Jumat, 14 Mei 2021

KH Abdul Wahab Chasbullah Penggagas Istilah "Halal Bi Halal"


Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. 

Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain."

"Itu gampang". kata Kiai Wahab. 

"Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah 'Halal Bi Halal'." jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul 'Halal bi Halal' dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.
.
.
Sumber : FB Pesantren Online
Share:

Rabu, 12 Mei 2021

Kisah Kawanan Perampok Tobat Berkat Kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani


Saat masih belia, Syekh Abdul Qodir Al-Jilani mencari ilmu dengan melakukan perjalanan dari Kota Mekah menuju Kota Baghdad, Irak. Sang ibu pun membekalinya uang sebanyak 40 dinar yang dijahit di dalam ketiak bajunya. Sang ibu juga berpesan agar ia senantiasa menjaga kejujuran.

Ketika sampai di wilayah Hamdzan, datanglah sekelompok orang yang berusaha menghadang dan merampok rombongan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

Saat yang lain merampas harta para rombongan, salah seorang perampok menghampiri Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil dan bertanya, “Apa yang kau miliki?”

Mendengar pertanyaan itu, Syekh Abdul Qodir Al-Jilani pun memberitahu apa yang ia miliki, yakni uang saku sebanyak 40 dinar pemberian ibunya yang diletakkan di jahitan ketiak.

Perampok itu pun merasa aneh dan kemudian membawa Syekh Abdul Qodir Al-Jilani untuk dihadapkan pada pimpinannya. Pemimpin perampok itu pun menanyakan hal serupa. Dan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kembali mengulangi jawaban yang sama.

Mendengar jawaban itu, pemimpin perampok itu pun curiga dan bertanya, “Apa yang membuat engkau berkata jujur wahai anak kecil?”

“Ibu berpesan kepadaku agar aku senantiasa jujur. Dan aku takut untuk berkhianat terhadap pesan ibuku.” Jawab Syekh Abdul Qodir Al-Jilani dengan polosnya.

Untuk membuktikan kejujuran itu, pemimpin perampok itu pun menyobek pakaian Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. Dan benar, di dalamnya ada uang 40 dinar.

Meleleh
Sambil terharu, pemimpin perampok berkata, “Engkau takut untuk mengkhianati pesan ibumu. Sementara aku tidak sekali pun takut mengkhianati Allah.”

Ia pun memerintahkan para anak buahnya untuk mengembalikan semua barang hasil rampokan dari rombongan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

“Aku bertobat kepada Allah di depanmu.” Kata pemimpin perampok kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil.

Ia pun bertobat dan disusul para anak buahnya. Salah satu dari mereka pun berkata, “Engkau (pemimpin rampok) adalah pembesar kita dalam hal merampok. Dan Engkau (Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil) adalah pembesar kita dalam bertobat.”

Sejak saat itu, semua perampok bertobat berkat kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. []WaAllahu a’lam

Disarikan dari kitab Irsyad al-Ibad, halaman 71, karya Syekh Zainuddin al-Malibari.
Share:

Senin, 10 Mei 2021

Gelar Koordinasi dan Konsolidasi dengan PC GP Ansor Trenggalek, PAC GP Ansor Watulimo Mantapkan Kepengurusan Masa Khidmah 2021-2023

 

Anwalin News- Organisasi dapat diibaratkan dengan sebuah pohon. Di mana antara bagian satu dengan yang lainnya terkoneksikan dengan sempurna. Pokok dengan cabang, cabang dengan ranting, ranting dengan daun, bunga ataupun dengan buah. Pola hubungan dalam pohon ini menjadikannya tumbuh kembang dengan sempurna. Hal ini dikarenakan ada alasan yang mendasar. Pertama, semua bagian-bagian tersebut berjalan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dan yang kedua, semua bagian terkoneksikan atau terhubung dengan sempurna.

Begitupun dengan organisasi, di satu sisi setiap tingkatan bagian harus mampu untuk menjalankan tugas serta fungsinya berdasarkan peraturan organisasi yang ada dalam setiap tingkatan. Dan di sisi lain, antara bagian atau tingkatan, garis perintah dan koordinasi harus jelas dan terhubung dengan baik. Sehingga dengan demikian, ketika dua faktor ini berjalan dan berfungsi dengan baik, maka sebuah organisasi akan dapat berjalan dengan baik, mulai dari tingkatan paling bawah (ranting) sampai dengan pusat (pokok).

Koordinasi serta konsolidasi perlu bahkan harus terjalin dengan baik antara organisasi di tingkat bawah dengan di tingkat atasnya. Agar kedekatan dan keserasian hubungan antar tingkatan ini dapat memudahkan dalam mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itulah, pada hari Ahad malam, tanggal 9 Mei 2021 M yang dalam hal ini bertepatan dengan malam yang ke 28 Ramadhan 1442 H, PAC GP Ansor Watulimo mengadakan silaturrahim dalam agenda Koordinasi dan Konsolidasi Kepengurusan GP Ansor Watulimo masa khidmah 2021-2023 dengan PC GP Ansor Trenggalek. Acara silaturrahim ini diadakan di kediaman Ketua PC GP Ansor Trenggalek, Sahabat Agus Muhammad Izzudin Zakki.

Terdapat beberapa poin agenda dari acara koordinasi dan konsolidasi tersebut, diantaranya yaitu:

1.      Ini merupakan agenda silaturrahim antara pengurus harian PAC GP Ansor Watulimo dengan Ketua PC GP Ansor Trenggalek. Oleh karena itulah Ketua PAC GP Ansor Watulimo memperkenalkan personil dari pengurus harian PAC GP Ansor Watulimo untuk masa khidmah 2021-2023.

2.      Sekaligus melalui silaturahim ini, PAC GP Ansor Watulimo mengundang Ketua PC GP Ansor Trenggalek dalam acara Malam Penutupan Safari Ramadhan 1442 H yang akan di gelar di Masjid Baiturrahman Desa Gemaharjo Kecamatan Watulimo pada hari Ahad tanggal 10 Mei 2021.

3.      Penyampaian serta koreksi dari progres kegiatan yang sedang dilaksanakan oleh PAC GP Ansor Watulimo. Termasuk juga dalam hal ini adalah kegiatan yang akan dilaksanakan dalam jangka waktu dekat ini.

4.      Bahwa dalam Reker ke-2 PC GP Ansor Trenggalek, sebagian agenda kegiatan GP Ansor akan dipusatkan di tingkat PAC. Hal ini dimaksudkan sebagai langkah untuk penguatan internal organisasi. Karena selama ini menurut Ketua PC GP Ansor Trenggalek sudah banyak agenda yang bersifat show on eksternal. Di sisi lain, kinerja dari PAC serta Ranting perlu untuk optimalkan.

5.      Ketua PC GP Ansor Trenggalek berpesan bahwa apa yang sudah tertulis dan tertuang dalam SK pengangkatan dalam struktural organisasi, harus mampu untuk sepenuhnya dijalankan oleh kader organisasi. Hal ini bermakna bahwa anggota GP Ansor -Banser harus berperan secara aktif sesuai dengan pedelegasian wewenang dalam jabatan yang sedang diembannya. Hal ini tentunya sebagai wujud khidmah kader kepada organisasinya yaitu GP Ansor.

6.      Di era milenial yang serba digital ini, kader GP Ansor harus mampu mengambil peluang untuk keuntungan pergerakan organisasi. Media sosial sebagai sarana yang paling efektif dan efisien untuk menunjukkan eksistensi kader dan organisasi. Artinya, kader GP Ansor harus bisa menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah, menyebarkan Islam ala ahlussunnah wal jama’ah an-nahdhiyyah, sekaligus untuk memperkuat keberadaan GP Ansor di tengah-tengah masyarakat. Di sisi lain, tujuan digunakannya media sosial untuk sarana dakwah dan menunjukkan pelaksanaan program kerja atau kegiatan GP Ansor yaitu sebagai motivasi kepada pimpinan di daerah-daerah lain untuk berlomba-lomba dalam hal pelaksanaan program kerja strategis demi terwujudnya tujuan oraganisasi.

Semoga acara silaturrahim kali ini mempererat jalinan ukhuwah islamiyyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah bashariyah serta membawa membawa manfaat bagi semua pihak. (dh)

Share:

Minggu, 09 Mei 2021

Safari Ramadhan Ke-12 PAC GP Ansor Watulimo, LDNU Watulimo: "Santri Harus Jelas Sanad Keilmuannya".

 

Anwalin News- Sabtu, 8 Mei 2021, Tim Safari Ramadhan PAC GP Ansor Watulimo bersama dengan MWC NU Watulimo, MUI Kecamatan Watulimo, Forkopimcam Watulimo, PAC IPNU IPPNU Watulimo menggelar safari yang ke-12. Safari kali ini bertempat di Masjid Shirotul Iman, Desa Slawe, Kecamatan Watulimo. Bertepatan dengan malam ke-27 Ramadhan 1442 H, maka acara ini sekaligus ditujukan untuk memperingati malam lailatul qadar.

Sebagaimana rundown terjadwal dari Tim Safari Ramadhan. Acara ini dimulai dengan Shalat Isya’ berjamaah dan dilanjutkan dengan Shalat Tarawih dan Witir berjamaah di Masjid Shirotul Iman. Memasuki acara inti safari ramadhan, acara dibuka dengan pembacaan Ummul Kitab, dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an yang dalam hal ini dilantunkan oleh Rekanita Riska Dwi Cahyani dari PAC IPPNU Watulimo.

Meningkat acara selanjutnya sambutan dari Takmir Masjid Shirotul Iman, Bapak H. Supeno, S.Pd. Dalam sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih atas kepercayaannya dalam gelaran safari Ramadhan yang laksanakan di Masjid Shiratul Iman. Karena juga dalam memperingati malam laiatul qadar, beliau berpesan untuk meningkatkan kuanitas serta kualitas ibadahnya. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya menyambut lailatul qadar. Diharapkan dengan begitu, bisa mendapatkan “rahmah dan hikmah” dari malam yang lebih baik dari seribu bulan itu.

Sambutan selanjutnya dari Bapak Mujiyat selaku Kepala Desa Slawe. Beliau menyampaikan semangat Ramadhan ini harus berimbas pada meningkatnya kualitas ibadah, khususnya pada 10 terakhir Bulan Ramadhan ini. Beliau juga menghimbau kepada masyarakat khususnya jamaah Masjid Shiratul Iman untuk tetap mematuhi protokol kesehatan ketika melakukan ibadah qiyamul lail di masjid ataupun musholla.

Memasuki acara yang selanjutnya, yaitu sambutan dari PAC GP Ansor Watulimo. Dalam kesempatan kali ini, sambutan disampaikan oleh Sahabat Devid Hariyanto. Dalam sambutannya, mewakili PAC GP Ansor Watulimo, ia menjelaskan tentang pelaksanaan dari Safari Ramadhan tahun 1442 H ini. Penjelasan tersebut meliputi dari latar belakang, tim pelaksana lapangan, sasaran, tujuan serta fungsi atau nilai-nilai yang yang terdapat dalam pelaksanaan Safari Ramadhan tahun ini.

Di samping itu, ia juga memberikan pesan serta motivasi kepada para jamaah untuk terus menjalankan protokol kesehatan. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, serta mengurangi interaksi. Pelaksanaan protokol kesehatan ini harus dilaksanakan baik ketika beraktifitas di dalam maupun di luar ruangan. Terlebih pada saat di tempat atau fasilitas umum.

Sambutan selanjutnya dari pihak Forkopimcam Watuimo yang dalam hal ini disampaikan oleh Babinkamtibmas Desa Slawe, Bapak Setiono. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan kondisi terkini persebaran covid-19, khususnya yang terjadi di Desa Slawe. Masyarakat harus selalu patuh untuk memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak aman. Upaya ini merupakan langkah yang paling efektif dan efisien untuk melindungi diri sendiri, keluarga dan lingkungan dari ancamaan covid-19. Beliau juga berharap kepada masyarakat untuk terus mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah dalam kaitannya penanganan covid-19. Tidak lain dan tidak bukan, kebijakan-kebijakan tersebut dalam upaya melindungi segenap masyarakat Indonesia dari wabah covid-19.

Memasuki sesi orasi keagamaan, tausiyah disampaikan oleh Bapak K. Syamsudin dari Rais Syuriah NU Ranting Slawe sekaligus Ketua LDNU MWC NU Watulimo. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan bahwa sanad keilmuan harus bersambung sampai kepada guru. Santri harus tawadhu’ dan taat pada sang guru, agar ridho dan hikmah dari bisa masuk dalam hati santri. Sedangkan di era sekarang banyak orang yang mencari ilmu agama dengan mengenyampingkan sanad keilmuannya. Misal, adanya anggapan bahwa cukup dengan melihat google. Sehingga hal ini tentunya juga berimbas pada ilmu serta pengetahuan yang didapat. Munculnya kaum takfiri, seakan mengulngi sejarah masa lalu akan adanya kelompok Khawarij. Maka dari itulah, NU dengan sistem pendidikan agamanya, terlebih lagi tradisi mengaji di pondok pesantren merupakan trend sistem pembelajaran yang sangat komprehensif. mencetak generasi yang benar-benar paham agama, penerus perjuangan bangsa dan negara.

Semoga safari ke-12 ini sekaligus malam peringatan lailatul qadar memberi manfaat dan barokah kepada kite sekalian. Aamiin.

Share:

Jumat, 07 Mei 2021

Tentang Dua Azan Dalam Jum'ah ; Dalil Amaliah Nahdlatul Ulama - Bagian 12



M. Dua Adzan Dalam Jum’ah
Dalil dua adzan dalam Jum’ah

Dalam kitab Tanwirul Qulub disebutkan:

فَلَمَّا كَثُرَ النَّاسُ فِيْ عَهْدِ عُثْمَانَ أَمَرَهُمُ بِأَذَانَانِ آخَرَ عَلَى الزَّوْرَآءِ وَاسْتَمَّرَ اْلأَمْرُ إِلَى زَمَنِنَا هَذَا.وَهَذَا اْلأَذَانُ لَيْسَ مِنَ اْلبِدْعَةِ لِأَنَّهُ فِي زَمَانِ اْلخُلَفَاءِ الرَّشِدِيْنَ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِاْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ ( تنويرالقلوب)

Ketika orang-orang sudah semakin banyak pada masa Khalifah Utsman, maka beliau memerintahkan untuk mengumandangkan adzan lagi di kota Madinah. Hal yang demikian itu (adzan dua kali) tetap berlangsung sampai sekarang. Adzan yang kedua tersebut tidak termasuk bid’ah karena telah terjadi di masa Khulafaur Rasyidin, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Kalian harus berpegang teguh dengan sunnah (ajaran)ku dan sunnah Khulafaur Rasyidin”.

Syekh Jalaluddin bin Abdil Ajiz berpendapat bahwa hukum mengumandangkan adzan yang kedua hukumnya sunat sebagaimana pendapatnya dalam kitab Fathul Mu’in:

وَأَذَانَانِ لِلْجُمْعَةِ أَحَدُهُمَا بَعْدَ صُعُوْدِ اْلخَطِيْبِ أَلْمِنْبَرَ وَاْلأَخَرُ اَلَّذِيْ قَبْلَهُ إِنَّمَا أَحْدَثَهُ عُثْمَانُ رضي الله عنه لَمَّا كَثُرَالنَّاسُ فَاسْتِحْبَابُهُ عِنْدَالْحَاجَةِكَأَنْ تَوَقَّفَ حُضُوْرُهُمْ عَلَيْهِ وَإِلَّا لَكَانَ اْلِإقْتِصَارُ عَلَى اْلِإتْبَاعِ أَفْضَلُ

“Begitu juga dihukumi sunat dua adzan dalam Jum’ah. Salah satunya sesudah khotib naik mimbar dan yang satunya lagi adzan sebelumnya, adzan kedua ini sebagai mana perintah sahabat ‘Ustman RA, dalam atsar kan tetapi hukum kesunatannya dikala hajat (butuh). Seperti jika orang-orang muslim belum hadir ke masjid setelah adzan pertama, jika tidak butuh maka lebih baik mengikuti (ittiba’) kepada Nabi (satu adzan).



......................... SELESAI ...................
-------------------
 
Ditulis oleh : MURDIYANTO
Ketua PAC GP. Ansor Watulimo - Kab. Trenggalek
Masa Khidmah : 2018-2020 & 2021-2023
Share:

Kamis, 06 Mei 2021

Tentang TAHLIL ; Dalil Amaliah Nahdlatul Ulama - Bagian 11



L. Tahlil
A. Pengertian
Secara bahasa tahlil diartikan sebagai ucapan kalimat “laailaha illalloh”. Secara istilah adalah tradisi do’a bersama untuk mendo’akan orang yang telah meninggal atau karena hajat lain, dengan membaca Al Qur’an, kalimat tayyibah, istighfar, takbir, tahmid, tasbih, sholawat dan pahalanya diberikan kepada orang yang sudah meninggal atau orang yang punya hajat sesuatu.

Dalam acara tahlilan biasanya dibarengi dengan jamuan makanan dari keluarga yang sudah meninggal atau yang mempunyai hajat sebagai shodaqoh.

B. Dalil-dalil Tahlil
Banyak dalil Al Qur’an, hadits maupun keterangan ulama yang menjelaskan tentang diperbolehkannya tahlil dan do’a atau pahala yang ditujukan kepada orang yang sudah meninggal bisa sampai dan bermanfaat bagi orang yang meninggal tersebut, di antaranya:

1. QS. Muhammad ayat 19

وَ إسْتََغْفِرْ لِذَ نْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ (محمد:۱۹)

“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”. (Muhammad:19)

Ayat tersebut menerangkan bahwa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan mendapatkan manfaat dari istighfar orang mukmin lainnya. Dalam Tafsir Al-Khazin dijelaskan:

فِيْ مَعْنَي اْلَآيَةِ إِسْتَغْفِرْ لِذَ نْبِكَ أَيْ لِذًنُوْبِ أَهْلِ بَيْتِكَ ( وللمؤمنين والمؤمنات) يَعْنِيْ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ بَيْتِكَ وَهَذَا إِكْرَامٌ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ اْلأًمَّةِ حَيْثُ أَمَرَ نَبِيَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ أَنْ يَسْتَغْفِرَلِذُنُوْبِهِمْ وَهُوَ الشَّفِيْعُ اْلمُجَابُ فِيْهِمْ(تفسير الخازن,ج: ۶,ص:۱۸۰)

“Makna ayat إستغفر لذنبكadalah mohonlah ampunan bagi dosa-dosa keluargamu dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan,a rtinya selain keluargamu. Ini adalah penghormatan dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada umat Muhammad, dimana Dia memerintahkan Nabi-Nya untuk memohonkan ampun bagi dosa-dosa mereka, sedangkan Nabi SAW adalah orang yang dapat memberikan syafa’at dan do’anya diterima” (Tafsir Al-Khazin, Juz VI, hal 180)

2. QS. Al-Hasyr 10

وَالَّذِيْنَ جَاؤُا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِإحْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًا لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبنَا إِنَّكَ رَؤوْفٌ رَحِيْمٌ ( الحسر:۱۰ )

“Dan orang-orang yang beriman, serta anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”

Mengenai ayat ini Syekh ‘Alaudin Ali bin Muhammad bin Ibrahim Al-Baghdadi memberikan penjelasan:

يَعْنِيْ أَلْحَقْنَا إَوْلَادَهُمْ الصِّغَارَ وَاْلكِبَارَ بِإِيْمَا نِهِمْ وَاْلكِبَارُ بِإِيْمَا نِهِمْ بِأَنْفُسِهِمْ وَالصِّغَارُ بِإِيمَا نِ آبَائِهِمْ فَأِنَّ الوَلَدَ الصَّغِيْرَ يُحْكَمُ بِإِسْلَامِهِ تَبْعًا لِأَحَدِ أَبَوَيْهِ ( أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّاتِهِمْ ) يَعْنِيْ المُؤْمِنِيْنَ فِي اْلجَنَّةِ بِدَرَجَاتِ آبَائِهِمْ وَإِنْ لَمْ يَبْلُغُوْا بِاَعْمَالِهِمْ دَرَجَاتِ آبَائِهِمْ تَكْرِمَةً لِاَبَائِهِمْ لِتَقَرّ َاَعْيُنُهُمْ هَذِهِ رِوَايَةً عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ( تفسير الخازن,ج:۶, ص: ۲۵۰)

“Artinya Kami menyamakan anak-anak mereka yang kecil dan yang dewasa dengan keimanan orang tua mereka. Yang dewasa dengan keimanan mereka sendiri, sementara yang kecil dengan keimanan orang tuanya. Keislaman seorang anak yang masih kecil diikutkan pada salah satu dari kedua orang tuanya. (Kami menyamakankepada mereka keturunan mereka) artinya menyamakan orang-orang mukmin di surga sesuai dengan derajat orang tua mereka, meskipun amal-amal mereka tidak sampai pada derajat amal orang tua mereka. Hal itu sebagai penghormatan kepada orang tua mereka agar mereka senang. Keterangan ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA.” (Tafsir Al-Khazin, Juz VI, hal 250)

Penjelasan yang sama dapat dilihat dalam Tafsir Jami’ Al-Bayan karya Ibnu Jarir Al-Thabari Juz 28 hal. 15.
Beberapa ayat dan penafsiran tersebut menjadi bukti nyata bahwa orang yang beriman tidak hanya memperoleh pahala dari perbuatannya sendiri. Mereka juga dapat merasakan manfaat amaliyah orang lain.

Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Al-Syaukani mengatakan bahwa hukum mengadakan pertemuan atau perkumpulan untuk membaca tahlil adalah boleh sebagaimana pendapatnya dalam kitab Al Rasa’il al Salafiyah.

ااَلْعَادَةُ اْلجَارِيَةُ فِي بَعْضِ اْلبُلْدَانِ مِنَ اْلإِجْتِمَاعِ فِي اْلمَسْجِدِ لِتِلاَوَةِ اْلقُرْأَنِ عَلَى اْلأَمْوَاتِ.وَكَذَالِكَ فِي اْلبُيُوْتِ وَسَا ئِرِ اْلإِجْتِمَاعَاتِ الَّتِي لَمْ تَرِدْ فِي الشَّرِيْعَةِ ,لاَشَكَّ إِنْ كَانَتْ خَالِيَةً عَنْ مَعْصِيَةٍ سَلِيْمَةٍ مِنَ اْلمُنْكَرَاتِ فَهِيَ جَائِزَةٌ لِاَءنَّ اْلإِجْتِمَاعَ لَيْسَ بِمُحَرَّمٍ بِنَفْسِهِ لاَسِيَمَا إِذَا كَا نَ لِتَحْصِيْلِ طَاعَةٍ كَالتِّلاَوَةِ وَنَحْوِهَا وَلاَ يُقْدَحُ فِي ذَلِكَ كَوْنُ تِلْكَ التِّلاَوَةِ مَجْعُوْلَةً لِلْمَيِّتِ فَقَدْ وَرَدَ جِنْسُ التِّلاَوَةِ مِنَ اْلجَمَاعَةِ اْلمُجْتَمِعِيْنَ كَمَافِي حَدِيْثِ إِقْرَؤُوْا “يَس” عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهُوَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ وَلاَ فَرَقَ بَيْنَ تِلاَوَةِ “يس” مِنَ اْلجَمَاعَةِ الحَاضِرِيْنَ عِنْدَ اْلمَيِّتِ أَوْ عَلَى قَبْرِهِ وَبَيْنَ تِلاَوَةِ جَمِيْعِ اْلقُرْآنِ أَوْ بَعْضِهِ لِمَيِّتٍ فِي مَسْجِدِهِ أَوْ بَيْتِهِ ( الرسائل السلفية: ۴۶)

“Kebiasaan di sebagian negara mengenai perkumpulan atau pertemuan di Masjid, rumah, di atas kubur, untuk membaca Al-Qur’an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia, tidak diragukan lagi hukumnya boleh (jaiz) jika didalamnya tidak terdapat kemaksiatan dan kemungkaran, meskipun tidak ada penjelasan (secara dzahir) dari syari’at. Kegiatan melaksanakan perkumpulan itu pada dasarnya bukanlah sesuatu yang haram (muharram fi nafsih), apalagi jika di dalamnya diisi dengan kegiatan yang dapat menghasilkan ibadah seperti membaca Al-Qur’an atau lainnya. Dan tidaklah tercela menghadiahkan pahala membaca Al-Qur’an atau lainnya kepada orang yang telah meninggal dunia. Bahkan ada beberapa jenis bacaan yang didasarkan pada hadits shahih seperti إقرؤوا “يس” على موتاكم (bacalah surat Yasin kepada orang mati di antara kamu). Tidak ada bedanya apakah pembacaan Surat Yasin tersebut dilakukan bersama-sama di dekat mayit atau di atas kuburannya, dan membaca Al-Qur’an secara keseluruhan atau sebagian, baik dilakukan di Masjid atau di rumah.” (Al-Rasa’il Al-Salafiyah, 46).

Kesimpulan al-Syaukani ini memang didukung oleh banyak hadits Nabi SAW. Diantaranya adalah:

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيِّ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ اْلمَلَائِكَةُ وَغَشِيَهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ ( رواه مسلم, ۴۸۶۸)

“Dari Abi Sa’id al-Khudri RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berdzikir kepada Allah SWT, kecuali mereka akan dikelilingi malaikat, dan Allah SWT akan memberikan rahmat-Nya kepada mereka, memberikanketenangan hati dan memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya” (HR. Al-Muslim, 4868)

Kesimpulan Al Syaukani ini bersumber dari Hadits yang shahih:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَرَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ اْلمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ ( سنن ابن ما جه : ۲۲۱)

“Dari Abi Hurairah RA ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam salah satu rumah Allah SWT, sambil membaca Al-Qur’an bersama-sama, kecuali Allah SWT akan menurunkan kepada mereka ketenangan hati, meliputi mereka dengan rahmat, dikelilingi para malaikat, dan Allah SWT memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya” (Sunan Ibn Majah, 221)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Abi Sa’id Al-Khudri, Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيِّ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ اْلمَلَائِكَةُ وَغَشِيَهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ ( رواه مسلم, ۴۸۶۸)

“Dari Abi Sa’id al-Khudri RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berdzikir kepada Allah SWT, kecuali mereka akan dikelilingi malaikat, dan Allah SWT akan memberikan rahmat-Nya kepada mereka, memberikanketenangan hati dan memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya” (HR. Al-Muslim, 4868)

Pada ulama juga sepakat bahwa pahala sampai dan bermanfaat bagi orang yang telah meninggal tersebut.
Ibnu Taimiyah menyatakan:

قَالَ شَيْخُ تَقِيُ الدِّيْنِ أَحْمَدُ بْنُ تَيْمِيَّةِ فِيْ فَتَاوِيْهِ, اَلصَّحِيْحُ أَنَّ اْلمَيِّتَ يَنْتَفِعُ بِجَمِيْعِ اْلعِبَادَاتِ اْلبَدَنِيَّةِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ وَاْلقِرَاءَةِ كَمَا يَنْتَفِعُ بِااْلعِبَادَاتِ اْلمَالِيَّةِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَنَحْوِهَا بِاتِّفَاقِ اْلأَئِمَّةِ وَكَمَا لَوْ دُعِيَ لَهُ وَاسْتُغْفِرَ لَهُ( حكم الشريعة الإسلامية في مأتم الأربعين:۳۶)

“Syaikhul Islam Taqiyuddin Ahmad bin Taymiyah dalam kitab Fatwanya berkata, “pendapat yang benar dan sesuai dengan kesepakatan para imam, bahwa mayit dapat memperoleh manfaat dari semua ibadah, baik ibadah badaniyah (ibadah fisik) seperti shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, atau ibadah maliyah (ibadah materiil) seperti sedekah dan lain-lainnya. Hal yang sama juga berlaku untuk berdo’a dan membaca istighfar bagi mayit.” (Hukm Al-Syariah Al-Islamiyah fi Ma’tamil Arba’in, 36)

Dalam kitab Nihayah al-Zain disebutkan:

قَالَ ابْنُ حَجَرٍ نَقْلًا عَنْ شَرْحِ اْلمحُتْاَرِ:مَذْهَبَ أَهْلِ السُّنَّةِ أَنَّ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَجْعَلَ ثَوَابَ عَمَلِهِ وَصَلَاتِهِ لِلْمَيِّةِ وَيَصِلُهُ ( نهاية الزين: ۱۹۳)

“Ibnu Hajar dengan mengutip Syarh Al-Mukhtar berkata, “Madzhab Ahlussunnah berpendapat bahwa seseorang dapat menghadiahkan pahala amal dan do’anya kepada orang yang telah meninggal dunia. Dan pahalanya akan sampai kepadanya.” (Nihayah Al-Zain, 193)

Ibnu Al-Qayyim berpendapat:

قَالَ ابْنُ قَيِّمِ اْلجَوْزِيَّةِ فَأَفْضَلُ مَا يُهْدَى إِلَى اْلمَيِّتِ أَلْعِتْقُ وَالصَّدَقَةُ وَاْلإِسْتِغْفَارُ لَهُ وَاْلحَجُّ عَنْهُ وَأَمَا قِرَاءَةُ اْلقُرْآنِوَإِهْدَاءُهَا لَهُ تَطَوُّعًا بِغَيْرِ أُجْرَةٍ فَهَذَا يَصِلُ إِلَيْهِ كَمَا يَصِلُ ثَوَابُ الصَّوْمِ وَالْحَجِّ (الروح:۱۴۲)

“Ibnu Qayyim Al-Jauziah berkata, “Sebaik-baik amal yang dihadiahkan kepada mayit adalah memerdekakan budak, sedekah, istighfar, do’a, dan haji. Adapun pahala membaca Al-Qur’an secara suka rela (tanpa mengambil upah) yang dihadiahkan kepada mayit, juga sampai kepadanya. Sebagaimana pahala puasa dan haji” (Al-Ruh, 142).

Dari beberapa dalil hadits, Al Qur’an, hadits dari keterangan para ulama di atas dapat disimpulkan bahwa hukum tahlilan bukanlah bid’ah dan pahala yang ditujukan kepada mayit bisa sampai dan bermanfaat bagi mereka.


......................... Bersambung ke Bagian 12 ...................
-------------------
 
Ditulis oleh : MURDIYANTO
Ketua PAC GP. Ansor Watulimo - Kab. Trenggalek
Masa Khidmah : 2018-2020 & 2021-2023
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung