Selasa, 08 Desember 2020

NU itu SAKTI ; Menang Jadi Arang Kalah Jadi Abu


Pada waktu Muktamar NU ke-29 tahun 1994 lalu di Cipasung, Tasikmalaya, ketika itu Orde Baru berusaha mengkudeta NU dari tangan Gus Dur dengan membuat sosok tandingan bernama Abu Hasan. Namun Gus Dur secara heroik tetap berhasil memenangkan pemilihan Ketua Umum PBNU untuk lima tahun berikutnya. Semua ulama bertangisan karena Gus Dur melewati tekanan rezim Soeharto yang datang bertubi-tubi sejak bertahun sebelumnya. Beberapa surat kabar mengandaikan pertarungan ini seperti oplet melawan panser, dan oplet memenangkannya. Mohamad Sobary menangkap peristiwa dramatis itu dengan tulisan yang tak kalah sarkastisnya "Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu Hasan."

NU sejak dulu jadi sasaran utk direbut, dipecah, jika perlu dihancurkan. Ini terjadi karena NU adalah tipikal "benda hidup yang mudah bergaul, tapi tidak mudah untuk digauli", meminjam penerjemahan HB. Jassin dalam Zarathustra.

NU adalah ganjalan bagi siapapun yang punya niat "aneh-aneh" terhadap bangsa ini. Banyak yang terkecoh - seolah gampangan, tapi ketika diajak berkhianat kepada Pancasila, NU tak mau kompromi. Karenanya sudah dengan berbagai cara NU berusaha dikebiri, sejak era PKI, HTI hingga era FPI. NU oleh kaum komunis bahkan disebut "Para Penyembah Tahayul", oleh kaum Wahabi disebut "Para Penyembah Kuburan" dan berkali-kali Rizieq Shihab menyerang Ketua Umum NU sembari menghina dengan "membuta-butakan" Gus Dur. Tapi dasar NU, ia tak pernah bergeser. "Maqomnya" sebagai pengawal kemajemukan bangsa tetap terjaga. Istiqomah.

Rumus paling sederhana adalah siapapun yang punya niat jahat dengan bangsa ini, pasti ingin melumpuhkan NU sebagai jurus awal. Dan itu dilakukan oleh siapapun, termasuk oleh warga Nahdliyin sendiri. Janganlah mengira bahwa FPI punya amaliyah yang berbeda dengan NU, termasuk mereka yang mengepung kediaman ibunda Mahfud MD kemarin - mereka sama, hanya niatan kepada bangsa ini berbeda.

Kesetiaan Nahdlatul Ulama kepada negara ini tidak akan pernah berubah. Dan tidak akan pernah mengendur hanya karena stigma "receh" yang seringkali diarahkan. NU mungkin saja oplet, tapi pernah mengalahkan panser - mereka yang sekedar gerobak, harap berpikir ulang.
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung