Rabu, 23 September 2020

Romantisme Seorang Hamba Merayu Tuhan

Tokoh Kang Sudron banyak yang mengenal dengan tokoh yang sangat inspiratif, humoris serta paling balelo di antara teman-temannya di pesantren. Ia dikenal di kalangan santri di pondok dengan tampilan kisah yang menggelitik dan insipratif. Sangat indah bila diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ia biasanya dikisahkan sebagai seorang hamba yang melakukan perjalanan hidup penuh makna.

Dari sinilah pelajaran dan hikmah kehidupan yang penuh tantangan ini diambil. Lewat karakter Kang Sudron, hikmah dan pelajaran dalam melakoni hidup ini dapat diambil dengan jenaka. Sosok Kang Sudron ini ditulis oleh Yazid Muttaqin yang berjudul Kang Sudron Merayu Tuhan; Perjalanan Seorang Hamba Penuh Makna (2014).

Alkisah, seorang bocah yang penuh bentolan basah dan sebagiannya telah mengering kehitam-hitaman. Bocah itu memang sedang terkena cacar air. Ia bergegas menuju Rumah Sakit Kasih Ibu yang terletak tak kurang dari 500 meter utara asramanya. Ia berjalan sendirian tanpa seorang pun yang mengantarnya. Ia terlihat tegar meski dalam hatinya bertengger kesedihan.

Sebenarnya, ia ingin menghubungi orangtuanya. Namun, niat itu ia urungkan. Ia tahu persis bahwa orangtuanya akan tambah panik jika tahu dirinya sakit. Kepanikannya bertambah kala orangtuanya harus mencari pinjaman untuk berangkat menemui anaknya dan membiayai pengobatannya tersebut. Bocah kecil ini hidup dengan sederhana. Sejak berangkat di pesantren, ia harus rela makan hanya dengan menggunakan lauk ikan asin dan kecap, baik sarapan, makan siang, maupun makan malam. Ia sangat hidup prihatin.

Setelah sampai di RSKI (Rumah Sakit Kasih Ibu) ia mendaftarkan diri dan antre di depan ruang praktik dokter. Tak lama antre dan diperiksa ia mendapatkan resep dan segera menuju ke apotik rumah sakit lantai dua itu. Yang namanya orang berobat, dan orang sakit yang ia pikirkan hanyalah berobat. Saat namanya dipanggil dan disebutkan jumlah uang yag akan harus dibayar, bocah kecil itu makin cemas. Obat yang harus ia tebus seharga Rp. 50.000, tapi yang ada di kantong saku celananya hanya Rp. 15.000,.

Ia mencoba menawar. Pegawai apotik menghitung ulang. Lalu, menyebutkan angka Rp. 27.000. Bocah kecil ini kebingungan. Ia meminta maaf karena hanya membayar Rp. 15.000. Kemudian, ia keluakan semua uang yang ada di saku celananya. Ia makin lemas. Ternyata, uangnya tinggal Rp. 10.000. Ia lupa uang yang Rp. 5.000, sudah digunakan untuk membayar pendaftaran tadi. Ia semakin pucat. Matanya mulai membasah. Sementtara itu, beberapa pasang mata pasien lain memperhatikannya.

Di tengah kekacauan pikirannya, tiba-tiba sebuah tangan memegang pundaknya. “Kurang berapa, Dik?” suara dari seorang laki-laki muda, ramah, dan lembut. Seketika, laki-laki itu terlibat pembicaraan dengan pelayan apotik. Laki-laki itu, lantas menyeodorkan sejumlah uang dan segera pergi. Rupanya, ia dan istrinya baru saja mengobati bayinya. Tak lama kemudian, beberapa plastik obat telah ada dalam genggaman tangan si bocah. Tanpa sempat mengucapkan terima kasih, ke pemuda itu, ia hanya diberikannya kartu nama. Tertulis sebuah nama khas Solo yang titel di depan Ir, (insinyur).

Enam tahun berlalu, bocah kecil yang telah lulus Madrasah Aliyah itu datang ke rumah sang insinyur. Laki-laki itu sudah tak mengenali lagi. Ia baru paham setelah bocah itu bercerita bagaimana ia bisa datang ke rumahnya yang cukup besar tersebut.

Kini, setelah dua puluh satu tahun terlewati, insinyur itu pasti tidak ingat lagi dengan kejadian di apotik, di lantai dua Rumah Sakit Kasih Ibu. Ia pasti tidak lagi punya memori tentang bocah kecil itu. Akan tetapi bocah kecil itu tak pernah melupakan kejadian itu meski telah dua puluh satu tahun berlalu. Ia tetap dan akan terus mengingat dengan bantuan kecil itu. Tak akan terhapus dari memori bocah kecil itu tentang sosok laki-laki muda, istri dan bayinya itu. Bahkan, ia berpikir bahwa shodaqah kecil insinyur itu adalah satu mata rantai awal. Ia berkeinginan menyambungnya dengan mata rantai kedua. Kebaikan insinyur itu akan ia balas. Kepada insinyur ia akan membalas, tapi kepada orang lain yang membutuhkan

Kepada orang lain itu bisa menjadi mata rantai yang ketiga dan seterusnya. Sebiji benih yang ditanam insinyur itu semoga dapat menumbuhkan berhektare buah yang menebarkan keberkahan bagi kehidupan.

***

Saat kereta berhenti di sebuah stasiun kecil, ia melihat seorang bocah kecil berpakaian lusuh menengadahkan tangannya. “minta, Om... minta, Om...” Bocah itu segera membangkitkan memori Kang Sudron pada kejadian di apotek, dua puluh satu silam di RS kasih Ibu. Gambaran itu sangat jelas dalam benak Kang Sudron tentang sosok: insinyur, istri dan bayinya, terlebih bocah kecil yang besar yang dikenal dengan nama Kang Sudron, yang kecilnya bercacar air itu. Ketika ia melihat bocah kecil yang menengadah dengan menyebut “Minta, Om...” ia membawanya dalam puluhan tahun silam. Seperti insinyur itu, apabila memberi beberapa uang atau barang yang ia miliki ia telah menyambung mata antai yang sedemikian kalinya.

Imam Nawawi dalam kitab Arba’in menyebutkan sebuah hadits riwayat Imam Muslim. Dalam hadits tersebut sahabat Abu Dzar menceritakan adanya sekelompok sahabat Muhajirin yang mengadu Rasulullah. Terbatasnya harta yang mereka miliki menjadikan mereka tak mampu untuk bershadaqah, sebagaimana yang dilakukan oleh teman-teman yang lebih mampu secara ekonomi. Atas pengaduan mereka ini, Rasulullah menunjukkan betapa banyak jalan menuju kebaikan. Shadaqah tidak harus selamanya menggunakan harta. Bertakbir adalah shadaqah, bertahmid adalah shadaqah, bertasbih adalah bershadaqah, dan sebagainya. Bahkan dalam hubungan suami istri yang sah pun ada pahala shadaqah.

Sering kali kita mendengar—atau bahkan kita sendiri yang bicara—sebuah ucapan: kalau aku kaya nanti, aku akan bershadaqah. Atau, kalau aku sehat, aku akan beribadah. Atau, kalau aku sudah sempat, aku akan melakukan amalan. Amalan ini dan itu dan ucapan-ucapan semisal lainnya. Sering kali kita menggantungkan niat untuk melakukan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah pada keadaan tertentu yang belum tentu terjadi. Seakan kita berpikir sebuah kebaikan hanya bisa dilakukan dalam keadaan tertentu saja.

Sedangkan Allah Swt., dengan kebesaran dan keagungannya, memberikan rejeki dan kemurahan hati-Nya dan kedahsyatan-Nya itu cukup melafalkan dua huruf saja: kaf dan nun; KUN. Dan, terjadilah apa yang semestinya terjadi. Lalu terwujudlah apa yang semestinya terwujud.

Lalu bagaimana dengan kita? Apa kita sudah melakukan apa yang dilakukan oleh Kang Sudron itu? Misalnya, kita memiliki adik atau kerabat yang membutuhkan bantuan kita. Misal, kita sudah layak dan memiliki sendiri, adik kita masih tahap sekolah, kita membiayai perlengkapan sekolahnya. Dan misalnya lagi, kerabat kita yang membutuhkan bantuan ketika sedang sakit, kita memberi bantuan sekuat kemampuan kita. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh kang Sudron tadi. “Ia berpikir bahwa shadaqah kecil insiyur itu adalah satu mata rantai awal. Ia berkeinginan menyambungnya dengan mata rantai kedua. Kebaikan insinyur itu akan ia balas. Bukan kepadanya, tapi kepada orang lain agar orang itu bisa menjadi mata rantai yang ketiga dan seterusnya.

Sebiji benih yang ditanam insinyut itu semoga dapat menumbuhkan berhektare buah yang menebarkan keberkahan bagi kehidupan lainnya.” [MCR]
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung