dia adalah seorang ulama besar yang kaya raya dan dermawan. Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu, namun ia urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.

“Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang. Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.
Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual....?.

Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu.....?

Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat.”

Imam Ahmad rahimahullah terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang bobrok akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram lagi.Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan papa.Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad rahimahullah bertanya:, 

“Ibu, sebenarnya engkau ini siapa....?”

Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan,wanitaini mengaku:, 

“Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi.”

Imam Ahmad rahimahullah makin terkejut. 
Basyar Al-Hafi rahimahullah adalah Gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya. Rupanya, jabatannya yg tinggi tidak disalahgunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya. Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup dalam keadaan miskin.

Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad rahimahullah berkata:,

“Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara dan menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau, ibu. Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis serban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama.

Subhanallah....., 
sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu engkau haramkan....? 
Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara…

”Kemudian Imam Ahmad rahimahullah melanjutkan:,

 “Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silahkan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau…”.

Diriwayatkan dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, dari Rasulullah, beliau bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّة
َ جَسَدٌ غُذِيَ بِحَرَامٍ

“Tidak akan masuk ke dalam surga jasad yang diberi makan dengan yangharam.”

(Shahih Lighairihi, HR. Abu Ya’la, Al-Bazzar, Ath-Thabarani dalam kitab Al-Ausath dan Al-Baihaqi, dan sebagian sanadnya hasan. Shahih At-Targhib 2/150 no. 1730)


Sumber : Facebook
Share:

Selasa, 08 Desember 2020

NU itu SAKTI ; Menang Jadi Arang Kalah Jadi Abu


Pada waktu Muktamar NU ke-29 tahun 1994 lalu di Cipasung, Tasikmalaya, ketika itu Orde Baru berusaha mengkudeta NU dari tangan Gus Dur dengan membuat sosok tandingan bernama Abu Hasan. Namun Gus Dur secara heroik tetap berhasil memenangkan pemilihan Ketua Umum PBNU untuk lima tahun berikutnya. Semua ulama bertangisan karena Gus Dur melewati tekanan rezim Soeharto yang datang bertubi-tubi sejak bertahun sebelumnya. Beberapa surat kabar mengandaikan pertarungan ini seperti oplet melawan panser, dan oplet memenangkannya. Mohamad Sobary menangkap peristiwa dramatis itu dengan tulisan yang tak kalah sarkastisnya "Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu Hasan."

NU sejak dulu jadi sasaran utk direbut, dipecah, jika perlu dihancurkan. Ini terjadi karena NU adalah tipikal "benda hidup yang mudah bergaul, tapi tidak mudah untuk digauli", meminjam penerjemahan HB. Jassin dalam Zarathustra.

NU adalah ganjalan bagi siapapun yang punya niat "aneh-aneh" terhadap bangsa ini. Banyak yang terkecoh - seolah gampangan, tapi ketika diajak berkhianat kepada Pancasila, NU tak mau kompromi. Karenanya sudah dengan berbagai cara NU berusaha dikebiri, sejak era PKI, HTI hingga era FPI. NU oleh kaum komunis bahkan disebut "Para Penyembah Tahayul", oleh kaum Wahabi disebut "Para Penyembah Kuburan" dan berkali-kali Rizieq Shihab menyerang Ketua Umum NU sembari menghina dengan "membuta-butakan" Gus Dur. Tapi dasar NU, ia tak pernah bergeser. "Maqomnya" sebagai pengawal kemajemukan bangsa tetap terjaga. Istiqomah.

Rumus paling sederhana adalah siapapun yang punya niat jahat dengan bangsa ini, pasti ingin melumpuhkan NU sebagai jurus awal. Dan itu dilakukan oleh siapapun, termasuk oleh warga Nahdliyin sendiri. Janganlah mengira bahwa FPI punya amaliyah yang berbeda dengan NU, termasuk mereka yang mengepung kediaman ibunda Mahfud MD kemarin - mereka sama, hanya niatan kepada bangsa ini berbeda.

Kesetiaan Nahdlatul Ulama kepada negara ini tidak akan pernah berubah. Dan tidak akan pernah mengendur hanya karena stigma "receh" yang seringkali diarahkan. NU mungkin saja oplet, tapi pernah mengalahkan panser - mereka yang sekedar gerobak, harap berpikir ulang.
Share:

Senin, 07 Desember 2020

Vaksin Sinovac Disimpan di Bio Farma Bandung


Vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu malam, 6 Desember 2020, langsung dibawa menuju Kantor Pusat Bio Farma di Kota Bandung. 

Dari warehouse di terminal cargo Bandara Internasional Soekarno-Hatta, vaksin yang disimpan dalam 7 Envirotainer diangkut menggunakan 3 truk. 

Pada Senin dini hari, 7 Desember 2020, rangkaian kendaraan pengangkut vaksin mulai berjalan menuju Bio Farma. Rangkaian kendaraan ini turut dikawal secara ketat oleh aparat keamanan.

Setelah menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 3 jam, rangkaian kendaraan pembawa vaksin tiba di Bio Farma sekitar pukul 03.45 WIB. 

Vaksin kemudian dipindahkan dari Envirotainer untuk disimpan di cool room dengan suhu 2-8 derajat celcius. Ruangan tersebut telah disterilisasi dan disiapkan khusus untuk menyimpan vaksin Covid-19.

Vaksin kemudian akan dilakukan pengambilan sampel untuk pengujian mutu oleh tim dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Bio Farma. 

Dalam pernyataan yang disampaikan pada saat meninjau simulasi vaksinasi di Puskesmas Tanah Sareal, Kota Bogor, Rabu, 18 November 2020 lalu, Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa setelah tiba, vaksin memerlukan sejumlah tahapan sebelum bisa diberikan kepada masyarakat.

"Setelah mendapatkan izin dari BPOM, baru kita lakukan vaksinasi. Kaidah-kaidah saintifik, kaidah-kaidah ilmiah ini juga saya sudah sampaikan, wajib diikuti. Kita ingin keselamatan, keamanan masyarakat itu harus betul-betul diberikan tempat yang paling tinggi," ucap Presiden.

Bandung, 7 Desember 2020
Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Website: https://www.presidenri.go.id
YouTube: Sekretariat Presiden
Share:

PERAN KIAI MENEGUHKAN KEDAULATAN RI


Jauh sebelum Kiai Mahrus diamanati menjadi anggota Musytasyar Pengurus Besar NU, hasil muktamar NU yang ke-27 di Situbondo pada tahun 1984 M, peran serta kiai mahrus dalam NU sudah dimulai, seperti waktu mengadakan kongres Nu se-Jawa dan Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 dalam menghadapi kedatangan NICA yang ingin merebut kembali kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kiai Mahrus beserta kiai yang lain diantaranya kiai-kiai dari Jawa barat, seperti; Kiai Abbas Buntet, Kiai Syatori Arjawinangun, Kiai Amin Babakan Ciwaringin, dan Kiai Suja’i Indramayu mengadakan forum musyawarah untuk menentukan sikap.

Rapat darurat ini dipimpin oleh kiai Wahab Hasbulloh dan menemukan titik temu pada 22 oktober di forum musyawaroh NU. Hadratus syaikh KH. Hasyim Asya’ri atas nama HB [pengurus besar] organisasi Nu mendeklarasikan sebuah seruan Jihad Fi-sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah Resolusi Jihad.

Pesantren dalam konteks buku sejarah Nasional Proporsi yang diberikan pada kurikulum sejarah pengajaran belumlah banyak berpihak pada sejarah pesantren. Apresiasi justru dari pihak sipil, sebagai contoh kecil datang dari Prof. Mansur Suryanegara (sejarawan) yang telah banyak mengulas perjuangan para santri dan kiai tempo dulu dalam memperjuangkan NKRI.

Kita ketahui bersama 10 november dijadikan sekaligus diperingati sebagai hari pahlawan Nasional. Dibalik penetapan itu telah banyak korban yang menjadi Syuhada adalah para Kiai  dalam membentuk barisan tentara Hizbullah (Laskar Santri) dan sabilillah (laskar Kiai) kedua laskar ini didirikan menjelang akhir pemerintahan Jepang dan mendapat kemiliteran di Cibarusah, Kab. Bekasi Jawa Barat.

Dari sini terdapat suatu keterkaitan dari teks utuh resolusi BAB MEMUTUSKAN, yang telah disepakati pada Muktamar NU ke, 16 Di Purwoketo ‘’Berperang menolak dan melawan penjajah itu Fardlu ‘Ain [yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang islam,laki-laki, perempian, anak-anak, bersenjata atau tidak] bagi orang yang serada dalam jarak lingkungan 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh.’’

Hizbullah dan Sabilillah adalah laskar rakyat paling kuat yang pernah hidup di bumi Indonesia, meskipun disisihkan dalam sejarah. Dalam hal ini, kekuatan santri yang tersatukan dalam wadah perjuangan laskar rakyat Hizbullah dan Sabilillah untuk para kiyai ikut andil dalam perjuangan fisik peristiwa 10 november 1945. Laskar ini telah mendapatkan motivasi dari para kiyai kemudian diberangkatkan ke Surabaya.

Para laskar ini berkumpul dan dipusatkan di Singosari, dengan bersenjatakan bambu runcing, katapel, dan senjata tajam. Kekuatan yang tak sebanding, tepat pada tanggal 10 november 1945, pagi-pagi sekali tentara inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran, dengan kekuatan persenjataan yang dahsyat, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah besar kapal perang berbagi bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi buta dengan meriam dari laut dan darat. Arek-arek suroboyo pun berkobar di seluruh kota tanpa terkecuali heroisme jihad dari kiai dan santri, dengan bantuan aktif dari penduduk. Ribuan penduduk yang tak berdosa menjadi korbannya.

Urgensi Penulisan Ulang Sejarah

Sebagai wujud untuk menciptakan Indonesia yang berdaulat, kiranya semua element masyarakat berpadu bahu membahu bersatu. Mustahil hal ini tercapai bila perjuangan dijalankan menurut kemauannya sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Bung Karno ”kuat karena bersatu, bersatu karena kuat”.

Dalam hal ini pesantren mengambilperan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia, seperti laskar Hizbullah yang didirikan pada 4 Desember 1944, inisiatif dari KH. Wahid Hasyim untuk melatih para pemuda pesantren sebagai tentara regular. Setahun sebelumnya tanggal 03 oktober 1943 atas usulan para ulama, PETA (pembela tanah air) didirikan. Niat dan tujuan para ulama untuk membentuk PETA adalah membangkitkan kembali sifat keprajuritan pemuda Indonesia untuk tetap konsisten memerangi, melawan, dan mengusir kaum penjajah dari muka bumi Indonesia.

Dari pada itu kita sebagai pemuda berkelanjutan (masa depan) sepatutnya untuk lebih peka lagi dalam mempelajari, mewacanakan, menganalisis akan peran kiai pesantren dalan berdiri tegaknya NKRI. Penulis meyakini walaupun belum meneliti secara langsung, hak sejarah pesantren dalam hal ini perjuangan kiai dan santri belum banyak diekspos secara transparan.

Untuk itu tugas kita (baca: santri) bersama untuk lebih mengenali akan perjuangan para kiai, paling tidak untuk ukuran sederhananya mengetahui bahwa kiyai-kiyai pesantren adalah seorang pejuang yang pada masanya tidak hanya berkutat pada kitab semata. Sinkronisasi antara kealiman dan keagamaannya dan mempunyai jiwa nasionalisme wujudkan Indonesia yang bermartabat.


Sumber : FB LIRBOYO
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung