Senin, 14 September 2020

Sebaik-baik Perhiasan Dunia

Perempuan itu berlian, akan tampak lebih indah jika dibalut dengan akhlak terpuji. Pahala mereka melimpah ruah meski hanya di dalam rumah. Komunikasi yang baik dalam rumah tangga merupakan ceruk yang harus dibangun sejak dini agar lekas tercipta Chemistry antara suami-istri. Semua bisa dicapai dengan saling menjaga perasaan satu sama lain. Mau menerima kondisi dan keadaan pasangannya, dan sebagainya. Bagaimanapun itu merupakan lahan pahala.

Bersabar dengan apa yang ada dalam diri pasangannya. Materi, fisik maupun hal-hal indrawi lainnya hanyalah penunjang kebahagiaan. Semua dapat diatasi dengan penyikapan yang telah dituntunkan agama.

Bagi istri, ketaatan kepada suami adalah modal besar kelak di hadapan Tuhan. Dalam kesehariannya, ada banyak poin mengenai etika terhadap suami. Diantaranya hanya bersolek untuk suami. Menjaga martabat suami di depan orang lain. Tidak menghina kondisi fisik suami jika memang kurang begitu menyenangkan untuk dipandang. Bahkan janganlah membanggakan kecantikannya kepada suami.

Sebuah kisah menarik diceritakan oleh Syekh Asmu’i. : “Suatu ketika aku masuk pada sebuah perkampungan. Di sana aku bertemu dengan seorang wanita yang kecantikannya sungguh sangat. Dia menjadi istri dari sosok lelaki yang (maaf) buruk rupa.” Beliau heran kenapa ia mau diambil istri.

“Duhai, kenapa engkau mau menjadi istri dari seorang suami yang macam dia.” Pertanyaan beliau ini sungguh menyinggung perasaan perempuan itu.

“Diam kau!. Buruk sekali perkataanmu itu.” Jelas ia tidak terima. Namun ia menjawab kenapa mau dijadikan istri dengan jawaban yang mempesona nan bijaksana.

“Bisa saja suamiku itu saleh dan taat. Memenuhi segala hak-hak Allah Sang Khaliq. Sebagai pahalanya (mungkin) Allah menjadikanku istrinya. Sedangkan aku, bisa saja aku telah berlaku buruk dan tidak taat kepada Allah. Untuk balasannya (mungkin) menjadikannya sebagai suamiku. Kenapa aku tidak rida dengan sesuatu yang Allah rida terhadapnya?. ” Jawabanya begitu menohok sanubari Syekh Asmu’i.

“Sungguh ia membuatku diam seribu bahasa.” Tandas beliau.

Sekian, semoga bisa menjadi renungan agar bisa bersikap positif terhadap kenyataan yang pahit dalam segala lini kehidupan kita.

الدُّنْيَا مَتاَعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467).
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung