Senin, 09 Agustus 2021

Kemuliaan Bulan Muharram Menurut KH Sholeh Darat


Orang Jawa menyebut bulan Muharram dengan “Sasi Suro” dan terdapat peristiwa agung di dalamnya yang disebut “Bodo Suro”. Bagi masyarakat Muslim, Muharram memang menjadi momentum mulia karena menjadi bulan pembuka tahun baru. Wajar jika dalam kondisi ini disebut sebagai “Hari Raya Umat Islam” karena banyak kenangan yang terdapat dalam bulan Muharram. Darimana penjelasan “Hari Raya Suro” itu didapatkan?

Penjelasan tentang kemuliaan bulan Muharram ini ditulis oleh KH Sholeh Darat pada bulan Muharram tahun 1317 H. Jika dilihat dalam penanggalan Jawa online, 1 Muharram 1317 H jatuh pada hari Jum’at Pon bersamaan dengan 12 Mei 1899 M atau 1 Suro 1829 (Jawa). Jika kita hitung sekarang sudah memasuki tahun 2021, maka kitab karya KH Sholeh Darat ini sudah berumur 122 tahun. Kitab ini ditulis saat KH Sholeh Darat berusia 79 tahun.


KH Sholeh Darat menyebutkan dalam kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Shalah tentang kemuliaan bulan Muharram: “Bahwa awal Muharram itu adalah tahun barunya seluruh umat Islam. Adapun tanggal 10 Muharram adalah “Hari Raya”yang digunakan untuk bergembira dengan shadaqah. Hari raya ini adalah untuk mensyukuri nikmat Allah, bukan hari raya dengan shalat. Tetap hari raya dengan pakaian rapi dan memberikan makanan kepada para faqir. Sebaiknya orang Islam mengetahui tahun baru Islam. Hari wuquf di Arafah itu akan menjadi hari pertama bulan Muharram dan akan menjadi tanggal 27 bulan Rajab”.



Dalam menyambut tahun baru ini, maka umat Islam diminta untuk membaca doa akhir tahun pada tanggal 30 Dzulhijjah saat akhir shalat ashar sebanyak tiga kali. Bacaan doa akhir tahun adalah begini :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْأتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ، فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّي وَلاَ تَقْطَعْرَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيْمُ.وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.


KH Sholeh Darat menjelaskan bahwa siapa saja yang membaca doa akhir tahun ini tidak akan digoda oleh syetan dalam tahun itu. Syetan hanya bisa merusak manusia dalam waktu satu jam. Itupun semua dosa selama setahun telah diampuni oleh Allah karena membaca doa ini. “Maka seyogyanya bagi orang beriman, jangan lupa membaca doa ini saat akhir tahun” tegas KH Sholeh Darat.



Selain membaca doa akhir tahun, umat Islam juga diminta untuk membaca tiga kali doa awal tahun setelah shalat maghrib pada awal bulan Muharram. Bacaan doa awal tahun adalah sebagai berikut:


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللّهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ اْلقَدِيْمُ اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَاءِهِ وَجُنُوْدِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ اْلأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلإِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ زُلْفٰى يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ. يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا ومولانا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَاصْحَابِهِ وَسَلَّم.


Doa awal tahun ini ketika dibaca, akan membuat umat Islam terlindungi dari godaan syetan. KH Sholeh Darat menjelaskan: “Barangsiapa membaca doa ini tiga kali di awal bulan Muharram setelah shalat maghrib, maka sesungguhnya syetan itu mengucapkan bahwa anak Adam ini sudah aman dalam sisa umurnya selama tahun itu. Sebab Allah Swt memberikan asisten berupa dua Malaikat untuk menjaganya agar tidak digoda syetan”.


Sungguh mulia sekali bacaan doa akhir dan awal tahun Islam ini. Tentunya amalan-amalan semacam ini akan semakin memperkuat hubungan antara manusia dengan Allah Swt, termasuk memperkuat hubungan manusia dengan manusia. Maka ketika suasana semacam ini, muslim Jawa selalu menggelar acara Suronan dengan berdoa bersama di Musholla dan Masjid. Ada dua hal penting dalam majelis itu, berdoa pada Allah dan berkumpul antar jama’ah untuk membuat hidup rukun dan damai.


Dalam memahami dimensi waktu bulan Muharram ini dapat diambil sebuah hikmah bahwa kehidupan itu mengenal awal (hidup) dan mengenal akhir (kematian).  Manusia akan melewati proses itu semua. Untuk menjelaskan kehidupan dan kematian, KH Sholeh Darat juga menyinggung tentang husnul khatimah dan su’ul khatimah dalam Kitab Munjiyat. Bahkan secara rinci tanda-tanda adanya husnul khatimah dan su’ul khatimah bagi setiap orang.


Oleh sebab itu, dalam menyiapkan kehidupan yang baik menuju khusnul khatimah, maka KH Sholeh Darat mengajarkan tentang ketenangan hati dan ketenangan perilaku. Dua hal ini penting untuk dijalani bagi setiap orang yang masih hidup. Ketenangan hati akan didapatkan jika manusia sadar dan menghayati kalimat “La ilaha illallah”. Kalimat itu selalu diucapkan tanpa putus dan dijalani dengan baik. Yang muncul kemudian adalah sifat positif dalam melihat keberadaan Allah sebagai dzat yang maha rahman dan ra’uf.


Setiap gerak langkah orang yang dekat dengan Allah selalu mendapatkan jalan terbaik dari Allah. Maka KH Sholeh Darat mengingatkan agar orang Islam tidak minta kesehatan dan selalu menyalahkan Allah. Sebab Allah sudah memberikan kenikmatan sehat selamanya, dan jika dalam kondisi sakit, maka Allah tetap memberikan kasih sayangnya. Menyalahkan Allah sama halnya dengan kita protes dan lepas dari makna “La ilaha illallah”. Disitulah ketenangan hati dan ketenangan perilaku itu diuji.


Adapun tanda-tanda orang husnul khatimah ketika sudah wafat sebagaimana dijelaskan oleh KH Sholeh Darat berdasar hadits Nabi adalah tiga hal: kening atau pelipisnya berkeringat, kedua matanya mengeluarkan air mata dan mulutnya kering. Dalam kondisi itu, Allah Swt memberikan kasih sayangnya bagi jenazah itu. Semoga kita dituntun oleh Allah dengan hidayahnya dalam menatap tahun baru hijriyah ini.


Sumber : NU Online

Share:

Jumat, 09 Juli 2021

KISAH TRAGIS PEMBENCI SHALAWAT


Alkisah, hidup seorang pecinta Rasulullah saw., Abdulloh bin Mubarok namanya. Nafas yang dihembuskannya tak pernah lepas dari menyebut nama sang kekasih, Nabi Muhammad saw. Mulutnya selalu terbasahi oleh ucapan shalawat kepadanya.

Suatu saat, ia didatangi seseorang tiba-tiba. Seseorang itu begitu membenci bacaan shalawat yang terus didengungkan Abdulloh. Ia menenteng senjata tajam. Kala berhadap-hadapan dengan Abdulloh, ia angkat senjatanya. Ia tarik lidah Abdulloh. Crass!! Lidah Abdulloh tergelepar di atas tanah.

Abdulloh merintih. Sang pemotong lidah itu berlalu dengan bangga. Gembira karena tak bakal ada lagi lantunan shalawat yang mengganggunya.

Tetapi pena malaikat tak diam. Ditulisnya peristiwa itu. Di waktu yang tak disangka-sangka kelak, laknat Allah dihujamkan padanya.

Seusai kejadian kejam itu, Abdulloh yang tak bisa lagi mendesahkan shalawat dengan bahagia, tentu saja berkeluh kesah. Rasulullah, kekasih yang selalu ia sebut namanya itu, mendengar keluh kesah itu.

Beliau hadir di dalam mimpi Abdulloh. didengarnya kisah mengerikan itu. Maka kemudian inilah yang terjadi: lidah Abdulloh tersambung seperti sediakala, si pemotong lidah terkutuk menjadi kera.

Sangat lama kera itu menanggung perbuatannya. Sang anak, yang tak tega melihat penderitaan ayahnya, berulangkali memohonkan maaf atas peristiwa itu kepada Abdulloh.

Ia memohon dengan sebenar-benarnya. Ia berjanji, maaf yang diberikan akan ia tebus dengan bacaan shalawat sepanjang hidupnya.

Hati Abdulloh bin Mubarok yang penuh belas kasih, menerima permohonannya. Maka sang ayah sembuh seperti semula. Dan sang anak berjuang memenuhi janjinya: mengembuskan shalawat bersamaan dengan setiap detak jantungnya.
--------------------

*disarikan dari mauidhoh hasanah KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dalam even Lirboyo Bersholawat, dalam rangka Haul Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Qur’an (P3TQ), Kamis (15/03) kemarin.


Sumber : FB Pondok Lirboyo
Share:

Minggu, 27 Juni 2021

Mujahaddah Bersama Oleh GP. Ansor Ranting Dukuh Sebagai Ikhtiyar Bathin Menghadapi Covid-19


Anwalin News
– Dukuh (26/06), Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Desa Dukuh menggelar Mujahaddah bersama dengan rangkaian acara Istighotsah, Pembacaan Hizib dan Sosialisasi Prokes serta Proker Gerakan Pemuda Ansor. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Masjid Miftahul Huda yang berlokasi di RT. 09 RW. 03 Dusun Krajan Desa Dukuh Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
.
Tujuan dilaksanakannya kegiatan mujahaddah yang diisi dengan istighotsah dan dzikir bersama tersebut adalah sebagai ikhtiyar bathin keluarga besar GP. Ansor dalam menghadapi adanya wabah corona yang sampai saat ini belum sirna dari wilayah Kecamatan Watulimo dan bumi Indonesia. Dengan harapan dan memohon kepada Allah SWT, supaya pandemi covid-19 tersebut segera diangkat dari bumi Indonesia sehingga semua warga bisa beraktifitas normal seperti sebelum adanya pandemi.


Acara mujahaddah dihadiri oleh segenap Pengurus GP. Ansor Desa Dukuh, Pengurus Harian PAC GP. Ansor Watulimo, Pengurus Nahdlatul Ulama Ranting Dukuh, Crew Media Anwalin, dan segenap Jamaah Masjid Miftahul Huda Dusun Krajan Desa Dukuh. Sebelum acara mujahaddah bersama dilaksanakan sholat Isya’ berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Istighotsah bersama yang dipimpin oleh bapak Kyai Muhammad Syamsun yang mana beliau adalah Rais Syuriyah Nahdlatul Ulama Desa Dukuh. Selesai istighotsah acara dilanjutkan dengan pembacaan hizib dan diteruskan dengan sosialisasi Prokes serta planning Program Kerja PAC GP. Ansor Watulimo oleh sahabat Murdiyanto (Ketua PAC GP. Ansor Watulimo).
.
Pada sambutannya, kang Myanto (begitu panggilan akrabnya) menyampaikan himbauan dari Pemerintah terkait dengan pengetatan penerapan protokol kesehatan kepada seluruh warga masyarakat yang hadir diacara mujahadah bersama tersebut. Mengingat sampai saat ini wabah corona semakin meningkat dan semakin ganas penularannya kepada setiap warga yang daya tahan tubuhnya (imunnya) lemah.
.
“Sampai saat ini, wabah covid-19 belum sirna/hilang dari bumi Indonesia; maka penerapan protokol kesehatan harus ditingkatkan guna meminimalisir serta mencegah terhadap penularannya virus (covid-19) tersebut. Selain ikhtiyar lahir (penerapan prokes) setiap warga/jamaah harus secara istiqomah mengadakan mujahaddah yang berisi istighotsah, dzikir bersama, pembacaab hizib, dan lain-lain; dan tentunya harus dibersamai dengan penerapan protokol kesehatan tersebut” begitu kang Myanto menyampaikan dalam pembukaan Sambutannya.


Selain menyampaikan masalah Prokes, Kang Myanto yang diamanahi sebagai ketua PAC untuk yang kedua kalinya tersebut juga menyampaikan Planning Program Kerja PAC GP. Ansor Watulimo masa Bhakti 2021-2023 untuk tahun pertama. Ia menyampaikan bahwa Proker PAC untuk periode saat ini, metode dan penerapannya berbeda dengan periode sebelumnya. Mengingat sampai saat ini Pandemi Covid-19 belum hilang, maka untuk system kerja, perencanaan dan realisasi program diselaraskan dengan kondisi wilayah saat ini. Begitu juga dengan Tupoksi Pengurus Harian dan Departemensasi PAC disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi yang ada guna meminimalisir (mencegah) tertularnya virus corona serta untuk memaksimalkan realisasi program kerja PAC GP. Ansor Watulimo masa khidmah 2021-2023.
.
Diakhir kegiatan acara diisi dengan diskusi bersama sebagai upaya untuk menyerap usulan dan masukan dari sahabat-sahabat Ansor dengan harapan organisasi Gerakan Pemuda Ansor yang berada dibawah komando Pimpinan Anak Cabang Watulimo semakin baik, bermanfaat, maju dan membawa keberkahan untuk semuanya. (MY).
.

Kontributor : MY
Fotografer : Agus Rianto
Share:

Kamis, 24 Juni 2021

PERTOLONGAN PERTAMA SAAT ASAM LAMBUNG NAIK


Asam lambung naik menuju ke kerongkongan atau esofagus yang pada akhirnya menimbulkan rasa nyeri pada ulu hati atau adanya rasa sensasi seperti terbakar pada bagian dada.

Untuk meredakan asam lambung ada langkah-langkah penting yang harus diperhatikan.

1. Duduk dengan posisi relaks 35-45 derajat. Hindari berbaring karena asam lambung akan semakin meningkat.

2. Hindari stres.
Kondisi ini akan memicu nyeri ulu hati dan meningkatkan kadar sakitnya.

3. Longgarkan pakaian Anda.
Terutama pada area dada dan perut. Usahakan Anda dalam kondisi relaks.

4. Atur napas dengan baik

5. Minum air hangat sedikit-sedikit dan jangan terlalu cepat karena dapat memicu muntah.

6. Hindari konsumsi teh, jus, dan kopi karena dapat meningkatkan gas.

7. Konsumsi makanan yang lunak seperti pisang atau bubur.

8. Kunyahlah permen karet, agar mulut mengeluarkan banyak air liur, sehingga mampu menurunkan asam lambung.

9. Minum air kelapa.

SEMOGA BERMANFAAT 
Share:

Rabu, 23 Juni 2021

MONDOK CUMA 7 BULAN SUDAH NGALIM.


Adalah KH. HASAN ZAMZAMI MAKHRUS atau yg terkenal dg sebutan Gus Zam, ketika menapaki pondok Al-Fadlu Kaliwungu sesudah wafatnya KH Makhrus Ali (Ayahanda Beliau), Gus Zam dgn Gus An'im ngaji Jurumiyah kepada Abah KH. Dimyati Rois yg sebelumnya sudah dititipi KH Makhrus Ali, salah satu putra Beliau, yakni Gus Kafabih.

Di suatu kesempatan, Gus Zam sengaja menyendiri sowan kepada Abah Dim dalam rangka minta didoakan, pinta Beliau:

"Mbah Dim, kulo nyuwun dungo kersane saget cepet alim."

Padahal waktu itu Gus Zam pertama kali mondok dan baru ngaji Jurumiyyah. Lalu Abah Dim memerintahkan Gus Zam utk ngaji IQNA'

"Ngaji Iqna' smpyn iso porak Zam ", seru Abah Dim

Gus Zam menjawab : "Njih saget Mbah Dim".

Lalu dipanggillah Gus Nasrul yg juga mondok di Al-Fadlu atas saran dari Kyai Makhrus,

"Nasrul, sampean ngaji o Iqna' karo Zam yo" begitu dawuh Abah Dim.

Gus Nasrul pun cepat meng-iyakan, "Sendiko dawuh, njih Bah."

Kala itu bulan sofar, mulailah Gus Zam mulang kitab Iqna' dan muridnya cuma satu, yaitu Gus Nasrul yg populer dg sebutan "Gus Kopral" karena orangnya tinggi, berambut kriting dan gemar pake jaket tentara.

6 bulan berikutnya di bulan Sya'nan 3 hari menjelang Khataman ngaji Iqna'.

Gus Zam sowan Abah Dim, "Mbah Dim, tigang dinten malih ngaose khatam, kulo nyuwun mangke Mbah Dim ndungoni khatamanipun".

Abah Dim menjawab : "Iyo Zam, nko sing dungo khataman aku, tapi ono 1 syarat."

Gus Zam pun sangat gembira, "Njih nderek Mbah Dim, syarat nopokemawon kulo lampahi".

"Syarate 1 tok zam, mengko nek khataman tak kabari." dhawuh Abah Dim.

Ketika Khataman tiba, Abah Dim pun ngrawuhi acara tersebut. Usai berdoa.

Beliau dhawuh : "Zam, syarate 1 sampeyan sak wise khatam Iqna' iki kudu boyong muleh nyang Lirboyo."

Gus Zam kaget tersentak, tidak mengira syaratnya sedahsyat itu. Beliaupun pun menangis, campur-aduk perasaan antara bahagia didoakan khatamannya & sekaligus sedih lantaran mesti berpisah dgn Abah Dim, kiainya.

Tapi karena status Beliau adalah murid, tak ada lain kecuali Sam'an wa Tho'atan, dg berat hati, Gus Zam meninggalkan Alfadllu pulang ke Lirboyo. Hanya 7 bulan saja mondok di Al-Fadlu, namun Gus Zam telah 'Alim 'Allamah.

Paling Sering Abah Dim dhawuh; "Moco Kitabe  Zam iku persis moco ne Mbah Ber " (Sebutan KH. Zubair Dahlan dari Sarang yg tak lain adalah guru Abah Dim sendiri).

Mbah Ber jika membaca kitab sanggup membawa para mustami'in serta-merta faham tanpa mesti diterangkan lagi, demikian juga Gus Zam, "Nek moco kitab sekali jadi." nuruni Ayahanda Beliau (KH. Makhrus Ali).

Beberapa waktu kemudian, Gus Zam sering sowan Abah Dim, minta diakui murid oleh Beliau, tetapi Abah Dim mengelak :

"Ora iso, sampean dudu muridku, wong dadi alim dewe ko".


Keterangan Foto di atas :
📷 Foto dari kiri : Simbah KH. Anwar Manshur, KH. Zamzami Makhrus, KH. Abdullah Kafabihi Makhrus, KH. An'im Falahuddin Makhrus
Share:

Kamis, 17 Juni 2021

Tim Media Anwalin PAC GP. Ansor Watulimo Adakan Mujahaddah Dalam Kegiatan Turba Lailatul Ijtima’


Anwalin News  - Margomulyo (16/06) Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Watulimo mengadakan kegiatan rutinan yang dikemas dalam bentuk Lailatul Ijtima’ dan Mujahaddahan (Istighotsah / Dzikir Bersama). Mujahaddah tersebut dilaksanakan dirumah Sahabat David Hariyanto yang beralamat di Dusun Ketok Desa Margomulyo Kecamatan Watulimo.

Sahabat David Hariyanto adalah Sekretaris PAC GP. Ansor Watulimo yang telah dipilih dan ditetapkan oleh Tim Formatur untuk masa Khidmah Kepengurusan 2021-2023. Pada kesempatan yang sama Kang David (panggilan akrabnya) menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada sahabat-sahabat yang telah berkenan hadir dirumahnya yang mana selama ini belum pernah untuk ditempati kegiatan-kegiatan organisasi utamanya Gerakan Pemuda Ansor. Kang David berharap, semoga dengan adanya kegiatan GP. Ansor yang diisi dengan Mujahadah/Dzikir bersama tersebut menjadikan timbul “BERKAH” buat keluarganya, lingkungan dan organisasi secara keseluruhan.

Kegiatan Lailatul Ijtima’ PAC GP. Ansor Watulimo  ini merupakan kerjasama antara Pengurus Harian PAC bersama Tim Media Anwalin PAC GP. Ansor Watulimo yang digelar 2 (dua) Minggu sekali setiap malam Kamis dengan system Turba kerumah para Pengurus Harian dan anggota Tim Media Anwalin yang telah terjadwal dan tersusun berdasarkan hasil musyawarah sebelumnya. Selain Mujahaddah / Dzikir Bersama, kegiatan Ijtimaan tersebut setiap turbanya juga diisi dengan kegiatan yang berbeda-beda, antara lain Istima’ul Qur’an, Tahlilan, Manakiban, Dikrul Ghofilin, Pembacaan Al-Barzanji dan/atau Sholawat Nabi Muhammad SAW. Perbedaan amalan setiap Turba tersebut didasarkan dengan permintaan dari Shohibul Bait/Hajat serta menyesuaikan dengan kebutuhan pada saat rutinan berlangsung/digelar.

Setelah selesai Mujahaddahan, kegiatan diisi dengan pembinaan keorganisasian oleh sahabat Murdiyanto selaku Ketua PAC GP. Ansor Watulimo. Kang Myanto berpesan kepada para Pengurus yang hadir agar lebih meningkatkan pengetahuan dibidang organisasi, ilmu pengetahuan dan teknologi serta lebih aktif untuk berdakwah di media sosial. Hal tersebut dikarenakan tantangan untuk generasi saat ini dan mendatang adalah setiap Kader Ansor harus mampu untuk Upgrade di dunia teknologi dan media sosial.  

“Kader Ansor harus mampu mengaplikasikan dan mengimplementasikan ilmunya dalam berdakwah di media sosial dan online, hal tersebut adalah suatu keniscayaan bagi setiap kader / generasi muda NU” begitu tutur Kang Myanto dalam sambutannya.

Hadir dalam kegiatan Lailatul Ijtima’ PAC GP. Ansor Watulimo adalah segenap Pengurus Harian PAC bersama Tim Media Anwalin PAC GP Ansor Watulimo dengan jumlah keseluruhan 23 Orang. Jumlah yang hadir pada kegiatan Ijtimaan memang sengaja dibatasi mengingat wilayah Watulimo khususnya dan Negara Indonesia umumnya pada saat ini masih dilanda Pagebluk dengan adanya Pandemi Covid-19 yang bahkan pada saat ini muncul lagi Varian baru yang lebih ganas dari Covid-19 tersebut.

Semoga dengan ikhtiyar kita mentaati protocol kesehatan dan mujahaddah / dzikir bersama tersebut Pandemi Covid-19 semakin hilang dari bumi Indonesia, semua warganya senantiasa diberi kesehatan dan keselamatan sehingga bisa beraktifitas normal seperti sebelum adanya Covid-19 dan bisa lebih banyak berbuat kemaslahatan serta kemanfaatan untuk pribadi, keluarga, sesama, organisasi dan khalayak luas pada umumnya. Aamiin (MY)
.

Kontributor : MY
Fotografer : Agus Rianto
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung