Jumat, 12 Maret 2021

Gus Dur pinjam Uang ke Anaknya Karena Tak Punya Uang Sama Sekali


Kita sangat bangga pernah punya presiden yang punya integritas sangat tinggi.

KH Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Bahkan, ketika menjadi presiden sekalipun sifat tersebut tak lekang dari dirinya. 

Seperti yang diungkapkan dari beberapa tokoh, antara lain KH Mustofa Bisri. Menurut pengasuh Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang ini, Gus Dur sering tak punya uang karena saat memiliki ia langsung membagikannya kepada yang membutuhkan. 

"Gus Dur itu kaya sekali. Nggak punya dompet tapi kaya sekali. Karena apa? Karena nggak butuh," kata Gus Mus, sapaan akrabnya. 

Mengenai kisah kesederhanaan Gus Dur ini, salah satu putrinya, Alissa Qotrunnada Munawaroh juga memiliki kenangan yang mendalam. Seperti yang diceritakan Alissa pada blog pribadinya, pada Mei 2009, Gus Dur berkunjung ke Yogyakarta, dan bertemu dengannya. 

"Lis, kamu punya uang yang bisa bapak pinjam? Ya, untuk pegangan saja, 5 juta cukup. Bapak nggak punya uang sama sekali," kata Gus Dur. Menurut Alissa, ayahnya adalah orang yang mandiri, kalau sampai minta uang kepada anaknya, berarti sudah berat sekali bagi ayahnya. 

"Saya telepon Yenny sambil menangis. Kok bisa, bapak sampai tak punya uang, bahkan sesedikit itu. Kok bisa, mereka-mereka yang khianat kepada bapak hidup bergelimang kemewahan. Sedangkan bapak tak punya uang di kantungnya," tutur Alissa.

Sungguh menyakitkan bagi Alissa, namun dari hal itu membuat ia semakin sadar betapa Gus Dur jauh dari godaan harta dan kekuasaan. Mungkin kenangan itu pula, yang membuat Gus Dur selalu dirindukan dan sangat layak diteladani.
.
Dari berbagai sumber
Share:


Perjuangan adalah jalan sunyi yang tidak selalu dipenuhi tepuk tangan, tetapi selalu dihiasi makna. Ia menuntut kesabaran ketika hasil belum terlihat, menuntut keteguhan ketika langkah terasa berat. Dalam setiap lelah yang kita rasakan, sesungguhnya sedang ditempa kekuatan baru. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, selama ia dilandasi niat tulus dan keyakinan bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana besar kehidupan.


Pengabdian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia tidak selalu berbicara tentang panggung dan sorotan, tetapi tentang ketulusan memberi tanpa menghitung kembali. Mengabdi berarti siap hadir, siap berkorban, dan siap menjadi bagian dari solusi. Di situlah nilai diri diuji apakah kita hanya ingin dikenal, atau benar-benar ingin bermanfaat. Sebab sejatinya, kemuliaan seseorang terletak pada seberapa besar ia memberi arti bagi orang lain.


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Arsip Blog

Sahabat Kita

Statistik Pengunjung