Sabtu, 01 Mei 2021

Biografi Prof Dr KH. Abdul Syakur Yasin MA


Riwayat
K.H. Abdul Syakur Yasin, MA  kelahiran di Indramayu tanggal 12 November 1960, bagi masyarakat Indramayu dan sekitarnya cukup dikenal dengan sapaan Buya Syakur. Seorang ulama dengan penyampaian kajian Islam khas NU, dengan suara yang tidak pernah meninggi beliau menjelaskan aneka persoalan yang sebenarnya cukup rumit, namun beliau jelaskan dengan perlahan dan fokus. Ciri khas NU lainnya adalah isi kajian beliau yang lebih mengutamakan kehidupan bermuamalah di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

Pendidikan
Masa pendidikan Buya Syakur dari kecil hingga dewasa selain banyak dihabiskan di pondok pesantren, beliau juga menambah keilmuan serta wawasan beliau di berbagai negara Arab dan Eropa. Selama kurang lebih 12 tahun, beliau secara intensif menggali pengetahuan keagamaan dari pondok pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon. Sebab tumbuh di lingkungan pondok pesantren, sejak dini beliau diajarkan ilmu agama dan moral. Setelah menyelesaikan pendidikan beliau di Babakan, beliau melanjutkan pendidikan akademiknya di Timur Tengah dan Eropa, diantaranya:

1. Melanjutkan pendidikan di Irak pada tahun 1971, bersamaan dengan itu beliau kemudian diangkat menjadi ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Syiria.

2. Mendalami ilmu Al-Qur’an di Libya pada tahun 1977.

3. Menyelesaikan sastra Arab pada tahun 1979.

4. Menyelesaikan Sastra Linguistik di Tunisia pada tahun 1981.

5. Menyelesaikan Ilmu metodologi di London pada tahun 1985.

Setelah kurang lebih 20 tahun, beliau mengenyam pendidikan akademiknya di Timur Tengah dan Eropa,  akhirnya pada tahun 1991 beliau pulang ke Indonesia bersama Gusdur, Quraish Shihab, Nurcholis Majid dan Alwi Shihab. Setelah kembali ke Indonesia, beliau membaktikan diri berdakwah di kampung halamannya, Indramayu. Pada tahun 1995 Buya Syakur mendirikan Pondok Pesantren Cadangpinggan yang bertempat di Jl. By Pass Kertasemaya KM. 37 Rt.01 Rw. 01 Cadangpinggan, Sukagumiwang, Indramayu.

Peranan
Selain membaktikan diri pada Tanah Air lewat pondok pesantren yang beliau dirikan, beliau juga sering mengisi kajian dengan para masyarakat dan tidak jarang kajian tersebut diunggah lewat akun youtube KH. Buya Syakur MA dan label Wamimma TV.

Beliau pernah menyebutkan bahwa Gus Dur pernah mengatakan jika di Indonesia cuma ada tiga orang yang berpikir analitis dalam memahami Islam, Quraish Shihab, Pak Syakur, Cak Nur.

Hal ini terbukti dari tema-tema yang diunggah lewat akun youtube beliau yang bertema cukup berat dan banyak yang berbasis kitab kontemporer atau tasawuf, sebut saja misalnya fi Zhilali al-Qur’an, La Tahzan karya ‘Aidh al-Qarni, sampai al-Hikam Ibn ‘Athaillah as-Sakandari, dan kegemaran beliau pada menulis dan menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab juga terlihat pada beberapa video yang diunggah akun youtube beliau yang bertema Pembacaan Puisi.

Beberapa puisi yang beliau bacakan seringkali diangkat berdasarkan keadaan yang sering melanda masyarakat umum, tak sulit dipahami namun tetap berbobot.

Sumber : https://umma.id/post/biografi-prof-dr-kh-abdul-syakur-yasin-ma-839905?lang=id
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung